WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 95


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


“Ngomong-ngomong soal suami kamu yang kasih ijin kamu buat ketemu aku yang notabene temen cowok-mu, memang kamu sudah cerita soal kita-tentang pertemanan kita di kampus dulu? ...”


Pertanyaan Irsyad itu membuatku terperangah dalam keadaan terdiam. Entah Irsyad menyadari perubahan air mukaku atau tidak, yang jelas aku bingung bagaimana harus menjawabnya.


Well, seharusnya pertanyaan itu mudah saja untuk dijawab jika berdasarkan kenyataan. Aku tinggal menjawab ‘tidak’.


Karena memang itu yang sebenarnya.


Reiji memang tidak pernah tahu soal Irsyad.


Aku tidak meninggalkan jejak masa laluku dan Irsyad seperti halnya Reiji.


Yah, setidaknya tidak aku bawa ke tempat hidupku yang baru setelah aku memiliki seorang suami.


Sebagaimana Reiji yang memiliki kotak rahasia, akupun sama. Hanya saja aku menyimpannya dengan apik di dalam kamarku yang berada di rumah orang tuaku.


Di tempat tersembunyi, yang tidak memungkinkan terlihat dengan mudah.


Dan meskipun Reiji dan aku sedang menginap di rumah orang tuaku, Reiji tidak ‘gratak’ seperti aku.


Jadi sampai detik ini, Reiji tidak pernah tahu, jika ada seorang laki-laki yang begitu membekas di hatiku.


“Li? ...”


Aku terkesiap saat mendengar suara Irsyad memanggilku, yang mungkin memperhatikan karena aku tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya yang tadi lalu terdiam sedikit lama.


“Eh iya Kak? ...” tanggapku. “Kenapa?”


Irsyad tersenyum tipis padaku. “Kamu melamun?” tanyanya kemudian.


“Kata siapa aku melamun? ...”


Aku coba mengelak.


Sekaligus aku mengangkat tanganku untuk memanggil waitress guna memesan. Aku tidak ingin Irsyad bertanya lebih jauh tentang mengapa aku melamun. Apa yang sedang menderaku saat ini.


Irsyad kembali tersenyum tipis.


“Kayak aku baru kenal kamu sehari aja, Li.”


Aku dengar suara helaan Irsyad yang samar.


“Dulu, kalau kamu sering melamun, itu kalau kamu lagi gugup menghadapi kuis atau saat mau ujian di kampus.”


“Masih inget aja.” Aku mendengus geli kemudian.


Lalu aku dengar Irsyad bicara. Menggumam tepatnya. Seolah dia ingin aku tidak mendengar ucapannya yang pelan itu.


Tapi aku rasa aku mendengar Irsyad bilang, “Ga ada yang aku lupa, Li..” Dalam gumamannya itu.


Dan rasanya aku ingin sekali bilang,


‘Masa?. Terus selama ini ga ada kabar? ...’


Tapi pertanyaan itu tidak aku suarakan. Well, waktu itu Irsyad bilang kan dia jadi super sibuk disana karena persaingan dunia kerja di London itu sangat ketat.


Jadi ya sudah, tak perlu aku bahas lagi rasanya. Toh, kami hanya berteman saja kan?. Akrab!. Well, pernah akrab.


“By the way, Li ..”


Irsyad mengajakku bicara lagi.


“Ya?” sahutku.


“Saat kamu menceritakan aku pada suamimu itu, bagaimana reaksinya yang tahu kalau istrinya punya teman akrab yang notabene laki-laki?..”


Hh.. kenapa waitress restoran tempatku dan Irsyad berada ini lelet sekali sih?. Karena aku sungguh tidak punya jawaban untuk itu.


***


“Li ...”


Irsyad kembali memanggil Malia, setelah salah seorang waitress mencatat pesanan keduanya.


“Ya?” tanggap Malia.


“Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi.”


“Yang mana?...”


“Soal reaksi suami kamu tent--”


“Dia biasa aja nanggepinnya ...”


Malia memotong cepat pertanyaan Irsyad dengan jawaban sekenanya saja.


“Oh.” Tanggap Irsyad, lalu laki-laki itu memandangi Malia dengan tatapan yang membuat Malia bertanya-tanya.


“Kenapa?” tanya Malia untuk menghilangkan kerisihannya dengan tatapan Irsyad yang tak bisa Malia temukan artinya.


“Apanya yang kenapa? ...”


“Seperti ada yang ingin Kakak tanyakan padaku?”


Irsyad berdehem pelan selepas Malia bertanya padanya.


“Pernikahanmu berjalan lancar?”

__ADS_1


“Lancar dalam arti? ...” tukas Malia.


“Apa kamu bahagia?” pertanyaan Irsyad cukup mengejutkan Malia, hingga Malia terdiam sejenak.


“Kepo banget.” Malia mencoba bersikap biasa, meski pertanyaan Irsyad barusan itu sedikit mengejutkannya.


“Karena kalau aku perhatikan, setiap kali aku bertanya soal pernikahan kamu, suami kamu, kamu kelihatan agak tegang. A--”


“Permisi ...”


Ucapan Irsyad terjeda oleh seorang waitress yang mengantarkan minuman pesanannya dan Malia.


‘Kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus-terusan keluar dari mulut Kak Irsyad sih?!’ batin Malia yang protes.


Malia dan Irsyad kemudian sama-sama beralih kepada waitress yang membawakan minuman pesanan keduanya-sebelum menyajikan makanan, mengucapkan terima kasih.


‘Mudahan aja Irsyad ga melanjutkan apa yang tadi dia omongin sebelum waitress nganter ini minuman.’


Malia berharap dalam hatinya.


“Kalian sempat pacaran? ..”


Harapan Malia memang terkabul.


Irsyad tidak lagi membahas soal Malia yang tegang dalam pandangannya jika sedang membahas soal pernikahannya dan Reiji.


Tapi pertanyaan Irsyad berikutnya, tetap saja tidak jauh-jauh dari situ.


“Aku dan Rei murni dijodohkan tanpa ada proses pacaran,” jawab Malia. “Hanya pendekatan sebelum pernikahan.”


“Hmm ..”


Irsyad berdehem.


“Lalu perjodohan kamu dan kakak dari sahabat kamu sejak kecil itu, apa kamu menerimanya dengan senang hati atau demi sesuatu?”


Dimana pertanyaan Irsyad yang barusan itu sungguh membuat Malia terkejut, hingga ia sampai tercengang, bahkan tersedak kecil.


“Are you okay, Li?”


Irsyad mencondongkan tubuhnya.


“I’m okay ....”


Malia menunjukkan telapak tangannya pada Irsyad sembari tersenyum memaksakan.


“Kenapa jadi kepo sama pernikahan aku sih Kak Irsyad nih?” ujar Malia, sambil mendengus geli, mencoba berguyon, untuk menutupi kegelisahannya.


“Sorry Li, aku ga ada maksud terlalu mau tahu soal keadaan rumah tangga kamu ...”


“Santai sih Kak, serius banget mukanya.” Lagi-lagi Malia mencoba untuk nampak santai dan baik-baik saja di depan Irsyad.


Irsyad tersenyum tipis. Laki-laki itu hendak lagi bertanya, namun seorang waitress datang membawakan makanan pesanan mereka.


“Makan dulu.”


“Ya.” Sahut Irsyad.


*****


MALIA


Untuk sesaat, setidaknya saat makanan pesanan kami datang.


Aku dan Irsyad lebih banyak diam.


Aku larut dalam lamunanku sendiri, dan sepertinya Irsyad pun sama.


“Masih suka melakukan staycation dengan sahabat kamu sejak kecil itu, Li?..” pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Irsyad setelah kami saling diam untuk beberapa saat.


Dan saat obrolan tercipta kemudian, aku rasanya lega, karena Irsyad tak memulai pembahasan tentang ‘aku dan pernikahanku’. Namun....


“Berarti dia double status dong ya?. Ga hanya sahabat kamu, tapi juga adik ipar kamu.”


Ah, kenapa jadi omongan Irsyad nyerempet lagi ke pembahasan yang menuju topik tadi?.


‘Aku dan Pernikahanku.’


“Ya begitulah ......”


Aku menjawab datar.


Irsyad tersenyum tipis.


“Bisa tolong kamu jawab pertanyaanku sebelumnya, Lia? ...”


Lalu Irsyad mencondongkan tubuhnya, setelah meletakkan sendok dan garpunya di atas piring makanannya.


“Yang mana? ....” tanyaku santai, sambil sok sibuk dengan makanan yang sudah malas aku santap ini sebenarnya.


“Pernikahan - perjodohan kamu dan kakak dari sahabat kamu sejak kecil itu. Apa kamu menerimanya dengan senang hati atau demi sesuatu?”


“Kenapa Kak Irsyad ingin tahu?” tanyaku. Masih mencoba santai, sudah juga meletakkan makananku pada sendok yang aku pegang. Hanya tinggal menyuapkannya ke dalam mulutku.


“Karena aku merasa, kamu terbelenggu dengan pernikahan kamu-“


Dimana kalimat Irsyad itu membuatku limbung dalam dudukku, hingga makanan yang tadinya akan masuk ke mulutku tak jadi aku suap dan sendok aku kembalikan ke atas piringku.


“Ternyata dugaanku benar ya? Kamu tidak siap sebenarnya dengan pernikahan kamu dan suamimu yang berlandaskan perjodohan ini, tapi kamu menerimanya karena sesuatu. Your parents will?”


Aku tak lagi limbung.


Tapi aku mematung.

__ADS_1


Dugaan Irsyad, kenapa bisa benar adanya?.


“Lia, kamu bisa berbagi beban hati kamu dengan aku jika kamu mau.”


Suara Irsyad terdengar sedang mengkhawatirkan-ku yang mematung ini.


“Kak –“


“Jangan simpan bebanmu sendirian—“


Dan kurasakan tangan Irsyad berada di atas satu punggung tanganku yang berada di atas meja.


“Sorry ....”


Irsyad langsung berucap dengan wajah yang tampak merasa bersalah, saat aku menarik tanganku yang mana tersemat cincin kawinku di jari manisnya.


“Ga apa ..”


“Aku hanya .. khawatir padamu ..”


Aku terkekeh kecil.


“Aku udah gede Kak, ga perlu dikhawatirkan.”


Kelakar aku lontarkan.


“Do you love him?”


Pertanyaan Irsyad, membuat kepala dan wajahku langsung menghadap pada Irsyad.


“Sorry, aku-yang lagi-lagi masuk ke ranah pribadi kamu.” Ucap Irsyad, kala aku menatapnya dalam diam.


“Ya memang, Kakak kepo banget..”


Aku menyahut datar. Irsyad nampak kikuk, dan aku tunjukkan senyuman tipis.


Lalu mendengus, dan entah kenapa aku pun tak tahu alasannya.


Hanya merasa .... entahlah.


Saat ini mengapa Irsyad begitu ingin mengorek kehidupan pernikahanku dengan Reiji.


“Kak,” panggilku pada Irsyad yang langsung merespon ku. “Aku mau tanya sesuatu—“


“Silahkan.”


“Kenapa Kakak tampak begitu ingin tahu tentang hidupku sekarang?”


“Karena aku merasa kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, Lia ..”


Irsyad menatapku prihatin.


Aku masih terdiam, masih menatapnya. Tidak tahu harus berkata apa.


Haruskah aku bercerita pada Irsyad tentang semuanya?.


Tentang bagaimana perasaanku dari sejak dijodohkan dengan Reiji?.


Tahukah Irsyad jika aku pernah mencintainya? ...


Sepertinya bukan pernah. Aku .. masih menyimpan rasa itu untuk Irsyad.


Pernah menaruh harap padanya, bahwasanya dia yang berada di posisi Reiji sekarang.


Lalu harapanku itu terpaksa harus benar-benar aku kubur, kala Reiji melafazkan kalimat ijab yang mana tersemat namaku saat ia berjabat tangan dengan Papa didepan penghulu dalam satu tarikan nafas. Dan cerita Irsyad sudah aku tamatkan.


Seharusnya.


Jika aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.


Atau jika nanti saja dia datangnya, saat aku telah mencintai Reiji, maka aku tidak akan menjadi kacau begini.


Hatiku.


Dan saat pertanyaan dari Irsyad tentang apakah aku mencintai Reiji ia lontarkan, aku bisa dengan lantang menjawab,


“Yes, I do love him. Aku mencintai Reiji, suamiku.”


Dan jelas, aku tidak akan merasa se-gamang ini.


Jika..


Jika Irsyad tidak datang, disaat baru beberapa bulan aku benar-benar ‘mengubur’ semua tentangnya.


Jika Irsyad tidak datang, disaat aku dan Reiji sedang bersitegang gara-gara persahabatannya dengan Shirly.


“Apa aku benar? ..”


Suara Irsyad yang lagi-lagi bertanya dengan meneruskan pertanyaan sebelumnya, menarik kesadaranku.


Lalu aku terkekeh begitu saja, dan Irsyad semakin menatapku prihatin.


“Apa aku perlu menjawabnya?”


Aku balik bertanya pada Irsyad.


“Perlu.”


“Kenapa?”


“Karena jika benar kamu ga bahagia dengannya, berikan aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, Lia ....”


Seperti ada yang salah dengan pendengaranku.

__ADS_1


*****


Bersambung ....


__ADS_2