WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 17


__ADS_3

Selamat membaca..


***


“Abbas Ramdan itu temen lo Ji? ..” Malia langsung bertanya, saat Abbas sudah hengkang dari hadapannya dan Reiji.


Reiji mengangguk menanggapi pertanyaan Malia. “Iya ..” Ucap Reiji.


“Kok gue ga tau ya kalo lo bertemen sama dia??” Kata Malia dan Reiji langsung mengulas senyuman.


“Memang aku jarang ajak main temen ke rumah..”


‘Oh iya ya!. Gue juga ga pernah liat ada temen Reiji yang dateng asal gue main kerumahnya Om Tino dan Tante Alice’ 


Malia langsung membatin.


“Sekalipun pernah ada yang main beberapa kali, tapi ga pernah ketemu kamu” Sambung Reiji. “Nah Abbas itu temen aku waktu di SMA.. Lumayan akrab juga sama dia”


Malia pun manggut-manggut mendengar penuturan Reiji.


“Tapi sampai kuliah dan sampai sekarang juga sih, masih sering komunikasi walau udah jarang ketemu dan ngumpul bareng”


Reiji pun menyambung ucapannya.


“Sama Abbas doang?”


“Engga, ada beberapa temen yang deket kayak Abbas yang suka ngumpul bareng dari SMA”


“Oh” Sahut Malia singkat. ‘Termasuk Shirly?’ Pertanyaan yang hanya ada di hati Malia. Penasaran, tapi Malia enggan untuk bertanya tentang siapa itu Shirly.


“Eh iya Abbas ajakin kita gabung di mejanya.. Mau?” Tanya Reiji.


Malia mengangguk antusias tanpa butuh waktu lama untuk mengiyakan pertanyaan Reiji. Membuat Reiji sedikit mengernyit.


“Jangan bilang kamu fansnya si Abbas?” Cetus Reiji yang melihat Malia nampak sumringah. “Seriusan Lia??! .. Kamu nge-fans sama si Abbas?!!”


Reiji mencari pembenaran karena Malia nampak cengengesan saat Reiji bertanya soal minat Malia pada temannya itu.


“Hehehe.. iya ..” Ucap Malia dan Reiji segera geleng-geleng.


‘Alamaakk!..’ Batin Reiji.


“Ayo .. katanya mau gabung ke mejanya Abbas?..”


Malia kembali nampak antusias.


Dimana Reiji tiba-tiba langsung merasa malas untuk bergabung di mejanya Abbas.


Entah kenapa. Reiji ingin batal gabung ke mejanya Abbas, tapi ga enak juga udah mengiyakan ajakan Abbas tadi, dan kini Malia sudah menarik pelan tangannya.


“Ayo dong..”


“Hmmm”


Mau tidak mau Reiji mengiyakan saat Malia mengajaknya untuk menyambangi meja Abbas.


“Eh iya Rei...” Ucap Malia. “Nanti gue bisa minta foto bareng Abbas ga?..”


“Ga bisa!”


***


REIJI


Aku dan Malia telah sampai di NB. Sebuah Kafe yang menurutku asik buat tempat nongkrong dari sejak awal aku datang kesini.

__ADS_1


Ambiance Kafenya bernuansa alami yang memang aku sukai, tempat-tempat bernuansa alami macam di NB ini.


Sebenarnya lebih asik berada di area outdoornya, karena nuansa disana  lebih green. Tapi berhubung sedang banyak perokok disana, walaupun asap rokok tidak terlihat ngebul-ngebul amat, aku khawatir Malia terganggu.


Meski Malia bilang dia fine-fine aja dengan perokok dan sudah terbiasa dengan para perokok disekelilingnya.


Mudahan aja Malia bukan perokok juga.


Karena mungkin aku akan sedikit merasa tidak senang jika Malia seorang perokok.


Naif?.


Katakanlah begitu.


Aku bukannya tidak suka melihat para wanita perokok.


Tapi jangan Malia. Jangan sampai bibir merah mudanya itu ternoda oleh flek nikotin.


Ups!.


Ketahuan deh, aku merhatiin bener bibirnya Malia yang kissable banget itu.


Kembali ke laptop!.


Eh, kembali ke bahasan aku dan Malia yang sudah berada di NB.


Aku memilih tempat indoor pada akhirnya, meski Malia sempat bertanya kenapa ga memilih outdoor karena aku seorang perokok.


Perhatian juga Malia sama hal-hal kecil ternyata. Dalam hal ini hal kecil yang menyangkut diriku. Ah jadi ge-er.


Tapi ya boleh kali ge-er sedikit. Soalnya Malia bilang gini, “Memang mulut lo ga berasa asem?”. Gitu kata Malia.


Perhatian juga kan itu bukannya?.


Terus dia bilang lagi begini, “Dari tadi sejak kita sampe ke Bandung, gue Cuma ngeliat lo ngerokok saat di rest area doang perasaan”


Ah, jadi ge-er lagi.


Well, singkat kata, pada akhirnya Malia menyetujui untuk duduk di area indoor dekat pintu yang menuju outdoor, jadi masih bisa liat view green yang menyejukkan mata.


Singkat kata lagi, setelah aku dan Malia mengambil tempat, seorang pelayan Kafe datang menghampiri kami berdua untuk mencatat pesanan. Malia memesan hot cappucino, dan aku selalu memesan minuman yang sama setiap kali aku datang ke kafe ini, yakni kopi dangdut. Bukan deng, kopi gayo.


Kopi yang berasal dari salah satu daerah di Ibu Pertiwi yang tercinta itu memang jenis kopi favoritku karena punya aroma yang sangat tajam, dan aku menyukai jenis kopi yang aromanya bisa tercium tanpa harus mendekatkan cangkir dengan hidung. Dan kopi gayo yang disediakan di NB ini memang sangat bagus kualitasnya.


Dan setiap kali aku datang ke tempat ini, ya satu minuman itu saja yang aku pesan. Selain kadang juga memesan makanan berat jika sedang berasa lapar.


Kok setiap kali?. Berarti sering dateng ke Bandung, padahal aku bilang sama Malia aku jarang dateng ke daerah ini.


Memang sering. Dulu tapi.


Waktu SMA, aku dan teman-temanku bisa dibilang sering main ke Bandung.


Dulu saat aku sedang sering-seringnya main ke Bandung, Kafe ini belum ada.


Baru ada saat aku sudah mulai kuliah, masih cukup dibilang sering main ke Bandung bareng kawan-kawan yang cukup akrab waktu di SMA dulu.


Karena cocok dengan paket lengkap ini Kafe, ya akhirnya kalau pas lagi janjian buat hangout bareng, aku dan kawan-kawanku itu memilih Bandung dan Kafe ini buat sekedar nongkrong dan ber-haha-hihi.


Tapi sejak kami lulus kuliah, intensitas kumpul bareng aku dan kawan-kawan akrabku itu sudah tak lama tak lagi kami lakukan. Terakhir, mungkin dua tahun lalu.


Well, Malia hanya memesan satu hot cappucino sampai si pelayan Kafe bertanya lagi,


“Itu aja Kak? ....”


Lalu aku kemudian ingat, ada satu dessert di Kafe ini yang enak.

__ADS_1


Bukan menurutku sih, karena aku tidak suka wortel yang dijadikan kue begitu. Entah bagaimana rasanya.


Aku tawarkan Malia untuk mencoba dessert tersebut. Aku promosikan kalau itu dessert enak rasanya, dan Malia pun akhirnya mau mencoba, dan aku menyertakan satu slice carrot cake dalam pesananku dan Malia.


“Katanya lo jarang maen ke Bandung?....”


Dan pertanyaan itu terlontar setelah si pelayan Kafe yang tadi mencatat pesananku Malia hengkang dari hadapan kami.


“Iya bener. Kenapa emangnya?”


Aku mengiyakan ucapan Malia yang berupa pertanyaan, lalu aku balik bertanya.


“Tapi kok kayaknya lo udah sering kesini?. Buktinya lo tau aja itu carrot cake disini enak?....”


Ini Malia penasaran kali ya?.


“Memang jarang aku ke Bandung, tapi kalau pas lagi main kesini, ya kafe ini yang sering aku datengin ....”


Begitu jawabanku, karena memang begitu adanya. Meski memang aku punya sedikit memori di Kafe ini selain kumpul dengan teman-temanku.


Dan carrot cake ini memang kesukaannya ....


Ah sudahlah.


Masa lalu, biarlah masa lalu..


Kalo kata Mba Inul.


Dan aku membawa Malia ke tempat ini, bukan untuk mengenang.


Malia yang tanya tentang Kafe berkonsep Casual Dining, dan saat aku mencetuskan nama Kafe ini Malia mengiyakan.


Aku tanya mau kesini, Malia lagi-lagi mengiyakan. Jadi ya sudah, aku membawa Malia ke NB ini.


Jadi bukan aku sengaja membawa Malia ke salah satu tempat kenanganku. Bukan kenangan yang spesial banget sih, Cuma manis aja kalo diinget-inget lagi, selain ada lucunya juga.


Dan soal carrot cake, yah aku sekedar menyarankan saja pada Malia.


Eh ternyata dia mau coba.


Hingga saat pesananku dan Malia sudah datang dan disajikan di atas meja,


“Nih carrot cakenya...”


Malia menyodorkan piring berisikan satu potongan carrot cake ke arahku.


Aku bilang buat Malia aja, lalu Malia menyarankan untuk bagi dua.


Terus aku bilang aku ga suka kalau wortel dijadiin kue begitu. Dan sepertinya Malia merasa heran.


Pasti heran sih, aku yang bilang ga suka kalau wortel dijadiin kue begitu kok bisa bilang itu carrot cake enak?.


“Nah tadi kamu bilang ini carrot cakenya enak? ...”


Dan tentunya pertanyaan itu tercetus dari Mulut Malia.


“Ya itu kata Shirly sih ...”


Dan itu jawabanku pada Malia.


Shirly, gadis setengah tomboy yang ada manis dan lucunya.


Dan carrot cake itu, adalah dessert favoritnya.


**

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2