
Selamat membaca....
****************
Malia sudah berada di dalam taksi yang ia langsung dapatkan ketika ia tengah hendak keluar dari gedung apartemen tempat Shirly tinggal.
Karena Malia sudah tak ingin berlama-lama lagi berada di sana. Tak ingin juga sampai Reiji mengejarnya.
Hati Malia sedang tidak karuan rasanya, dan berimbas pada rasa malas untuk bertemu muka dengan Reiji saat ini.
Ada kecewa yang besar di hati Malia, meskipun dirinya tidak sampai memergoki Rei yang sedang berbuat asusila dengan perempuan yang Malia beri label sebagai bibit pelakor itu.
Namun demi perempuan bernama Shirly yang berlabel sahabat bagi Reiji tersebut, Reiji sampai membohonginya serta juga ingkar janji.
Lalu, sikap Reiji saat di apartemen Shirly tadi. Yang sampai begitu ketusnya, melemparkan tatapan tajam walau sebentar, bahkan membentaknya.
Tercubit hati Malia karena sikap Reiji itu, dan rasa tak terima kini menggelayuti hati Malia juga.
Jadi sekarang, Malia sungguh enggan berhadapan dengan Reiji yang tidak Malia mau pedulikan apakah suaminya itu mengejarnya atau tidak.
Makanya saat ada taksi yang berhenti di pelataran lobi gedung apartemen Shirly lalu keluar penumpangnya, Malia langsung memasuki taksi tersebut.
Yang mana untungnya, si pengemudi taksi pun tidak menolak keberadaan Malia yang memasuki taksinya tanpa bertanya dahulu apakah supir taksi itu masih mau lanjut mengantar penumpang atau tidak.
Lalu sapaan sopan standar pengemudi taksi tercetus pada Malia yang membalas sapaan dari supir taksi tersebut.
Dan setelahnya Malia berbicara.
“Jalan aja dulu, Pak. Ke arah selatan...”
“Baik, Bu,” jawab supir taksi yang Malia tumpangi dengan sopan.
Setelahnya, Malia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi penumpang belakang taksi yang ia sedang tumpangi itu.
🍂🍂🍂
MALIA
Setelah Pak supir taksi tersebut pun menyahut mengiyakan ucapanku yang memintanya melajukan mobil ke arah selatan, aku menyandarkan punggung di kursi penumpang yang aku duduki.
Aku menghembuskan nafas beratku beberapa kali, guna meredam emosi dalam hatiku atas apa yang belum lama aku alami di apartemen si bibit pelakor tadi.
“Mohon maaf, Ibu...”
Suara supir taksi terdengar, dan aku lantas terhenyak dari lamunan yang mengingat lagi sikap Rei saat di apartemen si bibit pelakor itu.
“Ini, selatannya, tepatnya di mana?”
Aku terdiam sejenak.
“Bentar, Pak. Jalan aja dulu.”
Aku berucap kemudian dan supir taksi tersebut mengiyakan. Sementara aku memikirkan, kemana aku ingin di antar. Tapi beberapa detik kemudian aku berpikir, jika aku menyebut selatan, karena tempat tinggalku dan Rei ada di Jakarta pada bagian tersebut.
Tidak, tidak.
Aku sungguh sedang tidak ingin kembali ke apartemen tempat tinggalku dan Rei. Tidak sekarang.
__ADS_1
Meski aku menemukannya tidak dalam posisi yang menjijikkan di apartemen bibir pelakor berlabel sahabat itu, entahlah---tapi aku merasa jijik saja pada Rei.
Yah meski lebih jijik pada si Shirly itu, jika ingat ucapannya yang seolah mengatakan jika dia segitu berharganya buat Rei, hingga menyenggol posisiku sebagai istri Rei sekarang.
Dan Rei hanya bilang, “Ir, udah...”
Heh!
Sementara padaku, Rei melayangkan bentakan.
Emang sialan kalian!
Astagfirullah...
Maafkan aku yang merutuki suamiku sendiri, Ya Allah.
Habis aku benar-benar kesal padanya saat ini.
Dan sungguh, aku sedang tidak ingin berhadapan dengan Rei sekarang.
“Pak, maaf. Ganti arah ga apa – apa ya, Pak?...”
“Oh, ga masalah, Bu.”
“Ke daerah pusat ga apa – apa, Pak?”
Aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang mungkin tidak terpikirkan oleh Rei jika aku pergi ke sana. Bukan aku takut menghadapi Rei, yang mungkin saja marah karena aku telah berlaku kasar kepada si bibit pelakor dan anak sahabat perempuannya itu...
Ah ya, anak...
Dan aku tidak terima sekali ada anak orang lain yang memanggil suamiku dengan panggilan sayang, yang mana hak panggilan sayang itu seharusnya anakku dan Rei dulu yang memilikinya.
Rei terlihat sudah biasa sekali mendengar panggilan itu. Semakin bertambah saja kecewa di hatiku padanya. Padahal aku sudah merencanakan jika program anak kami berhasil, panggilan ‘Papi dan Mami’ lah yang akan aku bahasakan pada anakku dan Rei.
Tapi sayangnya, aku telah dilangkahi.
Sungguh, aku kecewa sekali.
🍂🍂🍂
“Mungkin Lia udah di apartemen, jadi kamu langsung aja ke sana. Udah tidur kali, makanya telepon kamu ga kejawab.”
Jawaban yang Reiji terima dari salah seorang orang tuanya yang ia hubungi perihal mencari tahu keberadaan Malia, setelah Reiji mendapat konfirmasi yang rasanya sangat akurat tentang Malia yang tidak ada di hotel tempat Reiji coba mencari keberadaan istrinya berdasarkan dugaannya.
‘Duuhhh!...’ keluh Reiji dalam hatinya, ketika jawaban yang kurang lebih sama dengan yang salah seorang orang tuanya katakan, Reiji dapat dari mertua laki-lakinya.
Dimana Reiji tidak menangkap gelagat kebohongan dari orang tua dan mertuanya, jika mereka sebenarnya tahu lalu menyembunyikan keberadaan Malia atas permintaan istrinya itu.
Suara keduanya terdengar natural saat berbicara pada Reiji tadi. ‘Tapi siapa tau Lia udah sampe di apartemen sekarang?...’ monolog Reiji dalam hatinya setelah ia selesai berbicara dengan salah satu orang tua dan mertuanya itu.
🍂🍂🍂
MALIA
Sebuah Bar & Restoran yang terletak di pusat kota menjadi pilihan untuk aku datangi.
Aku tidak berniat mabuk meskipun di tempat itu menyediakan minuman keras.
__ADS_1
Aku hanya ingin melepas penat di tempat yang berada pada lantai lima puluhan sebuah gedung di Jakarta Pusat itu.
Karena tempat tersebut terkenal dengan atmosfir rileksnya, dan aku pernah sekali mendatanginya.
Tidak tahu kenapa tempat itu tiba – tiba saja melintas di pikiranku. Tapi apapun itu, aku hanya ingin ‘mengentengkan’ kepala sekaligus meredam emosi---dengan melihat view kota Jakarta saat malam dari satu sudut tempat yang memiliki julukan ‘Lifestyle Resort In The Sky’.
🍂🍂🍂
‘Sebodo!’
Yang Malia cetuskan dengan sinis dalam hatinya, ketika ia melihat ponselnya saat dirinya telah mendapatkan satu tempat duduk yang strategis di satu tempat yang menjadi pilihan Malia untuk menghindari Reiji---dimana cetusan sinis dalam hati Malia itu terucap ketika ia mendapati banyaknya pesan chat dari Reiji.
Lalu masa bodoh pada panggilan telepon dari Reiji dengan tidak menanggapi sama sekali panggilan telepon dari suaminya itu, dan meletakkan ponselnya di atas meja dengan ia telungkupkan, setelah Malia sunyikan mode bunyinya.
Kemudian Malia menatap hamparan pemandangan kota dari tempatnya duduk sambil menghembuskan nafas berat, selagi ia menunggu pesanannya datang.
‘Kalau gue ga pulang ke apartemen malam ini, gue harus kemana ya?...’
Malia bermonolog dalam hati, kala pandangannya kini telah beralih ke cakrawala yang membentang di hadapannya. Lalu Malia menghembuskan lagi nafas beratnya, sambil ia mengusap kasar wajahnya.
‘Ke rumah papa mama?... ah engga!...’ Malia bermonolog lagi dalam hatinya.
Bertanya, lalu menyangkalnya sendiri.
‘Kalo ke rumah papa mama, meskipun ini malem gue ga ketemu Rei, besok dia pasti dateng temuin gue di sana...’
Lalu Malia bermonolog lagi dalam hati.
'Gue kok pengen lama ga ketemu Rei ya?... Males banget liat mukanya!'
🍂🍂🍂
Malia sedang sibuk dengan pikirannya sambil terus memandangi hamparan pemandangan kota dan cakrawala di hadapannya bergantian.
Namun ketika ia merasa ada seseorang yang mendekat, dimana Malia berpikir jika itu adalah seorang pelayan yang datang mengantarkan pesanannya---Malia pun spontan menoleh. Dimana Malia spontan mendelik terkejut ketika ia mendapati seseorang yang ada didekatnya, bukanlah seorang pelayan restoran yang mengantarkan pesanannya.
“Ka-kamu?—“
“Hai, Lia...”
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bersambung......
Marhaban Ya Ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi readers yang menjalankannya.
Semoga berkah Ramadhan menghampiri kita semua.
Aamiin.
Mohon maaf lahir & batin.
Loph Loph,
Emaknya Queen.
__ADS_1