WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 275


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


“Lo ga buru-buru kan?” adalah Reiji yang bertanya pada adik perempuannya yang datang ke unit apartemennya dan Malia.


“Engga,” jawab adik perempuan Reiji itu.


“Gue mau ke kantor Lia.”


“Kalo dia ga mau nemuin lo?---“


“Gue tunggu sampe dia selesai kerja.”


❇❇❇


REIJI


Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Lia.


Walau saat sampai disana, waktu istirahat Lia sudah selesai.


Itu karena aku sempat mengobrol dengan Avi yang lebih pro pada sahabat dan kakak iparnya, ketimbang kakaknya sendiri.


Aku yang tadinya ingin meminta sebuah opsi solusi dari Avi, jadi malas menanyakannya.


Karena Avi yang selalu menanggapiku dengan ketus dan sinis setelah aku menceritakan padanya kenapa Lia sampai berakhir pada sebuah penculikan.


Dan karena malas untuk mendengar ocehan Avi yang menyalahkanku---yah, memang aku salah sih---aku memutuskan untuk mengakhiri obrolanku dengan Avi, dan pergi ke kantor Lia saja.


Tak peduli jika waktu selesai Lia bekerja masih lumayan lama. Yang jelas aku tidak mau membiarkan Lia pulang kantor sendirian.


Tak mau ambil resiko ada tindakan kriminal lain yang bisa saja Lia hadapi di luaran, sambil aku berpikir bagaimana untuk memastikan Lia aman andai aku sudah kembali aktif bekerja ketika cuti cuma – cumaku ini habis.


Lalu disaat aku juga harus berada jauh dari Lia selama beberapa hari, apabila Tuan Alva dan keluarganya sedang ada penerbangan ke luar negeri. Atau tujuan domestik, namun mereka menginap di daerah tersebut.


----


Singkat kata, aku habiskan waktuku menunggu sampai jam kantor Lia selesai di dalam mobilku saja satu jam pertama sambil mendengarkan radio dari audio di mobilku.


Dan saat aku telah bosan, aku putuskan untuk menunggu saja di coffee shop yang ada di gedung perkantoran tempat Lia bekerja dengan ponselku yang standby.


Barangkali para bosku ada yang menelepon, atau mungkin Lia mengajak komunikasi lewat chat.


Dan dua – duanya nihil.


Para bosku konsisten dengan pemberian cuti mereka padaku.


Selain juga mungkin memang mereka yang memaklumi kondisiku, jadi mereka sama sekali tidak ingin menggangguku.


Sungguh aku bersyukur bekerja pada satu keluarga yang tidak begitu tersohor di negara kelahiran dan tempat tinggalku ini, namun nyatanya dari apa yang aku lihat dari mereka sampai dengan saat aku ingin menyelamatkan Lia---satu keluarga yang mempekerjakanku sebagai pilot mereka, bukanlah sekedar crazy rich biasa.


Entah apa dan bagaimana background mereka yang sempat membuatku was – was, namun pada kenyataannya, aku diperlakukan dengan sangat baik oleh mereka. Dan aku tak mau lagi mempersoalkan apa dan bagaimana background mereka itu.


Yang jelas aku akan mengabdi pada mereka, sampai mereka kiranya tidak membutuhkanku lagi, yang aku harap tidak dalam waktu dekat.


Karena gaji yang aku dapat sebagai pilot pribadi keluarga Adjieran Smith, sungguhlah fantastis.


Bisa membuatku ongkang – ongkang kaki hanya dalam beberapa tahun ke depan, jika aku memutuskan untuk berhenti menjadi pilot, dan beralih jadi juragan kos – kosan.


----


Kembali pada ponselku yang adem ayem.


Dimana untuk membunuh waktu, aku pergunakan untuk bermain game online.


Aku sengaja tidak membalas chat terakhir Lia yang mengatakan tidak sudi menerima ‘sisaan’.


Tidak juga coba menghubunginya ataupun mengirim chat pada Lia dan memberitahukan jika aku sudah berada di kantornya.


Takutnya, Lia masih coba menghindariku. Lalu macam – macam cara dia lakukan. Keluar gedung lewat tangga darurat mungkin?


----

__ADS_1


Aku hanya menghubungi Andra, yang mana orangnya tidak sedang berada di kantor sekarang. Namun melalui Andra yang menghubungi resepsionis kantornya dan menanyakan keberadaan Lia, aku bisa duduk tenang menunggu Lia di coffee shop yang ada di gedung perkantorannya ini.


Meskipun aku harus beberapa kali repeat order menu yang disediakan coffee shop tersebut.


Demi diperbolehkan duduk lama – lama di sana.


----


Ada sih beberapa panggilan yang nomornya aku kenal, dan aku tidak kenal. Juga chat yang masuk ke ponselku kala aku sedang menunggu Lia.


Dari tiga sahabat lelakiku, juga dari nomor yang tidak dikenal, namun aku tahu itu siapa. Tapi panggilan dan chat itu aku abaikan.


Karena aku sedang tidak ingin membahas apapun mengenai Irly yang pastinya ingin tiga sahabat lelakiku ingin tahu, selain aku yakin Irly telah bercerita pada mereka yang mungkin menghubungi untuk menasehatiku atau memberikan solusi.


Hanya saja, aku sedang tidak mood untuk bicara dengan tiga sahabat lelakiku saat ini, yang nasehat dan solusinya kemungkinan besar adalah agar aku jangan sampai memutuskan persahabatanku dengan Irly, lalu membawa Argan---yang jujur aku katakan, kalau soal aku harus menjauhi Argan---aku sedikit merasa iba pada bocah yang selama ini begitu dekat denganku, walau intensitasku bertemu dengannya tidak sering-sering amat.


Hanya saja memang aku memang sering berkomunikasi dengan Argan via sambungan telepon atau video call jika aku sedang santai, dan selalunya tidak Lia ketahui. Dan masih sering aku curi – curi waktu untuk lakukan, disaat pertama kali Lia memintaku menjauhi Irly.


Yah, kondisinya waktu itu, rasa tak tegaku masih sangat besar pada Argan. Dan sekarang ya aku tega – tegain, setelah hubunganku dan Lia menjadi runyam begini. Karena aku yakin, Irly yang nampak ngotot memaksaku untuk menerima panggilannya---sedikit banyak karena Argan yang mencariku.


Tak tega, pada bocah yang katakanlah tidak tahu apa-apa soal permasalahan orang dewasa.


Namun demi hubunganku dan Lia agar membaik seterusnya, aku harus menjadi tega pada Argan.


Dan kali ini, aku tak boleh lagi yang namanya sembunyi-sembunyi untuk berkomunikasi dengan Argan.


Bagaimanapun Irly mengiba untuknya dalam chat.


Ataupun jika tiga sahabat lelakiku yang lain melakukannya.


Aku harus tega.


Karena jika tidak, taruhannya adalah rumah tanggaku dan Lia.


----


Perihal tiga sahabat lelakiku, nanti, aku akan luangkan waktu untuk bertemu mereka.


Walau terkesan tidak gentle,  tapi sudah, aku tidak ingin ada sangkut paut lagi dengannya.


Terserah jika aku pun dinilai kejam perihal Argan, namun apa yang aku sedang hadapi saat ini rasanya lebih penting dari Argan.


Lia.


Dan resiko kehilangan perempuan yang paling aku cintai terlepas dari mamaku dan Avi.


Karena aku takut jika apa yang telah aku lakukan terkait Irly menyenggol prinsip Lia. Dan Lia, begitu teguh memegang prinsipnya.


Selain, keras kepala.


Namun keras kepalanya Lia saat ini, akan berimbas sangat buruk bagi hubungan kami jika aku mengabaikannya.


Yang mana agar hal itu tidak terjadi, atau Lia yang emosi mencetuskan ide untuk bercerai---kiranya aku memilih tega pada orang lain.


Atau jika Lia meminta aku agar tidak lagi berhubungan dengan orang-orang yang ada kaitannya dengan Irly---tiga sahabat lelakiku dalam hal ini, aku tidak akan berpikir untuk segera mengiyakan. Apapun lah!


Asal hubunganku dan Lia kembali harmonis dan mesra seperti saat sebelum aku lebih terfokus pada Argan yang ternyata memiliki kelainan jantung itu. Namun aku merasa, kali ini akan lebih sulit untuk membaiki Lia.


****


Dan ya, kesulitan itu sudah mulai Reiji rasakan lagi setelah Malia muncul di lobi gedung perkantoran tempat istrinya itu bekerja.


Reiji disajikan oleh keketusan dan kesinisan Malia padanya saat istrinya itu sudah ia dekati.


Bahkan Malia sempat mengeluarkan kalimat yang bermakna ia tidak ingin pulang bersama Reiji.


Namun pada akhirnya tidak kejadian, karena Reiji yang mengatakan pada Malia jika adik perempuannya yang adalah sahabat Malia itu, kini sedang menunggu Malia di apartemen mereka.


Lalu Malia mau tidak mau ikut pulang bersama dengan Reiji, setelah ia mengirim chat pada Avi yang Malia hafal nomornya dan sudah ia save juga di dalam buku kontak pada ponsel barunya---menanyakan apa benar jika Avi ada di apartemennya dan Reiji.


Avi yang membenarkan jika ia sedang menunggu Malia di apartemen sahabat merangkap kakak iparnya dan sang kakak kandungnya itu, membuat Malia akhirnya mau ikut pulang dengan Reiji. Meski Malia rasa enggan.


Dan Reiji menyadari hal itu. Lalu menambah kesabaran hatinya saja, setelah sempat tadi mendapatkan cibiran dari Malia.

__ADS_1


Agak sebal, karena Malia mencibirnya dan agak mungkin dapat dikatakan menantangnya di tempat umum meski tak ada orang yang memperhatikan.


Dan sikap Malia juga tidak kentara emosinya dari luar, untuk itu Reiji melapangkan dadanya.


Beruntung ada Avi yang sedang berada di apartemennya dan Malia, jadi hal itu bisa Reiji gunakan untuk mengajak Malia pulang bersamanya.


****


“Kamu kapan beli hp barunya?”


Reiji membuka keheningan di dalam mobilnya.


“Ga usah khawatir aku ga pake uang kamu..” jawab Malia sekenanya.


Padahal uang Reiji lah yang Malia pakai untuk membeli ponsel barunya sebelum ia mentransfer sejumlah uang dalam jumlah besar ke rekening bank Reiji, yang Malia perkirakan sebagai total jumlah dari uang yang selama ini Reiji berikan padanya.


“Dokter Dewi hubungi aku tadi. Dan katanya sempet hubungi kamu sebelumnya, tapi ponsel kamu ga aktif menurut dia.”


Tidak nyambung jawaban Malia dari pertanyaan Reiji sebelumnya. Namun sekali lagi, Reiji tidak ingin membahas ketidak-nyambungan jawaban Malia atas pertanyaannya tadi itu.


“Sabtu nanti kita kan ada janji sama dia, tapi aku bilang aku diskusiin dulu sama kamu,“ Jadi Reiji lanjut saja dengan topik lain. Yang memang kabarnya telah ia terima saat diperjalanan menuju kantor Malia tadi. “Soalnya—“


“Udah aku batalin.” Malia menyambar untuk bicara.


Memotong ucapan Reiji. Dimana Reiji mengangguk menanggapinya.


Beranggapan, jika mungkin Malia sedang malas. Entah sedang malas pergi dengan dirinya, atau malas karena belum lama mengalami kejadian buruk. Jadi Malia ingin mempergunakan waktu liburnya itu untuk berleha-leha saja.


“Terus udah kamu jadwalin hari gantinya jadwal konsultasi promil kamu dengan Dokter Dewi?”


Merasa Malia menanggapinya sekarang, meski terlihat acuh tak acuh---Reiji pun mencetuskan pertanyaan lagi.


“Ga.”


Malia menjawab dengan singkat tanpa menoleh kepada Reiji.


Dimana Reiji sekali lagi memaklumi sikap Malia padanya saat ini.


****


Tak melayangkan protes pada keacuhan Malia padanya, Reiji kembali berbicara.


“Ya udah nanti kita diskusikan lagi soal jadwal ketemu Dokter Dewi buat konsul ya?”


Karena memang hal yang sedang Reiji angkat untuk bahas ini, Reiji kira dapat menjadi penolong dirinya untuk menjinakkan sikap dingin Malia yang mungkin akan Reiji terima dalam beberapa hari ke depan.


Ga apa deh kalo Lia bersikap dingin sama gue. Tapi kalau soal promilnya dan sesi konsultasi, bisa menjadi jalan gue untuk bisa deket sama Lia, meski dia acuh ga acuh---Begitu kiranya pikir Reiji.


Namun kemudian, harapan Reiji itu seketika patah. Ketika Malia menjawab ucapannya. “Ga perlu karna aku udah batalin promil aku. Aku batal ingin hamil sekarang.“


"Kok gitu, Yang?--"


"Aku berubah pikiran buat punya anak cepet-cepet. Jadi aku udah hubungi Dokter Dewi dan bilang sama dia, kalo aku ga mau nerusin konsultasi promil aku--"


“Tapi kita udah setengah jalan, Yang. Dan harusnya kamu diskusikan soal itu dulu sama aku—“


“Did you? ( Kamu sendiri? )” sambar Malia. “Ada kamu diskusi sama aku soal kamu menafkahi janda sialan itu?—“


“Soal promil kamu dan rencana kita punya anak dalam waktu dekat ga ada hubungannya sama Irly—“


“Ada!—“


“Denger Yang, aku tau kamu marah sama aku. Tapi soal promil kamu, itu keputusan kita bersama. Jadi apapun mengenai hal itu, kamu bicarakan dulu sama aku. Jangan memutuskan secara sepihak seperti ini atas dasar emosi.. Calon anak yang kemungkinan berhasil dalam promil kamu, itu mimpi kita, Yang—“


“Udah engga buat aku. Terserah kamu mau terima atau engga—“


“Ya jelas aku ga terima lah kalo kamu memberhentikan promil kamu gitu aja tanpa kamu bicarakan dulu dengan aku—“


“Terus kalo kamu ga terima mau apa? Mau ceraikan aku? Silahkan aja!—“


❇❇❇❇❇❇


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2