
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Ayo ah!” Malia menarik tangan Reiji, untuk melanjutkan langkah menuju unit mereka. Setelah sebelumnya, sepasang suami istri tersebut berinteraksi manis di lorong dekat unit mereka tersebut selepas Malia dan Reiji keluar dari lift. Malia yang terlihat agresif menariknya itu, membuat Reiji serta merta mengulum senyum.
“Kamu mau mandi lagi, Yang?....”
Reiji bertanya pada Malia kala keduanya telah masuk ke dalam unit apartemen mereka.
“Iya kayaknya, Rei—“
“Aku siapin air buat berendem kamu, ya?”
Reiji memberikan sahutan cepat atas jawaban Malia.
“Ga usah. Aku cuma pengen sekedar nyegerin badan doang—“
“Tenang, aku ga bakal ‘gangguin’ kamu—“
“Ck. Apaan sih, Rei?....” cebik Malia.
“Ya kali kamu takut aku tau-tau nyelusup ikut masuk ke bathtub?”
Reiji menjawab cebikan Malia dengan dirinya yang kembali mengulum senyuman.
“Nyindir???” kata Malia sambil menatap selidik pada Reiji.
Reiji pun terkekeh kecil.
“Siapa juga nyindir, sayangku Malia?....”
Lalu Reiji berucap sambil mengangkat satu tangannya dan mengacak gemas rambut Malia.
“Ya kali—“
“Sensi banget....” tukas Reiji dengan tangannya kini memencet gemas hidung Malia yang langsung mengulum senyuman.
“Aku emang mau nyegerin badan doang, Rei. Tadi kan udah mandi di rumah papa mama sebelum pulang?” Malia berucap kemudian.
“Oh iya ya....” Reiji manggut-manggut kecil.
“Lagian yang sensi itu kamu kayaknya, mikir jelek sama istri.”
Malia berujar lagi, dan Reiji pun sekali lagi langsung terkekeh kecil.
“Kalo aku emang niat berendem dan ga mau kamu ganggu, aku tinggal kunci pintu kamar mandi abis aku masuk ke sana—“
“Iya udah, ya udah.... aku salah deh....”
“Man always wrong kan, kalo berhadapan sama perempuan??”
“Iya.” Reiji mengiyakan cepat ucapan Malia itu. “Apalagi kalo perempuannya kamu. Dan laki-lakinya aku—“
“Nyindir lagi?....”
“Salah, lagi.... Nasib, nasib—“
“Yang sabar yah, Pak Reiji?” Malia menukas ucapan Reiji sambil memasang ekspresi turut prihatin yang dibuat-buat. Lalu keduanya sama terkekeh.
“Dah sana kalo mau mandi. Tapi kalo bisa pake aer anget, Yang. Masih jam segini soalnya—“
“Iya, Rei,” tukas Malia mengiyakan. “Kamu juga mau mandi?”
“Ngundang nih?—“
“Iya—“
“Serius???—“
“Tapi ga sekarang—“
“Yaah,” tukas Reiji yang berkesah kecewa. Namun kemudian Reiji tersenyum teduh pada Malia sambil berkata lembut menyarankan Malia untuk meneruskan niatannya yang ingin mandi guna menyegarkan tubuhnya itu.
“Kamu mau mandi ga, Rei?” Malia bertanya lagi sebelum ia berlalu dari hadapan Reiji. “Kalo kamu mau relaksasi, aku isiin bathtub pas aku selesai nanti—“
“Ga usah. Aku mandi pake shower aja. Lagian aku juga udah mandi tadi di rumah mertua sebelum pulang. Sama kayak kamu, cuma gerah aja ini—“
“Ya udah kalo gitu—“
❇❇
“Kamu laper ga, Yang?—“
“Engga sih. Kamu sendiri laper, Rei?....”
“Engga juga. Nanya aja takutnya kamu laper lagi. Soalnya kan tadi rencana mau beli kopi sama cemilan batal—“
“Kalo emang kamu masih pengen kopi dari KN order aja, Rei. Minta tolong resepsionis di bawah kayak biasa—eh, aku punya kok nomor telpon gerai KN di bawah—“
“Ya udah coba hubungi, Yang. Aku order—“
“Eh iya, nomornya ada di hp aku yang lama. Dan aku simpennya di memori telfon lagi bukan di SIM card. Ga aku backup juga.”
❇❇
“Ya udah kamu mandi aja. Nanti aja abis kamu mandi kita pesennya.”
Reiji berujar menanggapi ucapan Malia sebelumnya.
“Ih, nanti keburu tutup KN nya. Dia open 24 hours cuma weekend doang, Rei.”
Dimana Malia langsung dengan cepat merespons tanggapa Reiji tersebut, yang langsung lagi dijawab Reiji.
“Oh iya, ya—“
__ADS_1
“Pesen lewat resepsionis aja deh, siapin aja uang buat gantiin duit dia plus tips buat resepsionisnya.”
Malia menukas sekaligus memberi saran pada Reiji.
“Lagian denger kamu bilang croissant tadi, aku jadi pengen.”
“Ya udah aku aja yang order. Kamu mandi aja sana—“
“Dah aku aja. Kamu kopi yang kayak biasa?” tukas Malia yang sudah melangkah cepat menuju interkom dalam unit apartemennya dan Reiji.
Reiji geleng-geleng pelan melihat sikap Malia itu sambil mengulum senyum, namun kemudian menjawab pertanyaan Malia.
“Croissant mau juga? Atau mau pesen makanan yang lain?....”
“Samain aja kayak kamu. Kalo emang kamu mau croissant, ya aku croissant juga—“
“Oke, bos,” tukas Malia. “Croissantnya mau rasa apa?—“
“Bebas aja. Kamu aja yang pilihin—“
❇❇
Biip.... Biip....
Tepat saat Malia ingin mengangkat gagang interkom, alat tersebut berbunyi dengan salah satu tombolnya yang menyala lampunya serta berkedip-kedip.
“Eh?”
Malia dan Reiji sama-sama terkesiap di tempatnya, karena interkom mereka yang berbunyi itu.
Selain merasa heran. Dimana Reiji dan Malia saling tatap sejenak dan Malia langsung berkata, “Resepsionis menghubungi ada apa ya?”
Reiji pun nampak sedikit berpikir.
“Kamu tadi ada bawa barang ga?”
Lalu Reiji bertanya tak lama kemudian.
“Eh iya, bumbu-bumbu dari mama?....” Malia menjawab cepat pertanyaan Reiji tersebut. “Ketinggalan di lobi jangan-jangan?” lanjut Malia. “Eh, tapi seinget aku pas turun tadi kita lenggang gitu aja deh –“
“Eum, seinget aku juga itu ada di kursi belakang dan pas turun kita ga ada buka pintu belakang mobil –“
“Atau jangan-jangan mobil lupa kamu kunci, Rei?” tukas Malia.
Lalu Reiji nampak berpikir lagi.
❇❇
Didetik berikutnya mata Reiji jadi sedikit membola karena dugaan dalam hatinya.
“Yan –“
“Ya?” Malia sudah nampak mengangkat gagang interkom saat Reiji hendak memanggilnya.
Dimana sebenarnya Reiji ingin mencegah Malia menerima panggilan dari resepsionis via interkom dalam unit apartemen mereka.
Dengan Reiji yang melangkah dengan cepat mendekati Malia.
“Euumm.”
Malia terdengar menggumam sambil ia melirik pada Reiji yang sudah berada di dekatnya.
“Yang –“
“Saya tanya suami saya dulu, ya?”
Malia menukas ucapan Reiji sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan telapaknya pada suaminya itu dan Malia bicara lagi di interkom.
Tak lama kemudian, Malia sudah selesai berbicara di alat penerima panggilan internal tersebut dan meletakkan kembali gagang interkom ke tempatnya.
“Abbas sama Aldo mau nemuin kamu.”
Malia langsung berucap selepas ia meletakkan gagang interkom ke tempatnya.
“Aku bilang aku tanya kamu dulu –“
“Suruh mereka balik aja,” tukas Reiji cepat. Dan Malia langsung melipat bibirnya.
“Tapi menurut aku, kalau memang hanya Abbas dan Aldo, baiknya kamu temuin mereka, Rei....”
Malia berujar seraya berkomentar kemudian, lalu menampakkan senyumnya sebelum ia bicara lagi pada Reiji.
“Lagian menurut aku, mereka ga ada sangkut pautnya dengan kedatangan itu si Shirly ke sini, Rei.”
“Ga usahlah, Yang –“
“I will be okay, Rei....”
Malia menukas jawaban Reiji.
“Aku ga akan marah atau bakal judesin kamu yang nemuin Abbas sama Aldo.”
❇❇
“Aku udah jadi penyebab kamu memutuskan persahabatan kamu dengan Shirly –“
“Yang –“
“Terus kamu ribut sama Irfan, satu lagi hubungan persahabatan kamu retak karena aku juga –“
“Engga Yang. Bukan karena kamu.” Gantian Reiji yang menukas ucapan Malia, sambil Reiji merengkuh bahu Malia.
“Ya udah, kalo gitu kamu temuin aja Abbas dan Aldo. Kalo emang mereka berdua aja yang mau nemuin kamu, aku ijinin.”
Malia mengelus pelan salah satu sisi pipi Reiji.
__ADS_1
“Abbas dan Aldo aja.... kalo ada yang ngintilin mereka baru ga boleh.”
Reiji lalu menyunggingkan senyumnya. Kemudian Malia berujar lagi seraya membujuk Reiji.
“Temuin aja Abbas sama Aldo. Kalau mereka netral atau bahkan mendukung kamu, paling engga kamu masih punya dua sahabat. Yang bisa kamu jadiin tempat curhat kalo kamu lagi sebel sama aku....”
Dengan sedikit selorohan yang Malia sematkan dalam bujukannya ke Reiji yang langsung terkekeh kecil.
❇❇
Atas bujukan Malia, Reiji pun akhirnya setuju menemui Abbas dan Aldo--dua sahabat lelakinya.
Yang Reiji persilahkan untuk datang ke unitnya dan Malia, setelah memastikan langsung kepada yang bersangkutan dengan Reiji juga sempat mengeluarkan ancaman kecil saat ia menghubungi ponselnya Abbas, bahwasanya hanya pria itu dan Aldo saja yang memang akan Reiji temui.
Dan memang benar adanya, hanya Abbas dan Aldo lah yang ada di hadapan Reiji kala ia sudah membuka pintu unit apartemennya dan Malia. Dimana Reiji mengatakan pada resepsionis untuk mengijinkan dua sahabat lelakinya itu untuk menyambangi unitnya dan Malia, dengan diantar salah seorang staf gedung.
Kedatangan Abbas dan Aldo ke unitnya dan Malia pun, memang sudah seijin Malia karena Reiji enggan lagi keluar dari unit. Lagipun, cetusan untuk mengundang Abbas dan Aldo ke dalam unit apartemennya dan Malia—adalah ide dari Malia sendiri.
Yang kemudian duduk bersama Reiji dalam menerima kedatangan Abbas dan Aldo, atas permintaan Reiji.
Dan seperti perkataan Malia, bahwasanya Abbas dan Aldo berada di pihak yang netral.
Bahkan kemudian keduanya mendukung keputusan Reiji yang memutuskan persahabatannya dengan Shirly, setelah Reiji mengatakan dengan cukup detail alasan atas keputusannya tersebut kepada dua sahabat lelakinya itu.
Reiji juga menunjukkan pada Abbas dan Aldo chat dari Shirly yang seolah memang sengaja untuk menyulut pertengkaran hebat diantara dirinya dan Malia. “Gue ga nyangka si Irly kayak gini.” Komentar Aldo.
“Ya kalo gini sih gue makin dukung lo ga usah berhubungan lagi sama Irly yang begini kelakuannya sekarang.... maksudnya ngelanjutin persahabatan ya, Malia?....” Abbas lalu menimpali, serta juga langsung meralat akhir kalimatnya pada Malia yang langsung tersenyum. “Gue berani sumpah kalo pak Pilot ini suami setia....”
“Dan udah bucin sama lo,” Aldo yang lalu menimpali ucapan Abbas. Dan Malia terkekeh kecil kemudian.
Reiji tersenyum lebar.
Melihat Malia yang nampak menerima Abbas dan Aldo yang keduanya memang santai pembawaannya.
“Lagian kalo chatnya begini, andai gue yang di posisi lo nih Rei? –“
“Tamat riwayat lo, Do.”
Abbas menyambar ucapan Aldo.
“Nah!”
Aldo langsung merespons.
“Rambut gue bisa abis dijambakin sama si Mega!”
“Termasuk bakal dicakar-cakar mukanya si Irly sama bini lo yang bar-bar itu.” sambar Abbas.
“Wes biar bar-bar begitu dia ngurusin gue bener-bener sebagai istri –“
“Heleh ngatain gue bucin! Lo sendiri kurang bucin apa sama si Mega???”
Reiji pun ikut nimbrung berkomentar tentang apa yang sedang dibahas dua sahabatnya itu.
“Waktu pacaran aja lo nangis-nangis diputusin dia.” Reiji menambahkan ucapannya.
Dimana seterusnya, soal Irly dan keputusan Reiji mengakhiri persahabatannya dengan perempuan itu, tak lagi dibahas oleh Abbas dan Aldo sampai keduanya undur diri dari unit apartemen Reiji dan Malia.
Termasuk pertikaian Reiji dan Irfan yang sempat terjadi, yang hanya dibahas sepintas lalu.
Lalu Abbas dan Aldo kembali bersikap netral, tentang bagaimana Reiji ingin menyelesaikan urusannya dengan salah satu sahabat lelaki mereka juga itu.
Selain ada saran yang diberikan Abbas dan Aldo pada Reiji, untuk menyikapi hubungan Reiji dan Irfan ke depannya setelah sempat bertikai.
Bahkan sampai Reiji sempat menyapa wajah Irfan dengan tinjunya.
Tapi Abbas dan Aldo mengembalikan lagi keputusan pada Reiji mengenai urusannya dengan salah satu sahabat mereka itu.
❇❇
“Mereka, berdua aja rame, ya?....” ucap Malia setelah kepergian Abbas dan Aldo dari unit apartemennya dan Reiji.
Dimana Reiji dan Malia hanya mengantar Abbas dan Aldo sampai di ambang pintu unit mereka saja. Walau Malia mempersilahkan saja jika Reiji ingin mengantar dua sahabatnya itu sampai lobi bawah.
Namun Abbas dan Aldo keburu menyergah Reiji yang menyetujui ide Malia. Jadi Reiji pun tak mengantar dua sahabat lelakinya itu, lebih jauh dari ambang pintu apartemennya dan Malia.
“Istrinya Aldo lebih rame lagi, Yang.... suaranya setipe toa....“
Langsung terkekeh Malia setelah mendengar ucapan Reiji barusan, yang kemudian tangannya digenggam Reiji dan dikecup ringan punggung tangan Malia tersebut oleh Reiji.
Membuat Malia kemudian melemparkan senyuman manis pada suaminya itu.
❇❇
“Eh iya, aku jadi lupa ngorder ke KN.”
Malia yang berjalan menuju kamarnya bersama Reiji, kemudian berujar sambil menghentikan langkah.
“Padahal sama Abbas sama Aldo ya? Jadi ga enak aku Cuma nyuguhin mereka teh manis sama snack seadanya –“
“Next time kita jamu mereka kalo kamu mau,” tukas Reiji.
“Sure, why not? ( Tentu, kenapa engga? )....”
Malia pun langsung menjawab antusias, dan Reiji tersenyum lega.
Tak seberapa lama kemudian, Reiji menatap lamat-lamat wajah Malia yang ia usap lembut.
Membuat Malia jadi memandangi wajah Reiji juga, dan saling menatap teduh. Dimana didetik berikutnya, bibir sepasang suami istri itu telah bersinggungan dan saling berpagutan.
“Ga jadi pesen kopi di KN?” tanya Malia yang tangannya masih melingkar di leher Reiji selepas keduanya menarik bibir mereka masing-masing.
“Ga pengen kopi lagi,” sahut Reiji. “Pengen susu sekarang mah.”
❇❇❇❇❇❇
__ADS_1
Bersambung......