
Terima kasih masih setia...
***
Selamat membaca...
***
MALIA
“Lo ajak laki lo pas mau ketemuan sama si Irsyad itu, tapi temuin si Irsyad itu lo nya sendiri dulu. Bicara berdua sama dia-tapi laki lo ada di sekitaran lo, dimana dia bisa ngeliat interaksi lo sama cinta pertama lo itu. Tetep jaga hati laki lo dengan membuat dia percaya kalo elo udah teguh ke dia dan tetep jaga perasaan cowok yang namanya Irsyad itu kan, tanpa kemunculan lo dengan laki lo secara tiba-tiba dihadapan dia? ..”
Aku sedang bersama Aniel selepas kami selesai bekerja sore ini.
“Paham kan lo maksud gue? ---“
Aniel memastikan jika aku memahami maksud dari saran yang ia katakan padaku itu dengan panjang lebar, sambil ia menikmati french fries yang ada di tengah meja antara gelas minuman kami.
“Iya, gue paham.” Jawabku.
“Ya itu sih saran gue aja. Terserah mau lo praktekin apa engga.”
“Bagus juga sih ide lo itu Niel---“ sahutku. “Ntar coba gue pikirin lagi.”
Aniel manggut-manggut, sambil ia menyeruput minumannya.
“Kalo suggest gue sih, lo terbuka deh sama laki lo---“ ucap Aniel. “Banyak pasangan yang ga aware sama yang namanya komunikasi dalam hubungan, terutama pernikahan. Seolah lo kenal sama pasangan lo, tapi pada kenyataannya engga dan akhirnya ada percikan dikit langsung kebakar ... Jadi kalo emang lo mau ikutin saran gue tadi, ya mending lo ngomong sama laki lo. Ceritain semuanya. Termasuk kalo cinta pertama lo itu udah ‘nembak’ lo, meskipun dia udah tau kalo lo udah nikah.”
“Tapi apa itu ga nyulut emosi laki gue nantinya, Niel?”
Aku bertanya dengan spontan pada Aniel. Karena jujur saja aku memang memiliki kekhawatiran sendiri atas emosi Reiji jika aku mengatakan padanya kalau Irsyad telah mengungkapkan jika ia mencintaiku meski ia sudah tahu kalau aku sudah menikah.
“Yah kalo emosi sih pasti ada.” Jawab Aniel. “Namanya suami kalo denger istrinya ditembak laki lain, padahal itu laki udah tau kalo cewe yang ditembaknya itu istri orang, ya pasti ada lah emosinya.”
“Nah itu, yang ada gue bakal ribut sama Rei.”
“Kalo sampe lo ribut banget sama laki lo gue yakin engga bakal deh,” tukas Aniel.
“Sok you know lo ah ...”
Aniel terkekeh.
“I know dong!” tukas Aniel.
Lalu Aniel tersenyum sambil mencomot lagi kentang goreng berbumbu yang langsung ia masukkan ke mulutnya.
Dan aku menyeruput minumanku.
“Anggep deh gue sok tau.” Aniel kembali bicara. “Tapi dari penilaian gue, laki lo itu sabar orangnya-kalo dari cerita lo ya? ...”
Aku tidak menyahut, mendengarkan saja dulu Aniel dengan komentarnya.
“Dan perasaan gue juga begitu sih ...”
“Begitu gimana? ...”
“Ya laki lo tuh orangnya sabar ... keliatan dari sorot matanya, yang keliatan banget kalo lagi natap lo. Full of love, baby.“
Aku terkekeh.
“Gue kan pemerhati orang.”
“Pemerhati laki kali? ...”
Aniel terkekeh lagi, akupun sama.
“Perempuansiawi,” sahut Aniel sesuka hatinya aja.
“Lo bener emang Niel. Rei itu sabar orangnya –“
Aku lalu berbicara.
“Sabar banget malah ...”
“Bener dong berarti pendapat gue? ---“
“Iya ...”
Aku mengangguk.
“Udah keliatan Ya’ dari cara dia ngeliatin lo kalo pas gue ketemu laki lo itu ---“ tukas Aniel. “Cowok yang menatap pasangannya hangat begitu, pasti sabar n pengertian orangnya ...”
“Iya Niel, lo bener lagi ---“ sahutku. “Selain sabar, Rei emang pengertian orangnya ---“ sambungku. “Meski sesekali ada nyebelinnya yang bikin kesel, tapi iya, Rei selalu mendahulukan kepentingan gue-at least dia selalu tanya pendapat gue.”
“Dan gue yakin kalo laki lo itu ga pernah membatasi ruang gerak lo? ---“
“Iya ---“
__ADS_1
Aku menyahut cepat.
Yang mana lagi-lagi Aniel benar adanya.
Aku sendiri rasanya tidak ingat jika Reiji pernah melarangku untuk melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan, termasuk terang-terangan mengatakan jika aku pergi untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan Irsyad.
-----
Aniel menerima panggilan telepon dari suaminya, sementara aku mengecek pesan chat yang masuk ke ponselku.
Pesan chat dari Reiji yang mengatakan jika besok sore dia sudah akan berada di Jakarta. Yang membuat sudut bibirku tertarik karenanya.
“Cowok ganteng tuh banyak. Bertebaran malah. Nah yang ganteng tapi setia yang ga bertebaran ...”
Aniel kembali berbicara, setelah kami sama-sama terdiam sejenak.
“Ganteng, setia, perhatian dan pengertian macam laki lo-macem laki gue juga, itu langka! -----“
Aku mendengus geli mendengar ucapan Aniel.
Tapi yang rekan kantor yang paling akrab denganku itu benar juga.
Empat kata yang menggambarkan Reiji itu memang tepat adanya.
Reiji seganteng, setia-sepertinya iya sih, karena di rumah ia tidak pernah memasang kunci pada ponselnya, dan membiarkannya tergeletak begitu saja-selain memang Reiji udah pernah bilang kalau aku dipersilahkan untuk memperlakukan ponselnya seperti ponselku sendiri.
Passwordnya pun ia beritahukan padaku, jika ia lupa membuka kunci ponselnya setelah sampai di apartemen.
Tak hanya password ponsel, tapi juga surelnya, bahkan password semua kartu debitnya-termasuk M-Banking.
Jadi ya, Reiji seganteng, sesetia, seperhatian dan sepengertian itu padaku.
“Bener kan? ---“
Aniel menunjukku.
Dan aku mengangguk.
Lalu Aniel tersenyum dan mengusap punggung tanganku.
“Jadi jangan lo sia-siain. Kalo kiranya lo masih ragu soal perasaan lo ke suami lo itu, ya lo inget lagi empat kata yang menggambarkan dia itu. Laki lo, laki gue-walau ga seganteng laki lo, dan masa bodoh kalo gue promosiin laki gue ---“
Aku terkikik mendengar celotehan Aniel.
“Lo udah merasa cinta kan sama laki lo itu? ---“
Aku mengangguk.
***
“Thanks ya Niel.” Ucap Malia setelah ia merasa cukup berbicara dengan Aniel untuk berbagi masalahnya dan mendapatkan sebuah solusi.
“Makasih buat apa coba?-“ sahut Aniel.
“Makasih udah nyediain waktu buat dengerin masalah gue.”
Malia berucap tulus.
“Dan makasih buat solusi yang rasanya akan gue pake.”
“Sama-sama Ya’ ... kita kan friend? ...”
Aniel menyahut seraya tersenyum, sebelum ia bergegas untuk bangkit dari duduknya, karena suami Aniel mengabarkan jika dirinya sudah hampir sampai ke kedai kopi tempat Aniel dan Malia berada sekarang.
“Gue seneng kalo saran gue lo pake, Ya’ ...” kata Aniel. “Tapi inget ya, lo cerita semua sama laki lo, jangan lagi ngerasa takut dia marah atau apalah ... which is gue yakin dia ga bakal marah sih ... ke elo ...” lanjut Aniel. “Ga tau deh kalo ke itu cowok masa lalu lo.”
Malia mendengus geli.
“Tapi yakin laki lo tuh gentleman lah.”
Malia mengangguk seraya tersenyum.
Sembari juga Malia bergegas untuk bangkit dari duduknya. Lalu Malia dan Aniel sama-sama berjalan untuk keluar dari kedai kopi.
“Terus satu lagi, liat sikon pas mau ngomong. Jangan pas banget laki lo baru balik terus lo omongin itu hal yang kita omongin tadi ----“
Aniel kembali memberikan saran, kala mereka telah berada di bagian luar kedai, sambil menunggu suami Aniel yang sedikit lagi benar-benar tiba.
“Iya ...”
“Sesabar-sabarnya laki lo, tetep yang namanya orang cape, kinerja otaknya Cuma setengah. You knowlah.”
Malia mengangguk.
“Ya udah, see you on Monday ya!”
Aniel berpamitan seraya cipika cipiki dengan Malia, yang kemudian sedikit merunduk untuk menyapa suami Aniel.
__ADS_1
“Sekali lagi makasih ya Niel?” ucap Malia tulus sebelum Aniel masuk ke dalam mobil suaminya.
Aniel pun mengangguk seraya tersenyum.
“Sama-sama sekali lagi, Ya’ ...” jawab Aniel. “Take care yah! ...”
“You too (Lo juga)-“ tukas Malia. “Puas-puasin deh nikmatin cuti lo-“
“Oh sudah tentu itu.”
“Ya udah, hati-hati-“
“Eh iya ...”
Aniel yang sudah berada di dalam mobil itu mengkode Malia dengan gelagat ingin membisikkan sesuatu pada Malia.
“Kenapa? ...”
“Tips buat bikin suasana hati laki lo bisa cepet diajak ngomong, terus nerima rencana lo ...”
“Apaan? ...”
“Siapin lingerie profokatif, kalo bisa yang cuma segaris doang-”
Malia mendelik, dan Aniel terkikik.
“Mesum dasar! Dah sana!”
Malia mengusir Aniel dalam canda, dan rekan kerjanya itu terkikik geli.
“Byeeee!”
Malia dan Aniel pun saling melambaikan tangan untuk berpisah dan pergi ke tujuan masing-masing.
****
Keesokan harinya,
Malia merasakan langkahnya ringan hari ini.
Kemarin dia telah mendapatkan solusi yang Malia rasa adalah yang paling pas untuk dia lakukan perihal permasalahannya perihal laki-laki dari masa lalunya.
Selain, Malia sedang bersemangat karena Reiji akan pulang hari ini.
Saking bersemangatnya, bahkan Malia sudah mempersiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan Reiji hari ini.
‘Emang toxic itu si Aniel! Gara-gara omongan dia kemaren gue jadi mampir buat beli lingerie profokatif!’
Malia membatin kala ia teringat sepotong baju yang amat kurang bahan-yang ia beli kemarin saat telah berpisah dengan Aniel di kedai kopi, dan entah kenapa tangan Malia pada kemudi mobil seolah otomatis mencari Mall dan masuk untuk membeli sepotong lingerie profokatif, meski tidak seekstrim yang Aniel sarankan.
Sampai di apartemen kemarin pun, Malia rasanya tak percaya jika dirinya sampai bela-belain beli baju tidur super seksi yang tidak pernah ia punya demi untuk Reiji. Bukannya Malia tak punya lingerie-punya tapi model standar, tidak seperti yang baru Malia beli kemarin.
‘Dahlah punya suami mesum, punya temen mesum juga, ya gue jadi mesum kuadrat!’ batin Malia sambil bibirnya mengulum senyum geli di kursi kerjanya. ‘Dipelet kali gue sama si Rei?.... sampe kek gini gue ke dia coba?’
****
Malia masih berkutat di meja kerjanya, untuk menyelesaikan pekerjaannya karena waktu makan siang telah tiba.
“Ya’ mau bareng ga? ---“ suara seorang rekan kerja Malia membuat Malia mendongak, karena rekan kerja Malia itu sudah berdiri di depan kubikelnya.
“Mau lah.”
“Ya udah cepetan kita orang tungguin.”
“Udah kelar kok ini juga ...”
Malia bangkit dari duduknya, sambil ia mengambil dompet yang selalu ia bawa saat pergi makan siang di kantor.
Selain langkah Malia yang seolah ringan saat berangkat kantor tadi, hatinya juga cukup lega, karena pagi ini tak ada ajakan untuk bertemu dari Irsyad seperti tiga hari sebelumnya.
Jadi mood Malia sedang sangat baik, karena tak harus merasa tak enak untuk menolak ajakan Irsyad bertemu, sampai nanti Malia merasa jika saatnya sudah tepat.
Ya, setelah Malia berbicara dengan Reiji, seperti saran Aniel.
“Yuk! .....”
Rekan kerja satu divisi Malia langsung mengucapkan kalimat ajakan, saat melihat Malia telah siap berangkat maksi dengan mereka.
Malia nampak sumringah berhaha hihi dengan rekan satu divisi yang sedang melangkah bersamanya sampai ke lobi gedung perkantoran tempat mereka bekerja.
Namun tak berapa lama kemudian, tawa sumringah Malia perlahan menghilang, saat melihat sosok yang sedang berjalan ke arahnya sekarang.
“Hai Li ----“
“Kak Irsyad? ----“
****
__ADS_1
Bersambung ...