
Selamat membaca...
***
REIJI
Setelah selesai dengan pemesanan di kasir gerai makanan tempatku dan Lia berada saat ini, aku langsung membawa Lia untuk duduk di salah satu bagian meja dalam gerai.
“Ada apa sih?” tanyaku pada Lia, karena aku sempat melihatnya bengong tadi.
“Apanya yang ada apa? –“
“Tadi aku perhatiin kamu ngelamun,” tukasku
“Aku ga ngelamun kok –“
“Ada yang ganggu pikiran kamu?”
“Engga ada kok Rei,” sahut Lia. “Aku cuma lagi inget-inget jadwal besok di kantor...”
--
“Oh iya Rei, ngomong-ngomong dari tadi kamu tau-tau muncul di kantor itu aku penasaran.”
Lia bertanya saat pesanan kami telah lengkap berada di atas meja.
“Penasaran kenapa? –“ tanyaku.
“Ya setau dan seinget aku, kamu bilang baru sampe Jakartanya sore?”
Lia menjawab, sambil ia mulai menyendok pangsit goreng pesanannya.
“Maksudnya apa bohongin aku begitu? ...” sambung Lia, sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku mendengus geli. Lalu mengacak pelan rambut Lia yang sudah memasukkan sesendok pangsit goreng ke mulutnya.
“Aku ga ada maksud boong.”
“.........”
“Tapi mau kasih kejutan aja sama istri tercinta. Mau liat reaksinya gimana kalo tau-tau aku ada dihadapannya.... kayak yang divideo-video cewek-cewek yang pasangannya tentara itu pas tau-tau pasangan mereka nongol tiba-tiba yang katanya masih di medan perang –“
“Apa coba?” Lia menyahut dalam gumaman.
“Seru aja kayaknya kalau kamu terus loncat ke aku, pas liat aku dateng tiba-tiba....”
“Lebay.” Lia berdecak malas, dan aku spontan mendengus geli.
Kemudian menyantap makananku.
“Nanti aja aku gendong kamunya pas masuk ke kamar? –“
“Ish!” Lia merespon godaanku dengan cepretan di lenganku.
***
Reiji dan Malia kemudian saling diam sejenak sambil menikmati makanan mereka masing-masing. Reiji nampak mengambil ponselnya kala nada notifikasi di ponsel Reiji berbunyi, sementara Malia kembali memikirkan mobil yang tadi sempat ada di parkiran gedung apartemen tempat tinggalnya dan Reiji-yang Malia duga dengan kuat, memanglah mobilnya Irsyad.
‘Gue yakin betul itu mobilnya Irsyad. Tapi buat apa dia ada di sini??? –‘
Hati Malia yang bertanya-tanya.
‘Ga mungkin mau nagih pembayaran makan gue yang ga sempet gue bayar waktu di Resto tadi kan?’
Lalu Malia menerka-nerka alasan nyeleneh atas dugaannya.
‘Atau masih penasaran atas gue yang pergi ninggalin dia gitu aja di Resto tadi???? –‘
Malia jadi merasa sedikit terganggu karena keberadaan mobil Irsyad yang dua kali tertangkap matanya, seolah Irsyad mengikutinya.
‘Tapi rasanya gue udah jelas kasih tau Irsyad akan maksud gue....’ batin Malia masih bermonolog. ‘Gue kan udah tegasin tadi sama dia kalo gue udah cinta sama Rei? Masa Irsyad ga percaya sampe sebegitunya terus ngintai gue gitu??....’
Malia pun menggeleng samar.
‘Mungkin dia mau mastiin lagi dengan mencoba menemui gue buat ngomong lagi berdua?’
Malia kemudian melirik Reiji yang nampak sedang serius menatap ponselnya.
‘Apa Irsyad berharap bisa menemui gue disini? –‘ terka Malia lagi. ‘Atau dia nekat mau ketemu sama Rei???....’
Malia jadi was-was.
‘Ga lah, ga mungkin Irsyad senekat itu.’
**
Memilih untuk membiaskan pikiran yang lebih aneh dari dugaannya atas keberadaan sebuah mobil yang ia yakini adalah mobil Irsyad, Malia kemudian menoleh ke arah samping kirinya. “Ish, nih orang,” gumam Malia saat ia melihat apa yang sedang Reiji lakukan.
“Aw!”
Tak lama suara aduhan kecil keluar dari mulut Reiji.
“Kenapa Yang? –“
“Kenapa .. Kenapa ..”
Malia menyahut seraya mendelik pada Reiji selepas ia mencubit lengan suaminya itu.
“Ya iya kenapa kamu tiba-tiba cubit aku?” tukas Reiji.
“Nah kamu bukannya makan, malah main hp?!” Malia berkata dengan setengah kesal, karena memang makanan Reiji masih banyak, tapi suaminya itu nampak sangat fokus dengan ponselnya.
Lalu mata Malia bergerak menelisik Reiji dan ponsel milik suaminya itu.
“Chat sama siapa sih? ...”
__ADS_1
Pertanyaan, dengan Malia yang masih menelisik Reiji dan ponselnya pun terlontar dari mulut Malia.
“Shirly?” tanya Malia lagi dan Reiji langsung mendengus geli.
“Curigaan banget –“
“Ya abis asik banget kayaknya..”
Malia lantas mencibir.
“Terus kalo aku keliatan asik sama ponsel aku, kamu mikirnya aku lagi chat-an sama Irly gitu?..”
Reiji memegang tangan Malia, menghadapkan telapaknya ke atas, kemudian menyerahkan ponselnya ke tangan Malia setelahnya.
“Nih liat sendiri, aku lagi ngapain.. silahkan cek semua aktifitas ponsel aku..” seraya Reiji berucap santai.
Malia mendengus.
“Males.”
Malia berujar masa bodoh, dan Reiji mengulum senyumannya sambil mengacak gemas rambut Malia.
“Udah cepetan abisin itu kwetiau kamu.”
Malia berujar setengah ketus kemudian.
Reiji pun mengiyakan. “Kamu masih cemburu sama Irly, Yang?”
“Ih, kapan juga aku cemburu sama dia?!”
Malia menyanggah tudingan Reiji dengan cepat dan ketus. Reiji pun mendengus geli, sambil memiringkan tubuhnya lalu memandangi Malia.
“Apaan sih?....”
“Seneng aja liat muka kamu kalo lagi cemburu.”
“Aku bilang aku ga cemburu, okeee???!!. Kerajinan banget aku cemburu sama dia ....”
Malia menukas ucapan Reiji, lalu menyeruput es teh manisnya sampai habis.
“Cakepan juga aku daripada dia.”
Malia berkata sinis setelahnya, dan membuat Reiji terkekeh selain gemas.
“Udah cepet abisin itu kwetiau kamu .....” imbuh Malia. “Aku udah ngantuk!”
Namun Reiji bergeming. “Ngegemesin ih Nyonya Reiji Shakeel kalo lagi cemburu gini –“
“Makan! .....” potong Malia, sambil dengan sewot memasukkan kwetiau yang sudah ia ambil dengan garpu ke mulut Reiji.
“Pelan-pelan Ayang .....”
Alih - alih marah karena mulutnya dijejali kwetiau oleh Malia - Reiji malah berujar geli atas tindakan Malia tersebut, setelah ia selesai mengunyah dan menelan kwetiau yang dimasukkan dengan paksa ke mulutnya oleh Malia itu.
“Sadis ---“ kekeh Reiji kemudian dan Malia memandang malas padanya.
Cup!
Reiji mengecup pelan pipi Malia.
“Ngegemesin...” ucap Reiji kemudian.
**
REIJI
Seneng deh liat Lia menunjukkan gelagat kecemburuan karena Irly padaku.
Makin tambah yakin, jika Lia memang benar-benar sudah mencintaiku.
Dan aku jadi senang menggoda Lia yang nampak sewot sekarang ini.
“Apaan sih ih?! ...” ketus Lia saat aku meraih pinggangnya, sambil melirik setengah sinis padaku.
“Aku mau kasih liat sesuatu ...”
Aku berucap sambil tanganku yang satu meraih ponselku yang tadi diletakkan Lia dengan tampang sebalnya.
“Abisin dulu ini makanan kamu.”
“Iya sekalian ...” selaku.
Sambil aku merundukkan tubuhku dan sedikit merapatkan diri dengan Lia, hingga daguku aku topangkan di satu sisi bahunya.
“Apa ini?---“
“Aku dapet tawaran jadi Pilot pribadi.”
“Heu? ..” Lia langsung menoleh ke arahku, hingga pipinya bersentuhan dengan wajahku.
“Yang bikin aku fokus ke ponsel itu, ya ini,” ucapku sambil menunjukkan surel yang menunjukkan sebuah surat penawaran seperti yang aku katakan pada Lia tadi, sekaligus berkas digital mengenai poin-poin perjanjian, jika aku terima tawaran sebagai Pilot Pribadi sebuah keluarga kaya.
Super kaya sih kalau menurut pandanganku.
Karena gaji yang ditawarkan satu keluarga itu-dimana yang menawariku pekerjaan sebagai Pilot Pribadi tersebut, adalah pemilik dari Maskapai tempatku bekerja juga-sungguh sangat menakjubkan.
Selain poin-poin yang aku rasa cukup menggiurkan, selain poin-poin kewajiban dan hal mengenai pelanggaran jika aku menerima tawaran kerja sebagai Pilot Pribadi itu.
“Gimana menurut kamu? –“
“Ini seriusan Rei gajinya segitu? ...”
Wajah Lia nampak tak percaya.
“Iya ...” jawabku.
__ADS_1
Dan Lia berdecak kagum dengan samar.
“Terima ga? ...” tanyaku kemudian.
“Kalo aku cewe super matre ---“
“Istri!” tukasku.
“Ck!” Lia berdecak kecil.
“Ya kan kamu memang istri aku? ---“
“Iya ih! ...” desis Lia.
“Jadi gimana? ...” Aku kembali bertanya tentang pokok bahasan kami sekarang.
“Kalo aku sih Rei, ya terserah kamu.”
Lia menjawab sambil tangannya mengambil garpu yang ada di piringku, lalu menyendokkan kwetiau dan setelahnya menyuapiku.
“Kan kamu yang jalanin?” imbuh Lia.
“Memang, tapi sekarang aku kan punya istri, dan aku harus melibatkan istri aku ini untuk setiap keputusan aku, termasuk soal pekerjaan -----“
“Makasih ya?”
Lia mengulas senyuman.
“Jadi aku terima ga?” tanyaku.
“Jam kerja kamu nambah ga?” Lia balik bertanya.
“Kalau soal nambah atau engganya ya aku belum tau Yang. Kan menyesuaikan dengan jadwal terbang majikan nantinya ---“
“Iya, ya?” Lia manggut-manggut.
“Kalo mereka ga lagi ada jadwal sama sekali, bisa jadi aku banyak santainya.”
“Tapi seriusan itu mereka nawarin gaji kamu dengan angka segitu Rei?..” tanya Lia kemudian, sambil ia menyuapkan kembali kwetiau yang sudah ia ambil dengan garpu ke mulutku.
Entah Lia sadar atau tidak dia sedang telaten menyuapiku, tapi aku senang sekali diperlakukan seperti ini oleh Lia.
Aku tidak peduli dengan keberadaan pengunjung lain gerai makanan yang sesekali curi – curi pandang ke arahku dan Lia, dengan Lia yang sedang menyuapiku ini.
“Hm..” jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Sekaya apa itu mereka ya???” respon Lia dalam gumaman. "Sampe sanggup kasih kamu gaji segitu?"
“Entah-“
“Heran aku, itu Crazy Rich People apa sih kerjanya bisa punya duit ga ada serinya begitu?-” komentar Lia dengan polosnya. “Punya ijin cetak uang sendiri kali ya?”
Aku mendengus geli saja selepas Lia berkomentar polos dengan wajahnya yang menyiratkan ketidakpercayaan atas ketakjuban.
Akupun tak tahan untuk berlaku gemas pada Lia dengan memegang puncak kepalanya, lalu kugoyangkan dengan pelan.
“Tapi konsekuensinya, selain aku bisa santai lama – aku harus siap kapan mereka mau melakukan penerbangan-“ ucapku kemudian. “Dan aku harus mengikuti jadwal mereka sampai mereka selesai di suatu tempat-“
Lia kembali menyuapiku selepas aku kelar bicara barusan.
“Dan aku serahkan keputusan untuk pekerjaan ini ke kamu, Yang-“ ucapku, setelah aku mengunyah dan menelan kwetiau yang disuapkan Lia ke mulutku.
“Uumm..” Lia nampak berpikir kemudian.
“Ga usah kamu putuskan sekarang, Yang.”
Aku berujar setelah mulutku benar – benar kosong.
“Mereka kasih waktu aku untuk berpikir tanpa buru – buru kok-“
“Terima aja, Rei,” sambar Lia.
“Tapi sewaktu – waktu aku bisa sampai seminggu atau bahkan lebih baru balik loh?-“
“Ga apa – apa, sesuai sama gajinya,” sambar Lia.
“Ga ketemu aku seminggu, terus sendirian di apartemen ga apa – apa?-“
“Aku bisa nginep di rumah papa mama,” tukas Lia. “Kamu cari duit aja yang bener,” imbuhnya. “Demi masa depan kita.” tambahnya.
Lia menatapku.
“Ada kesempatan bagus jangan di tolak, jangan terbebani sama aku yang kamu takutkan tinggal sendiri. Aku bisa jaga diri.”
Lalu Lia berucap dengan serius.
Tapi setelahnya,
“Penghasilan segitu Rei, seandainya ditabung pun, masih banyak itu lebihnya buat aku perawatan pake lulur emas, sekalian bisa beli emas kan buat investasi?. Aku glamour gitu, glowing, bangga kan kamu? Plus kita bisa punya investasi tambahan.”
Lalu Lia tersenyum, dan entah apa arti senyumannya itu.
“Ambil Rei, sayang rezeki jangan ditolak. Jangankan seminggu, ditinggal sebulan juga ga apa – apa kok aku. Istri yang baik harus pengertian kan sama kerjaan suaminya?”
Lagi, Lia tersenyum.
Tersenyum dengan sangat manisnya.
Haish! Perempuan, dasar!
Keberadaan suami jadi ga penting kalo udah menyangkut duit.
***
Bersambung ....
__ADS_1