
Selamat membaca...
***
Author’s POV on....
Sembari menunggu Reiji yang sedang mengambil uang cash di mesin ATM pada kantor pusat sebuah maskapai tempat Reiji bernaung sebagai seorang pilot selama ini, Malia mendudukkan dirinya di sofa ruang tunggu dalam lobi gedung dan mengecek ponselnya.
Ada beberapa pesan chat yang masuk ke ponselnya itu, yang kemudian Malia baca satu per satu. Mulai dari pesan chat orang tuanya, bahkan dari mama mertuanya yang memang berkomunikasi dengan baik selama ini.
Dan komunikasi yang baik antara Malia dan mama mertuanya itu, memang sudah terjalin bahkan dari sejak Malia kecil, yang sudah dianggap oleh orang tua Reiji seperti anak mereka sendiri. Begitupun sebaliknya. Meski saat hubungan Malia dan Reiji sedang tidak baik karena kehadiran Irsyad yang mengganggu kestabilan hati Malia pun, komunikasi dan hubungan Malia dengan mertuanya tetap baik-baik saja.
Sampai detik inipun tetap seperti itu. Meski Malia punya banyak uneg – uneg tentang pernikahan perjodohannya dengan Reiji, Malia tidak pernah mengadukan keluh kesahnya pada mertuanya, termasuk juga pada kedua orang tuanya, yang Malia jaga sekali perasaan mereka. Hanya pada Avi, Malia berkeluh kesah.
Walaupun beberapa waktu belakangan, Malia menjadi sedikit tertutup pada Avi, saat ia dilanda kegamangan atas kehadiran kembali seorang Irsyad dalam kehidupannya. Yang mana pertimbangannya, adalah karena Avi yang merupakan sahabat kentalnya itu, kini sudah merangkap menjadi adik iparnya juga.
Tapi Malia akan memperbaiki hubungannya dengan Avi seperti sediakala, walau selama ini juga tidak ada permusuhan atau perselisihan secara verbal dirinya dengan Avi yang kini seringnya berdomisili di Jogja.
‘Gue akan cerita sama Avi semuanya nanti pas dia dateng kesini.’ Malia berniat dalam hatinya. ‘Atau nanti di apartemen gue telpon aja dia.’
Begitu Malia membatin, sambil ia membalas pesan chat dari Avi, setelah membalas pesan chat dari mama dan mama mertuanya.
Setelahnya, Malia mengecek beberapa pesan chat yang lain.
Lalu kernyitan nampak di dahi Malia, ketika satu pesan dari salah seorang rekan kerjanya ia baca.
Eh Jeng, tadi waktu maksi, gue ngeliat cowo yang kemaren dateng. Dia kayaknya ngenalin gue, trus nyamperin gue dan nanyain lo.
Author’s POV off....
**
MALIA
Aku bisa mengerti dan menerima, jika Irsyad datang lagi menemuiku yang mana mungkin dia menganggap apa yang telah aku katakan padanya belum Irsyad anggap jelas.
Aku sih memang merasa, jika aku memberikan penjelasan yang sedikit tergesa saat kami makan siang kemarin.
Habis bagaimana ya?....
Pikiranku sedang teralih ke Reiji, dan sikap mesra Irsyad itu membuatku gugup.
Selain restoran tempatku dan Irsyad maksi kemarin ada didekat kantorku yang mana aku khawatir jika ada orang kantorku yang datang ke restoran yang sama lalu melihat sikap mesra Irsyad yang memegang tanganku, aku pun merasa risih dengan Irsyad yang seperti itu padaku.
Well, menanggapi pesan chat dari rekan kerja satu divisiku yang juga merangkap personel gengku di kantor saat maksi ataupun hangout sesekali kala habis gajian tentang Irsyad yang datang lagi ke kantorku, aku jadi memikirkan kembali laki-laki dari masa laluku itu, yang sudah mulai aku lupakan.
Bukan lupakan dia sebagai seorang senior dan teman yang memperlakukanku dengan baik.
Tapi melupakan apa yang pernah aku rasa padanya, karena aku telah benar-benar menghapus nama Irsyad dari hatiku.
__ADS_1
Kali ini, tanpa ragu.
---
Sehubungan dengan pesan chat dari rekan kerjaku itu, ada rasa heran yang hinggap di hatiku, lalu aku mengait-ngaitkan beberapa hal.
Anggaplah Irsyad mencariku lagi untuk meminta penjelasan detail dariku, yang mana seharusnya sih tidak perlu-perlu amat aku mengiyakan jika Irsyad memintaku bertemu lalu menjelaskan secara gamblang tentang hubungan kami.
Karena toh, tidak ada hubungan yang spesial diantara aku dan Irsyad selama ini. Yah, walau kami sempat sangat intens bertemu, namun kan hanya janjian biasa saja, sekedar jalan bareng dan melakukan sesuatu yang tidak melanggar norma.
Jadi aku rasa, itu tidak dianggap jika aku memiliki hubungan khusus dengan Irsyad atau selingkuh dari Rei kan? ..
Yah, aku pernah menerima genggaman tangan Irsyad memang. Namun tidak selalunya aku dan dia berjalan dengan bergandengan tangan setiap kali kami bertemu.
Tidak ada skin ship yang lebih dari itu, apalagi sampai berlanjut ke yang namanya check in di hotel lalu bercinta. Coy, coy!
Aku tidak serendah itu, walau pada saat itu hatiku sedang bersemi lagi atas cinta yang aku rasa pada Irsyad dan belum menyadari jika aku sudah mencintai Rei.
---
“Yang –“
“Heu?”
Aku terkesiap saat kurasakan sentuhan di puncak kepalaku.
“Hobi bengong ga ilang-ilang?”
“Siapa juga yang bengong? –“ Aku mengelak, dan Rei tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku.
“Ya udah yuk? –“
“Iya ....”
Aku mengangguk dan menyambut tangan Rei yang terulur untuk kugenggam, lalu beranjak dari kantor pusat maskapai yang menaungi suamiku itu dalam profesinya.
**
‘Kenapa ya Irysad dateng lagi dengan tiba-tiba gitu kayak kemarin?’ Malia sudah berada di dalam mobil bersama Reiji untuk melanjutkan rencana kencan mereka.
Di tengah perjalanan, Malia terdiam sejenak setelah sebelumnya mengobrol santai dengan Reiji.
‘Kenapa begitu ya?’ tanya Malia dalam hatinya. ‘Maksud Irsyad dateng secara tiba-tiba itu kenapa coba? .... Apa dia khawatir kalo gue bakal menghindar dan menolak andai dia bilang dia mau ketemu?-‘
Malia menghela nafasnya samar, karena ia tidak mau jika Reiji ‘ngeh’ kalau dirinya sedang memikirkan Irsyad. Meskipun pikiran itu bukan pikiran yang merindukan laki-laki dari masa lalunya tersebut.
‘Tapi kan sah-sah aja kalo gue nolak Irsyad buat ketemuan lagi kan? .... Gue tetep merasa kalau apa yang gue bilang sama dia itu udah cukup jelas.’ Malia membatin lagi. ‘Tapi kenapa Irsyad masih ngotot mau nemuin gue?’
Malia menghela lagi nafasnya dengan samar.
__ADS_1
‘Gue harap Irysad ga akan mencoba untuk meluluhkan hati gue lagi.’
Malia masih bermonolog dalam hatinya.
‘Ga mungkin juga kedatangannya lagi hari ini buat maksain perasaannya ke gue kan? Duh, kenapa gue jadi gelisah dan khawatir gini?-’
Malia bergeming di tempatnya, dengan otaknya yang sedang diliputi keheranan dan pertanyaan-pertanyaan soal sikap Irsyad, yang mana sulit untuk Malia simpulkan sendiri.
Hingga kemudian Malia terkesiap, kala ia merasakan elusan di pipi sebelah kanannya. Dan Malia pun segera menoleh. Dimana Reiji sedang tersenyum kepadanya. “Lagi mikirin apa Yang?” tanya Reiji kemudian.
**
“Kamu.”
Malia langsung menjawab pertanyaan Reiji dengan wajah menggoda dalam candaan.
Reiji terkekeh kecil karena Malia juga menoel dagunya.
Reiji mengacak pelan rambut Malia kemudian.
“Kenapa? ....” tanya Malia, karena Reiji menatapnya lekat sembari mengulas senyuman.
“Ga apa-apa,” jawab Reiji. “Cuma seneng aja kamu udah kayak gini sama aku. Ga kaku lagi.”
Malia tersenyum sumringah, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi kanan Reiji dan memilih untuk berhenti memikirkan Irsyad untuk mengobrol dan bersenda gurau saja bersama Reiji di dalam mobil sepanjang perjalanan mereka ke sebuah Pusat Perbelanjaan yang menjadi tujuan Reiji dan Malia.
**
Menonton, makan, layaknya orang pacaran, Reiji dan Malia lakukan di sebuah Mal yang sudah mereka tapaki sejak beberapa jam yang lalu. Tak lupa, Reiji yang antusias membelikan Malia pakaian kurang bahan nan bikin dirinya cenat-cenut semalam itu mengingatkan Malia untuk membelinya.
“Tokonya di lantai berapa? ---“ tanya Reiji pada Malia.
“Toko apa?” jawab Malia dengan balik bertanya.
“Toko tempat kamu beli itu baju tidur kurang bahan yang semalem kamu pake,” ucap Reiji enteng.
“Eerr, jadi?” tanya Malia ragu-ragu.
“Jadi dong!” jawab Reiji dengan cepat dan antusias.
‘Semangat amat kalo udah soal gituan,’ batin Malia.
Sekaligus dia meringis dalam hati, membayangkan akan ‘digarap’ Reiji secara bertubi-tubi seperti semalam.
‘Mudahan PMS gue cepet datengnya,’ harap Malia di dalam hatinya. ‘Eh tapi kepengen hamil juga,’ ucap hati Malia tak berapa lama. ‘Tapi kalo beli lagi itu pakaian, abis lagi gue ini malem sama si Rei!’
***
Bersambung ....
__ADS_1
Enjoy selalu buat kalean.