
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
MALIA
Aku terbangun di tengah malam, dengan kondisi diriku yang porak poranda setelah ‘diobrak-abrik’ Reiji.
Dan memang selalunya aku dibuat porak poranda oleh Reiji setiap kali kami bercinta, dimana aku selalunya kalah ‘bertarung’ dengannya dalam satu kegiatan itu.
Ah tubuhku, rasanya remuk redam setelah diobrak abrik Reiji dalam tiga sesi.
Dan lagi, malam ini sepertinya Reiji lebih bersemangat dari sebelum – sebelumnya.
Selama ini, paling top Reiji hanya meminta dua ronde setiap kami bercinta. Itupun ada jedanya.
Tapi tadi, aku dibuat kewalahan berkali lipat rasanya oleh Reiji karena bukan hanya dua kali Reiji membawaku mengarungi samudra kenikmatan, tapi tiga kali dan itu tanpa jeda.
Dia minum obat kuat atau apa?.
Tapi rasanya sih tidak. Jikapun iya, dia pasti akan mengatakannya padaku.
Karena memang dari dulu Reiji jujur orangnya setahuku. Dan baru aku ingat ucapannya, jika Reiji akan mengutarakan secara frontal apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan selalunya. Berbanding terbalik denganku, yang seringnya menyimpan rapat – rapat segala yang aku pikir dan khawatirkan.
Dan tentang itu, kejujuran Reiji.
Mungkin pengakuannya yang sudah tidak punya lagi rasa pada Shirly sudah seharusnya aku percayai.
Dan lagi, melihat ekspresi wajah Reiji tadi, lalu ucapannya yang terdengar lirih kala dia sempat berhenti mencumbuiku sungguh membuat hatiku terasa diremat.
Dan disaat itu, aku memutuskan untuk tidak memberikan penolakan pada Reiji yang sudah lumayan lama aku abaikan.
Selain itu, yaa.. aku tidak mau munafik jika cumbuan Reiji sudah terlanjur membuat gelenyar aneh mendamba langsung muncul dalam tubuhku ini.
Dan yaa.. Reiji memang sepandai itu menyulut api gairah di dalam diriku untuk cepat berkobar. Yang kadang membuat diriku malu sendiri. Aku yang diawal terlihat enggan, akan berubah ditengah-tengah, seperti orang yang kehausan ingin cepat menuntaskan dahaga.
Sekali lagi, itu karena kemampuan Reiji yang entah bagaimana, dapat membuatku mendamba rasa yang bisa membawa diri seolah melayang di awang-awang, dari sejak malam pertamaku dengannya. Sebagaimana terjadi juga pada malam ini.
Padahal, kami sempat adu argumen dengan tajam beberapa jam yang lalu. Tapi setelah Reiji datang mendekatiku dan menampakkan kelembutan, aku tak berkutik ia buat.
Yah, sebenarnya aku yang tak berkutik itu sedikit syok kala Reiji tahu-tahu datang memelukku dari belakang saat aku sedang bertelpon ria dengan Irsyad.
Itu karena, aku mendengar Reiji mengatakan sebaris kalimat ancaman yang aku tahu jika kalimat itu tertuju pada Irsyad. Dan hal itu membuatku sangat khawatir.
Aku yang sempat bersikap sangat ketus pada Reiji itu, seketika menciut.
Jujur aku rasanya takut melihat Reiji yang selama ini macam setenang air sungai-walau beriak sesekali, menunjukkan emosi-yang walau tak meledak beberapa waktu yang lalu, namun cukup membuat kekhawatiran.
Jadi aku memperbaiki sikapku padanya, yang sempat aku kembali dibuat syok dengan Reiji yang tahu-tahu memelukku dari belakang, saat aku tersambung di panggilan telepon dengan Irsyad.
Aku semakin khawatir, jika emosi Reiji semakin menaik. Aku pikir aku takut jika Irsyad akan disakiti secara fisik oleh Reiji. Tapi setelah aku rasa lagi, aku lebih merasa tidak nyaman dengan emosi Reiji.
Aku merasa bersalah padanya, telah sedikit banyak mengecewakannya.
Padahal selama ini-terlepas dari dugaanku tentang Reiji yang masih memiliki perasaan pada Shirly, Reiji selalu memperlakukanku dengan sangat baik-selain terkadang ia cuek dan kelewat sibuk dengan jadwal tugasnya menyupiri pesawat kesana-kemari. Atau kadang terlalu asik hingga membiarkanku gabut sendirian, jika ia sudah berkutat dengan buku-bukunya.
Jadi aku tidak lagi menunjukkan sikap ketusku pada Reiji. Tapi yang tidak aku sangka adalah, jika Reiji mencumbuku dan parahnya aku cepat sekali terbuai dengan cumbuannya itu saat aku masih tersambung dengan Irsyad pada panggilan telepon. Yang kemudian langsung diputuskan sepihak oleh Irsyad setelah suara ******* keluar dari mulutku.
Sial sekali.
Sial karena Irsyad mendengarku mendesah dan aku yakin dia sudah berpikir yang bagaimana-bagaimana.
Tapi seharusnya ya Irsyad tidak harus bagaimana-bagaimana juga, mengingat aku dan Reiji adalah suami istri, terlepas aku merasa tidak mencintai Reiji. Dan untuk apa yang disebut dengan *3** itu - jangankan suami istri yang dijodohkan, yang sebelumnya tidak saling mengenal pun ada yang sampai berlanjut kesana karena satu dan lain hal bukan?.
Bicara lagi tentang aku yang merasa sial, kesialan satu lagi yang aku rutuki adalah karena cumbuan Reiji itu selalu saja bisa membuat gairahku cepat naik. Dan hal itu, memang sering aku rutuki dari diriku.
__ADS_1
Karena aku jadi macam pecandu yang menagih lebih, jika tidak sampai menuntaskan apa yang sudah tersulut jika sudah dicumbu oleh Reiji.
Dan begitulah yang terjadi tadi, sebelum pada akhirnya aku berakhir dalam kukungan Reiji di tempat tidur kami beberapa jam yang lalu. Dengan tubuh yang sama-sama polos dan saling rapat-bahkan amat sangat rapat, sampai nafas terasa bak habis lari berkilo-kilo meter jauhnya.
Setelah gulungan berikut sengatan yang terasa begitu nikmat hingga sulit digambarkan oleh kata-kata menerjang diriku, bahkan tak hanya sekali-lebih dari dua kali.
Ah dasar aku ini... Munafik terkadang jika di hadapan Reiji rasanya.
Tak cinta pada Reiji, tapi menerima saja cumbuannya. Bahkan menahan dirinya saat berhenti mencumbuiku, dan berniat untuk tidak melanjutkan.
Tapi mungkin juga, aku sedang melindungi Irsyad dengan menjaga kestabilan emosi Reiji dengan memasrahkan diriku untuk Reiji obrak-abrik sesuka hatinya.
----
Aku terkesiap saat sedang ditengah terbuai dalam cumbuan Reiji saat aku selesai berbicara dengan Irsyad walau tak sampai tuntas, Reiji memutus cumbuannya padaku.
“Maaf---- Aku benar-benar menginginkan kamu sekarang Yang--- Tapi melihat gelagat kamu yang ga ikhlas ini lebih baik tidak usah diteruskan...”
Dengan Reiji yang sudah mengancingkan kembali kancing piyamaku dengan kepalanya yang tertunduk, nampak fokus untuk membuat piyamaku rapat kembali.
“Aku ini pria normal dan lagi memiliki istri --- Aku sungguh merindukan yang namanya ‘hubungan suami-istri’. Tapi rasanya jika aku tetap memaksa, aku macam sedang memperkosa.”
Didetik dimana setelah Reiji berucap kemudian dengusan samar namun aku masih menangkap jika dengusan itu bernada frustasi, aku langsung diliputi rasa bersalah.
Mungkin.
Entahlah, tapi yang jelas rasa tak nyaman dalam hatiku kentara aku rasakan.
“Tidurlah.”
Lalu Reiji kembali berkata setelah rapih mengancingkan kembali piyamaku yang sempat ia buka setengahnya.
Kemudian Reiji langsung berbalik badan, tapi aku tak membiarkannya pergi.
Dimana Reiji langsung menyahut seraya menoleh padaku yang menatap dirinya.
Dan kemudian aku perhatikan jika Reiji nampak syok-mungkin, kala aku tahu-tahu langsung mencium bibirnya.
Tapi Reiji tak lama mengurai ciumanku padanya, lalu berkata lirih dan sendu.
Reiji bilang aku jangan memaksakan diri, dan itu kembali membuat hatiku terasa tercubit.
Membuat aku berpikir, apa Reiji tahu jika aku mencuri dengar saat dia bicara dengan temannya di telepon, lalu kemudian Reiji berpikir aku sedang melindungi Irysad hingga aku memasrahkan diriku padanya.
“Aku ga merasa terpaksa –“ tanggapku atas ucapan Reiji yang berpikir aku memaksakan diri dengan aku menatap Reiji seraya menggeleng dan menampakkan senyumku walau tipis.
Andainya Reiji tahu jika aku mencuri dengar kalimat bermakna ancamannya, tidak salah juga jika Reiji berpikir aku mengorbankan diriku-istilahnya, untuk melindungi Irsyad dari bakal amukannya.
Iya sih....
Tadinya....
Aku pikir begitu....
Tapi tidak pada kenyataannya.
Wajah Reiji yang ada dihadapanku, tidak terganti oleh wajah Irsyad.
Sampai saat Reiji sudah ‘menyatu’ denganku di atas tempat tidur kami, hanya wajahnya saja yang aku lihat, bahkan aku tak mengingat Irsyad sedikitpun.
Jadi aku sadar betul dengan siapa aku bercinta sampai tiga sesi tadi, sebelum aku jatuh terlelap lemas. Aku bercinta dengan Reiji, suamiku. Dan aku menikmatinya.
----
Reiji tertidur dengan sangat nyenyak.
Wajah tampannya itu nampak lelah.
Mungkin ia lelah menghadapiku, namun aku tak habis pikir dengan kesabaran yang Reiji punya.
__ADS_1
Karena aku rasa, wajah lelah Reiji itu bukan karena bercinta selama tiga sesi denganku beberapa jam lalu.
Karena setelah kami selesai disesi ketiga-meskipun setelahnya Reiji nampak mengantuk, tapi masih aku bisa lihat kilatan gairah yang masih rasanya ia inginkan, namun Reiji tahan karena ia melihat aku sudah begitu payah kehabisan tenaga untuk mengimbangi staminanya dalam bercinta.
Dan lagi, aku memang jatuh terlelap lebih dulu dari Reiji tanpa sempat berpikir untuk berpakaian lagi.
Aku sudah sangat payah malam ini memang, gara-gara stamina Reiji yang bak gatot kaca itu.
Tiga kali memang sesi bercinta kami, tapi di dalam itu entah berapa kali aku mendapat pelepasan yang membuat lututku kian lemas dan lemas sampai aku rasa engsel lututku sudah tak lagi ada di tempatnya, hingga tulang kakiku tidak ada lagi penopangnya.
Jadi jika wajah Reiji yang sedang aku pandangi dengan gurat lelah ini, aku yakin bukan lelah karena bercinta. Tapi lebih seperti ada beban pikiran dalam otaknya.
Dan aku tebak, jika beban pikiran Reiji itu adalah aku. “I.... Love.... You.... Yang....”
Aku terkejut kala aku mendengar Reiji berucap, saat aku sedang memperhatikan wajahnya sekarang ini.
“R-ei? ---“
Aku spontan memanggilnya dengan sedikit tergagap.
“Rei? ---“ lalu aku pelan memanggilnya lagi, karna Reiji tak merespon.
Dimana aku langsung menghela nafas lega, karena sepertinya Reiji hanya sedang mengigau saja.
Tapi kemudian sudut bibirku tertarik, sambil memandangi wajah Reiji.
Entah apa yang aku rasakan dalam hatiku sekarang ini, selain perasaan bersalah yang kembali menggelung kala mengingat bahkan dalam Reiji mengigau saja, ia mengatakan jika ia mencintaiku.
Selain rasa bersalah pada Reiji, akupun terpikir pada perasaanku dan Irsyad.
Dan lagi-lagi, aku dibuat bingung sendiri oleh perasaanku sendiri. Jika harus memilih, bagaimana aku harus memilih?.
Entah kenapa dadaku rasanya sedikit sesak, jika aku diharuskan memilih antara Reiji dan Irsyad.
Tapi apa perlu aku memilih?...
Apa aku sampai hati mengorbankan kamu demi kebahagiaanku, Rei?...
“Yang ...” suara Reiji kembali membuyarkan lamunanku, dimana tanganku yang sedang mengarah ke wajah Reiji untuk menyentuh wajah tampan suamiku itu,-yang rambutnya sedikit berantakan, tergantung di udara, kala kudengar Reiji memanggilku dengan sebutan yang selama ini Reiji sematkan padaku.
Aku menarik lagi tanganku, dan aku tidak bersuara untuk memanggil Reiji lagi seperti tadi walau pelan.
“Percaya-“
Sepertinya Reiji mengigau lagi.
“Aku, please---“
Benar sekali, Reiji mengigau lagi memang. Tumben dia mengigau?. Atau aku yang tidak menyadari jika Reiji suka sedikit meracau dalam tidurnya ini?.....
Ah sudahlah. Namanya juga orang lagi tidur ....
Dan sepertinya memang tepat dugaanku, jika wajah lelah Reiji adalah karena aku.
Bahkan di alam bawah sadar Reiji pun dia memintaku untuk mempercayainya.
Pergolakan batin kembali aku rasakan. Reiji dan Irsyad kembali memenuhi kepalaku.
Laki-laki yang mencintaiku, tapi aku ragu pada perasaanku padanya, selain aku menyayanginya.
Atau laki-laki yang kucintai, dan kini aku tahu dia juga mencintaiku.
Laki-laki yang aku merasa gamang atas perasaanku padanya, namun selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagiku...
Atau laki-laki yang bisa membuatku merasakan kebahagiaan atas cinta yang sama-sama kami rasa?...
Aku, harus membuat keputusan.
****
__ADS_1
Bersambung....