
Selamat membaca...
♦♦♦♦♦
“Ka-kamu –“ Malia tergugu, setelah ia dikejutkan dengan sebuah suara saat ia baru selesai memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil. “Kenapa kamu muncul lagi di depanku, Irsyad? –“
Dimana Malia langsung saja berucap dengan ketusnya dengan wajah ketidaksenangan yang ia tunjukkan pada Irsyad yang kembali lagi, tahu – tahu ada di hadapannya.
“Lia –“
“Lebih baik kamu pergi dari hadapan aku sekarang atau aku akan teriak.”
Malia mendesiskan ancaman, dengan mata setengah melotot pada Irsyad.
“Please Lia.. aku temui kamu hari ini hanya ingin meminta maaf soal waktu itu,” lirih Irsyad.
“Oke.”
“Maaf, aku ga bermaksud sama sekali untuk melecehkan kamu.” Irsyad kembali melirih. “Jadi aku menemui kamu sekarang ini untuk meminta maaf soal itu –“
“Sudah aku maafkan –“
“Makasih –“
“Sekarang kamu bisa pergi dari hadapanku –“
“Jangan membenciku, Lia..” Irsyad mengiba. “Aku juga hendak pamit.”
“.....”
“Aku akan kembali ke London.”
“Oh ya?”
“Iya..” Irsyad tersenyum.
“Semoga sukses kalau begitu..”
“Makasih, Lia..” sahut Irsyad. “Kalau boleh, untuk yang terakhir kali. Apa bisa kita duduk bersama untuk sekedar mengobrol?”
Nampak nada dan tatapan memohon pada suara dan sorot mata Irsyad ke Malia.
“Maaf.” Malia berucap tak berapa lama. “Untuk satu hal itu aku ga bisa mengabulkan,” ucap Malia lagi.
Irsyad tersenyum getir. Menghela nafasnya yang terdengar frustasi kemudian.
“Ya udah, ga apa-apa Lia, aku ngerti.”
Irsyad berucap setelahnya. Dengan mengulas senyumannya pada Malia.
“Sekali lagi aku minta maaf untuk aku yang pernah mencium bibir kamu dengan paksa dan cenderung kasar. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakiti kamu.”
__ADS_1
“......”
“Itu refleksi spontan atas kekecewaan aku karena kamu lebih memilih suami kamu, padahal aku sudah memiliki harapan besar ketika kita kembali bertemu, lalu kamu mau selalu menghabiskan waktu denganku.”
“......”
“Nyatanya aku saja yang terlalu naif hingga memiliki penilaian sendiri atas sikap kamu ke aku, Lia.”
“Untuk itu aku minta maaf..” tukas Malia. “Maaf jika sikap aku membuat kamu jadi berpikir ke arah sana.”
Malia menarik sudut bibirnya sangat tipis.
Sedikit banyak ia merasa bersalah pada Irsyad sebenarnya karena kegamangannya waktu dan sempat naif juga berpikir untuk meninggalkan Reiji dan memilih Irsyad atas dasar masih merasa mencintai pria dari masa lalunya itu, dan adalah impian Malia untuk bisa hidup bersama dengan Irsyad yang juga telah mengungkapkan perasaan cintanya pada Malia—dan sempat membuat Malia melambung tinggi.
“Maaf, kalau aku membuat kamu kecewa..” ucap Malia dengan nada suara yang pelan, tanpa ada lagi emosi pada Irsyad.
Irsyad menarik sudut bibirnya. Menatap Malia sedikit lekat kemudian tanpa bicara untuk beberapa saat.
Membuat Malia menjadi sedikit kikuk karenanya.
Malia berdehem pelan kemudian.
“Ya sudah, kalau begitu kita akhiri pembicaraan ini,” ucap Malia kemudian.
“Iya,” sahut Irsyad yang sempat sedikit terkesiap. Lalu mengulas senyumannya pada Malia.
***
“Lia –“
Malia yang tadinya hendak undur diri dan segera masuk ke mobilnya itu, spontan menyahut kala Irsyad menyebut namanya.
“Boleh tanya satu hal? ...” ucap Irysad seraya bertanya.
“Tentang? –“
“Apa kamu benar-benar tidak memiliki perasaan cinta padaku, Li?” jawab Irsyad yang kembali mengajukan pertanyaan pada Malia.
Malia sedikit terkejut dengan pertanyaan Irsyad barusan. “Iya ...” namun Malia dengan segera memberi jawaban.
“Sedikitpun ga ada? ...”
Irsyad memastikan, dan Malia melipat bibirnya.
“Ga ada,” ucap Malia kemudian, menatap Irsyad dengan sorot mata keyakinan.
“Tapi apa pernah kamu punya perasaan itu terhadapku, Li? ...”
“Engga, Irsyad.”
“Bahkan dari sejak kita dekat saat kuliah dulu? –“
__ADS_1
“Iya.”
“Lalu kenapa kamu mengeluhkan soal kamu yang dijodohkan termasuk pernikahanmu waktu itu?”
Malia menghela nafasnya dengan samar, setelah pertanyaan Irsyad barusan. “Aku sedang gamang waktu itu ..... anggap aja begitu.”
***
REIJI
Tiga hari setelah aku menyelesaikan sisa jadwalku sebagai pilot reguler di maskapai yang pemiliknya berikut keluarga Bos Besarku itu, dimana yang bersangkutan telah menjadikanku salah satu pilot pribadi mereka ----- hari – hariku menjadi lebih santai.
Dalam satu bulan, mungkin hanya beberapa kali saja aku bekerja menerbangkan pesawat jet milik Bos Besarku ataupun keluarganya itu. Karena memang bukan aku seorang pilot pribadi yang mereka punya, meskipun banyak sekali anggota keluarga dari Bos Besarku itu ----- yang setiap keluarganya masing – masing memiliki jet pribadi dengan ragam ukuran dan model.
Termasuk satu jet pribadi super besar dan kelewat canggih, yang aku rasa bahkan jet orang terkaya di Dubai aja kalah dari itu jet pribadi yang dikhususkan untuk keluarga besar Bos Besar maskapaiku itu jika seluruh anggota keluarganya pergi sekaligus.
Benar-benar keluarga Sultan. Bahkan aku rasa Sultan juga kalah kayanya dari mereka.
----
“Reiji!”
Aku mendengar suara bariton seorang lelaki memanggilku yang baru saja keluar dari mini market yang ada di area gedung apartemenku dan Lia.
“Benar dengan Reiji kan? ..” Orang yang memanggilku itu sudah berada di hadapanku sekarang.
Laki – laki berkulit putih, tampak dandy ( semacam pesolek ). Sorry to say, karena memang begitu penampilan pria yang tahu – tahu muncul dan memanggilku ini.
Kemeja licin dan kaku yang macam dipakaikan lilin, celana chino dan sepatu oxford.
“Reiji suaminya Malia?” ia memastikan, disaat aku sedang menelisik dirinya.
Mencoba aku ingat – ingat tentang siapa laki – laki dandy di hadapanku ini.
Yang sepertinya aku tahu siapa laki – laki ini, meski aku tidak pernah jelas melihat wajahnya selama ini.
Tapi penampilannya ini aku ingat sekarang, yang aku lihat dari jarakku waktu itu disaat aku berniat untuk memberi Lia kejutan di kantornya atas kepulanganku yang lebih cepat dari yang aku katakan pada Lia.
Si bibit pebinor. Irsyad.
“Iya, benar.” jawabku, sambil aku mencoba menahan emosiku. “Anda siapa?” tanyaku pura – pura tidak tahu siapa dirinya itu.
“Irsyad ..” si bibit pebinor itu mengulurkan tangannya padaku.
Lalu sibibit pebinor mengajakku duduk untuk bicara.
Dimana sebuah kedai kopi kekinian yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Aku tak banyak bicara ketika si bibit pebinor itu mulai bicara lagi saat kami telah duduk bersama dalam satu sudut kedai kopi kekinian yang kami masuki itu.
Hingga kemudian si Irsyad bilang, “Aku laki – laki yang Malia cintai.”
__ADS_1
***
Bersambung ...