
Selamat membaca..
***
REIJI
“Yuk ah kesana...” Ajakku pada Malia, saat aku melihat beberapa orang yang sedang berfoto ria dengan
menggunakan pakaian tradisional di spot yang suasananya seperti di negara Jepang.
“Ngapain coba? Orang rame yang foto-foto gitu ....” Begitu jawab Malia saat aku mengajaknya untuk pergi ke spot tersebut yang memang ramai orang yang sedang berfoto ria. Ada yang selfie, wefie, bahkan foto bareng keluarga, termasuk beberapa pasangan yang berfoto dengan macam-macam pose.
Bikin ngiri.
“Ya udah makanya sekalian kita foto pre-wed!”
Makanya aku iseng aja mencetuskan ide itu. Mau tau gimana tanggapannya Malia.
Dan yah, sesuai dengan dugaanku, Malia tak nampak antusias dengan ide asalku tentang foto pre-wed dadakan yang ga serius juga aku cetuskan.
Malia bahkan nampak sekali tak menginginkan ada segala acara foto pre-wed diantara kami.
Well, aku coba memahami sikap Malia yang seperti itu.
Aku tahu, kalau Malia tidak mencintaiku. Untukku sendiri pun mungkin begitu.
Rasa yang disebut ‘cinta’ itu masih jauh dari kami berdua.
Tapi kalau rasa suka sebagai seorang laki-laki pada makhluk cantik bernama Malia ini, ada!.
Besar sepertinya sekarang sih.
Kalau sayang dan perduli memang dari dulu, dari Malia orok.
Tapi aku mulai merasakan rasa sayangku sudah jauh berkembang pada Malia, entah sejak kapan.
Sejak Malia memelukku saat hari wisudanya kayaknya sih.
Dan hal itu masih menjadi misteri untukku.
Kenapa Malia yang seringnya nampak sebal padaku, seolah menantikan ku datang dihari wisudanya, sampe
peluk-peluk segala.
Jadi baper kan nih, orang ganteng?!.
Kirain, dia bakal bilang ‘Rei, sebenarnya gue suka sama lo ..’
Nyatanya boro-boro. Kayaknya spontan aja Malia memelukku saat hari wisudanya itu. Bagian Euphoria
kebahagiaan karena udah lulus kuliah. Ditambah Malia menjadi salah satu mahasiswi dengan nilai akademis terbaik.
Karena setelahnya, komunikasi dan intensitas pertemuanku dengan Malia amat sangat jarang. Bahkan saling berkirim chat selama sekian bulan kayaknya pernah.
Eh tau-tau aku dan Malia malah dijodohkan oleh dua pasang orang tua hebring tanpa tedeng aling-aling. Dimana
kesan yang aku dapat saat orang tuaku dan Malia mencetuskan ide soal perjodohan itu, Malia jelas sekali tak menyetujui ide perjodohan tersebut.
Rasa-rasanya Malia memang tidak memiliki ketertarikan padaku layaknya lawan jenis.
“Memang harus ya kita foto pre-wed? ...”
Ah sudah, aku sudah yakin kalau Malia memang benar-benar tak ada rasa untukku setelah dia mengucapkan kalimat tersebut.
Meski Malia bilang dia ikhlas dengan perjodohanku dan dia ini, namun keengganan dirinya tentang perjodohan
kami tidak dapat ia tutupi dari penglihatanku.
Toh dari kalimat pertanyaannya itu, sudah jelas menggambarkan jika ia tidak mau melakukan serangkaian foto
pre-wed yang biasanya mesra itu.
“Ga harus kok”
Dan aku menjawab begitu.
__ADS_1
Agak malas saja melihat wajah Malia yang tadi sudah terlihat ceria saat kami sedang mengelilingi tempat wisata ini, menjadi bermuram durja.
Halah!
Apa sih Ji.. Ji..
****
“Aku ga tersinggung apalagi marah kalau kamu ga mau ada acara foto pre-wed buat nambah-nambahin hiasan di acara nikahan kita nanti. Ga masalah buat aku. Mau segala ada foto pre-wed atau engga. Yang jadi masalah buat aku itu, kalau kamu tau-tau berubah pikiran dan membatalkan pernikahan kita ....”
“.......”
“Dan aku harap itu ga sampai terjadi”
“.......”
“Jika – Andai kata – itu terjadi .... nah, baru kayaknya aku tersinggung atau mungkin marah sama kamu, Lia....”
“.......”
“Apalagi tau-tau kamu kabur pas akad nikah ....”
“.......”
“Jangan sampe kamu begitu ya Lia? ...”
“Insya Allah engga”
“Aamiin” Sahut Reiji dengan tersenyum seperti halnya Malia yang tersenyum padanya saat menjawab pertanyaannya tadi.
**
MALIA
Aku sontak terkejut saat Reiji mengajakku ke spot negara Jepang yang ada di tempat wisata yang aku dan Reiji
kunjungi saat ini, untuk sekalian foto pre-wed katanya.
Disaat aku merasa panik karena ajakan Reiji soal foto pre-wed dadakan itu, tau-tau gelakan Reiji mengudara.
Lalu Reiji berucap seperti itu.
Iya kali itu cowo mau ngajak foto pre-wed pake kamera ponsel atau pake jasa fotografer di tempat wisata?.
Ga modal banget itu sih.
Reiji terkekeh kecil saat aku sedikit mencibirnya tak serius, soal dia yang ga modal kalo harus foto pre-wed
dadakan di tempat yang ramai orang berfoto ria dengan bebasnya
Lagipula .....
Kalau boleh jujur sih, aku juga ga ngerasa excited untuk foto pre-wed begitu dengan Reiji sebagai hiasan
pelengkap pernikahan kami nanti.
Rasanya aneh aja, kalau kami yang bisa dikatakan bersama karena terpaksa dimana tidak ada ‘rasa’ dalam hati kami masing-masing yang disebut ‘cinta’ itu harus berpose mesra didepan kamera.
Padahal jalan berdua sama Reiji begini aja, suasana canggung antara aku dan Reiji masih terasa. Yah, meski sudah agak sedikit mencair sih.
Reiji yang sok cool kek freezer frozen food itu, ternyata punya sisi yang bisa membuat orang merasa nyaman
seketika saat di dekatnya.
Tapi kalau soal foto pre-wed, aku ga sampe mikir kesana.
Mungkin beda jika aku dan Reiji memang bersama secara alamiah. Bukan karena perjodohan.
Ah sudahlah.....
Lagian Reiji juga bercanda ngajak foto pre-wed.
Pikirku.....
Tapi ternyata setelah menyelesaikan kekehannya Reiji berkata,
__ADS_1
“By the way Lia, soal foto pre-wed.....”
“Kita belum bikin jadwal buat itu loh? .....”
Duh, kenapa beneran dibahas sih soal itu foto pre-wed yang ga penting menurutku.
“Memang harus ya kita foto pre-wed? ...”
Hingga ucapan sekaligus pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku sembari memandang datar pada Reiji yang langsung mengulas senyuman yang terlihat natural.
“Ga harus kok”
Dan satu kalimat itu yang kemudian lolos dari mulut Reiji.
Ah syukur deh kalo Reiji ga serius soal acara foto pre-wed.
“Ya udah yuk kita balik ..”
Tadinya aku sudah merasa lega, karena Reiji sepertinya tak terlihat tersinggung menangkap penolakan halusku
tentang ritual foto pre-wed.
Tapi ajakan Reiji untuk balik itu membuatku mengernyitkan dahi.
Marah nih Reiji jangan-jangan, karena sadar kalau aku enggan soal ritual foto pre-wed yang lumrah dilakukan
zaman sekarang ini.
Aku jadi tak enak hati pada Reiji rasanya.
Tapi ternyata tidak.
Reiji tidak marah meskipun aku menunjukkan keenggananku soal foto pre-wed.
Tidak juga menunjukkan ketersinggungan. Menurutku. Tapi saat Reiji tau-tau ngajak balik dengan alasan katanya kami kan sudah berkeliling tempat wisata yang sedang kami kunjungi ini, kok aku malah jadi mikir kalau sebenarnya Reiji tersinggung denganku yang enggan melakukan foto pre-wed.
Perasaan ga enak pun muncul lagi di hati aku. Duh, Reiji nih suka bikin gue bingung!.
“Lo marah ya? ...”
Kemudian aku melontarkan pertanyaan itu pada Reiji pada akhirnya.
Daripada aku menduga-duga?.
Meskipun benar memang alasan Reiji yang ngajak balik karena kami memang sudah mengelilingi tempat wisata
yang sedang kami kunjungi ini walau hanya sekedar melihat-lihat dan berjalan melewati beberapa spot sepintas lalu, tapi ajakan Reiji untuk balik tepat saat kami sedang membahas soal foto pre-wed yang menampilkan wajah enggan ku untuk melakukannya, membuatku akhirnya melontarkan pertanyaan pada Reiji.
“Marah? ....”
Eh si Reiji malah balik nanya.
Aku pun segera mengangguk.
“Kenapa aku harus marah? ...”
Terus si Reiji nanya lagi.
Dan aku mengatakan pandanganku kenapa aku mempertanyakan apakah Reiji marah atau tidak padaku.
“Memang aku bocah?”
Begitu jawaban Reiji setelah ia mengulas senyuman yang sialnya manis banget, sembari geleng-geleng.
Memang bukan bocah sih. Karena rangkaian kata-kata berikutnya yang Reiji keluarkan dari mulutnya,
menggambarkan betapa dewasanya pemikiran Reiji dan betapa tidak egoisnya dia.
Terlebih saat kata-katanya yang seolah memohon agar aku tidak berubah pikiran soal perjodohan ini, dan melakukan kekonyolan seperti kabur saat pas mau akad nikah mungkin? Dengan sorot ketulusan yang terpancar dari mata jernih Reiji itu membuatku terenyuh.
Membuat aku bertanya-tanya sendiri,
Apa Reiji ini sudah jatuh cinta padaku dan karenanya dia takut kehilangan aku??.
**
__ADS_1
Bersambung..