WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 38


__ADS_3

Selamat membaca..


***


“Rei! Ih! Malah senyum-senyum lagi!”


“Apa? ..”


“Pertanyaan gue yang tadi belom dijawab.”


Malia mencebik pada Reiji yang cengengesan.


“Pertanyaan yang mana? ..”


“Ish! Yang tadiii ..” Malia geregetan.


Reiji mengulum senyumnya.


Membuat Malia makin geregetan.


“Rei! Ish!”


Namun Reiji tetap mengulum senyumnya tanpa memberikan jawaban yang Malia mau.


“Iya, nanti aku pikirin dulu.” Sahut Reiji.


***


Author’s POV..


Malia dan Reiji memiliki kepribadian yang berbeda.


Reiji, meskipun ramah orangnya, namun ia lebih ke pribadi yang pendiam.


Sementara Malia, dibilang sebagai pribadi yang tertutup sih engga kayaknya, karena Malia mau berteman dengan siapa saja, dan mudah bergaul.


Meskipun Malia orangnya nyaman-nyamanan. Punya cukup teman, namun hanya punya satu sahabat saja dalam hidupnya.


Namun Malia selalu punya cerita. Setidaknya itu penilaian Reiji setelah intens bersama Malia sejak pencetusan perjodohan mereka, dan perjodohan tersebut diterima oleh Malia dan Reiji.


Kadang Reiji berdoa, semoga saja Malia tidak jenuh padanya yang tidak terlalu banyak stok pembahasan obrolan, berbanding terbalik dengan Malia yang selalu punya cerita.


Namun begitu, Reiji sedang berusaha, setidaknya membuat Malia terbiasa serta nyaman berada disisinya. Meski Reiji sendiri tidak mau merubah bagaimana dirinya, dengan bersikap kamuflase, tapi setidaknya Reiji ingin membuat Malia tidak pernah merasa menyesal dijodohkan dengannya.


Dan lagi, rasanya bagi Reiji, perasaan yang ia rasakan saat telah menjalin hubungan yang entah apalah disebutnya tentang hubungannya dengan Malia, dimana Reiji juga tak ambil pusing dengan sebutan untuk status hubungannya dan Malia sekarang, itu cukup signifikan bedanya dengan perasaan saat Reiji pernah pacaran dengan beberapa perempuan.


Tak pernah Reiji memikirkan kenyamanan para pasangannya. Bahkan seringnya Reiji dinilai egois dalam menjalin hubungan dengan beberapa perempuan sebelum Malia. Sementara sekarang, meski Reiji tahu jika Malia belum mencintainya, namun Reiji justru mati-matian berusaha untuk menyenangkan Malia.


Dan tentunya, Reiji akan berusaha untuk membuat Malia bahagia. Terutama saat nanti, jika mereka sudah menjadi suami-istri.


Jadi Reiji intens menanyakan apa yang Malia mau, Malia mau kemana, Apa yang Malia suka serta apa yang tidak Malia suka, dan hal-hal semacam itu kiranya, yang sering Reiji pikirkan sejak meyakini bahwa ia mencintai Malia.


Dan memang jika Reiji memiliki waktu luang, Reiji akan menemui Malia, walau hanya sekedar berkunjung ke rumah orang tua Malia, tanpa pergi kemana-mana.


Tapi jika Malia ingin pergi ke suatu tempat, Reiji tidak akan berpikir lama untuk mengiyakan mengantar Malia pergi ke tempat yang calon istrinya itu inginkan, jika memang Reiji tidak memiliki jadwal terbang.


Dan jika kesempatan untuk pergi berdua saja dengan Malia itu ada, tentunya kesempatan itu tidak akan Reiji sia-siakan.


Semata-mata untuk mendekatkan dirinya dan Malia, karena meski Reiji sudah paham karakter Malia, namun Reiji benar-benar ingin menjadi seseorang yang amat memahami Malia daripada orang lain, karena kurang dari dua bulan, Malia Leonard akan menjadi istrinya.


Jangan sampai kelak Reiji dianggap sebagai suami yang tidak pengertian, lalu pertengkaran suami-istri terjadi hanya karena masalah sepele.


Karena seyogyanya, masalah yang terkadang dianggap kecil dalam rumah tangga, justru terkadang menjadi pemicu yang menimbulkan efek yang besar dalam pernikahan.


Pertengkaran hebat, hingga berakhir dengan perceraian. Dan Reiji tidak mau itu terjadi pada kehidupan rumah tangganya dan Malia nanti.


Author’s POV off..


**


Malia dan Reiji sudah sampai di sebuah Butik, dimana pakaian pengantin keduanya dipesan di Butik tersebut. Butik pilihan Malia, yang berdasarkan rekomendasi Avi.


“Rei, siap-siap!”

__ADS_1


Suara Malia terdengar dari balik kamar pas dalam Butik yang hanya Malia dan Reiji saja pelanggan yang ada di dalam Butik tersebut.


Suara Malia terdengar antusias. “Bentar lagi lo bakal liat penganten paling cakep yang pernah ada!” Seru Malia yang terdengar bersemangat dari balik kamar pas Butik. Sementara Reiji tersenyum geli saja mendengar celotehan Malia itu.


Termasuk juga seorang staf Butik yang sedang menemani Malia dan Reiji saat ini.


“Taddaaaa....”


Malia keluar dari kamar pas dengan merentangkan tangannya menghadap pada Reiji.


Tubuh ramping Malia sudah terbalut kebaya pengantin yang nampak sangat pas dan eksotis itu di tubuh Malia.


‘Wow!’ Reiji berdecak kagum.


Namun decakan itu hanya terucap di dalam hati Reiji saja.


Sementara mata Reiji memindai Malia dari ujung rambut sampai ujung kaki calon istrinya itu.


Kemudian Reiji mengangguk-anggukan kepalanya, dan Malia sedang menunggu Reiji berkomentar.


***


‘Manggut-manggut doang.’


Malia menggerutu dalam hatinya, selepas Reiji berlalu dari hadapannya yang sedang memamerkan kebaya pengantinnya pada Reiji.


‘Komen apa kek!’


Kembali Malia menggerutu, karena Reiji yang sudah berlalu dari hadapannya itu memang tidak mengatakan komentarnya tentang penampilan Malia dalam balutan kebaya pengantinnya, sampai sang perancang memanggil Reiji untuk mencoba pakaian pengantin yang akan dipakai Reiji dihari pernikahan nanti.


Padahal Malia udah pede, sepede-pedenya akan mendapat pujian dari Reiji soal penampilannya dalam balutan kebaya pengantin yang sedang Malia coba dan dengan jumawa memamerkannya pada Reiji. Eh tanggapan Reiji Cuma manggut-manggut aja.


‘Dasar Freezer Frozen Food!’


***


Malia yang sedang memamerkan kebaya pengantinnya pada Reiji dengan wajah yang sumringah itu, tak lama mengerucutkan bibirnya, karena kemudian Reiji berlalu begitu saja saat sang perancang sekaligus pemilik Butik memanggil Reiji untuk ikut dengannya.


“Bentar ya Yang....” Ucap Reiji pada Malia sebelum ia berlalu dari hadapan Malia yang nampak sedikit cemberut itu.


‘Rasanya aku ini adalah lelaki yang paling beruntung di dunia, Lia.’


Reiji membatin, dan senyuman terulas di bibirnya.


***


REIJI


Selepas aku dan Malia selesai dengan urusan pakaian pengantin kami di Butik, aku dan Malia langsung keluar dari Butik tersebut, untuk menemui Mamaku dan Mama Ralisa yang sedang berada di Hotel tempat aku dan Malia akan melangsungkan pernikahan kami kurang dari dua bulan lagi.


Yah, seperti itulah persiapan pernikahanku dan Malia.


Urusan wedding venue serta katering diurus oleh dua Mama Hebring itu.


Sementara Avi mengurus beberapa perintilan pendukung, macam ya ini merekomendasikan Butik yang membuat gaun pengantinku dan Malia. Termasuk urusan undangan.


Well, begitulah pernikahan di Indonesia pada umumnya.


Bukan hanya pernikahan dua insan. Tapi, pernikahan dua keluarga.


Karena daripada calon pengantinnya sendiri, yang mana dalam hal ini, si calon pengantin wanitanya, yakni Malia, nampak malas-malasan mengurus pernikahan kami.


Tapi syukurnya, Malia yang nampak malas-malasan mengurus pernikahan kami, hingga semuanya diurus oleh para Mama dan juga Avi, berikut para Papa yang ikut membantu walaupun hanya sekedar menemani para Mama atau Avi, kini perlahan mulai berubah.


Malia, sudah seperti calon pengantin pada umumnya, yang ikut sibuk mempersiapkan pernikahannya. Entah apa yang membuat Malia kini terlihat cukup antusias dengan pernikahan kami, yang jelas aku bahagia karenanya.


Dan aku, tidak berniat mencari tahu apa yang menjadi alasan Malia hingga ia tak tampak lagi ragu untuk menikah denganku.


Rasanya hal itu memang tak perlu ditanyakan.


Cukup aku rasakan saja antusiasme Malia.


Dan cukup seperti ini saja, aku sudah bahagia.

__ADS_1


***


Sejak Reiji selesai mencoba pakaian pengantinnya dan kembali pada Malia yang juga telah selesai mencoba kebaya pengantin sekaligus gaun resepsinya, Reiji kembali menemui Malia yang sudah kembali mengenakan pakaiannya yang semula, dan kini Malia sudah duduk di sofa ruang tunggu Butik.


“Kamu udah selesai Yang?” Tanya Reiji.


“Dah ....”


“Baju buat resepsi udah dicobain juga?”


Reiji kembali bertanya. Dan kali ini Malia hanya menjawab Reiji dengan anggukan kepalanya saja. Itupun nampak malas-malasan.


“Ya udah yuk.”


Namun Reiji tak ambil pusing dengan sikap Malia yang nampak enggan menanggapinya.


Reiji tahu sih, kalo Malia juga kadang moody orangnya. Habis ketawa abis-abisan, selang berapa menit kemudian Malia tau-tau jadi pendiam. Sedikit banyak Reiji tahu ‘moody’ nya Malia ini, toh pernah menghadapi saat moody Malia lagi kambuh dulu. Dulu, waktu masih jadi ade-adean.


***


Sejak dari Butik Malia nampak tak se-antusias saat berangkat tadi. Dari balik kemudi Reiji memperhatikan sikap Malia itu.


Reiji tersenyum kecil. Lalu tangannya terulur ke puncak kepala Malia dan mengusapnya pelan. “Kenapa sih?” Tanya Reiji.


“Ga pa-pa.”


Malia menyahut datar.


***


Selama perjalanan dari Butik menuju Hotel dimana kedua Mama dari Malia dan Reiji telah menunggu mereka di Hotel tempat pernikahan Malia dan Reiji akan dilangsungkan dalam Ballroom Hotel tersebut, Malia diam saja.


“Oh ya Yang, tadi kamu nanyain soal panggilan setelah kita nikah?” Reiji memecah kesunyian.


Dan itu membuat Malia yang sedari tadi menatap ke arah luar dari balik jendela mobil disisi kirinya, akhirnya menoleh pada Reiji.


“Hmmm....” Sahut Malia sekenanya.


“Gimana kalo kamu panggil aku ‘Suamiku’, trus aku panggil kamu ‘Istriku’?”


“Selera humor lo parah juga ya, Rei? ....” Cetus Malia atas ucapan Reiji barusan. Reiji pun terkekeh, dan Malia mendengus geli.


“Gitu kek, senyum ....” Ucap Reiji yang kembali mengusap pelan pucuk kepala Malia. “Kan cantiknya keliatan ....” sambungnya. Namun decakan kecil keluar dari mulut Malia.


‘Sekarang muji-muji, tadi pas gue cobain itu kebaya ga komen apa-apa. Padahal kan tadi cakep banget itu gue!’


Malia membatin sebal.


“Trus gimana soal panggilan setelah nikah?”


Reiji kembali bertanya tentang apa yang dia angkat untuk dibahas.


“Jadi mau pake panggilan ‘Suamiku’ sama ‘Istriku’?” Ucap Reiji.


“Amit deh!”


Sahutan Malia bernada tak setuju pun terdengar.


“Loh kenapa? Romantis kan itu?” Kekeh Reiji.


“Romantis dari mananya?”


“Kenapa emangnya?....”


“Udah kayak sepasang siluman uler ....”


Reiji sontak tergelak geli.


“Lia.... Lia.... Cium juga nih!”


***


Bersambung ..

__ADS_1


Enjooy!


Dan makasih masih setia.


__ADS_2