
Selamat membaca....
****************
MALIA
Aku sudah merasa ketakutan dari sejak Irsyad menyeretku ke dalam satu kamar, lalu aku merasakan kulit tanganku sedikit nyeri seperti tertusuk sesuatu.
Yang aku sadari jika Irsyad telah menyuntikku yang aku yakini adalah obat perangsang karena Irsyad bilang, “Sebentar lagi, kamu sendiri yang akan memintaku menyentuh kamu, Lia.” Dan tentu saja aku menjadi kalang kabut setelah mendengar ucapan Irsyad itu. “Kamu milikku sekarang, Lia.“
Lagi Irsyad berucap. “Engga!” sergah ku dengan cepat pada ucapan Irsyad yang seenak jidat mengatakan jika aku itu adalah miliknya, dengan sisa tenaga yang aku punya. Selain aku berusaha keras agar tidak dikuasai oleh obat perangsang yang disuntikkan Irsyad padaku itu, dengan mencubit kuat diriku sendiri.
“Jangan dilawan, nanti kamu tersiksa sendiri. Lebih baik terima saja, kalau aku adalah satu-satunya laki-laki yang tepat untuk kamu, dan ayah untuk anak-anak kita nanti...” Dan ucapan Irsyad yang ini juga masih dapat aku dengar dengan jelas. Dan aku sudah muak dengan kegilaan Irsyad itu.
Jadi aku langsung saja menyangkal ucapan Irsyad yang super pede tersebut dengan keras.
Namun alhasil, sangkalan kerasku yang dengan lantang mengatakan jika hanya Rei yang akan jadi ayah anak-anakku, membuat Irsyad berubah menjadi monster.
Dimana Irsyad yang tadinya berdiri berjarak denganku dan sempat aku lempar dengan lampu tidur itu, dengan cepat berada di dekatku. Dan kemudian mencengkeram tubuhku dengan kasar, lalu ia hempaskan ke atas ranjang.
Lalu Irsyad menghimpitku sangat kuat, kemudian merobek kemejaku hingga terlepas semua kancingnya.
Dan di detik itu, aku merasa aku akan menjadi begitu hina setelahnya. Karena Irsyad akan memperkosaku, dan mengoyak habis harga diriku.
Hingga aku berpikir, jika sampai Irsyad menodaiku, aku rasanya akan bunuh diri setelahnya.
------
“Kamu memang keras kepala!”
Ucapan Irsyad dengan tatapan monsternya saat ia sudah berada di atasku dengan memegangi kuat kedua tanganku yang ia satukan, dan kakinya mengunci kakiku.
Dimana aku langsung merasakan sakit di tanganku saat Irsyad mencengkeramnya dengan sangat kuat.
“Kamu milikku Lia!” teriak Irsyad padaku untuk yang kedua kalinya setelah ia menindihku dan merobek kemejaku. “Berteriak sesukamu, tidak akan ada yang mendengar kamu, Lia. Per—“
BRAAKKKKK!
Tepat setelah aku berteriak histeris dengan sudah menangis hebat, lalu Irsyad mengancamku---pintu kamar tempatku berada, terbuka dengan paksa sebelum Irsyad selesai dengan kalimat ancaman yang ia katakan padaku. Lalu aku lihat satu dua lelaki berbadan tinggi tegap memasuki kamar tempatku berada, dengan cepatnya.
Dan dengan cepatnya juga, dua orang itu mendekat ke arahku yang sedang ditindih Irsyad---lalu menarik dengan kasar Irsyad yang berada di atasku, dimana Irsyad nampak sangat terkejut dari sejak pintu didobrak dari luar.
Aku lihat Irsyad hendak berucap, namun tidak sempat.
Karena dua pria yang mendekati kami itu, langsung menariknya dengan keras hingga Irsyad terjerembab ke atas lantai kamar---lalu diseret keluar menjauh dari ranjang.
Dan didetik itu, aku kiranya lega saat aku samar-samar melihat Rei berlari ke arahku---karena pandangan agak kabur akibat air mataku yang menderas saat aku dihadapkan pada keadaan dimana Irsyad akan memperkosaku.
Namun ternyata Tuhan masih mengasihani diriku, dengan tidak membuat hal yang bisa membuatku tak punya muka untuk menghadapi Reiji dan orang-orang di sekitarku itu terjadi---dimana Tuhan membuat Reiji dan beberapa orang yang kesemuanya adalah lelaki, namun entah siapa mereka itu---datang tepat waktu untuk menyelamatkanku dari perkosaan Irsyad.
------
Aku dengar Rei memanggil namaku dengan keras, lalu tak lama setelah itu dia sudah dengan cepat ada di dekatku.
__ADS_1
Di detik dimana aku benar-benar merasa lega saat aku mendengar suara Rei itu. Dan setelah aku merasakan pelukan Rei yang memelukku khawatir---lalu harum tubuhnya yang aku sangat kenali itu sampai ke indera penciumanku, aku lebih dari sekedar lega.
“R-eii...”
Aku melirih menyebut nama suamiku itu setelah Rei memelukku.
Tak mempedulikan yang lain lagi, selain aku tidak ingin Rei melepaskan pelukannya padaku agar aku benar-benar merasa tenang.
“Lia...”
Rei pun sama melirih menyebut namaku, saat aku dengan spontan melingkarkan tanganku dengan erat ke lehernya sambil aku masih menangis.
------
“Ma-afin aku, Rei... Aku ga kuasa melawan dia...” isakku yang masih memeluk Rei, dimana dia mengusap lembut punggungku saat aku menangis di pelukannya itu.
Aku mengadu padanya, karena aku sadar dengan keadaanku saat Rei datang.
Meski Irsyad belum sampai memperkosaku, tapi dia sudah melihat tubuhku atasku bahkan sempat memetakan tangan sialannya di tubuh bagian atasku saat kemejaku telah terbuka dengan lebar kala Irsyad merobek bagian kancingnya.
Dimana hal itu ingin aku sampaikan pada Rei, selain aku ingin mengatakan padanya jika aku dibawa paksa setelah dibius terlebih dahulu oleh Irsyad ke sebuah tempat yang adalah sebuah villa ini---karena aku takut Rei salah paham.
“Sstt...”
Namun baru saat aku hendak mengadu padanya, Rei sudah keburu mendesis lembut sambil mengurai pelan pelukannya padaku.
“Yang penting dia ga sampai berbuat lebih jauh dari ini,” ucap Rei kemudian.
Tapi lalu dengan polosnya aku bilang, “Ta-pi... Dia... sempat meraba aku, Rei...”
“Udah ya?” ucap Rei kemudian dengan lembut dan teduh memandangku, meski aku menangkap juga sorot mata kesedihan dan prihatin di dalam pandangan Rei padaku.
Namun tak lama, Rei tersenyum sambil menghapusi air mataku yang sudah membanjiri wajahku.
“Kamu udah aman sekarang,”
Lalu berujar menenangkan setelahnya.
------
Aku perhatikan Rei celingukan di ranjang tempat kami sedang berada, dan aku menyadari jika Irysad sudah tidak ada lagi di kamar villa tempat Irsyad membawaku untuk ia lecehkan, dan menyuntikku dengan obat perangsang. Ah ya, bicara tentang obat perangsang yang disuntikkan Irsyad padaku itu, aku merasakan tubuhku mulai tak nyaman.
Tapi aku sekuat tenaga melawan, untuk menghilangkan rasa tak nyaman itu. Lalu kembali memperhatikan Rei yang aku duga ingin mengambil selimut untuk menutupi tubuh bagian atasku yang terbuka, karena kancing kemejaku telah lepas semua berceceran di atas ranjang sepertinya. Mungkin jika Rei memakai outer, outernya bisa dia pakaikan padaku.
Hanya saja Rei memakai kaos kerah saja, yang tidak mungkin ia buka dan ia pakaikan padaku lalu bertelanjang dada.
Jikapun hal itu ingin Rei lakukan, aku tidak akan membiarkannya sampai bertelanjang dada. Lebih baik nanti saja dia bertelanjang dada di hadapanku seorang saat kami hanya tinggal berdua saja di apartemen kami.
Atau telanjang bulat sekalian.
Ah ya Tuhan.
Sepertinya obat perangsang yang diberikan Irsyad membuat otakku ngaco.
__ADS_1
Bisa-bisanya aku memikirkan keintiman dengan Rei disaat beberapa menit sebelumnya aku hampir saja diperkosa oleh Irsyad.
Fuuhh... lebih baik aku sarankan pada Rei untuk membungkus tubuhku saja dengan selimut pada ranjang tempatku berada.
“Ini...”
Namun baru saja aku ingin mengatakan pada Rei, dan Rei juga sepertinya ingin menarik selimut di ranjang untuk membungkus tubuhku, sebuah jaket tersodor kepada Rei dari seorang laki-laki yang entah siapa.
------
Laki-laki yang saat menyodorkan pada Rei sebuah jaket kasual dengan tanpa menoleh ke arahku dan Rei itu, langsung undur diri setelah Rei menerima jaket yang disodorkannya. Dan Rei langsung memakaikan jaket itu padaku, dengan begitu rapatnya. Namun aku tidak memprotes sama sekali.
“Ayo, Yang...” ucap Rei yang lalu bangkit setelah memakaikan jaket kasual yang kebesaran di tubuhku itu, yang kemungkinan adalah milik laki-laki yang menyodorkan jaket tersebut kepada Rei.
Tapi masa bodoh lah milik siapa jaket kasual tersebut, yang penting tubuh bagian atasku tidak terekspos.
“Rei...” Aku sedikit terkejut ketika Rei langsung mengangkat tubuhku dan menggendongku ala bridal style.
Namun mungkin hal itu Rei lakukan karena melihat aku sempat limbung saat bangkit dari ranjang. Jadi lagi-lagi, aku tidak memberikan protes.
Malah rasanya aku nyaman digendong oleh Rei seperti itu, walaupun kiranya sudah sering Rei menggendongku ala bridal style jika kami sedang berada di dalam apartemen kami.
Namun saat tubuhku rapat dengan dada Rei dan aku menenggelamkan wajahku di sana, ada desir tak nyaman yang kemudian aku rasakan lagi menjalar di tubuhku. Dan desirnya, terasa lebih kuat dari sebelumnya.
------
Aku tak mengucapkan sepatah kata pun saat Rei menggendongku kemudian berjalan itu.
Hingga kemudian tubuhku menegang saat aku mendengar suara keras yang memanggilku.
Suara Irsyad. Yang setelah memanggilku itu mengoceh tak karuan.
Dimana tak lama setelahnya, Rei yang telah mendudukkanku di dalam sebuah mobil---mengeras rahangnya kemudian berbalik.
Dan saat Rei berbalik itu, aku dilanda kepanikan berikut ketakutan hebat, karena setelah aku mendengar seorang pria berteriak ‘Tuan’---aku lihat Rei sudah menggenggam sebuah pistol yang kemudian Rei arahkan ke kepala Irsyad.
“Rei!”
Aku berteriak dan segera turun dari mobil.
Namun tak lama, seluruh pandanganku menggelap sebelum aku sampai ke tempat Rei yang sudah menempelkan pistol ke kepala Irsyad.
------
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, karena saat aku terbangun, aku sudah berada di dalam sebuah kamar asing. Sendirian. Dengan tubuhku yang aku rasa panas dan kehausan.
Aku hendak beranjak, namun pandanganku sedikit buram.
Dan aku mendengar suara sebuah pintu terbuka, kemudian tubuhku menegang.
Karena setelahnya aku menyadari tubuhku berada di atas sebuah ranjang. Oh Tuhan...
Apakah Rei yang menyelamatkanku, hanyalah sebuah mimpi??--
__ADS_1
***
Bersambung......