WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 291


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


“Yuk, Yang....” sekali lagi Rei mengajakku sembari tangannya yang menggenggamku dari sejak Rei mengatakan pada Shirly jika kelakuannya sekarang seperti perempuan yang tidak punya harga diri dengan menggunakan anaknya untuk menarik perhatian Rei itu, kini juga menarikku. Tidak kasar sama sekali memang, namun ajakan Rei terasa menuntut.


Karena setelah menarik tanganku, Rei langsung merengkuh pinggangku dengan posesif dan mengajakku berjalan menjauh dari tempat beberapa sahabatnya itu masih berdiri, tanpa Rei berpamitan pada mereka walau hanya sekedar dengan ucapan basa-basi.


Bahkan menoleh pun tidak.


Rei mengajakku pergi begitu saja dari sana.


Dengan wajah yang datar dimana masih nampak gurat kesal di sana, dengan tatapan yang lurus ke depan.


Tanpa menghiraukan Shirly yang sudah bersimbah airmata dan pias wajahnya. Begitupun Rei tak nampak akan menghiraukan tangisan anak lelaki Shirly yang merengek memanggilnya. Malah.... Ekspresi Rei bahkan terkesan dingin, membuatku jadi kikuk sendiri. Dan karena hal itu, aku jadi ikut tidak berpamitan pada para sahabat Rei.


Setidaknya pada Abbas dan Aldo yang tidak semenyebalkan Irfan dan tidak semengesalkan Shirly. Juga berpamitan pada pasangan Irfan yang sedari datang diam saja.


Yang hanya terdengar suaranya saat membantu menahan Irfan seperti aku menahan Rei ketika keduanya hampir baku hantam. Dan saat membantu menenangkan anak lelaki Shirly.


Dan saat aku dan Rei mulai berjalan menjauh dari mereka yang sempat berada bersama kami, tak aku dengar satu pun dari mereka mengomentari sikap Rei yang terkesan masa bodoh itu, pun tak ada yang menghalangi.


--


Aku ingin mengingatkan Rei sebenarnya, tentang baiknya dia berpamitan pada para sahabatnya, setidaknya berbasa-basi pada Abbas dan Aldo yang aku lihat netral.


Namun karena aura dingin Rei, aku urung melakukannya. Selain aku merasa masih ada sisa kegeraman pada diri Rei yang takutnya tersulut lalu kata-kata menyakitkan keluar dari mulutnya, meskipun bukan ia tujukan padaku.


Bisa-bisa Rei berbalik lagi dan melontarkan kalimat hinaan pada Shirly yang aku rasa sudah cukup untuk menohok perasaan perempuan itu dengan dalam.


Jadi rasanya aku lebih baik diam saja. Dan manut saja pada Rei yang sedang menuntunku berjalan masuk ke dalam lobi apartemen, lalu menjawab sapaan salah seorang petugas keamanan yang juga bertanya padanya.


“Malam Pak, Reiji. Ibu....”


Sapaan dari salah seorang petugas keamanan yang tadi sempat menghampiri kami, selepas Rei meninju Irfan.


“Malam.”


“Malam, Pak.”


Aku dan Rei menjawab dalam waktu yang bersamaan, lalu petugas keamanan itu bertanya.


Pada Rei tepatnya.


“Mohon maaf, Pak Reiji. Apa udah selesai masalah Bapak?....”


“Iya sudah. Mohon maaf untuk keributan tadi,” jawab Rei dengan formal pada petugas tersebut. “Kalau ada complain mengenai ini, langsung sampaikan saja pada saya.”


“Iya, Pak. Beres soal itu.... Pak Reiji ga usah khawatir,” sahut petugas itu lagi, yang dari ucapannya tersirat kalau dia akan mengurus dengan baik andai ada complain dari satu dua penghuni yang mungkin menyaksikan keributan yang melibatkan Rei di lobi luar tadi.


Rei tersenyum tipis menanggapinya, namun bermakna ramah.


“Terima kasih kalau begitu, Pak,” ucap Rei kemudian. “Saya dan istri saya permisi kalau begitu,” sambung Rei.


“Iya Pak Reiji. Selamat beristirahat untuk anda berdua kalau begitu.”


“Iya. Terima kasih sekali lagi,” balas Rei atas ucapan petugas keamanan tersebut pada kami.


“Terima kasih, Pak,” aku juga ikut membalas ucapan petugas keamanan tersebut. Yang langsung mengangguk dan tersenyum santun padaku dan Rei.


Setelahnya, aku dan Rei hendak melanjutkan langkah. Namun kemudian tertahan lagi.


Karena petugas tersebut menyergah Rei pelan. “Mohon maaf Pak Reiji. Orang-orang itu....” sambil ia menunjuk ke arah tempat kami tadi, dan mereka yang sebelumnya ada di sana,masih ada di titik itu. “Apa perlu kami minta untuk segera pergi dari sini, Pak?”


“Biarkan saja. Nanti juga pergi sendiri.” Rei menyahut setelah ia sempat spontan melirik ke arah yang ditunjuk petugas keamanan sebelumnya, sepertiku yang spontan mengikuti arah telunjuk si petugas kala ia mengarahkannya ke titik dimana Abbas dan lainnya masih berdiri di sana.


“Oh ya udah kalo gitu, Pak Reiji....” ucap si petugas keamanan. Yang kemudian dibalas Rei dengan kalimat untuk undur diri dari hadapannya. Lalu Rei kembali menarikku untuk meneruskan langkah kami menuju lift dalam lobi utama.


❇❇❇


“Maaf buat ketidaknyamanan kamu atas kejadian tadi, Yang,” ucap Reiji pada Malia yang sedari berjalan selepas berinteraksi dengan petugas keamanan di lobi gedung apartemen tempat tinggal keduanya hingga sampai Reiji dan Malia masuk ke dalam lift, Malia memang banyak diamnya. “Aku bener-bener ga nyangka kalau mereka akan dateng ke sini.... “


“It’s okay, Rei.”


Malia yang sempat melamun itu menjawab ucapan Reiji saat suaminya itu buka suara tak lama setelah pintu lift tertutup.


“Aku juga ga kepikiran kalo Irly bakal berani dateng ke sini. Karena kalo sampe kepikiran aku bakal—“


“Rei,” sambar Malia. “Ga perlu dibahas kejadian tadi,” sambung Malia seraya ia mengeratkan genggaman tangannya dan Rei dengan tersenyum.


Dan satu tangan Malia mengusap-usap lengan Reiji yang berkesan menenangkan. Dimana Reiji langsung juga tersenyum dan mengangguk. Lalu Malia menambah volume senyumnya pada Reiji yang kemudian berkata lagi pada Malia.


“I’m sorry once again, kalo tadi aku hampir hilang kendali bahkan saat kamu lagi nahan aku.” Kata Reiji. “Tapi lain kali, kalo aku lagi kayak tadi, jangan kamu langsung ke depan aku. Kalo pas aku kelepasan gimana? Yang ada aku bakal ngelukain kamu.”

__ADS_1


“Iya....” jawab Malia.


❇❇❇


“Tapi aku ga mengharapkan melihat kamu yang seperti tadi lagi, Rei.”


Malia menambahkan ucapannya.


“Ya namanya orang emosi, Yang—“


“Dan sejauh yang aku tau, kamu punya manajemen emosi yang cukup terkontrol.”


Malia berujar sambil memandang teduh pada Reiji yang langsung menerbitkan senyum tipis.


Kemudian Reiji menghembuskan nafasnya perlahan, sebelum ia mengomentari ucapan Malia barusan.


“Yaa aku cuma manusia biasa yang pasti ada lepas kontrolnya.”


❇❇❇


“Dan kamu yang seperti itu karena aku.”


Malia langsung melontarkan ucapan yang membuat Reiji yang baru saja keluar dari lift bersama dirinya itu, menghentikan langkahnya.


“Kok gitu ngomongnya?”


Reiji merespons dengan berujar sambil menangkup wajah Malia.


Dan Malia tersenyum lurus namun tak datar pada suaminya itu, sembari menyentuh tangan Reiji yang sedang menangkup wajahnya.


Sambil juga Malia bilang, “Ya karna aku ngerasa, sedikit banyak aku udah bikin kamu kesel, Rei. Dan kekesalan itu ga bisa kamu lampiasin ke aku. Ga mau tepatnya.”


“Kita udah sepakat menganggap pertengkaran kita waktu ada Avi selesai, bukannya?—“


“Tapi saat diperjalanan tadi, kamu juga sempet kesel sama aku karena pembahasan promil kan?” Reiji menghembuskan pelan nafasnya setelah mendengar ucapan Malia barusan. “Denger....”


Reiji berucap kemudian.


“Aku ga kesel—“


“Tapi sebel,” tukas Malia. “Pake banget,” sambungnya cepat.


Reiji langsung saja mendengus geli, lalu ia angkat suara. “Aku ga kesel atau sebel dengan hal itu, Yang. Cuma agak kecewa—“


“Sama aja itu sih,” tukas Malia.


❇❇❇


“Pokoknya aku yang sampe emosi tadi, poinnya karena aku benci denger perkataan Irfan dan juga Irly yang bagi aku merendahkan kamu. Terus kedatangan Irly ke sini, aku pikir macam dia sengaja mau nyulut keributan diantara kita.” Reiji berujar kemudian.


Malia tidak menyela ucapan Reiji kali ini.


“Padahal, kalo menurut pendapat aku, sebagai sahabat.... Irly seharusnya menghargai keputusan aku tentang persahabatan kami bagaimanapun juga.... dengan aku yang udah ngomong langsung ke dia meski via telepon tentang aku yang ingin persahabatan kami berakhir, harusnya dia stop disana. Tapi ini malah dateng ke sini.”


Reiji masih bicara, tanpa ngeh jika ia dan Malia masih belum berada di dalam unit mereka.


“Bagus ketemu di bawah, pas kita lagi berdua juga. Kalo dia dateng pas kamu ga ada walaupun aku ga akan kasih ijin petugas lobi buat nganter dia ke unit kita, atau papasan sama aku yang pas sendirian terus kamu muncul? Apa ga akan bikin kamu meledak lagi?—“


❇❇❇


Reiji tersenyum tipis namun teduh dengan satu tangannya yang mengusap pelan pucuk kepala Malia.


Setelahnya, Reiji berujar.


“Sekalipun apa yang dibilang orang tentang kamu, maaf—sifat kurang menyenangkan kamu, benar. Tetep aku ga terima kamu dikatain atau diperlakukan dengan buruk. Jadi aku akan menantang siapapun yang melakukan itu. Karena hal itu, aku anggap bisa membuat kamu  punya alasan buat ninggalin aku. Dan aku akan antisipasi betul soal itu....”


“.....”


“Aku bener-bener ga mau kehilangan kamu, Yang.”


Ketulusan dan kesungguhan, tergambar dari ekspresi wajah Reiji yang saling tatap dengan Malia kala mengatakan kalimatnya yang barusan.


Membuat Malia tersenyum manis sambil tangannya terulur ke wajah Reiji yang Malia usap dengan lembut satu sisinya, sambil juga Malia bilang,


“Makasih, ya Rei?—“


“Tuh, kalo Nyonya Reiji teduh begini kan, adem Abang.”


Ucapan terima kasih Malia padanya, Reiji balas dengan candaan.


Membuat Malia langsung saja terkekeh kecil karenanya. “Masuk yuk, ah?“


Setelahnya Malia berujar, dimana ia menyadari keberadaannya dan Reiji saat ini.


“Kalo ada tetangga unit yang liat kita begini, dibilang sok mesra ala drakor lagi....” tambah Malia, yang langsung mendapat sahutan dari Reiji.

__ADS_1


“So what?—“


“Ayo ah!”


Malia menukas ucapan Reiji sambil menarik tangan suaminya itu untuk melanjutkan langkah menuju unit mereka.


❇❇❇


Malam berlalu.


“Oh iya Rei. Kamu nanti di kantor pusat maskapai sampe jam berapa kira-kira?”


Malia dan Reiji sedang bersiap untuk keluar dari unit apartemen mereka.


Dimana Malia akan pergi ke kantornya dengan diantar Reiji yang akan mendatangi kantor pusat maskapai yang menaunginya.


Meski ia adalah pilot pribadi pemilik maskapai tempatnya bernaung selama ini--dan katakanlah Reiji memiliki hak khusus dari pilot reguler, namun Reiji tetap merasa perlu mengikuti prosedur standar di perusahaan maskapai tersebut—selain atas nama etika.


Jadi jadwal yang ingin ia bahas atas dirinya yang sudah siap untuk kembali berdinas, Reiji ingin tanyakan dan bahas di kantor saja.


Walaupun sebenarnya Reiji dipersilahkan saja untuk bertanya kepada penanggung jawab maskapai atau asistennya tentang jadwal kerjanya, via ponsel.


❇❇❇


“Tergantung sih. Kalo para bos lagi ga di tempat, paling aku sebentar aja ngobrol sama Rasya atau sama pak Ommar. Ga tau kalo mereka ngajak makan siang bareng.”


Reiji menjawab pertanyaan Malia.


“Tapi kalo jam seginian, kayaknya pembicaraan aku sama mereka ga mungkin sampe jam maksi. Cuma ya liat sikon aja, kalo meski para big boss ga di tempat tapi nyatanya aku disuruh ngadep mereka ke perusahaan atau kediaman mereka, ya mungkin lewat jam maksi baru kelar. Pokoknya aku kabarin lah kamu gimana-gimananya nanti—“


“Hm, ya udah kalo gitu. Tapi kalo kamu ke istana mereka aku sebenernya pengen ikut. Pengen ngucapin makasih sekali lagi. Sekalian mau balikin bajunya istri bos kamu yang aku pake.”


“Bukannya itu baju udah dikasih ke kamu?”


“Ya iya emang. Tapi itu Balmain Rei, Balmain—“


“Terus?—“


“Ya paling engga aku bawain dia apa gitu yang udah ngasih aku baju yang seharga motor matic standar. Baru lagi?”


“Dia juga ga ngarepin itu kali,Yang.”


“Ya akunya yang ga enak.”


“Ya udah, nanti kalo emang minggu ini aku belum ada jadwal, kita ke sana.”


“Sip.”


❇❇❇


“Btw, kamu tadi nanya aku selesai di kantor maskapai jam berapa, kenapa? Mau maksi bareng?”


“Iya itu satu—“


“Yang kedua?”


“Mau ajak ketemu dokter Dewi.”


“Hmm—“


❇❇❇


REIJI


Aku bergumam seraya mengangguk mendengar ucapan Lia sehabis aku bertanya padanya.


Namun didetik berikutnya aku menyadari sesuatu.


“Kamu bilang tadi yang kedua apa?” tanyaku pada Lia kemudian.


Meski aku yakin mendengar Lia mengatakan ingin mengajakku bertemu dengan seorang dokter yang membantu promil Lia, sebelum istriku itu membatalkannya.


“Ketemu.... dokter Dewi?....” Aku memastikan, dan Lia menarik sudut bibirnya lalu berkata di detik berikutnya.


Perkataan yang membuatku terkejut tak percaya, sekaligus bahagia.


“Aku mau nerusin promil....”


“Beneran???—“


“Iya....“


Oh, terima kasih Tuhan.


❇❇❇❇❇❇❇❇

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2