
Selamat membaca....
****************
“Assalamu’alaikum, istri ..”
Sebaris sapaan bersamaan sosok tampan yang nampak di layar ponsel Malia itu terdengar.
“Wa’alaikumsalam.”
Saat seseorang yang menyapa Malia----yang mana seseorang itu adalah Reiji dan menyapa Malia dengan nampak sumringah dengan bubuhan senyuman, Malia menjawab datar saja.
“Lagi kangen apa gimana?”
“Dimana? ..”
Malia menukas ucapan Reiji dan mengabaikan ucapan Reiji yang terdengar menggodanya.
“Belum lama keluar dari pesawat,” jawab Reiji, dan Malia memperhatikan setiap hal yang ada di belakang Reiji melalui kamera ponselnya.
“Kamu anter siapa sih? ..”
Malia kembali bertanya.
“Ya aku kerja sama siapa emang?” jawab Reiji, dengan santai.
“Ya aku tau kamu kerja sama siapa, tapi kamu nganter siapa? Itu seluruh keluarga sultan atau salah satunya? ..”
“Aku nganter Pak Alva sama Pak Jo---“
“Oh---“
“Kenapa sih?---“
“Ga apa-apa---“
♣♣♣
“Jadi balik nanti sore atau ada perubahan jadwal yang mengharuskan kamu stay di sana?”
Malia kembali lagi mencetuskan pertanyaan pada Reiji.
“Ga ada perubahan rencana kok.”
Reiji pun menjawab pertanyaan Malia. Malia kemudian manggut-manggut kecil.
“Tapi ya itu, meeting juga kayaknya jadi---“
“Di Jakarta? ..” tukas Malia dan Reiji mengangguk.
“Iya ..” jawab Reiji kemudian.
♣♣♣
“Yang, VC aku putusin dulu ya? Dipanggil Bos---“
“Iya ..”
“Entar aku hubungi kamu balik---“
“Aku tunggu ya ..”
Malia menukas cepat ucapan Reiji yang berupa janji itu.
‘Ini apa cuma perasaan gue aja, kok gue ngerasa Lia agak aneh ya? ..’
♣♣♣
“Rei---“
“Hm? ..”
“Kenapa?”
Malia kembali bertanya, pada Reiji yang nampak tertegun itu.
“Apanya? ..” Reiji balik bertanya pada Malia.
“Ga jawab aku malah bengong ..”
Malia pun menjawab.
‘Jangan-jangan janjinya mau telfon balik cuma asal aja dia ucap.’
Lalu membatin curiga kemudian.
"Iya, nanti aku hubungi kamu balik pas udah agak santai, Yang."
♣♣♣
“Sibuk yah? ..”
Ada Reiji yang menyapa Malia kembali tiga puluh menit kemudian, setelah ia meminta ijin untuk mengakhiri panggilan Video Malia, kala ia telah sampai di tempat tujuannya yang mengantar dua orang dari keluarga yang mempekerjakan Reiji sebagai pilot pribadi mereka.
“Lama angkatnya? ..” ucap Reiji lagi pada Malia yang sudah kembali ia lihat di layar ponselnya.
“Abis dari toilet,” sahut Malia.
Lalu gumaman samar terdengar dari Reiji yang ada di seberang layar ponsel Malia itu.
“Sebentar Rei. Aku putus dulu,” ucap Malia.
“Oke ..”
Reiji mengiyakan ucapan Malia yang ia pahami akan memutuskan panggilan videonya.
Dimana Malia segera bangkit dari kursi kerjanya sesaat setelah ia memutuskan panggilan video dari Reiji.
♣♣♣
Hanya sekitar lima menit saja, Malia dan Reiji putus bicara dalam panggilan video.
Karena setelah Malia mendapatkan ruang yang dirasa nyaman untuknya untuk berbicara dengan Reiji dalam panggilan Video, Malia yang kemudian menghubungi Reiji.
“Hei ..”
Reiji langsung menyapa Malia yang menghubunginya duluan itu.
Malas, namun Malia tetap mengulas senyuman.
Gatal juga ingin langsung bertanya pada Reiji perihal kebohongan yang dilakukan suaminya itu, serta dua foto yang membuat Malia panas hati. Tetapi Malia memiliki persepsinya sendiri.
Jadi apa yang gatal ingin Malia tanyakan pada Reiji ia tahan sedemikian rupa atas dasar Reiji bisa saja mencari-cari alasan dan mengatakan kebohongan lain.
“Hai.” Malia membalas sapaan Reiji padanya. “Lagi ngapain?”
__ADS_1
Malia bertanya basa-basi kemudian pada Reiji.
“Mau makan bareng sama kru dan dua bos.”
Reiji pun menjawab lugas namun santai, lalu Malia bergumam samar.
♣♣♣
“Nanti dari Surabaya jam berapa?” tanya Malia. Sambil ia memperhatikan betul wajah Reiji setelah matanya sempat melirik area sekitar Reiji berada yang Malia tangkap sedang berada di sebuah restoran itu.
“Sekitar jam empatan .. Trus langsung ke head office ..” jawab Reiji.
“Hum.”
“Yang.”
Reiji memanggil.
“Ya?” sahut Malia.
“Boleh nanya ga?”
“Nanya apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?---“
“Ya ga tau justru aku nanya.”
“Ya kamu nanya aku kenapa kan pasti ada sebabnya?”
“Kayak ada yang beda aja dari kamu ..” ucap Reiji. “Ada yang lagi ganggu pikiran kamu?”
‘Ya kamu yang ganggu pikiran aku, Rei ..’ cetus Malia dalam hatinya.
♣♣♣
MALIA
Aku pikir, Rei lumayan tajam juga ya instingnya?
Dia bisa menebak dengan tepat perubahan sikapku.
Atau aku yang terlalu kentara mencecarnya hari ini?
Apapun itu, aku harus bisa menjalankan rencanaku hari ini.
Maka saat Rei bilang, “Kayak ada yang beda aja dari kamu ..”
Lalu Rei bertanya,
“Ada yang lagi ganggu pikiran kamu?”
Maka aku menjawab, “Aku cuma gabut aja hari ini.”
“Lagi ga ada kerjaan?” tanya Rei kemudian.
“Kerjaan sih ada .. tapi ga banyak.”
Rei manggut-manggut kecil setelah mendengar jawabanku.
“Ya udah gini ..”
Rei berucap setelahnya.
“Oke,” jawabku.
----
Rei hendak berbicara padaku lagi sepertinya, namun urung karena ada yang memanggilnya dan aku mendengar suara laki-laki yang berada sepertinya ada di dekatnya tak lama setelah suara panggilan itu terdengar.
“Pak Alva sama Pak Jo cari lo---“
Oke, aku dapat menenangkan diri sejenak karena memang Rei benar-benar sedang bekerja.
“Yang, aku pamit dulu ya? Udah dicari Bos,” lapor Rei padaku kemudian.
----
Aku mengangguk mengiyakan Rei yang meminta ijin untuk memutuskan panggilan video kami.
“Aku langsung balik habis meeting,” ucap Rei sebelum ia memutuskan panggilan video kami.
“Iya---“
“Love you.”
Untung saja Rei tidak memintaku menjawab ucapannya itu, karena aku sedang tak ada hati untuk membalas kalimat cintanya yang entah tulus atau tidak.
♣♣♣
Curiga.
Hal itu yang kini Malia rasa pada Reiji.
Yang mana kecurigaannya itu Malia simpan, dengan ingin menemukan jawaban dengan caranya sendiri.
Ya jawaban dari kebohongan Rei di hari ulang tahun suaminya itu sampai Malia repot-repot menyiapkan perayaan kecil yang disia-siakan Reiji---sampai soal foto-foto Reiji dengan seorang perempuan yang Malia tahu siapa.
Sahabat Reiji.
Yang sudah membuat Malia merasa tidak nyaman dengan kedekatan Reiji dan sahabatnya itu yang menurut Malia tidak tahu diri sering berkomunikasi dengan Reiji padahal Reiji sudah menikah.
Bukan permasalahan komunikasinya, namun terkadang sahabat perempuan Reiji itu suka tidak sadar waktu jikalau menghubungi atau chat dengan suaminya itu.
Jadi hal tersebut membuat Malia merasa terganggu.
Padahal, Malia pernah ribut dengan Reiji karena hal itu meskipun hanya adu mulut kecil saja.
Dan Malia ingat betul, jika kala itu Reiji berjanji akan menjauhi sahabat perempuannya itu. Namun Malia merasa Reiji membohonginya.
‘Katanya ngejauhin, tapi masih ketemuan gitu. Dan apa coba? Segala usap kepala gini plus beliin bunga dan coklat buat itu perempuan.’
Begitu Malia membatin.
‘Kamu udah nipu aku, ya, Rei?’
♣♣♣
“Makasih ya, Za? ..”
Malia berbicara seraya berterima kasih pada seseorang yang ada di samping kanannya dalam sebuah mobil sedan.
“Sama-sama, Neng,” sahut orang tersebut yang merupakan teman sekantor Malia.
__ADS_1
“Sorry ya, jadi ngerepotin lo—“
“Heleh basa-basi aja lo,” tukas laki-laki yang Malia panggil dengan ‘Za’ itu.
Malia sontak terkekeh, setelah mendengar selorohan teman kantornya tersebut.
Kemudian Malia melepas sabuk pengaman yang menahan dirinya itu. “Ya udah, gue turun ya?”
“Eh tapi beneran suami lo masih di sini? Kan kata lo tadi waktu di jalan chat lo belum dia bales?”
“Di silent hpnya sih kayaknya. Lagi meeting soalnya,” jawab Malia yang sedang menjalankan rencananya untuk mencari tahu jawaban atas kegusaran hatinya yang juga sudah agak geram karena Reiji dan kebohongannya, berikut sahabat perempuan suaminya itu yang Malia juluki sebagai ‘bibit pelakor’.
Teman sekantor Malia itu kemudian bergumam samar.
“Lo balik aja ga pa-pa. Gue kan bisa nunggu suami gue di lobi ini gedung.”
“Yakin lo? ..”
“Huum—“
“Tapi gue ga nyaman kalo ninggalin lo sendirian gini ..” tukas Riza.
“Mana ada sendirian? .. Itu orang-orang apaan?“ tukas Malia, dan teman sekantornya itu terkekeh kecil.
♣♣♣
“Ah gue tungguin lo aja deh sampe lo ketemu sama suami lo itu—“
“Ga usah udah.”
“Takut laki lo cembokur liat lo dianter sama Babang Riza yang ganteng ini?”
Malia kemudian terkekeh mendengar selorohan teman sekantornya itu.
“Iya, takut lo nanti kena bogemnya dia,” jawab Malia atas selorohan teman sekantornya yang bernama Riza itu, yang kemudian terkekeh kecil.
♣♣♣
“Tapi gue beneran mau nungguin lo sampe ketemu suami lo dulu .. Ga nyaman guenya kalo ninggalin lo sendirian gitu. Nanti gue yang jelasin sama laki lo kalo misalkan dia marah sama lo karena bareng gue—“
“Ga lah. Rei ga bakal asal marah sih,” tukas Malia.
“Nah ya udah.”
Riza berujar.
“Gue tungguin lo aja sampe lo ketemu suami lo. Daripada lo cengo?” ucap Riza lagi.
“Hmm ..” Malia bergumam, sambil ia berpikir. “Kalo gitu bentar gue coba hubungi Rei lagi.”
“Oke.”
“Atau kalau engga, lo tunggu sini bentar ya? Gue masuk nanya resepsionis, atau engga gue tanya satpamnya. Kali aja dia kenal sama laki gue.”
Riza pun mengangkat jempolnya.
Lalu Malia bergegas keluar dari mobil Riza. “Eh gue ikut deh! .. Mau beli kopi gue. Ntar sambil nunggu laki lo juga kalo dia masih lama kita bisa nunggu di sana. Lo titip pesen aja sama resepsionisnya buat ngasih tau laki lo kalo dia udah kelar, buat nemuin lo di itu coffee shop.”
Riza berujar sambil melepas seat beltnya dan menunjuk satu gerai kopi yang ada di samping bangunan utama dan kedai tersebut juga masih nampak buka, serta masih ada pengunjungnya.
“Ya udah—“
♣♣♣
“Eh Za ..” panggil Malia pada Riza yang sudah berjalan bersisian dengannya dari parkiran menuju lobi.
“Apa?”
“Kalo elo aja yang nanya ke resepsionisnya gimana?—“
“Takut lo dicap sebagai istri posesif?”
Malia tersenyum geli mendengar celotehan Riza.
“Ya udah gue tanyain,” ucap Riza. “Gue nanyanya gimana nih?”
“Bilang aja lo sodaranya Reiji Shakeel kek gitu. Mau jemput dia tapi hpnya ga bisa dihubungin.”
“Oke,” sahut Riza sambil melenggang ke arah meja resepsionis dan Malia memperhatikannya.
♣♣♣
“Laki lo ga ada di sini, Ya’.”
“Heu?”
“Kata resepsionis meetingnya batal.”
Malia tertegun memandang pada Riza.
“Coba deh lo hubungi lagi ..” saran Riza dan Malia mengangguk. “Sambil duduk di coffe shop aja yuk?” ajaknya pada Malia yang sudah menempelkan ponselnya ke telinga.
“Iya boleh.”
Malia mengiyakan sambil masih menempelkan ponselnya di telinga.
“Lo duluan deh—“
“Ya udah ..” tukas Riza. “Lo mau dipesenin apaan? ..”
“Apaan aja ..”
Sambil Malia mengekori Riza menuju coffee shop.
♣♣♣
“Bisa?”
Riza melontarkan pertanyaan pada Malia saat ia sudah sampai di depan pintu masuk coffee shop.
Kemudian Malia menggeleng sambil memandang pada Riza.
“Ya udah masuk dulu. Sambil mesen lo bisa terus coba hubungi laki lo.”
“I—“
Ucapan Malia terjeda karena ia yang merasakan ponselnya berdenting sekaligus bergetar, langsung spontan menatap ponselnya tersebut setelah dentingan notifikasi pesan masuk itu berbunyi.
“Laki lo?” tanya Riza saat Malia nampak sedang melihat layar ponselnya, dan tahu kalau ada pesan masuk ke ponsel Malia tersebut.
“Bukan ..”
Malia menjawab sangat pelan pertanyaan Riza, dengan matanya yang masih nampak memandang ke arah layar ponselnya.
Barangkali bisa membantu, kemungkinan suami kamu ada di TMK kalau dia ga ada di tempat kamu cari dia sekarang.
__ADS_1
♣♣♣♣♣♣
Bersambung ...