WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 148


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Aku cinta kamu, Li. Dan aku tahu kamu juga mencintai aku. Jadi lepaskan pernikahan kamu yang ga sehat ini, kalau perlu aku yang bicara dengan suami kamu dan mengatakan padanya kalau kita saling mencintai –“


Malia dibuat membeku oleh Irsyad yang baru saja mengucapkan kalimat panjang itu. Pandangan Malia pun terpaku pada Irsyad.


“Kak –“ ucap Malia, sambil ia menarik satu tangannya yang digenggam oleh Irsyad.


Irsyad tersenyum kecut saat Malia menarik tangannya yang sedang Irsyad genggam itu.


“Aku ingin membahagiakanmu Lia...”


Irsyad kemudian berucap lagi, seraya memandang Malia lekat seraya menampakkan senyuman manisnya pada Malia.


“Kak, aku ----“ Malia membuka mulutnya.


“Aku ga percaya sama yang namanya kebetulan ----“ Irsyad keburu menyambar sebelum Malia sempat bicara. “Ada sebab akibat disetiap kejadian.”


Malia urung lanjut berkata, dan membiarkan saja dulu Irsyad berbicara. Setidaknya, Malia ingin menghargai Irsyad.


“Dan itu yang terjadi padaku. Aku yang sudah tidak memiliki nomor ponselmu, membawa harapanku kesini untuk bertemu dengan kamu. Hari dimana kita bertemu, esok harinya aku berencana ke kampus untuk mencari data terbaru tentang kamu ...”


Irsyad masih berbicara.


“Nomor telepon kamu setidaknya, mungkin mereka punya yang terbaru. Pikirku. Tapi ternyata, ga disangka aku udah keburu ketemu kamu di restoran sushi favorit kita.”


Irsyad menyatukan kedua tangannya sendiri di atas meja - setelah ia menggeser ke sampingnya, piring berisi makanan pesanannya.


“Dan yang seperti sudah pernah aku katakan, entah kamu memperhatikan atau tidak. Aku hengkang dari London dan kembali kesini untuk satu alasan ...”


Irsyad menatap lekat dan serius pada Malia.


“Kamu. Dan aku datang dengan harapan besar pada kamu, untuk memperbaiki kebodohanku karena mengabaikan kesempatan untuk memiliki kamu. Dan ternyata Tuhan mengabulkan harapanku.”


Irsyad tersenyum.


“Dia mempertemukanku lagi dengan kamu, sebelum aku sempat mencari tahu informasi tentang kamu ... Well, walau setelahnya kabar tentang kamu membuat aku terpaksa harus menelan pil pahit.”


Lalu Irsyad terdiam sejenak, begitu juga Malia.


“Untuk itu Kak---“


“Boleh aku menyelesaikan omonganku dulu? ...” potong Irsyad.


“Maaf---“


“Ga perlu minta maaf, Lia ...” tukas Irsyad.


“Silahkan Kakak lanjutkan---“


“Thanks.”

__ADS_1


Irsyad tersenyum kecil.


“Jujur, aku syok saat mendengar kamu sudah menikah, Li---“


Irsyad kembali bicara.


“Tapi aku terus saja memikirkan kamu setelah pertemuan kita lagi setelah sekian lama. Dan tetap memikirkan kamu meskipun aku tahu kamu udah jadi istri orang---“


Irsyad menghela nafasnya.


“Tapi tetap, aku tidak bisa berhenti mikirin kamu, Li. Makanya aku ajak kamu untuk ketemuan. Dan gayung bersambut, kamu ga menolak. Ga pernah memberikan penolakan pada setiap ajakanku untuk bertemu.”


“....”


“Lalu hatiku rasanya perih, saat tahu jika kamu menikah karena dijodohkan –“


“....”


“Jadi aku berpikir, rasanya Tuhan memiliki rencana. Untukku, untuk kita. Dan aku tidak akan menyiakan itu ...”


Irsyad tersenyum.


“Aku mau memperjuangkan kamu, tak peduli bagaimana statusmu. Orang tuaku open mind, mereka tidak memandang status seseorang, yang penting anak-anaknya bahagia. Aku cinta kamu Lia, dan aku yakin kamupun begitu ... Aku bisa lihat itu dari cara kamu memandang aku di setiap pertemuan kita ... Jadi ayo, kita perjuangkan apa yang seharusnya kita miliki sejak lama, Lia. Kebersamaan kita----“


“Kak –“


“Kamu ga harus berkorban lebih banyak dan lama, demi apapun dan siapapun dalam pernikahan kamu sekarang Li. Aku minta maaf kalau aku telat memahami semuanya. Tapi sekarang aku udah disini, dan aku ga akan membiarkannya. Mengorbankan kebahagiaan kamu demi kebahagiaan orang lain.”


“Aku tidak mengorbankan kebahagiaanku, Kak----“ tukas Malia. Dan dia menatap yakin pada Irsyad.


“Ga ada yang coba aku tutup-tutupi, Kak..” potong Malia.


“....”


“Tidak ada yang aku tutup-tutupi hal tentang mengorbankan kebahagiaanku.”


“....”


“Karena aku tidak merasa sedang berkorban atas pernikahanku itu. Aku ikhlas menerimanya, pernikahanku, juga laki-laki yang menjadi suamiku.”


Malia memberikan tatapan yakin pada apa yang Malia utarakan pada Irsyad saat ini.


Irsyad tersenyum tipis. Merasakan getir dalam hatinya.


“Lia---“


“Aku tidak merasa terpaksa sama sekali. Untuk Kakak ketahui.” potong Malia.


“Stop it Lia, Please. Berhenti membohongi diri kamu sendiri---“


“Aku tidak membohongi diri aku sendiri, Kak.”


Malia dengan cepat menyergah. Namun yang terjadi selanjutnya membuat Malia terkejut.

__ADS_1


“Aku cinta kamu, Lia.”


Irsyad meraih tangan Malia yang berada di atas meja dan menggenggamnya.


Malia terkesiap dan mencoba menarik tangannya dan dari genggaman Irsyad, namun Irsyad tak membiarkannya.


Dan Malia menjadi risih dibuatnya. Risih karena di tempat umum dengan tangan yang digenggam oleh laki-laki yang bukan suaminya, dan risih karena merasa hal itu tidak benar.


Selain hati kecil Malia sedang mengingat Reiji yang sudah ia cintai, dan seperti ini-walau bukan Malia yang mau, bahkan Malia sudah mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Irsyad, sedikit banyak Malia merasa sudah mengkhianati Reiji.


Dan itu membuat hati Malia tidak merasa nyaman. Terlebih, Irsyad lagi-lagi mengucapkan sebaris kata cinta padanya.


“Aku ingin membahagiakanmu Lia. Kebahagiaan yang ga bisa suami kamu kasih ke kamu ..”


“Kak—“


“Aku bisa kasih kebahagiaan itu.”


Irsyad memajukan diri dalam duduknya, lalu mengangkat sedikit tangan Malia yang sedang ia genggam.


“Aku cinta kamu, dan aku akan perjuangkan itu..."


Malia menggeleng, namun Irsyad sedang mendekatkan tangan Malia ke bibirnya.


“Melepaskanmu dari belenggu perjodohan---“


Irsyad hendak mengecup tangan Malia yang ia genggam itu.


Malia keburu sadar dengan apa yang hendak Irsyad lakukan, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


“No!”


Malia sampai menyentak tangannya dengan kuat agar dapat lepas dari genggaman Irsyad yang nampak terkejut atas tindakan dan suara Malia yang sedikit meninggi.


Untung saja restoran tempat Malia dan Irsyad berada saat ini sedang tidak ramai, namun begitu suara Malia yang meninggi itu sempat membuat orang-orang yang berada di dalam restoran menoleh ke arahnya dan Irsyad, walau orang-orang itu hanya menoleh sekilas karena refleks. Namun tetap membuat Malia menjadi sedikit salah tingkah karena sempat menjadi pusat perhatian di restoran tempatnya berada.


Malia berdehem, untuk menetralkan dirinya. Dan Irsyad yang sempat juga melirik ke arah meja lain, kini sudah kembali fokus pada Malia.


“Apa Kak Irsyad ingat kalau kurang lebih dua minggu yang lalu aku mengirimkan Kakak pesan chat? ...”


“Iya, aku ingat ...”


“Berarti seharusnya Kakak sudah paham dengan apa yang aku katakan pada chatku itu---“


Malia menyembunyikan kedua tangannya di atas meja.


“Karena dalam chatku aku rasa aku sudah cukup jelas mengatakan, jika kita seharusnya mulai menjaga jarak. Ada hati yang harus aku jaga ...”


Malia kini menampakkan ekspresi serius pada Irsyad.


“Hati suamiku—“ lanjut Malia. “Karena aku sudah mencintainya.”


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2