WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 29


__ADS_3

Selamat membaca..


***


REIJI


Aku menyadari perubahan warna wajah Malia saat aku menyebutkan kata ‘honeymoon’ semalam saat kami membahas soal acara pesta pertunangan dan foto pre-wed.


Dimana Malia nampak sedikit bersemu dan menjadi sedikit salah tingkah, lalu mengalihkan topik pembicaraan agar tidak membahas soal ‘honeymoon’.


Dan aku menikmati pemandangan itu, saat wajah Malia bersemu kemerahan.


Bikin gemes.


Membuat aku tak henti-hentinya mengulum senyum.


Sejenak aku menikmatinya.


Hingga bahasan kami kembali ke topik utama, yakni pesta pertunangan dan foto pre-wed.


Dimana kesepakatan yang aku dan Malia ambil, adalah tidak melakukan keduanya.


Langsung fokus saja ke acara inti, yakni acara pernikahan kami.


Dan honeymoon.


Eehh..


Hehe, maklum laki-laki.


Apalagi calon istrinya cantik dan punya body menyerupai gitar Spanyol begitu.


Yang membuatku jadi sedikit memperhatikan Malia dari ujung rambut sampai ujung kaki semalam. Yah, walaupun sebentar aja.


Mudahan aja Malia ga sadar jika semalam aku sempat curi-curi untuk memperhatikan keseluruhan tubuhnya yang terbalut kaos dan celana training sebatas betis.


Baru ngeh, kalo betis Malia mulus banget dan terawat. Itu baru betis, gimana bagian tubuh yang lainnya coba?.


Ah, jadi piktor kan nih otak gegara ‘honeymoon’.


***


MALIA


Ahg! Gegara Reiji menyinggung soal honey moon, sampe saat kerja begini pun aku jadi kepikiran itu hal yang sarat dengan sesuatu yang disebut ***-***.


Selain yah, momen romantis berdua di suatu tempat setelah menikah tentunya. Tapi momen keromantisan bareng Reiji, sungguh tidak pernah terbersit dalam benakku ini sedikitpun.


Meski waktu aku masih pake seragam putih biru sempat menyukai Reiji, tapi ga sampe ngebayangin punya hubungan spesial sama abangnya si Avi itu.


Cuma sekedar suka, ga lebih. Hanya sekedar rasa suka anak ABG sama cowok ganteng.


Ga pernah sampe ngarep bisa pacaran sama Reiji.


Terlebih, Reiji yang aku kenal selama ini jarang banget ngomong, dan seringnya memang berada di dalam kamarnya kalau aku sedang main ke rumah mereka.


Jadi sekarang kalo mikirin yang namanya keromantisan sama Reiji, entah deh ah. Aneh bakalan kayaknya. Terlebih sejak SMA sampe aku kuliah, aku sama Reiji yang kadar interaksinya lebih sering ketimbang saat aku SMP, lebih cenderung seringnya ke adu argumen dan aku menganggap Reiji menyebalkan.


Meski aku juga tak menampik kalau Reiji itu sosok abang yang peduli dan perhatian, walau hal itu ia tunjukkan dengan sikap cuek dan kadang ketus padaku dan Avi.


Bahkan Reiji tak pernah absen memberi hadiah setiap aku berulang tahun.


Atau membawaku dan Avi ke tempat-tempat yang kami inginkan, dari uang hasil keringatnya sendiri. Walaupun Reiji berasal dari keluarga yang terbilang lebih dari mampu, namun setahuku sejak kuliah Reiji sudah punya bisnis kecil-kecilan sendiri dan memiliki sebuah Distro yang ia bangun dari tabungannya.


Kalo dipikir-pikir, ya Reiji royal sebenarnya. Cuma ya gitu, kadang harus dengerin cerocosan atau cibiran nya dulu buat menikmati keroyalan Reiji.


Tapi kadang memang Reiji bisa membuat aku dan Avi cekikikan sampai tertawa lebar dengan kelakarnya.


Baik sih memang, seorang Reiji Shakeel yang aku kenal walaupun sering juga menyebalkan.


Dan sejak kemarin, entah kenapa aku sudah merasa nyaman berada disamping Reiji.


Meski masih suka canggung juga.


Tapi so far yah, aku merasakan kenyamanan dengan cepatnya bersama Reiji yang kini statusnya sebagai calon suamiku.


Bahkan kami sempat berpegangan tangan di mobil, dan beberapa kali berjalan sambil menautkan jemari kami saat di Bandung.


Tapi masih sesekali saja.


Apa itu termasuk keromantisan?......


Ah, entahlah.


Yang jelas aku kepikiran soal honey moon lagi.


Dan kenapa ini aku jadi malah membuka aplikasi belanja online dengan kata lingerie di laman pencarian?.


***


Reiji nampak gagah dengan seragam kebesarannya saat ini.

__ADS_1


Pria yang akan menikah dengan gadis bernama Malia itu baru saja turun dari mobil jemputan khusus kru pesawat dari maskapai tempat Reiji bernaung dalam seragam pilotnya.


Dengan kacamata hitam yang ia pakai sembari berjalan dengan kopernya setelah ia sampai di bandara dan turun dari mobil jemputan tersebut. Dimana Reiji sukses membuat tatapan banyak mata di Bandara teralih padanya.


Kaum hawa tentunya.


Reiji berjalan lurus saja seperti selalunya untuk pergi menuju pada pesawat yang akan ia kemudikan, hingga sebuah suara membuat Reiji spontan menoleh ke arah kirinya.


“Reiji!”Suara tersebut terdengar samar, namun Reiji masih mengarahkan matanya ke sumber suara.


Dan Reiji sontak membuka kacamata hitamnya dengan cepat setelah menemukan sosok orang yang memanggilnya itu sudah nampak jelas dalam pandangannya.


Seorang wanita berparas manis sedang tersenyum dan melambaikan tangannya pada Reiji. “Hai Ji.”


Reiji tersenyum lebar kemudian.


“Shirly?!” ucap Reiji nampak sumringah pada sosok wanita yang memanggil dan menyapanya itu.


Kemudian saling menyapa dengan pelukan.


“Long time no see, Ir.” ucap Reiji saat ia dan wanita yang dipanggilnya Shirly itu saling berpelukan singkat.


“Yes, very long ya?” sahut Shirly seraya tersenyum pada Reiji. Dan pun Reiji balas tersenyum pada Shirly.


“Lo nih, tau-tau ngilang gitu aja!”


“Ya maaf, gue sibuk banget abisan di Ausie. You know lah..” Sahut Shirly.


“Terus nomor lo kenapa ga bisa dihubungin beberapa bulan ini?”


“Hape ilang.” Jawab Shirly.


“Selebor sih.”


Shirly terkekeh.


Dan kemudian Reiji serta Shirly teralih pada seorang pramugari yang menyapa Reiji.


Reiji sontak melirik jam tangannya. “Duh Ir, sorry banget nih, gue ga bisa lama-lama ngobrol sama lo. Masih punya nomor kontak gue kan? ...”


“Justru itu, semua kontak gue di hape lama ga sempet gue back up! Udah gitu nomor sini pula, jadi males banget gue ngurusinnya! Alhasil gue beli nomor di Ausie deh jadinya! ...” cerocos Shirly.


“Ya udah, wait!..”


Reiji dengan cepat merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya dari sana.


“Nih...” Lalu Reiji mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya itu, lalu menyodorkan nya pada Shirly.


“Sip deh Pak Pilot!”


“Ya udah ya Ir, gue cabut dulu.” Ucap Reiji. “Itu kartu nama jangan sampe ilang, dan save nomor gue.” tambahnya.


“Iya...” sahut Shirly.


“See you, ya.”


Reiji pun berpamitan pada Shirly.


“Eh iya ..”


Reiji menjeda langkahnya.


“Ngomong-ngomong mana anak gue? ...”


***


MALIA


“Mau dibawain apa dari Kroasia?”


Reiji menghubungiku saat dia sudah sampai di Bali. Rasanya sedikit aneh bagiku.


Reiji udah lama jadi Pilot, dan baru hari ini saat dia mau kerja mengemudikan itu kuda besi, Reiji seolah laporan padaku.


Padahal, selama ini chattingan aja engga sebelum perjodohan kami.


Tapi hari ini berbeda. Sedari sejak dia masih di rumah dia udah ngirim pesan chat ke aku,


'Li, aku berangkat dulu ya. Sorry ga bisa telpon. Buru-buru. Mobil jemputan dah dateng soalnya.'


Begitu bunyi pesan Reiji, yang aku balas dengan, 'Ok'. Berikut emoji jempol.


“Emang apaan yang bisa dibawa dari sana?...”


Aku sontak bertanya, karena memang jarang-jarang denger ada penerbangan ke itu negara.


Lagian aku juga bukan traveller yang hobi jalan-jalan ke luar negeri. Jadi kalau agak-agak asing sama itu negara ya harap maklum aja.


“Ya, apa kek gitu?...”


Sahutan Reiji dari sebrang sambungan telpon kami.

__ADS_1


“Yah, malah lo nanya gue? ...”


Aku menyahut begitu.


Memang aku ga tau apa yang ada di Kroasia, selain itu negara Eropa.


“Yang sering wara-wiri ke luar negri kan elo Rei?... lagian gue juga ga minta oleh-oleh kok ...”


“Bener nih, ga mau dibawain oleh-oleh dari sana?”


Aku menjawab dengan deheman pendek dan manggut-manggut.


Reflek aja aku menganggukkan kepala beberapa kali, padahal si Reiji kan ga liat?.


“Ya udah, nanti aku liat deh disana ada apa yang bisa dibawain buat kamu...”


“Dibilang ga usah, Rei...”


“Nanti aku dibilang pelit lagi?...”


Aku mendengus geli saja mendengar selorohan Reiji barusan.


“Ya udah ya Li, aku matikan dulu telponnya. Aku udah harus ke Cockpit ...”


Aku manggut-manggut lagi.


“Li? ...”


Eh iya!.


Tuh kan aku lupa kalo aku dan Reiji ini sedang bicara di telpon.


Kebiasaan kalo jawab pertanyaan dengan anggukan kepala aku seringnya.


Baru ngeh saat Reiji menyebut sepenggal namaku.


Mungkin Reiji bingung karena aku tak bersuara untuk menyahut.


“Iya, Rei. Sorry ...”


“Lagi sibuk ya Lia?”


Mungkin karena aku sempat tak menyahut, makanya Reiji bertanya seperti itu.


“Engga kok, Rei.”


“Ya udah, aku off dulu ya?...”


Reiji berpamitan sekali lagi.


“Iya hati-hati lo ya?...”


“I will ( Pasti ), Lia... Demi calon istri, aku pasti hati-hati.”


Tanpa sadar rasanya aku tersenyum mendengar lembutnya ucapan Reiji barusan.


“Kamu juga jangan sampai lupa makan kalau kerja. Karena kata Avi kamu sering lupa makan dengan alasan ngerjain kerjaan yang nanggung.”


“Iya.”


“Ya udah ya. Nanti setelah sampai di Kroasia aku hubungi kamu lagi. Kamu jaga kesehatan, jangan telat apalagi nunda sampe kebablasan ga makan gegara kerjaan...”


Sudut bibirku tertarik sedikit keatas saat mendengarkan kalimat Reiji barusan.


“Iya.”


Begini ya, rasanya punya, pacar?.


Cocoknya disebut apa sekarang Reiji bagiku ya?.


Pacar?.


Atau ...


Calon suami?.


Ah sabodo lah!.


Yang jelas, tak tahu kenapa, hatiku agak terasa menghangat.


Reiji kayak gitu ga sih sama mantan-mantannya?.


Bicara soal mantan, aku sampe ga sempet ngebahas sama Avi semalam soal itu gegara Reiji lumayan lama ada di rumah, dan saat Reiji pamit pulang, aku dan Avi ga sempet ngobrol lagi dan langsung tidur karena mata kami udah sama-sama lima wat.


Saat pagi pun kami udah grabak-grubuk buat pergi kerja.


Jadi soal mantan-mantan Reiji yang mau aku tanyakan, ga sempet aku tanya pada Avi, walau hanya sekedar nanya aja.


Apa dari salah satu mantan Reiji, ada yang namanya,


Shirly?.

__ADS_1


***


Bersambung....


__ADS_2