WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 281


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


Aku sedikit terkesiap, ketika tangan Reiji melingkar di perutku. Lalu ia mendekapku erat. Sambil mengucapkan kalimat permintaan maaf dengan sangat melirih dengan kepalanya yang ia sandarkan lesu di salah satu pundak belakangku.


Dan aku tahu, jika kalimat itu tulus Rei ucapkan padaku. Namun tetap, masih ada kesal dan geramku padanya. Namun sekarang, aku tidak meluapkan emosiku seperti saat aku meminta Rei untuk menurunkan talak padaku tadi. Kata-kata Avi ketika kami bicara beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk berbaring sejenak dan dia keluar untuk membuat teh, sedikit banyak mempengaruhi sikapku dalam menghadapi Rei sekarang.


Sedikit banyak juga, aku merasa agak keterlaluan dengan enteng meminta cerai pada Rei karena dibentak olehnya dengan bayang-bayang dirinya yang sudah menafkahi si bibit pelakor bertopeng sahabat itu. hingga semua yang buruk saja yang menempel di otakku. Padahal jika aku memikirkan lebih dalam tentang seorang Reiji Shakeel, aku rasa pun dia tidak akan sampai terlibat dengan yang namanya perselingkuhan.


Meski kondisinya aku dan Rei tidak menjadi target perjodohan orang tua kami.


Karena sejauh dan selama aku mengenal Rei, dia bukan tipikal seorang casanova.


--


Well, atas nama emosi. Apa yang benar bisa dianggap salah. Begitu juga sebaliknya. Karena saat emosi kita biarkan meraja, fakta yang sebenarnya sudah kita percayai dan lihat selam bertahun-tahun akan tertutup.


Yah, seperti aku saat meledak karena kala aku tengah kesal pada Rei gara-gara fakta dia menafkahi si Shirly sialan itu yang aku ketahui bukan dari mulutnya bahkan—Rei malah meninggikan suaranya kepadaku, sambil dirinya menunjuk dan menatap tajam padaku.


Mengingatkanku kala ia membentakku di apartemen si bibit pelakor itu, hingga pada akhirnya semua kesalahannya yang padahal aku ingat telah aku maafkan—aku absen lagi satu per satu. Dimana semua kesalahan Rei yang aku absen itu berkaitan dengan Shirly.


Ujungnya, aku meminta Rei menjatuhkan talak padaku dengan segera.


Mencecar Rei dengan sebegitunya.


Akupun sempat begitu meninggikan suaraku. Hingga Rei kulihat sangat terkejut, lalu membeku bungkam.


Sementara aku terus merepet dan mencecarnya, dan baru berhenti ketika Avi menyergahku dengan suaranya yang cukup keras.


Dan kemudian membujukku untuk masuk ke dalam kamarku dan Rei—bicara setelahnya. Dengan Avi yang mendominasi pembicaraan.


Mengomentari masalahku dengan Rei—itu sudah pasti. Namun dengan permainan kata-kata Avi yang memberikanku gambaran, pengertian dan pencerahan.


Hingga sejak aku membaringkan diri, aku memikirkan semua ucapan Avi yang aku kaitkan dengan masalah personal diantara aku dan Rei sekarang—dan keputusan apa yang ingin aku ambil tentang bagaimana aku akan bersikap pada Rei.


Masih kupikirkan sebenarnya. Bagaimana aku akan bersikap pada Rei di waktu-waktu ke depan karena jujur saja jika aku masih begitu kesal pada suamiku itu.


Hanya saja soal perceraian, mungkin tidak akan aku ungkit lagi.


Tapi untuk itu juga aku punya pertimbangan. Jika nantinya aku dan Rei pada akhirnya duduk bicara, lalu Rei membahasnya dan.. yaa mungkin saja ia tersinggung padaku dan ujungnya Rei meloloskan permintaanku yang ingin dirinya menjatuhkan talak padaku, aku rasa aku akan pasrah saja.


Toh memang aku yang memintanya duluan, kan?


Jadi jika akhirnya Rei mengiyakan dan menjatuhkan talak padaku, ya sudah. Mau bilang apa?


Cintaku masih ada padanya. Tapi rasanya untuk memohon agar Rei tidak menjatuhkan talak padaku saat ia sudah membulatkan niatnya, hal itu tidak akan aku lakukan—bertentangan dengan prinsipku, yang mana aku pantang mengemis cinta pada laki-laki betapun aku memujanya.


Yah, si Irsyad itu saja contohnya. Laki-laki yang aku cintai—sebelum aku mencintai Rei--setidaknya aku merasa perasaan itu yang aku punya pada Irsyad sejak kuliah dulu. Tapi betapun besar aku memuja Irsyad—mencintai—serta mengharapkan dia mengatakan padaku jika dia memiliki perasaan yang sama padaku—tapi ternyata Irsyad tidak peka dan memilih untuk mengejar cita-citanya, aku tidak sekalipun mengemis cinta padanya.


Dan itupun yang akan aku lakukan jika Rei sampai mengiyakan permintaanku yang aku lontarkan dengan berapi-api beberapa saat yang lalu, untuk menjatuhkan talak padaku. Dan aku tidak akan mencegah atau menyergah Rei untuk melakukan itu.


Aku akan memegang prinsipku untuk tidak mengemis cinta pada laki-laki, sekalipun ia suami yang aku telah cintai—mungkin sudah dalam juga cintaku pada Rei.


Jadi jika kemudian Rei menjatuhkan talak padaku entah malam ini juga atau esok hari, sekali lagi—aku pasrah.


--


Aku pasrahkan soal itu pada takdir Yang Kuasa, soal hubungan pernikahanku dan Rei ke depannya dalam aku yang masih berbaring sambil berpikir. Dan jika perceraianku dan Rei sampai terjadi, aku harus menyiapkan diri menghadapi kekecewaan orang tua kami. Membayangkan wajah sedih orang tuaku dan Rei andai aku dan Rei sampai bercerai, membuat kepalaku agak pening.


Selain peningku juga karena efek luapan emosi yang berapi-api pada Rei tadi. Termasuk pening karena aku jatuh dalam dilema atas cinta, statusku sebagai istri, juga prinsip hidupku yang terkait dengan permasalahanku dan Rei selama ini.

__ADS_1


Aku benci dibohongi.


Terlebih oleh orang yang sudah aku berikan kepercayaan penuh. Dan aku enggan—setidaknya akan sangat menjaga jarak dengan orang tersebut.


Namun sesuatu yang menyentil prinsipku itu, berhubungan juga dengan statusku sebagai seorang istri.


Dan ada perasaan mendalam yang terlibat disana. Begitulah, aku kini dirundung dilema. Mempertahankan prinsipku atau mengorbankan pernikahanku.


Aku tidak ingin pernikahanku hancur—setelah emosiku menyurut, dan membuat kinerja otak serta juga hatiku sudah bisa lebih ‘sehat’—tapi egoku juga tidak ingin aku mematahkan begitu saja prinsipku.


Bingung kan?


Namun disela kebingunganku—serta juga aku berpikir akan mengambil keputusan berdasarkan sikap Rei nanti saat aku sudah siap keluar dari kamar lalu bertatap muka dengannya, Rei sudah menghampiriku duluan—tak lama setelah Avi keluar dari kamar kami.


“Maafin aku, Yang.... Maaf.... hukuman apapun aku terima.... tapi tolong.... jangan melangkah pergi.... jangan.... Yang.... jangan....”


Begitu Rei melirih, setelah dirinya yang menaiki ranjang kami itu aku pikir adalah Avi. Dimana aku hendak sharing lagi dengan Avi sebenarnya, untuk meminta pendapatnya bagaimana aku bersikap seharusnya setelah luapan emosiku pada Rei tadi.


Tapi Rei keburu menghampiriku.


Memelukku dengan posesif dan melirih lesu penuh penyesalan.


Menyinggung soal perceraian—sedikit—tapi kalimatnya menyiratkan bahwa yang aku pikirkan jika Rei akan meloloskan permintaanku padanya untuk menceraikanku, itu tidak terjadi seperti yang aku kira sebelumnya.


Yang ada, Rei memohon agar aku tidak melangkah pergi. Hhh....


Masih kesal aku pada Rei sebenarnya. Tapi mendengar lirihannya, serta merasakan kepalanya bersandar lesu di belakang pundakku—aku jadi iba padanya.


Jadi aku tidak memberikan sikap antipatiku pada Rei.


Aku biarkan Rei memelukku dari belakang, yang kemudian bicara lagi dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Yakni, meminta maaf dengan teramat, menyadari kesalahannya. Begitu sungguh-sungguh kedengarannya.


Lesu dan sedih, memohon melirih. Cukup membuatku iba sebenarnya.


Tapi aku masih kesal sekali pada Rei.


--


Dan kalimat, ‘iya, aku udah maafin kamu, Rei.’


Memang tidak aku cetuskan dari mulutku. Tapi aku juga tidak menghindari Rei.


Aku memilih untuk menghadapi suamiku itu sekarang, yang aku yakin ingin membicarakan masalah kami, selain ia mengiba untuk meminta maaf dan mencegahku yang sebelumnya mengatakan—menyuruh Avi untuk tidak jadi menginap lalu pergi dari apartemenku dan Rei, dan aku akan ikut serta.


Sempat dibuat geli sejenak oleh kelakuan Rei saat aku memintanya untuk melepaskanku. Namun ia menolak dengan cepat, karena Rei berpersepsi jika kalimat ‘Sekarang lepasin.’ Yang aku cetuskan sambil tanganku berusaha melepaskan rengkuhan eratnya padaku itu, ia kira adalah permintaanku untuk Rei membiarkanku pergi dengan Avi.


Yang mungkin masih Rei pikir kalau aku akan bersikukuh memintanya untuk menceraikanku.


Padahal aku memintanya melepaskan rengkuhannya itu karena aku mulai agak sesak dengan pelukan Rei yang kian lama jadi begitu erat, sampai perutku terasa tertekan.


**


Selain sudah merasa agak sesak, Malia juga ingin berhadapan dengan Rei. Ingin melihat seperti apa ekspresi Reiji sekarang, yang sebelumnya melirih dan nampak sedikit panik selain meminta dan mengiba atas sebuah permohonan maaf pada Malia.


Dan memang wajah kusut Reiji yang memelas yang Malia dapati setelah ia sudah membalikkan badan hingga bisa melihat wajah suaminya itu. Yang langsung mencecar Malia sedetik setelah Malia menimpali ucapan Reiji yang mengira Malia yang memintanya untuk melepaskan istrinya itu, adalah agar Reiji meloloskan permintaan Malia yang ingin berpisah darinya itu.


Tapi setelah Malia mencetuskan timpalan lain yang mematahkan dugaan Reiji hingga bapak pilot itu merasa lega kemudian, Reiji langsung mencecar Malia untuk memastikan jika Malia tidak akan menuntut sebuah perceraian seperti sebelumnya. Yang mana ujungnya—setelah Reiji merepet jika ia sanggup melakukan apapun yang Malia minta untuk dirinya bisa menebus kesalahannya pada Malia asal istrinya itu tidak ngotot minta cerai, Malia mengatakan syaratnya kepada Reiji.


“Minta balik semua uang yang pernah kamu kasih ke bibit pelakor bertopeng sahabat itu,” ucap Malia, dan Reiji langsung tercenung menatap Malia. “Bisa, kamu lakukan itu?” tambah Malia dengan juga menatap pada Reiji yang nampak meneguk salivanya. “Berat ya?—“


“Bisa.”


Reiji menukas ucapan terakhir Malia yang terdengar meragukannya.

__ADS_1


“Yakin bisa?....”


Malia bertanya dengan nada serta melempar pandangan yang sedikit meremehkan pada Reiji.


“Iya. Aku bisa melakukannya.” Reiji menjawab dengan memandang penuh keyakinan pada Malia.


“Do it now then—“


“Heu?—“


“Mau pakai ponsel aku atau ponsel kamu sendiri?”


“Sekarang banget kamu ingin aku melakukannya?—“


“Iya sekarang banget.” Malia menukas lagi ucapan Reiji.


**


MALIA


Terserah jika ingin mengatakan jika aku keterlaluan.


Namun aku hanya ingin sebuah pembuktian dari suami yang katanya sangat mencintaiku.


Jadi atas dasar sangat mencintaiku lalu sesumbar sanggup melakukan apapun untuk mendapatkan kepercayaanku kembali agar aku tak kembali membahas soal perceraian dengannya, seharusnya Rei melakukan apa yang aku minta, kan?....


Termasuk meminta kembali uang yang sudah ia berikan pada si bibit pelakor bertopeng sahabat itu, meski alibi Rei adalah untuk membantu dan untuk kebutuhan anak lelaki si Shirly itu.


Walau aku bukan sebegitu kemaruknya pada uang Rei sampai aku memintanya untuk melakukan hal itu, tidak juga kekurangan uang. Aku hanya ingin Rei membuktikan kata-katanya barusan saja padaku.


‘Sanggup melakukan apapun’


Jadi aku meminta Rei melakukan itu.


Meminta kembali uang yang sudah ia berikan pada Shirly selama ini.


Perkara si bibit pelakor mau mengembalikannya aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihat seberapa sungguh-sungguhnya Rei mencintaiku, dengan melakukan hal yang simple—mungkin.


Tapi aku tahu betul, jika permintaanku ini cukup rasanya sulit untuk Rei lakukan.


Yakin, Rei pasti merasa amat sungkan—jika ingat ekspresinya saat aku mencetuskan syaratku itu.


Gengsi, malu dan banyaknya pasti ia merasa tidak enak pada Shirly. Dan yaa.... sekali lagi aku tidak peduli.


Aku hanya ingin pembuktian. Itu saja.


Lalu jika Rei menolak, atau mencari alasan untuk menunda melakukannya, maka....


“Ya udah. Pake ponsel aku aja. Kamu juga ga punya nomor telfon Ir—dia, kan?....“


Tidak jadi aku mengambil keputusan jika aku ingin berpisah sementara andai Rei menolak atau mengulur waktu melakukan syarat dariku untuk sebuah maaf dan kepercayaan.


Karena Reiji sudah mengiyakan kalau ia akan melakukan syarat dariku itu—wow! Aku sungguh tidak menyangka Rei mengiyakan permintaan atas syaratku itu dengan tanpa guratan beban di wajahnya.


Entah sih di hati Rei, atau wajah ‘biasanya’ sekarang itu ia ciptakan dengan sekuat tenaga agar aku tidak menjadi tak senang hati lagi.


Masa bodoh dengan itu. Yang jelas sekarang aku ingin buru-buru melihat pembuktian dari Rei.


“Disini ya telfonnya? Depan aku dan please di loud speaker.”


Definisi istri yang menyebalkan dan mungkin menguras sabarnya suami, sedang aku lakukan sekarang.


Hehe....

__ADS_1


***


Bersambung....


__ADS_2