WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 105


__ADS_3

Selamat membaca....


***


REIJI


“Harusnya emang ga usah lo bawa itu album kenangan lo. Atau setidaknya kalo lo mau bawa, ya lo sortir dulu itu foto-foto mesra lo sama si Irly—“


Aku dan Avi masih berada di sebuah kedai kopi kekinian yang berada tak jauh dari komplek perumahan tempat orang tuaku tinggal. Sengaja aku tidak menemui Avi yang sedang berada di Jakarta ini di rumah keluarga kami itu, agar orang tuaku tidak curiga jika aku dan Lia sedang bermasalah.


“Lo ngerti bahasa Indonesia ga sih, Vi?” Sarkasmeku pada Avi dengan suara datar. “Udah gue bilang, ga ada satu pun foto yang menunjukkan kemesraan antara gue dan Irly di itu album foto!” sambungku. “Karena emang pada kenyataannya, gue dan Irly ga lebih dari sahabat!”


Aku teringat Lia yang sekarang ini sedang bersama Irsyad itu, dan itu membuat dadaku panas.


Selain merasa tolol karena aku membiarkan begitu saja Lia pergi tadi untuk bertemu dengan si Irsyad itu. Seharusnya tadi saat istriku itu hendak pergi dari apartemen kami, aku segera menyusul Lia dan menahannya agar tidak pergi.


Atau bahkan mengikuti Lia lalu mendamprat laki-laki sialan bibit pebinor bernama Irsyad itu.


“Bang,”


Avi kembali bersuara, setelah tadi dia sempat menghempaskan punggungnya untuk bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki.


“Lia itu sekarang bukan hanya sahabat karib gue, tapi juga kakak ipar gue.”


Avi menatapku penuh arti sekaligus nampak mengiba.


“Kalian berdua itu bikin gue bingung harus naro simpati ke siapa, tau?.... Karena pada kenyataannya gue bersimpati sama kalian berdua....”


Lalu Avi terdiam lagi dan menyeruput kembali minumannya. Aku memandangi adikku itu yang juga sedang memandangiku sambil menyeruput minumannya.


“Yang gue heran itu, kenapa sih Lia sangat mempermasalahkan perihal masa lalu gue?....” aku bersuara tak berapa lama. “Toh dia menerima perjodohan gue dan dia.”


Aku menambahkan.


“Iya memang -----“ sambar Avi. “Tapi dengan Lia yang menguburkan impiannya.”


“Maksud lo, Vi?....” tanyaku dengan spontan setelah mendengar Avi bicara soal Lia yang mengubur impiannya karena perjodohan kami.


Memangnya impian apa yang Lia kubur untuk perjodohan kami ini?....


Avi menegakkan duduknya sambil ia menghela nafas yang terdengar berat, lalu lekat menatapku.


“Irsyad adalah laki-laki yang Lia cintai selama bertahun-tahun, laki-laki yang Lia impikan untuk menjadi pendamping hidupnya dimasa depan.”


Tenggorokanku bagai disumpal dengan sebuah bongkahan batu tajam setelah mendengar kata-kata Avi barusan.


---


“Lia udah jatuh cinta sama Irsyad dari sejak kuliah, tapi Lia ga pernah mengungkapkannya pada Irsyad secara langsung....”


Avi lanjut bicara.


“Lia lebih memilih menunggu, karena Lia merasa kalo Irsyad punya perasaan yang sama dengannya. Sampai akhirnya Irsyad lulus terus pindah ke London, dan mereka hilang kontak....”


Aku belum berkomentar selepas Avi mengatakan bahwa Irsyad adalah laki-laki yang Lia cintai dan impikan.


“Tepatnya, Irsyad udah ga pernah menghubungi Lia lagi.”


Avi bercerita dengan tatapannya yang lurus memandang padaku.


“Saat kalian dijodohkan terus nyatanya elo bisa meyakinkan dia dengan perjodohan kalian ini, ya seperti yang udah terjadi. Lia menerima perjodohan kalian, menerima lo sebagai suaminya.... Dan harapan serta impiannya pada Irsyad Lia kubur....”


Aku masih diam tak berkomentar, meski rasanya Avi sudah menghentikan ceritanya.


Aku sedang terpaku, dengan pikiran yang sedang berkecamuk di dalam otakku sekarang.


Perihal masa lalu....


Yang kini sedang perlahan mengoyak hubunganku dan Lia.


Apa karena si Irsyad itu, maka sulit bagi Lia untuk menerimaku seutuhnya?....


Untuk mencintaiku.


Tapi apa Lia akan menyambut masa lalunya kembali, setelah impiannya datang lagi?.


****


“Mungkin dalam pernikahan perjodohan kalian ini, lo dan Lia udah sama-sama berkomitmen. Bukan gue sok-you know, tapi walau kalian sudah sama-sama berkomitmen, lo berdua tetap masih belum saling benar-benar terbuka satu sama lain.”


Avi kembali berbicara setelah ia dan Reiji sama-sama kembali lagi terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing. Yang mana kemungkinan besar Reiji-lah yang sedang keras berpikir saat ini. Avi hanya sedang membiarkan kakak kandungnya itu mencerna ceritanya tentang Malia dan perasaannya pada laki-laki bernama Irsyad.


“Jujur gue bingung harus gimana menyikapi elo berdua, yang mana satu sisi adalah sahabat karib gue, dan satu lagi Abang gue.”


Avi kembali berucap, lalu setelahnya ia berkata sedikit tegas pada Reiji.


“Lo berdua itu kurang saling berkomunikasi, Bang!”


“.........”


“Dan gue yakin, lo itu kelewat cuek sama Lia----“


“Kelewat cuek gimana sih Vi?....”


Reiji dengan cepat memotong kalimat Avi.


“Gue udah mencukupi segala kebutuhannya, perhatian gue juga gue rasa ga kurang ke dia....”


Reiji lanjut berbicara.


“Bukan gue ga pernah ngajak dia bicara dari hati ke hati ya Vi, tapi Lia itu selalu bilang ‘ga ada apa-apa’, ‘aku oke kok Rei’. Begitu aja jawabannya kalo gue tanya, ada yang dia mau diomongin ga, dia lagi ada masalah apa engga -----“

__ADS_1


“.........”


“Ya terus kalo dia kasih jawaban oke-oke aja, masa iya gue terus maksa-maksa dia buat ngomong atau cerita?!....”


“Trus lo wolesin aja gitu Lia-nya?....”


“Ya emang gue harus gimana?!.... kalo Lia udah keliatan males ngobrol sama gue ga mungkin gue muka tembok banget ngajakin dia ngomong trus dicuekin?.... tengsin gue yang ada!.... ya gue biarkan dia dengan waktunya kalo emang lagi ga pengen ngobrol sama gue.... salah gue kayak gitu????....”


“Hadeeeh....”


Avi berkesah panjang setelah mendengar cerocosan Reiji.


Sementara Reiji menatap aneh pada adiknya itu.


“Susah emang punya kakak yang kelewat cuek jadi ga peka, ga paham soal cewek!”


“Bagian mana yang lo bilang gue ga paham soal cewek?!.... Gue udah berusaha jadi suami yang baik buat dia. Tau lo?!”


“Duh ribet banget gue jelasinnya ke elo....”


Avi nampak gemas.


“Dan lagian, terkhusus buat Lia, gue udah berusaha mencurahkan segenap perhatian gue sama dia ya, asal lo tau!”


Reiji mendelik pada Avi.


Avi mendesa@h berat kemudian.


“Lo ga paham maksud gue....” ucap Avi setelahnya.


Reiji mengangkat satu alisnya.


“Bang....” Avi memfokuskan pandangannya pada Reiji. “Perempuan itu, kadang lain di mulut lain di hati -----“


“Munafik maksud lo?!” sambar Reiji, dimana Avi dengan cepat berdecak.


“Ya ga melulu itu maksudnya, Bang!”


Lalu Avi menyergah ucapan Reiji.


“Lain di mulut lain di hati ya munafik namanya!”


Reiji kukuh dengan pendapatnya.


Sementara Avi mendes@h putus asa.


“Denger ya, Bang. Maksud gue soal cewek yang lain di mulut lain di hati itu, kadang dia bilang dia oke, tapi sebenarnya engga. Kadang dia keliatan ga peduli kalo ga diperhatiin, padahal hatinya ngarep.”


Lalu Avi berbicara untuk menjelaskan maksud ucapannya pada Reiji.


“Dalam kasus lo sama Lia, kemungkinan besar Lia itu malu buat manja-manja sama lo karena kalian dinikahkan bukan karena kalian memang pacaran sebelumnya. Jadi dia berlagak seolah dia ga ngarep perhatian dari lo.... Tapi karena sifat lo yang cuek bebek itu, trus lo wolesin aja gitu aja Lia.... Yakin gue sih kalo misalkan lo nanya Lia mau ini mau itu trus si Lia bilang engga, pasti dia lo tinggal trus lo sibuk sendiri?!....”


“Nah itu, bagian dimana lo ga peka sama perasaannya Lia.”


Tanggapan Avi kemudian.


“Lo itu harusnya kalo Lia bilang engga, paling banter lo ngebujuk rayu. Kalo dia lagi ngedumel, ya lo dengerin aja dulu. Jangan keliatan ga peduli meski lo males dengernya, apalagi lo tinggal, atau lo potong dumelannya.... lo dengerin aja sampe selesai meski kuping lo panas.... nanti lama-lama Lia pasti mikir, mempertimbangkan tingkat kesabaran lo.... lama kelamaan dia akan merasa nyaman sama lo.... setelah itu, dengan sendirinya Lia pasti akan terbuka sama lo, Bang.”


Setelahnya, Avi bicara panjang lebar.


Reiji terdiam.


“Gue yakin juga, perihal perasaan lo sama Shirly yang baru diketahui Lia, lo tanggepin dengan sepele....”


***


Reiji masih terdiam sesaat selepas mendengar Avi bicara.


“Bukan gue menganggap sepele-----“ tak lama Reiji bersuara untuk menanggapi ucapan Avi. “Tapi saat Lia menanyakan hal itu dan membicarakannya ke gue, she’s been overthinking ( dia menjadi berlebihan )....”


“Lo anggap pendapat Lia itu overthinking, itu udah menggambarkan kalo elo menganggap hal itu sepele, Bang.... “


“Ya habis dia nuduh gue masih punya perasaan sama Irly!”


Reiji menyergah ucapan Avi.


“Plus dia nuduh gue menjadikan dia pelarian dari cinta gue yang pernah ditolak sama Irly....”


“......”


“Ya gue bete lah!”


Avi menghembuskan nafas beratnya sekali lagi.


“Gue udah beberapa kali menjelaskan sama dia, tapi dia masih aja suka sinis, nyindir-nyindir segala!”


“......”


“Gue nahan ga ngeladenin dia, karena gue ogah ribut!”


“Tapi sikap lo yang begitu itu juga bikin Lia bete, Bang...”


Avi berujar menanggapi ucapan Reiji.


“Terlepas dari dia yang mungkin belum mencintai lo, tapi Lia itu istri lo Bang ...”


Avi lanjut bicara.


“Dan gue rasa istri mana yang menemukan fakta kalau suaminya pernah sangat mencintai perempuan lain, dan jejaknya dibawa ke kehidupan mereka yang baru, sedikit banyak merasa ga nyaman lah.... Begitu juga Lia.”


Menatap pada Reiji.

__ADS_1


“Lo mikir ga sampe situ, Bang?....”


Avi mendes@h kecil. Dan Reiji terdiam dengan menatap pada Avi.


Otak Reiji kembali sedang menelaah.


“Dan mungkin karena sikap lo itu, Lia lebih nyaman pergi sama Irsyad ---“


“Jaga omongan lo Vi!”


***


Wajah terhoror Reiji yang pernah Avi lihat selama ia menjalani hidup sebagai adiknya Reiji Shakeel barulah saat ini.


Pribadi Reiji yang selama ini Avi hadapi adalah laki-laki yang terkesan cuek. Ditambah mantan-mantan Reiji, memanglah mereka yang mengejar Reiji. Semakinlah Reiji tidak pernah bisa menyelami sifat-sifat umum wanita yang tersembunyi.


Reiji hanya cerewet dan perhatian pada Avi dan Lia. Kalaupun marah, paling hanya mendelik sinis dan merepet saja. Tidak pernah terlihat seperti sekarang. Karena pada dasarnya, Reiji adalah pribadi yang  tenang dan santai.


Jika beberapa saat lalu Reiji dan Avi nampak seperti sepasang kekasih yang bertengkar, sekarang nampak seperti dua orang yang mengancam dan terancam. Karena Reiji spontan melotot tajam dengan rahang yang mengeras dan jari telunjuknya mengarah dengan kuat ke wajah Avi.


“Sorry Bang, gue ga ada maksud.... gue bukannya menyetujui tindakan Lia yang pergi sama Irsyad.”


Avi kembali berbicara, dan Reiji menurunkan telunjuknya. Untung para karyawan di Kedai Kopi kekinian tempat Reiji dan Avi sekarang berada sudah mengenal keduanya dengan cukup baik, sebagai langganan.


Jadi Reiji dan Avi terhindar dari yang namanya pengusiran atau ditegur karena keduanya sedikit agak ribut, meski tanpa teriak-teriak atau ada tindakan yang menggebrak meja.


“Gue tuh Cuma pengen lo jadi sedikit peka ---“


Avi lanjut bicara.


Mencoba memberikan saran pada kakak lelakinya untuk mencermati dan menghadapi sikap istrinya yang notabene adalah sahabat karib Avi yang Avi sangat pahami sifatnya.


Sebagaimana Avi memahami Malia, begitulah Avi memahami sifat kakak lelakinya ini.


Reiji tampan dan berkharisma.


Tapi Reiji minim pengetahuan soal menghadapi perempuan.


Jadi mungkin tidak tahu juga bagaimana seorang istri ingin diperlakukan oleh suaminya, yah meski mungkin Reiji belum dicintai oleh Malia.


Tapi setidaknya, Avi ingin Reiji lebih peka saja.


Dan setelah ini, mungkin Avi akan mengajak Malia untuk bicara.


Namun sekarang Avi akan fokus dulu memberikan kiat-kiat pada kakak lelakinya yang sedang nampak gusar dan sedikit geram ini.


“Peka untuk bergerak cepat.” Sambung Avi. “Lo udah mencintai Lia kan?....” tanyanya pada Reiji.


Namun Reiji tak menjawab. Masih sedang menetralisir emosinya akibat ucapan Avi yang mengatakan kemungkinan Lia merasa lebih nyaman jika bersama Irsyad.


“Lo jangan kelewat santai dengan cuma pasrah sama sikap Lia, nunggu-nunggu aja dia mau gimana. Jangan lo biarkan Lia begitu aja, dengan berpikir kalau dia yang sedang marah atau kesal akan balik kayak biasa dengan sendirinya. Kejar, Bang. Fight lebih keras lo sekarang, karena ada Irsyad ----“


Avi mengangkat tangannya pada Reiji yang sudah akan membuka mulutnya, yang Avi tahu Reiji hendak melayangkan keberatannya.


“Sorry, lo dengerin gue dulu....”


Avi melanjutkan.


“Sekarang ini Lia lagi dilema, jadi sikap lo yang anteng-anteng aja, bisa jadi bumerang buat lo sendiri, Bang.... Gue tau lo udah berusaha keras buat menangin hati Lia.”


Avi menyentuh lengan Reiji yang ada di atas meja.


“Gue tau lo udah sabar menghadapi Lia....”


Nada suara Avi pun melembut.


“Tapi selain lo lebih berusaha ngertiin Lia, ya lo harus lebih sabar lagi buat menangin hatinya, Bang....”


“......”


“Contoh Papa deh, kalo Mama lagi ga senang terus diam, Papa pasti akan membujuk Mama sedemikian rupa, sampe Mama baik lagi, meskipun itu bertentangan sama pendapat Papa. Yang penting menyenangkan dulu hati Mama. Intinya.... mengalah ---“


“Dan sekarang gue yang harus mengalah sama sikap Lia, begitu maksud lo?” Reiji menanggapi ocehan saran dari Avi yang mengangguk pelan.


Reiji langsung mendengus sinis.


“Mengalah....”


Reiji menggumam sambil tersenyum miris.


“Soal mengalah kayaknya gue udah sering mengalah sama Lia.... Tapi malah itu jadi bumerang buat gue sekarang.... gue yang selalu mengalah, gue yang ga berusaha keras untuk ga kasar pada Lia sekalipun ucapannya kadang terlalu nyelekit, gue yang mati-matian menahan lisan gue semata-mata demi menjaga hati Malia, nyatanya apa? ---“


“......”


“Sahabat karib lo itu mempermasalahkan masalah masa lalu gue dan Irly, tapi pada kenyataannya, dia, yang gelagatnya akan mengkhianati pernikahan kami.”


Reiji tersenyum miring.


“Gue udah mengajak dia bicara dari hati ke hati, menawarkan solusi. Tapi walhasil, dia lebih memilih pergi kencan dengan laki-laki lain. Laki-laki impiannya....”


Reiji terkekeh sinis kemudian.


"Bang...."


Avi melirih.


Reiji menggeleng sambil mengangkat satu tangannya, lalu langsung bangkit dari duduknya.


***


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2