
Selamat membaca...
......................
REIJI
"Udah makan"
Pertanyaan yang Lia tanyakan padaku, setelah ia kembali dari walk-in-closet lalu menutup laptopnya.
Ku jawab sudah, karena kebetulan memang aku sudah makan saat di Bandara tadi, selepas aku telah bebas tugas.
Aku berpikir jika Lia pasti sudah makan malam, dan kebetulan perutku sudah cukup lapar saat aku telah menyelesaikan tugasku.
"Sama Shirly?" tanya Lia lagi. Dan pertanyaan Lia itu membuatku menghentikan kegiatanku yang sedang membuka kancing seragamku.
Aneh sih bagiku saat Lia bertanya seperti itu.
Kenapa harus menghubungkan aku yang sudah makan hari ini dengan Irly?.
Aku saja bahkan tidak berkomunikasi seharian dengan Irly hari ini.
Apa Lia cemburu karena aku yang mengantar Irly kemarin sampai pulang sangat telat?.
Tapi kenapa baru sekarang dia bahas?. Kenapa ga tadi pagi?.
Padahal tadi pagi Lia biasa-biasa aja bersikap padaku. Membahas sedikit pun soal aku yang mengantar Irly aja engga.
Misal, nanya kenapa malem banget pulangnya?. Atau nganter kemana sih kok jam segitu baru pulang?.
Hanya bertanya pulang jam berapa semalem.
Meskipun agak ketus saja sikap Lia saat aku meminta cium kala aku mengantarkannya pergi ke kantor tadi pagi.
Jadi aneh aja kalo Lia baru membahas dan melemparkan sindiran kepadaku.
Entahlah. Kadang Lia ya seperti begini ini. Aneh, moody.
"Curiga amat Neng Lia---"
Aku coba berguyon, tak menanggapi serius ucapan yang terdengar seperti sindiran untukku.
Kembali melanjutkan membuka kancing seragamku yang tersisa belum terbuka.
"Bukannya kamu nyaman kalo sama dia?...."
Astaga, Lia ini kenapa coba?.
Kenapa Lia jadi intens membahas soal Shirly saat ini?.
Kalo lagi PMS mungkin aku bisa maklumi, tapi kan Lia sedang ga haid?.
Jadi sindrom PMS yang mengerikan itu tidak akan nemplok saat ini pada Lia.
Terus kenapa Lia jadi agak aneh sikapnya dengan membahas Irly sekarang ini?.
Tapi entah juga sih, apakah ini sudah jadwal PMS nya Lia yang mana tidak aku perhatikan kapannya, tanggalnya disetiap bulan dari sejak kami menikah.
"Maksud?"
Aku langsung saja menembak Lia dengan pertanyaan tersebut.
Karena memang aku tidak tahu maksud Lia bicara begitu padaku.
Bicara soal kenyamananku bersama Irly.
Ya aku nyaman memang dengan Irly, kalau tidak nyaman, aku tidak akan dekat, tidak akan bersahabat dengan Irly sampai sekarang.
"Ga ada maksud apa-apa .." jawab Lia.
"Kalo ga ada maksud apa-apa.." sambarku. "Terus kenapa kamu kayak lagi nyindir aku?"
"Emang kamu ngerasa kesindir?" tukas Lia. Kok kayaknya dia nge-gas?.
"Aku ga ngerasa kesindir sih, cuma aneh aja pertanyaan kamu tadi.... " ucapku, tetap santai menanggapi.
"Anehnya?"
"Ya aneh aja----"
"Ya dimana anehnya?.."
Ya ampun sumpah ini Lia kenapa, dan sumpah aku sedang malas berdebat malam ini, meski hanya sebuah perdebatan kecil.
"Kamu kenapa sih, Yang?" Akhirnya pertanyaan itu aku lontarkan, agar setidaknya aku mendapat penjelasan kenapa dengan sikap Lia itu.
"Ga kenapa-kenapa...." begitu jawab Lia.
__ADS_1
Aku memandang Lia sejenak, kemudian melengos.
"Aku lagi ngomong loh Rei ..."
Aku menoleh sekilas. Lia nampak merungut.
Aku menghela nafasku pelan. "Tadi aku tanya kamu kenapa, kamu bilang ga kenapa-kenapa."
Aku tetap menanggapi Lia.
"Terus aku harus kayak apa?. Aku baru pulang ini."
Lia tak menjawabku, kembali duduk ke tempatnya saat aku pulang dan masuk kamar tadi.
Jadi aku melangkah keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi, karena aku sudah merasa kalau tubuhku lengket dan gerah sekali.
Dan lagi menurutku perdebatan tak penting ini tak perlu dilanjutkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reiji mengguyurkan kepala dan tubuhnya di bawah kucuran air shower, sambil memikirkan tentang sikap Malia beberapa saat lalu padanya.
Sejujurnya Reiji bingung dengan sikap Malia ini. Jika Malia terganggu dengannya yang mengantar Shirly kemarin, kenapa baru sekarang istrinya itu bahas soal hal tersebut.
Kenapa tidak tadi pagi saja. Malahan tadi pagi Malia bersikap biasa saja dalam pandangan Reiji, walau Reiji merasa jika Malia sedang memiliki beban pikiran. Tapi itupun sudah Reiji tanyakan.
Dan Malia bilang memang karena pekerjaannya sedang memiliki sedikit masalah.
Apa Malia begini karena sedang stres dengan masalah dalam pekerjaannya itu, jadi Reiji ikut jadi bulan-bulanan stresnya Malia karena pekerjaannya itu.
Jawaban itu yang sampai ke otak Reiji perihal sikap Malia padanya beberapa saat lalu.
Reiji menghela nafasnya saja. Berpikir lebih baik dia akan membiarkan saja Malia dengan sikapnya yang seolah ngajak ribut itu.
Nanti juga akan baik, seperti halnya tadi pagi saat Malia sedikit membentaknya hanya soal ciuman saja, yang mana Reiji juga ga serius bersikap remeh saat Malia menolak menciumnya.
Kalau Malia merajuk juga, Reiji hanya akan terkekeh saja.
Tak mempermasalahkan jika Malia tidak ingin memberikan ciuman di bibir karena istrinya itu sedang buru-buru.
Reiji paham, akan selalu berusaha untuk paham dan menerima sikap Malia ataupun penjelasan dari istrinya itu.
Pun tak akan pernah memperpanjang masalah yang tak penting.
"Eh ini?...."
Reiji sontak menggumam saat ia hendak mengambil botol pembersih muka miliknya yang ada di atas wastafel, selepas ia selesai membersihkan tubuhnya.
Senyum Reiji begitu lebar, bahkan ia hampir tertawa saat mengetahui apa yang merupakan benda berbentuk stik es krim tersebut. Sebuah testpack.
"Lia hamil?"
Reiji menggumam seraya bertanya sendiri.
Namun kemudian Reiji mengernyit. "Satu strip."
Reiji masih menggumam.
"Negatif bukannya ya?..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reiji segera membersihkan wajahnya.
Lalu membereskan handuk yang sudah ia lilitkan dari sebatas pinggangnya selepas Reiji selesai mandi tadi.
Kemudian Reiji menyegerakan dirinya untuk keluar dari kamar mandi dan melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya dan Malia.
Malia masih berada di tempatnya duduk sejak awal Reiji pulang, kala Reiji masuk ke dalam kamar mereka. "Yang .." panggil Reiji dengan lembutnya pada Malia.
Reiji tak ingin Malia yang ia pikir mungkin sedang emosi saat ini menjadi bertambah sebal padanya.
"Yang .." Reiji memanggil kembali Malia setelah berjalan mendekat pada istrinya itu, lalu mengelus kepala Malia. "Umm, testpack---"
"Negatif."
Malia memotong kalimat Reiji dengan cepat.
Reiji pun terdiam.
'Apa ini penyebab sikap Lia ke gue yang sinis begini ya? ..'
Reiji menduga-duga dalam hatinya.
"Ya udah ga apa-apa.." kata Reiji. "Kita kan juga belum lama nikahnya Yang---"
Reiji masih mengelus kepala Malia, hendak membesarkan hati Malia, namun lagi-lagi Malia memotong ucapannya meski nada suara Malia sudah normal.
__ADS_1
Datar lebih tepatnya.
"Iya aku tahu."
Malia yang memotong kalimat Reiji itu kemudian menggantung ucapannya.
"Harusnya aku udah haid dari kemarin, jadi aku pikir ...."
Malia nampak tercekat dalam pandangan Reiji.
Malia menatap pada layar laptop dimana Reiji juga berpikir jika Malia tak sungguh-sungguh menonton film pada laptopnya itu.
Reiji melipat bibirnya.
Hati Reiji sedikit merasa tidak nyaman melihat Malia saat ini.
Dan dengan segera otak Reiji berpikir, jika sikap Malia yang aneh dan nampak tak bersemangat itu berhubungan dengan hasil testpacknya yang negatif.
Reiji tak berkomentar.
Cup.
Reiji mengecup singkat kening Malia sebelum ia bangkit untuk masuk ke walk-in-closet.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
REIJI
Aku segera keluar dari dalam walk-in-closet selepas aku berpakaian.
"Yang besok libur kan?"
Aku bertanya pada Lia yang langsung aku dekati setelah aku keluar dari dalam walk-in-closet.
Lia menoleh dan mengangguk sekenanya. Aku tersenyum padanya. "Aku juga libur besok. Jalan yuk?"
Aku mengajak Lia keluar, walau waktu sudah cukup malam.
Tapi ini malam libur dan kami berada di Jakarta, dimana kehidupan rasanya tak pernah berhenti walau sesaat.
Dan karena besok weekend, jadi sampai waktu Shubuh tiba pun, Jakarta akan tetap ramai.
Mungkin saja Lia mau aku ajak keluar untuk sekedar menghabiskan waktu dimalam libur, dan membuatnya sedikit rileks.
Tadinya aku berniat mengajak Lia ke Supermarket untuk belanja kebutuhan, terutama isi kulkas.
Tapi aku ingat jika kulkas kami sudah penuh isinya kembali, dan Lia bilang dia sempat belanja kemarin.
Lia mengangguk. Dan kamipun pergi untuk sekedar 'jalan malam'.
Namun, Lia tetap tak nampak berubah suasana hatinya. Ia lebih banyak diam selama perjalanan.
Bahkan saat kami mampir ke sebuah kedai makanan pun, Lia lebih banyak diam, hanya memesan segelas Thai Tea.
Lia tak bicara jika tak ditanya, itu pun menjawab hanya dengan "ya" atau "tidak".
Ah ya ampun, aku rasanya jadi serba salah menghadapi sikap Lia saat ini. Yang bahkan menjawabku hanya dengan gumaman.
Tak biasanya Lia begini, selama dua bulan pernikahan kami.
Tapi ya sudah, aku biarkan. Tak kulayangkan sedikit pun protes soal sikap Lia itu.
Mungkin Lia sedang membutuhkan ketenangan.
Namun ya itu, aku merasa tidak nyaman dengan sikap Lia yang nampak begitu berbeda malam ini.
Lia bahkan langsung masuk kamar, tanpa lagi melakukan ritual bersih-bersih wajahnya yang rutin ia lakukan sebelum tidur, apalagi saat baru dari luar begini.
Aku menatapnya dari ambang pintu kamar.
Lia hanya mengganti pakaiannya saja dengan piyama. Kemudian membaringkan dirinya menyamping, membelakangi sisi tempatku tidur di ranjang.
Mungkin besok akan aku ajak Lia bicara, agar dia tidak lagi uring-uringan seperti ini.
Aku menjauhkan kakiku dari ambang pintu kamar, lalu pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan membersihkan gigiku lagi.
Aku matikan lampu di ruang depan dan menyisakan satu lampu sebagai penerangan, kemudian langsung memasuki kamar ku dan Lia serta menutup pintunya, lalu bergabung dengan Lia di atas tempat tidur.
"Rei.." Lia memanggilku pelan.
Aku baru saja naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur.
"Ya," sahutku. Aku sembarangan merebahkan diriku, karena kulihat Lia bergeming dalam posisinya yang membelakangiku.
"Kamu mencintai Shirly?"
Apalagi ini Lia?.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..