WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 57


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Semoga suka ....


***


MALIA


Sudah dua minggu aku menyandang predikat sebagai seorang istri dari laki-laki yang bernama Reiji Shakeel.


Laki-laki yang sama sekali tidak aku sangka-sangka akan menjadi suamiku, jodohku.


Jodoh memang dari Tuhan, tapi aku yang seolah berjodoh dengan Reiji itu adalah hasil rencana dari dua pasang orang tua yang telah menjodohkan kami secara sepihak, tanpa aku dan Reiji tahu.


Namun yah meski begitu aku menerima Reiji dengan penuh kesadaran, juga tanpa paksaan dari siapapun.


Dan dalam kurun waktu dua minggu ini, aku sedang belajar menjadi istri yang baik untuk seorang Reiji Shakeel, meski aku baru merasa menyayanginya.


Reiji tahu tentang perasaanku padanya ini. Entah Reiji yang orangnya memang peka sekali, atau gelagatku yang belum mencintai pria yang sudah sah menjadi suamiku itu jelas terlihat.


Entahlah....


Yang jelas Reiji sabar sekali padaku. Dan aku bersyukur untuk itu.


Dan sebagai balasan untuk sikap sabar Reiji yang selalu mengedepankan keinginanku, rasanya, meskipun aku belum mencintai Reiji, aku akan berperan sebagai istri yang baik dan patuh padanya.


Membuka lebar-lebar pintu hatiku agar Reiji bisa menaklukkannya agar bisa tak hanya menerima Reiji sebagai suami, tapi juga mencintainya, seperti permintaannya padaku dengan tanpa paksaan itu.


Kalau ingat kata-kata Reiji saat kami sedang berjalan-jalan dihari terakhir bulan madu kami, ada perasaan bersalah yang bergelung di hatiku. Aku sudah menyayangi Reiji memang, tapi merasakan cinta pada Reiji sepertinya memang belum.


Aku juga tidak tahu mengapa, dalam waktu tiga bulan dua minggu terhitung dari masa penjajakan kami sejak perjodohan hingga hari ini, setelah dua minggu aku menjadi istri Reiji dan merasakan ketulusan serta kasih sayangnya padaku, bahkan dari masa penjajakan kami, perasaan yang namanya cinta itu kenapa sedikit sulit masuk ke hatiku untuk Reiji.


Padahal Reiji itu paket lengkap laki-laki yang notabene mudah dicintai, melihat bagaimana rupa dan fisiknya, belum lagi kemapanan pekerjaannya, lalu sifatnya yang perhatian pada pasangan, penuh kasih sayang, selain Reiji sangat menjaga perasaanku.


Apa karena..


Ah sudahlah.


Satu saja kekurangan Reiji dimataku sejak kami menikah, sejak ia sudah mendapatkan haknya sebagai suami atas tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Entah apa yang ada di tubuhku ini, yang jelas, Reiji itu gampang turn on asal kami udah berduaan. Yang orangnya sedang menjemputku di kantor, setelah ia pulang bertugas atas profesi Reiji yang seorang pilot itu.


**


“Aku pikir kamu pulang malam, Rei” ucap Malia saat ia dan Reiji sudah berada dalam mobilnya Reiji yang Malia bawa,  karena Reiji tidak menggunakan mobilnya itu saat berangkat untuk bekerja tadi pagi.


Jadi Malia pergi bekerja dengan mengendarai mobil milik Reiji, karena Reiji juga tidak bisa mengantarnya untuk pergi ke kantor seperti sebelumnya, dikarenakan Reiji berangkat pagi-pagi buta untuk bekerja hari ini, dan mobil jemputan khusus kru pesawat yang menjemput Reiji untuk mengantarnya ke Bandara.


“Jadwal aku Cuma satu flight yang PP aja hari ini, Yang ..” sahut Reiji saat ia hendak memasang seat-beltnya.


“Kamu ga cape kalo nyetir?”


“Engga”


“Mm, ya udah”


Malia pun manggut-manggut dan langsung memasang seat-beltnya.


**


“Kamu udah makan?”


Malia kemudian bertanya pada Reiji yang sudah mulai menggerakkan setir mobil, hingga mobil perlahan mulai melaju keluar dari parkiran gedung perkantoran tempat Malia bekerja.


“Belum. Sengaja biar makan bareng kamu aja..” jawab Reiji santai, dengan senyuman.


“Ya udah kalo gitu..” ucap Malia. “Mau makan di rumah atau mau sekalian makan diluar aja?”


“Enak sih di rumah, biar habis makan bisa langsung bakar kalori”


Reiji tak ragu untuk berkelakar yang sedikit menjurus.


“Mulai deh...”


Malia mencebik.


Dan Reiji sontak terkekeh kecil.


“Lagian heran deh, kamu tuh doyan banget sama itu!”


“Itu apa?...”


Malia mencebik lagi, sembari melirik sinis pada Reiji.


“Heleh, sok ga paham maksud aku!” rungut Malia.


Dan Reiji terkekeh lagi. “Habis enak, Yang” tukas Reiji.

__ADS_1


“Amit deh!” cibir Malia.


Dan Reiji lagi-lagi terkekeh, sembari tangannya terulur untuk mengacak pelan rambut Malia.


“Jadi soal makan gimana nih?” Malia kembali ke topik awal pembicaraannya dan Reiji.


“Terserah kamu aja, Yang.”


“Tuh, lagi –lagi terserah aku.”


Malia memajukan bibirnya kemudian.


Reiji pun mendengus geli.


“Jangan mancing-mancing ..” kata Reiji.


“Mancing-mancing apa sih? ..”


“Itu bibirnya di maju-majuin tadi?”


“Ih! Omes banget!” cibir Malia.


Dan Reiji tertawa.


“Ngegemesin banget Nyonya Reiji nihh ..”


Lalu Reiji mencubit gemas pipi Malia.


**


“Jadinya gimana ini? ..”


“Apanya? ..”


“Ya soal makaann, Bapak Reiji Shakeelll ..”


“Makan kamu?” Reiji masih jahil menggoda Malia.


“Iiih serius dong Reiji ..” Malia mencebik manja.


Reiji tersenyum geli. “Iya, iya ..”


Lalu tangan Reiji terulur ke puncak kepala Malia dan mengacak pelan lagi rambut Malia. Yang orangnya kemudian berkata seraya bertanya,


“Mau makan di apartemen, apa mau sekalian ini mampir dulu makan di luar?”


“Ya udah kalo gitu ..”


“Mau makan dimana?”


“Mana aja deh! ..”


“Yah, jangan bikin aku bingung doonng ..” tukas Reiji.


Malia mengerutkan sedikit keningnya. Sedang berpikir.


“Kayaknya mendingan kita makan di rumah aja deh Rei? ..” kata Malia. “Kan ada bahan buat bikin fettucini tuh? ..”


“Makan diluar aja, besok kamu masih harus kerja kan? Kecapean nanti ..”


“Ya abis kamu masih pake seragam pilot kamu gini? ..”


“Kenapa emangnya kalo aku masih pakai seragam pilot dan kita makan diluar? .. kamu malu?”


“Yeeee, yang ada orang-orang malah mikir aku sok pamer dateng sama Pilot ke tempat makan!” tampik Malia atas dugaan Reiji.


“Emang kenapa?” tanya Reiji.


“Ya aku dateng sama cowok yang berseragam pilot aja orang udah pasti pada ngeliatin, secara mereka pasti udah ngebayangin penghasilan pilot berapa dan tau pasti pilot kan mapan rata-rata ..”


“Terus?”


“Terus pilotnya ganteng, bodi proporsional .. nanti kan jalan kamu pasti gandeng aku. Sok-sok mesra gitu kan kamu kalo jalan sama aku .. “


Malia menjeda omongannya, karena terkekeh kecil.


“Which is orang-orang udah pasti nerka kamu pasangan aku. Ya aku pasti dibilang pamer lah, punya pasangan yang masuk kriteria laki-laki idaman ..” Malia bercerocos ria.


Reiji tersenyum kecil mendengar cerocosan Malia.


“Jadi aku laki-laki idaman?” tanya Reiji.


Malia langsung mengangguk mantap mengiyakan.


“Kalau menurut kamu aku laki-laki idaman, kenapa kamu sulit ya mencintai aku, Yang? ..”


Malia langsung terdiam sembari menatap Reiji. “A-ku ....”


Malia bersuara kemudian, namun ia tergugu.

__ADS_1


“Sor-ry, Rei....”


Karena tidak tahu harus berkata apa, akhirnya hanya itu saja yang terucap dari mulut Malia dengan kepalanya yang tertunduk.


Reiji tersenyum tipis.


“Hei, Yang ....” lalu Reiji memanggil Malia.


Sembari satu tangan Reiji terulur dan meraih satu tangan Malia kemudian menggenggamnya lembut.


“Aku hanya sekedar ngomong, jangan terlalu kamu anggap serius...”


Reiji menggoyangkan pelan tangan Malia yang ia genggam.


“Ya? ....”


Lalu melepaskan tangan Malia untuk kembali fokus mengemudi, setelah sebentar melirik pada istrinya yang masih tertunduk itu.


“Iya....”


Malia menjawab sembari mengangguk lesu.


****


“Dah ga usah diambil hati omongan aku yang tadi.” Tangan Reiji terulur lagi ke atas puncak kepala Malia, karena Malia kemudian terdiam saja setelah Reiji melempar omongan yang terdengar bak sindiran untuknya di telinga Malia.


Malia yang mendengar suara Reiji berikut usapan lembut di kepalanya itu pun segera menoleh pada Reiji, setelah tadi ia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil dan menatap jalanan yang dilalui mobil yang ia tumpangi itu, dengan Reiji yang mengemudikannya.


“Aku ga ada maksud apa-apa ngomong seperti  tadi, Yang. Sorry kalo bikin kamu jadi ga nyaman ...”


Malia kemudian menampakkan senyumnya.


“Ga apa-apa kok Rei.”


“Sorry ya?”


Reiji yang sudah memarkirkan mobil yang ia kemudikan itu kemudian menoleh pada Malia sembari tangannya meraih wajah Malia.


“Ga perlu minta maaf lah... Ga ada yang salah dengan pertanyaan kamu. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Rei... Karena aku juga ga tau kenapa aku baru hanya bisa menyayangi kamu, padahal kamu udah banyak berkorban buat aku...”


Malia menundukkan lagi sedikit kepalanya.


Reiji menipiskan bibirnya. Lalu ia mengangkat dagu Malia.


“Kita lupain soal ini ya? .....” pinta Reiji.


“Iya .....” sahut Malia.


“Ya udah yuk? .....”


Reiji mengajak Malia, karena ia sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan dan sudah memarkirkan mobil yang ia kemudikan di dalam area parkir pusat perbelanjaan tersebut.


Malia pun mengangguk .


“Kita makan disini aja ya? .... Tinggal bilang Dek Lia mau makan apa, biar Babang Rei yang bayar!”


Reiji berkelakar.


Malia pun terkekeh kecil. Membuat Reiji tersenyum lembut sembari menatap istrinya yang sempat ber-murung ria tadi.


“Nah gitu, ketawa ....”


Reiji menggenggam tangan Malia.


“Meski akan sangat lama kamu baru bisa mencintai aku, ataupun memang tidak bisa sama sekali, aku ga akan pernah mempermasalahkan itu .... cukup kamu ada disamping aku, dan menerima aku sebagai suami kamu seutuhnya ....”


“Iya, Rei ....”


Tangan Malia pun terulur dan ke wajah Reiji.


“Makasih ya?. Udah pengertian banget sama aku ....” ucap Malia.


“Harus Yang, aku memang sudah seharusnya menjadi suami yang pengertian buat kamu ....”


Cup ....


Satu kecupan di kening Malia kemudian didaratkan oleh Reiji dengan lembutnya.


“Karena mungkin, dengan aku yang pengertian, itu sedikit bisa membahagiakan kamu. Karena cinta itu, adalah melihat orang yang kita cintai bahagia dan mementingkannya, dan menjadikannya lebih penting daripada kebahagiaan sendiri ....”


‘Oh Rei ....’


****


Ketika Ada Seseorang Yang Mengaku Mencintaimu, Lihat Bagaimana Dia Memperlakukanmu.


****


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2