WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 256


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


REIJI


Aku hampir membunuh si bibit pebinor b*jingan bernama Irsyad itu, jika saja Lia tidak jatuh pingsan. Selain Ammar yang juga menahanku.


Yang setelah Lia pingsan dan langsung berbalik ke arahnya serta aku membuang sembarang pistol yang aku genggam, aku mendengar Ammar berkata untuk mengamankan si bibit pebinor b*jingan itu lalu menyerahkannya pada seseorang yang entah siapa.


Setelahnya aku langsung fokus pada Lia yang pingsan.


Dan memasukkannya langsung ke dalam mobil dengan aku posisikan kepalanya di atas pahaku.


****


“B*ngsat.”


Adalah geraman Reiji dengan mengumpat kasar dengan suara yang tertahan, sambil memandang ke arah belakang Ammar. Dimana laki-laki itu sedang diseret untuk masuk ke sebuah mobil berbeda dengan yang saat ini Reiji tumpangi, dan Irsyad nampak payah dengan kondisi wajah yang mata Reiji tangkap agak babak belur.


Reiji spontan mengumpat dalam geraman, setelah Ammar mengatakan padanya tentang kondisi Malia saat ini, yang dari apa yang Ammar katakan pada Reiji adalah jika Malia telah diberikan obat perangsang oleh Irsyad.


“Jadi lebih baik istri kamu dibawa dulu ke penthouse milik Tuan Jonathan dan istrinya di kota ini, demi kenyamanan beliau...”


Kemudian Ammar berkata lagi pada Reiji, sedikit memberikan saran.


“Terus harus gimana Am?...” tanya Reiji khawatir.


****


“Ada yayasan milik teman Tuan Alva di kota ini yang mungkin dapat mengirim orang untuk memberikan penawar dari obat perangsang yang diberikan pada istri kamu itu.” Ammar menanggapi ucapan Reiji yang serupa pertanyaan tadi.


“Ya udah langsung ke sana aja kalo gitu,” ucap Reiji kemudian, sambil sekarang ia sudah memandang lagi pada Ammar. “Saya takut Lia kenapa-kenapa...”


Reiji tetap memandang pada Ammar, menunggu tanggapan laki-laki itu.


“Coba dicek dulu denyut nadi istri kamu...”


Ammar lalu bicara.


“Di atas normal. Tapi tidak terlalu cepat,“ ucap Reiji setelah mengecek denyut nadi Malia.


****


“Hmm ... seharusnya sih itu tidak masalah.”


“Tapi kita kan ga tau seberapa banyak si keparat itu kasih istri saya ini obat perangsang.”


“Bisa di cek lewat sample darahnya jika memang ingin mengetahui seberapa banyak obat perangsang yang diberikan pada istrimu itu.”


****


“Kalau gitu, bisa dicek di tempat yang tadi kamu bilang? ...” ucap Reiji dengan menatap harap pada Ammar yang kemudian nampak melipat bibirnya. Sebelum pria itu menjawab ucapan Reiji.


“Bisa saja sih ...” kata Ammar. “Hanya saja Lokasi yayasannya agak jauh dari kota... Tapi akan aku coba hubungi temannya Tuan Alva itu,” sambungnya. “Tapi akan sedikit memakan waktu bagi pekerjanya teman Tuan Alva untuk datang ke penthouse Tuan Jonathan dan istrinya, atau kamu yang pergi ke sana.”


Reiji pun langsung menanggapi ucapan Ammar barusan. “Jadi gimana?...”

__ADS_1


Didetik dimana Ammar nampak mesam – mesem. “Yaa... tidak gimana-gimana...” ucap Ammar kemudian.


Lalu Reiji yang mendapati Ammar tengah mesam – mesem itu----mengernyit heran.


Karena selain Ammar yang tiba – tiba mesam – mesem itu, laki – laki  tersebut juga meringis salting.


“Atas nama obat perangsang... penawarnya ya dengan istri kamu ‘menyalurkan’ efek yang dia rasa karena obat perangsang itu, dan kamu menerima ‘saluran’ efek yang istri kamu rasa dari obat perangsang yang saat dia sadar nanti pasti efeknya akan nampak nyata...”


Lalu Ammar bicara lagi. Dan cengar – cengir pada Reiji setelahnya. Dimana Reiji sedang menelaah ucapan Ammar, yang tak lama Reiji pahami kemana arahnya.


“You know what I mean right? ( Kamu paham maksudku kan? )” kata Ammar lagi. Lalu Reiji tersenyum lebar. Dan Ammar terkekeh.


“Paham banget,” sahut Reiji yang lupa jika ia panik dengan kondisi Malia sebelumnya. Karena sekarang otak m*sumnya sedang melanglang buana.


****


Dan otak m*sum Reiji yang melanglang buana itu tetap bertengger di otaknya sampai dirinya dan Malia telah diantarkan oleh dua orangnya Ammar ke sebuah unit apartemen dengan kategori mewah.


“Kayaknya gue harus mandi air es nih!” gumam Reiji yang sedang memandangi Malia yang masih terlelap di atas sebuah ranjang dalam satu kamar yang merupakan kamar utama pemilik apartemen kelas mewah tempat Reiji dan Malia berada saat ini.


Dan melalui Ammar, Reiji dan Malia diperkenankan menggunakan kamar utama tersebut karena pemiliknya sendiri yang menyarankan. Termasuk menggunakan semua fasilitas dalam apartemen kelas mewah yang biasa disebut penthouse itu----pun pakaian dari sepasang suami istri yang memang tersedia didalam walk in closet pada kamar tempat Reiji dan Malia sedang berada itu.


“Iya deh, gue mendingan mandi aja dulu...” Reiji menggumam lagi yang ingin menghilangkan pikiran ‘iya-iya’ nya yang ingin ia lakukan bersama Malia, setelah sebelumnya ia merutuki dirinya sendiri yang seolah akan mengambil kesempatan dalam kesempitan pada istri sendiri. “Eh tapi kan Lia lagi marah sama gue gara-gara dia mergokin gue di apartemennya Irly?—“


****


Ingatan Reiji tentang pokok permasalahan kenapa sampai tragedi Malia diculik Irsyad membuat otak m*sum Reiji segera menghilang.


Dirinya yang tadi cengengesan ga jelas, kini menghembuskan nafasnya dengan berat.


Kemudian Reiji tetap menjalankan rencananya untuk mandi. Karena ia merasakan tubuhnya perlu di bersihkan setelah dari dirinya yang menyelamatkan Malia bersama Ammar dan orang-orangnya di villa milik Irsyad.


Sambil Reiji melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tempatnya dan Malia berada.


****


MALIA


Hal yang terakhir aku ingat sebelum aku rasa pandanganku mengabur lalu menggelap dan setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi, adalah aku melihat Rei berjalan ke arah Irsyad dengan sebuah pistol di tangannya. Setelah Rei yang belum lama menempatkanku di kursi penumpang nampak mengetat wajahnya selepas Irsyad mengoceh, lalu ia meninggalkanku di dalam mobil.


Aku mendengar suara seorang laki-laki yang berseru di dekatku, saat Rei berbalik dariku.


Dan setelahnya aku pun turun dengan tergesa dari dalam mobil, sambil juga berteriak memanggil nama Rei.


Namun Rei nampak tak menggubris teriakanku itu, karena dia terus saja berjalan ke arah Irsyad. Yang mana aku sempat melihat jika Rei telah sampai di dekat Irsyad. Dengan ujung pistol yang sudah Rei arahkan ke kepala Irsyad.


Dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.


----


Yang aku tahu sekarang ini adalah jika aku berada di dalam sebuah kamar yang mirip seperti kamar hotel bintang lima. Setelah sebelumnya aku bangun dengan terkejut, lalu mengedarkan pandanganku. Aku pun sempat melirih menyebut nama Rei, dimana suamiku itu tidak aku lihat ada di dekatku.


Dan aku kemudian jadi ketakutan sendiri, lalu teringat pada Irsyad yang hendak memperkosaku. Dimana aku spontan menarik sebuah bed cover yang menutupi sebagian tubuhku dan membuat bed cover itu aku pastikan menutupi tubuhku.


Yang mana satu bagiannya pada leherku aku pegangi dengan erat. Dan aku takut jika Rei yang menyelamatkanku dari Irsyad yang hendak memperkosa diriku ini, hanyalah sebuah mimpi.


Tapi aku berdoa jika hal itu bukanlah sebuah mimpi. Aku berharap jika Rei benar-benar sudah menyelamatkanku dari Irsyad yang sudah tidak waras itu.

__ADS_1


Hanya saja, jika itu benar terjadi, kenapa Rei tidak aku lihat sama sekali? Dan kamar dengan desain mewah ini semakin membuatku takut.


Ceklek ...


Semakin takut setelah jika aku tidak salah mendengar,  suara yang barusan aku dengar itu adalah suara pintu yang terbuka.


Dimana bunyi itu aku dengar, saat aku sedang mencoba beranjak dengan hati-hati dari atas ranjang tempatku berada sekarang.


Aku mencoba berdiri dengan memegangi sisi nakas samping tempat tidur yang saat membuka mata aku berada di atas ranjangnya.


Namun aku tidak dapat cepat melaju untuk mencari pintu kamar, karena pandanganku sedikit buram. Sebentar saja sih buramnya.


Hanya saja saat aku sudah mendapati pandanganku mulai jelas, suara pintu yang aku dengar itu membuat tubuhku spontan menegang di tempatku berdiri.


----


Aku ketakutan.


Sama seperti saat di dalam villa tempat Irsyad menawanku, saat aku dengar suara pintu itu.


Dan atas dasar ingatanku yang mencoba melarikan diri dari Irsyad, mataku melirik ke arah nakas.


Untuk mencari apapun untuk membela diri.


Jika Rei yang menyelamatkanku adalah sebuah mimpi.


Dan yang sedang membuka pintu itu adalah si gila dan bejat Irsyad.


----


Aku sudah menggenggam sebuah benda yang aku rasakan di tanganku setelah aku meraba-raba nakas di sampingku itu adalah sebuah figura foto. Karena tidak ada lampu tidur di atas nakas tersebut. Tapi ujung figura foto yang tidak sempat aku perhatikan gambarnya itu, aku rasa cukup dapat bisa melukai Irsyad.


Jika memang yang membuka pintu itu adalah dia.


Jadi aku sudah mencengkeram kuat figura itu di satu tanganku yang aku sembunyikan di antara satu sisi tubuhku dan nakas.


----


“Yang?—“


“Jangan mendekat—“


“Akh!”


Tepat saat aku merasakan ada pergerakan seseorang yang mendekat di belakangku dan dia sudah kian dekat padaku tanpa aku mendengar dia yang memanggilku dengan sebutan sayang Rei untukku, aku langsung mengayunkan figura foto yang sudah aku genggam itu ke arah orang yang sudah berada di dekatku itu.


Jika aku tidak salah yang aku dengar adalah suara Rei yang memanggilku dengan ‘Yang’ itu. Dan memang hanya dia yang memanggilku dengan sebutan tersebut. Yang mana ...


“Sshh ...“


“Rei!”


Adalah memang Reiji.


Oh Tuhan, aku telah melukai suamiku sendiri.


*****

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2