WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 265


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


Aku mengulum senyum tak lama setelah aku menyadari sikap Rei yang jadi aneh ketika aku dan dia telah turun ke lantai bawah penthouse milik salah seorang anggota keluarga sultan yang mempekerjakan Rei sebagai pilot pribadi mereka itu.


Dimana Rei menjadi seketika merungut. Lalu keanehan sikapnya yang tak membiarkanku berkenalan dengan benar kepada laki – laki yang kata Rei bernama Ammar itu. Yang mana tak lama setelah aku duduk di kursi meja makan dalam penthouse, aku ingat jika tadi aku melontarkan kata pujian yang juga tertuju pada pria bernama Ammar tersebut.


❇❇❇


“Ganteng – ganteng banget ya orang kepercayaannya bos kamu itu, Rei ...“ begitu kalimat yang aku cetuskan dengan berbisik, lebih kepada menggumam saat aku melihat Ammar.


Yang memang kenyataannya seperti itu sih. Orang kepercayaan Tuan Alva – yang Rei maksud, yang aku tahu itu--berbeda dari laki – laki yang bernama Ammar ini. Yang tadi juga sempat aku bertanya untuk memastikan orang kepercayan bos Rei yang aku rasa lebih muda usia dari Rei—yang pernah aku temui sebelumnya di kantor pusat maskapai yang menaungi Rei sebagai seorang pilot selama ini.


Dan kalau mencerna ucapan Rei, berarti orang kepercayaan bosnya Rei yang bernama Alva itu ada dua orang.


Dan dua orang itu berjenis kelamin laki – laki.


Ganteng dua – duanya, walau tidak semaksimal kegantengan bos mereka.


Bahkan aku sampai hampir tidak berkedip memandangi laki – laki bernama Alva itu saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dan untung saja sih saat itu Rei tidak memperhatikan sikap takjubku pada salah satu bosnya itu. Yang mana pada saat itu, hatiku sempat berbisik—andai aku bertemu dengannya duluan sebelum bertemu Rei. Ngarep tepatnya!


❇❇❇


Yah, aku rasa perempuan manapun akan punya harapan yang mengarah kepada halu sepertiku jika mereka melihat bos Rei yang bernama Alva itu—dimana aku rasa dia anak emasnya Yang Maha Kuasa.


Dari sisi manapun, laki – laki bernama Alva itu, tidak akan akan terlihat kekurangannya.


Paras tampannya jauh melebihi rata – rata--kalau mau secara lebay mengatakan, paras bos Rei yang bernama Alva itu, macam dewa – dewa kayangan.


Kalau fisik sih, mungkin sebelas dua belas dengan Rei yang memiliki tubuh tinggi tegap.


Tanpa terlihat terawangan lemak di perut.


Macam manekin toko.


Hanya lebih berotot.


Namun otot yang menambah godaan untuk membayangkan tubuh pemiliknya secara keseluruhan, yang sangat pelukable.


❇❇❇


Lalu kenapa aku sempat berharap aku bertemu laki – laki bernama Alva itu sebelum aku menikah dengan Rei, karena selain dia tampan tanpa cacat, dia berasal dari keluarga super kaya.


Sempurna sekali untuk dijadikan pasangan hidup bukan??


Dan atas dasar itu makanya pernah otakku iseng berharap aku bertemu dengannya sebelum menikah dengan Rei, lalu dia jatuh cinta padaku.


Yah, halu ku seperti itu.


Tapi kemudian kehaluanku itu terbakar habis saat aku melihat istri dari laki – laki bernama Alva tersebut.


Dan aku menjadi minder – semindernya, karena demi apapun, aku rasanya jauh sekali dibandingkan oleh istri dari laki – laki bernama Alva itu.


Barbie pun kalah cantik darinya, apalagi aku??


Dan aku langsung kembali kepada kenyataan yang ada.


Sadar diri.


Tidak mungkin manusia super biasa ini, bersaing dengan seorang dewi.


❇❇❇


Cukup membahas tentang salah seorang bosnya Rei yang bisa membius perempuan hingga memiliki kehaluan tinggi, hanya dengan melihat wajahnya saja.


Termasuk diriku ini.


Tapi yang perlu digaris bawahi, yakni aku memiliki pikiran itu, disaat aku merasa belum memiliki perasaan cinta pada Rei.


Hanya baru sebatas, aku mencoba menerima Rei secara utuh sebagai suamiku dan berusaha menjadi istri yang baik baginya, meskipun saat itu aku masih agak gamang atas kehadiran Irsyad yang kala itu kembali muncul dalam hidupku.


Tak lama setelah aku menikah dengan Rei.

__ADS_1


Namun sekarang, jika melihat bosnya Rei yang bernama Alva itu, aku mungkin hanya sekedar mengagumi saja ciptaan Tuhan yang indah itu.


Dalam batas normal.


Karena aku sudah mencintai Rei sekarang ini, dan rasanya aku tidak akan tergoda oleh laki – laki manapun.


Termasuk dengan pria yang bernama Ammar ini.


Celetukan spontan yang berupa pujian dariku padanya dan pada satu orang lagi rekannya sesama orang kepercayaan salah satu bosnya Reiji itu, hanya sebatas mengagumi saja.


Namun sepertinya Rei agak terganggu mendengar kalimat pujian spontanku untuk laki – laki bernama Ammar dan satu rekannya yang pernah sepintas aku temui saat aku datang bersama Rei untuk memenuhi undangan para bosnya.


Hingga setelahnya, sikap Rei agak sedikit konyol dan membuatku mengulum senyum saja tanpa aku mengomentarinya.


🌈


🌈


Yang mana Malia jadi sering mengulum senyumnya itu, saat ia menyadari jika Reiji sepertinya jadi cemburu setelah mendengar Malia memuji Ammar dan satu orang rekan Ammar sesama orang kepercayaan satu bos Reiji yang bernama Alva—yang sebelum ia pergi ke kota tempatnya dan Malia berada sekarang ini, Reiji sempat bertemu dengan rekan Ammar itu.


Sesekali Malia melirik Reiji yang duduk diantara dirinya dan Ammar setelah sebelumnya Reiji memperkenalkan Malia pada Ammar—dan begitu sebaliknya—dengan kesan tergesa. Bahkan tidak ada sesi saling menjabat tangan antara Malia dan Ammar, karena setelah Reiji bilang,


“Am, ini istri gue Malia. Yang ini Ammar. Oke sekarang kita makan, abis itu siap – siap pulang.”


Reiji langsung mendudukkan Malia di kursi meja makan yang sejajar dengan tempat Ammar duduk, yang diseling satu bangku—dan seling satu bangku itu telah diduduki Reiji.


***


“Lo mau kembali ke Jakarta hari ini juga? ...”


Ammar yang sempat sedikit heran pada Reiji yang memperkenalkan dirinya dengan singkat pada Malia, tak menggubris hal itu.


“Iya.” Reiji pun langsung menjawab pertanyaan Ammar barusan, namun sudah tidak lagi agak ketus dalam berucap.


“Kenapa ga bermalam satu hari saja dulu di sini? ...”


‘Iya betul. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu di penthouse mewah begini??? ...’


Ini Malia yang menyahut, menyetujui ucapan Ammar. Namun hanya di dalam hati Malia saja.


Reiji pun menelaah ucapan Ammar barusan itu.


“Dan atas hal itu, perjalanan sebentar juga bisa saja membuatnya merasa mudah letih.”


Ammar berkata lagi.


“Dan gue rasa dia pasti letih sih ya? Sehabis membuat banyak tanda di leher lo itu.”


“Uhuk! Uhuk! ...”


Malia yang tersedak setelah mendengar ucapan Ammar yang bernada ledekan.


Dimana yang bersangkutan—si pelaku pencetus ledekan barusan, sontak terkekeh kecil setelah mendengar suara batuk Malia.


Dan Reiji juga ikutan terkekeh kecil seperti Ammar. Karena paham, makna dari batuknya Malia itu.


🌈


REIJI


Aku yang spontan terkekeh geli karena ucapan Ammar yang membuat Lia langsung sedikit terbatuk, langsung juga meringis sedetik kemudian saat aku merasakan injakan di kaki kananku. Dimana Lia adalah pelaku yang menginjak kakiku dengan cepat dan agak keras itu, yang membuatku meringis sambil menoleh secara spontan ke arah Lia, yang sudah melotot tajam padaku.


Yang tentu saja aku pahami arti pelototan tajam Lia itu. Dan aku menampakkan saja cengiranku pada Lia yang kemudian merungut sebal dan melirikku sinis sejenak, lalu meneruskan kembali makannya. Dan tanganku spontan terulur untuk mengacak gemas rambut Lia yang ia gerai itu. “Makan yang banyak, Yang ...”


Sekaligus aku mengatakan itu pada Lia.


Dan Lia mengangguk saja. Aku pun juga melanjutkan makanku, begitu pun Ammar.


🌈


🌈


“Kalian stay saja dulu barang satu malam di sini. Lebih dari satu malam pun Tuan Jo dan Nyonya Via tidak akan keberatan. Dan lagipula, Tuan Alva dan para Tuan Besar juga memberikan lo cuti beberapa hari ke depan, Rei,” ucap Ammar setelah ia menelungkupkan sendok dan garpu di atas piring bekasnya makan, lalu menoleh ke arah Reiji setelahnya.


Yang mana kalimat terakhir Ammar membuat Reiji sedikit tercengang. Lalu berujar setelahnya.

__ADS_1


“Gue dapet cuti beberapa hari?” seraya Reiji memastikan. Dan Ammar langsung mengangguk mengiyakan. “Duh, gue makin rasanya ga enak sama Tuan Alva dan para Tuan Besar.”


“Tidak perlu merasa seperti itu. Kau seharusnya malah bersyukur jika Tuan Alva dan para Tuan Besar mau turun tangan mengerahkan kami untuk membantu lo. Karena itu artinya, lo sudah dianggap menjadi bagian dari mereka. Yang mana mulai sekarang, lo ga perlu sungkan jika suatu hari memang membutuhkan bantuan mereka lagi –“


🌈


“Kalau begitu gue akan langsung menyampaikan terima kasih gue ke mereka saat sampai di Jakarta nanti ... Termasuk, makasih juga Mar buat lo dari gue dan Lia. Karena lo udah mau repot nemenin gue, untuk menyelamatkan istri gue ini –“


“Santai ... Gue malah senang dapat kegiatan ‘outdoor’ begini,” tanggap Ammar. “Melepas kerinduan sama ketegangan yang pernah beberapa kali gue lewati bareng Tuan Alva dan keluarganya,” tambahnya. Dimana Reiji dan Malia spontan menoleh ke arah laki – laki itu yang setelah bicara, kemudian menandaskan air minumnya.


“Maksud lo, di keluarga Tuan Alva, ada salah satu dari mereka yang pernah ngalami kejadian macam Lia dan gue ini? –“


“Yap! ...” Ammar langsung menyahut. “Hanya lebih seru –“


‘Seru? ...’


Ini Malia yang membatin  heran.


‘Masa kejadian ga enak macem yang gue alami karena Irsyad dia bilang seru?’ bisik Malia lagi dalam hatinya.


“Lo nih, Am ... Masa hal macam gitu, lo bilang seru – seruan?” Dan saat Malia membatin, Reiji menanggapi ucapan Ammar mengenai apa yang sedang mereka bahas itu.


“Ya memang seperti itu. Boleh tanya Tuan Alva kalau sebagaimana gue, ketegangan yang pernah dialami dalam hal memberantas para hama -- Tuan Alva merasa punya keseruan tersendiri saat mengalaminya.”


Ammar lalu menanggapi ucapan Reiji.


“Seru ...” sambung Ammar. “Ada adegan tembak – tembakan dan banyak mayat musuh yang bergelimpangan –“


“Heu??” Reiji dan Malia sama – sama melongo kemudian, sambil juga kompak memandang Ammar.


“Makanya waktu Tuan Alva memberikan gue tugas untuk menyertai lo menyelamatkan istri lo, gue seneng. Tapi sayangnya, dapat lawannya letoy begitu. Sendirian pula! Jangankan Tuan Alva, gue aja males mau main – main sama musuh letoy begitu –“


“Main, main? –“


“Ditelanjangi, digantung macam daging sapi di pemotongan hewan, lalu dijadikan samsak tinju. Dipukuli sampai mati.”


‘Gluk!’


Malia meneguk ngeri salivanya.


Sementara Reiji tercengang di tempatnya.


‘Beneran gue kerja sama keluarga mafia ini sih!’


Sambil Reiji membatin.


“Beberapa dari musuh mereka ada yang dibiarkan hidup sih. Tapi ditaruh di tempat dimana mereka ga akan pernah melihat sinar mentari lagi sampai akhir hayat mereka.”


Kembali Reiji tercengang setelah mendengar ucapan Ammar barusan.


“Mau lihat? Siapa tahu lo ga percaya dengan apa yang gue katakan ini –“


“Oh percaya! Percaya!”


Reiji menyahut dengan cepat.


Ammar lalu mengulum senyumnya, sebelum ia kembali bicara.


“Makanya, atas dasar lo sudah dianggap keluarga oleh The Adjieran Smith family, sebaiknya lo jaga kepercayaan mereka andai ada rahasia yang mereka bagi ke elo. Selain jangan membuat mereka tidak senang hati. Karena taruhannya bukan hanya karir lo sebagai pilot, tapi menjalani hidup dimana lo berharap cepat mati ...”


‘Gluk!’


Kini Reiji yang meneguk kasar salivanya.


Dan Malia juga melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.


‘Apa gue resign aja ya jadi pilot pribadi itu keluarga sultan?’ Reiji berbisik dalam hatinya kemudian. ‘Kalau bener omongannya si Ammar, berarti Tuan Alva dan keluarganya kan bukan sekedar keluarga crazy rich biasa? Ada aja kan pasti musuhnya? Terus tau – tau salah satu musuhnya masang bom di salah satu jet mereka yang pas kebetulan gue pilotnya? Nah Lia jadi janda kembang, dan kemungkinan si Ammar yang setau gue jones ini masuk gantiin posisi gue dalam hidup Lia ...’


Reiji dan pemikirannya.


'Ga! Ga! Gue ga rela dunia akhirat!'


🌈🌈🌈🌈


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2