
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
MALIA
“Aku ga akan marah atau bakal judesin kamu yang nemuin Abbas sama Aldo.”
Yang aku katakan pada Rei untuk meyakinkannya menerima dua sahabat lelakinya yang ingin menemui suamiku itu.
Dimana pada akhirnya, Rei yang sempat nampak ragu untuk mengiyakan saranku---mau menemui Abbas dan Aldo. Dan aku menyarankan juga, agar dua sahabatnya itu---Rei persilahkan datang ke unit kami.
Walau sebelum Rei menghubungi resepsionis untuk membiarkan dua sahabat lelakinya menyambangi unit kami, suamiku itu menghubungi salah satunya via ponsel.
Lalu aku dengar Rei memastikan, bahwasanya hanya Abbas dan Aldo saja yang akan menemuinya. “Awas aja kalo lo berdua sama kek si Irfan yang sok-sok bijak trus lo ajak juga si Irly naik ke unit gue. Gue sendiri yang akan seret dia pergi dari sini.”
Dan aku cukup tercengang juga mendengar Rei mengucapkan kalimat yang ia cetuskan via ponselnya itu.
Tak tinggi nada suara Rei. Namun wajahnya nampak dingin dan serius saat mengatakannya.
------
Aku diminta Rei untuk ikut nimbrung bersamanya, dikala Aldo dan Abbas telah berada di dalam unit apartemen kami. Dimana saat keduanya sudah berada di depan pintu unit kami yang Rei buka, Rei langsung berujar setengah sinis kepada keduanya.
“Lo berdua disuruh bestie lo nemuin gue di sini?...” begitu kata Rei pada Abbas dan Aldo yang kemudian terkekeh kecil. Lalu sama berseloroh dengan cengengesan kemudian.
“Woles, Bang Reiji, Woles...”
“Tamu dateng bae-bae nih, persilahkan masuk dong?...”
“Minggir ah.”
Kemudian Abbas mendorong pelan tubuh Reiji yang berdiri di ambang pintu.
Lalu Aldo pun ikut menerobos.
Sementara Reiji berdecak sebal sambil menutup pintu.
“Hai Malia. Apa kabar?... makin cakep aja.”
Abbas yang langsung menyapaku ini. Dengan sedikit menggodaku. Begitu juga dengan Aldo. Yang mana aku tahu, jika mereka hanya sekedar bercanda saja. “Hai,” jawabku sambil menyalami Abbas dan Aldo yang tersenyum bersahabat padaku.
Tidak seperti sahabat mereka yang bernama Irfan itu. Dimana dia nampak tidak suka padaku. Bahkan sempat mengataiku.
Jadinya si Irfan kena hantam tinju Rei di wajahnya, atas Rei yang tak senang mendengar salah satu sahabatnya itu mendukung Shirly yang lebih dulu mengataiku dengan mencibirku sebagai istri yang cemburu buta.
Bahkan dalam chatnya Shirly terang-terangan menuduhku sebagai penyebab perubahan sikap Rei yang dianggap Shirly jadi tidak menyenangkan padanya.
------
“Ga usah sok tebar pesona lo berdua sama bini gue... ga bakal ampuh!...” ucap Rei sambil dia menerobos diantara aku yang sedang menyalami Abbas dan Aldo.
“Iya paham dah—“
“Emang Abang Reiji yang paling ganteng!”
Dua sahabat Rei itu kemudian menimpali ucapan setengah ketus Rei tadi.
“Ayo ayo silahkan duduk...” ini Aldo yang berkata, entah mungkin menyindirku dan Rei yang belum mempersilahkannya dan Abbas untuk duduk.
__ADS_1
Namun aku tahu Aldo tidak berniat untuk serius menyindirku dan Rei, karena tampangnya sahabat Rei yang satu ini menggambarkan kalau dia adalah pribadi yang lucu.
Akupun terkekeh kecil kemudian.
Rei pun sama terkekeh sepertiku, begitu juga Abbas dan Aldo yang cekikikan lalu mengambil tempat di sofa single pada ruang tamu di unitku dan Rei. Dan aku sejenak meninggalkan tiga laki-laki yang sudah mengambil tempat di ruang tamu itu, untuk membuatkan minuman dan menyiapkan juga snack. Terutama untuk Abbas dan Aldo.
------
Aku lalu duduk di samping Rei setelah membawakan minuman dan snack seadanya yang ada di unit apartemen kami. Yang untungnya masih ada kue bolu pemberian Avi saat datang kemarin dan masih utuh keadaannya.
Sekali lagi, karena Rei yang memintaku untuk ikut duduk bersamanya, serta juga Abbas dan Aldo. Padahal tadinya aku ingin membiarkan saja mereka bicara bertiga.
Namun Rei konsisten dengan kata-katanya padaku, tentang dirinya yang akan jauh lebih terbuka.
Dan atas hal itu, Rei melibatkanku diantara dirinya-Abbas dan Aldo saat ini, yang aku duga pastinya akan membahas hal yang ada kaitannya dengan Shirly.
Termasuk juga insiden yang terjadi diantara Rei dan perempuan itu serta salah satu sahabat lelaki mereka, di luar lobi gedung apartemen tempat tinggalku dan Rei tadi.
❇
Abbas dan Aldo mengulas senyuman mereka pada Malia saat Reiji meminta istrinya itu untuk duduk bersamanya, berikut dua sahabat lelaki Reiji tersebut---dan keduanya pun mengiyakan ide Reiji untuk melibatkan Malia dalam pembicaraan mereka.
Abbas dan Aldo yang nampak tidak keberatan dengan ide Reiji mengajak Malia duduk dan bicara bersama mereka, memang sangat tidak keberatan sekali. Dimana ekspresi tidak keberatan Abbas dan Aldo pun tidak terlihat terpaksa. Keduanya bahkan terlihat santai.
“Kalo tujuan lo berdua nemuin gue buat nyuruh gue memikirkan lagi keputusan gue mutusin persahabatan gue sama Irly termasuk gue putuskan segala hal antara gue dan dia dikemudian hari serta dihari belakang yang mana berlaku juga buat Argan, lo berdua Cuma buang waktu. Karena gue ga akan merubah keputusan gue, atau menimbang ulang.”
Reiji yang memulai untuk membahas satu topik yang sedang sangat sensitif untuknya, dengan tanpa nada suara Reiji yang meninggi.
“Kalo soal itu, setelah kemarin gue sampaikan ke mereka ucapan lo ke gue waktu itu, gue dan Aldo sependapat kalo urusan lo sama Irly sama soal keputusan lo yang ga mau ada urusan lagi sama dia dan Argan, adalah mutlak hak lo. Apalagi kalo itu udah nyenggol rumah tangga lo.” Abbas yang kemudian angkat suara duluan menanggapi ucapan Reiji.
Setelahnya, Aldo yang angkat suara. “Dan soal kedatangan Irly sama Irfan plus bawa Argan ke sini, gue tahu dari Mega yang dichat sama Qilla yang sebenarnya udah coba nahan itu dua orang supaya ga nekat dateng ke sini. Tapi kan lo tau si Irfan gimana sama si Irly asal Irly udah punya permintaan sama dia. Macem lo dulu—“
“Sorry,” ucap Aldo kemudian. Dimana ia sadar, ucapannya yang keceplosan meski memang kenyataan. “Gue ga ada maksud apa-apa.”
Aldo menambahkan ucapannya sambil memandang pada Malia yang mengulas senyumannya.
“Lagian itu dulu banget kok Malia...” sekali lagi Aldo berkata, hendak meluruskan. “Jauh sebelum kalian nikah...”
“Dan jauh sebelum si Reiji ini bilang ke gue kalo kayaknya dia ada rasa sama sahabat adenya yang udah dia anggep ade sendiri.” Abbas kemudian menimpali ucapan Aldo.
❇
“Pokoknya Ji, gue sama Babas netral aja. Tapi yang jelas kita orang berdua ga akan ikut campur urusan lo sama Irly,” ucap Aldo yang sudah akan hengkang dari apartemen Reiji dan Malia. “Kita orang berdua masih pengen bersahabat sama lo—“
“Ya itu juga kalo lo masih mau bersahabat sama kita berdua, Ji.” Yang langsung ditimpali oleh Abbas.
“Gimana, Yang?” Reiji pun langsung menyambar. Namun ia berbicara pada Malia. “Boleh ga aku terus sahabatan sama dua orang rese ini?”
Dimana Reiji mengajukan pertanyaan pada Malia dengan maksud candaan. Lalu terus ditimpali oleh Aldo.
“Boleh ya Nyonya Reiji? Kita orang berdua ini cowok baik-baik kok.”
Dan Malia mengulas senyuman gelinya saja karena guyonan Aldo itu.
Kemudian Malia bertutur “Silahkan—“
❇
Pertemuan Reiji yang didampingi Malia dengan dua sahabat lelakinya Reiji itu, berlangsung baik semalam.
__ADS_1
Dan hal baik berlanjut, dimana hal baik itu amat sangat menguntungkan bagi Reiji. Karena dirinya mendapatkan ‘suguhan kenikmatan hakiki’ dari Malia.
Jadi pagi harinya, Reiji begitu terlihat sumringah. Lalu sumringah Reiji membuncah jadi rasa senang bukan kepalang kala Malia mengucapkan kalimat yang sungguh tidak Reiji sangka akan ia dengar dengan cepat.
Padahal terkait hal tersebut, Reiji ingat kalau dia dan Malia sempat sedikit bersitegang di mobil dalam perjalanan pulang ke apartemen mereka dari rumah orang tua Malia. Yang mana Reiji kira, hal yang adalah soal program memiliki momongan dengan cepat, akan stop dulu selama beberapa bulan---karena Malia mengatakan jika dia tak lagi berniat untuk memiliki momongan dalam waktu dekat.
Tapi, belum dua puluh empat jam berlalu Malia sudah mengubah keputusannya. “Aku mau nerusin promil....” begitu kata Malia.
Terkesan jika Malia tidak konsisten dengan kata-katanya.
Labil.
Namun ketidak-konsisten dan labilnya Malia sekarang ini, malah Reiji syukuri. Karena membuat Reiji merasa kejatuhan durian runtuh, dengan bisa melakukan 'penyatuan' bersama Malia yang agak lama tidak terjadi diantara keduanya.
❇
Apa yang Malia ucapkan tentang dirinya yang ingin meneruskan promil dalam rangka memiliki momongan dalam waktu cepat, Malia realisasikan dengan membuat janji temu ke seorang dokter yang selama ini memang membantunya dan Reiji dalam promil yang Malia sempat jalani namun sempat juga Malia katakan pada dokter itu jika Malia ingin menghentikan program tersebut.
Lalu Malia dan Reiji yang dengan Reiji mantap menjanjikan jika dokter tersebut memang ada jadwal praktek di hari ini, Reiji akan menyertai Malia menemui dokter tersebut meskipun Reiji sedang ada urusan mengenai pekerjaannya.
“Makasih, ya Yang?” Reiji berucap, setelah ia dan Malia telah berada di sebuah rumah sakit untuk menemui seorang dokter yang memang membantu promil Malia selama ini, sampai sebelum Malia menghubungi dokter tersebut untuk menghentikan promilnya.
“Makasih buat?”
“Karena kamu bersedia buat ngelanjutin promil kamu.”
“Aku bosen soalnya berduaan sama kamu terus asal di apartemen.“
Balasan Malia atas ucapan Reiji sebelumnya, membuat Reiji jadi terkekeh spontan.
“Love you.”
Reiji berucap kemudian, sambil mengecup satu tangan Malia yang ia genggam.
“Love you too, Rei—“
❇
Reiji dan Malia telah kini telah berada di dalam ruangan seorang dokter yang selama ini membantu sepasang suami istri itu untuk menjalani program dalam usaha keduanya memiliki momongan dalam waktu cepat, meskipun jika berhasil---Reiji dan Malia masih harus menunggu kurang lebih 9 bulan untuk mendapatkan seorang bayi.
“Saya melakukan pengecekan seperti biasa dulu ya, Bu Malia? Pak Reiji?....” ucap seorang dokter wanita yang duduk berhadapan dengan Reiji dan Malia dalam ruang prakteknya.
Lalu Reiji dan Malia sama mengiyakan ucapan dokter tersebut, yang setelahnya mempersilahkan Malia berbaring di atas sebuah brankar dimana ada mesin medis dengan segala kelengkapannya disamping brankar tersebut.
“Gimana, Dokter Dewi?”
“Apa jeda waktu penghentian promil saya, harus membuat saya memulai lagi dari awal?”
Reiji dan Malia bersahutan bertanya pada seorang dokter wanita yang bernama Dewi itu, setelah Malia melakukan pengecekan di perutnya oleh dokter tersebut.
“Kalau jeda waktunya sih ga mengharuskan Ibu Malia memulai lagi dari awal, karena hanya terjeda sebentar aja. Tapi—“
“Tapi apa, Dok?....”
Dokter wanita yang bernama Dewi itu terkesan memliki kejanggalan dalam penyanggahan di akhir kalimatnya, membuat Reiji dan Malia spontan menjadi khawatir dalam waktu yang bersamaan—lalu bertanya dengan berbarengan juga pada dokter tersebut.
“Tapi promil bu Malia agar anda berdua bisa memiliki momongan dalam waktu cepat, rasanya tidak bisa dilanjutkan—“
❇❇❇❇❇❇❇❇
__ADS_1
Bersambung......