WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 244


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Ir, gue menghargai persahabatan kita selama bertahun – tahun... Amat sangat berterima kasih, karena sedikit banyak lo ada jasanya dalam gue menentukan pilihan profesi yang gue ambil, dan pilihan gue tepat karena bantuan juga dukungan lo... Tapi maaf Ir. Gue udah nikah sekarang. Gue punya istri yang harus jadi prioritas utama gue... Sorry, gue ga bisa nemuin Argan apapun yang terjadi...”


Ada Reiji yang sedang tersambung pada panggilan telepon dengan Shirly yang menghubunginya lebih dulu.


Dimana Shirly meminta Reiji untuk datang lagi ke apartemennya karena anak lelakinya sedang mengalami panas tinggi dan selalu menyebut nama Reiji.


"Seenggaknya nanti kalau kesalahpahaman gue dan Lia selesai. Gue tetap butuh ijin dia andai harus mengunjungi Argan."


Namun atas dasar Reiji telah mengingat janjinya pada Malia untuk menjauhi Shirly, ditambah Malia telah memergokinya masih menemui Shirly dengan sembunyi – sembunyi dibelakang istrinya itu --- walau pada konteksnya ada alasan kemanusiaan – katakanlah begitu, mengapa Reiji sampai mengingkari janjinya pada Malia.


“Tapi Ji---“


“Gue udah bilang sama lo kemarin. Kalo kemarin itu adalah kali terakhir gue dateng ke tempat lo, nemuin lo. Dan itu berarti berlaku juga untuk Argan---“


“Lo tega banget, Ji,” tukas Shirly dari seberang ponsel Reiji dengan suaranya yang terdengar lirih, membuat Reiji menghela nafasnya sedikit berat.


Tega tak tega sebenarnya Reiji. “Sorry Ir. Lia sebenarnya ga suka kalo gue terlalu deket sama lo... dan selama ini gue yang jarang nongol di grup atau gabung sama kalian itu, demi menghormati keinginan Lia. Gue udah janji sama Lia sebenarnya, tapi apa yang terjadi sama Argan kemarin dan gue jadi kelewat fokus sama Argan sampe gue ngelupain janji gue sama Lia, selain gue juga ga ingin menyinggung perasaan lo, makanya gue selalu cari alasan buat ga ikut ngumpul---“


“Ini bukan buat gue, Ji. Buat Argan! Lo kasih pengertian dong sama istri lo yang cemburuan itu?!” tukas Shirly yang suaranya menjadi agak meninggi. “Kalo gue mau, dari setelah gue cerai, gue udah pepet lo, Ji! Karena gue tau lo punya perasaan sama gue!” tambah Shirly.


“Dulu ya, Ir!” gegas Reiji. “Dulu. Dan tolong jangan ungkit masa lalu,” tambahnya. “Dan gue ga suka lo ngomong gitu,” kata Reiji lagi. “Gue rasa pun wajar kalo Lia cemburu---“


“Tapi dia cemburu buta! Ga jelas!” sambar Shirly. “Dan lo kenapa sih ga bisa tegas sama dia?! Lo tinggal jelasin kalo kita cuma sahabatan! Dan gue heran ya, lo bisa kepincut sama perempuan kasar macem dia---“


“HEI IR!”


Suara Reiji yang meninggi kemudian terdengar.


“Sorry Ji, gue---“


“Lo ga berhak menilai Lia---“


“Iya gue tau, tapi kan---“


“Lo denger ini baik-baik.”


Reiji bicara dengan mengabaikan Shirly yang beberapa kali menyergah ucapannya itu.


“Ji---“


“Mulai sekarang, gue putuskan hubungan persahabatan gue sama lo... Gue ga mau hubungan pernikahan gue hancur, terlebih, gue ga mau kehilangan Lia. Makasih.”


****


REIJI


Aku merasa kejam pada Irly sebenarnya.


Tapi aku amat sangat tidak ingin jika hubunganku dan Lia terancam.


Dan lagi aku merasa tak terima juga dengan Irly yang mengatakan hal yang menurutku negatif tentang Lia.


Meskipun benar apa yang Irly katakan jika Lia cemburu buta, namun hatiku sungguh tidak senang mendengar Irly berkomentar negatif tentang Lia.


Jadi aku mengambil sikap saja sekalian. Kebetulan juga Irly seolah membuat masalah denganku dengan mengucapkan cibiran tajam soal Lia, maka aku to the point memberikan penegasan padanya tentang aku yang tidak ingin lagi bersahabat dengannya.


Dan benar-benar aku wujudkan dengan langsung memblok nomor kontak Irly dari ponselku, tepat setelah aku memutuskan sambungan teleponku dengannya tadi.


Terserahlah bagaimana tanggapan para sahabatku yang lain jika Irly mengatakan hal ini pada mereka.


Bagiku yang terpenting sekarang adalah hubunganku dengan Lia. Dimana istriku yang sedang ngambek berat itu berada saat ini.


Karena sudah dua puluh empat jam sekarang, aku masih tidak dapat kabar dari Lia. Ingin mencoba tenang menunggunya pulang, karena sebelumnya juga hitungannya aku dapat bertemu dengan Lia lagi setelah dia bersembunyi saat ngambek padaku yang tak datang di perayaan ulang tahunku yang telah Lia persiapkan, kurang lebih ya 24 jam juga.


Tapi ya sulit juga untuk mencoba tenang sebelum tahu dimana Lia berada.

__ADS_1


****


“Perasaan gue ga enak... ini udah lebih dari dua puluh empat jam,” gumam Reiji setelah ia melirik jam dinding di ruang tamu apartemennya dan Lia, ketika waktu 24 jam telah terlewati, namun ponsel Malia masih tidak dapat dihubungi.


Yang pada akhirnya Reiji menghubungi adiknya untuk mencari tahu tentang Malia, dengan alibi bahwa ia dan Lia sedang bertengkar, tanpa Reiji memberikan detailnya pada adik perempuannya itu.


“Pa, Ma... maaf. Aku dan Lia sebenarnya sedang bertengkar dari kemarin...”


Reiji yang sudah merasa tak sabar itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Malia dan jujur pada kedua mertuanya itu yang kemudian ikut mencari tahu tentang Malia dengan menghubungi para kerabat mereka.


Sementara Reiji menghubungi adik perempuannya lagi, berikut orang tuanya yang tak lama datang ke rumah orang tua Malia setelah Reiji mengatakan Malia yang katakanlah sudah lebih dari dua puluh empat jam menghilang.


Lalu baik Reiji, orang tua dan adiknya berikut orang tua Malia kian dilanda kepanikan, dimana jam terus berlalu melewati 24 jam dengan Malia yang tanpa kabar, namun ponsel istri Reiji tetap saja masih tidak aktif.


“Kamu ga punya nomor telfon orang kantornya Lia, Ji?” tanya papanya Reiji pada putranya itu.


“Engga, Pa...”


Reiji menjawab cepat.


“Tapi aku tau harus cari tahu ke siapa.”


Reiji pun teringat pada Andra.


“Ga ada yang tau. Lia ga ada hubungi mereka dari sejak pulang kantor.”


Reiji berucap setelah dari Andra dia mendapatkan semua nomor telefon rekan satu divisi Malia di kantor yang langsung satu-satu Reiji hubungi.


“Ya udah kita tenang dulu.” Papanya Malia berucap. “Papa udah hubungi Om Fakih. Dia akan bantu cari Lia,” tambah papanya Malia. “Nanti ada anak buahnya yang akan telefon minta informasi---“


****


“Gimana Pa?”


Sudah hampir dua kali dua puluh empat jam kini, Malia tidak ada kabarnya.


“Anak buahnya Om Fakih sudah mengecek CCTV di komplek apartemen temen kamu itu dan melihat Lia menaiki sebuah taksi di lobi. Mereka masih mengecek nomor taksi yang Lia gunakan itu, jadi bisa tau kemana dia anter Lia.”


“Eh---“


“Kenapa, Pa?...” tanya Reiji langsung ketika ayah mertuanya nampak sedikit terkesiap.


“Ini Papa dikasih info kalo dari CCTV di waktu sebelum Lia naik taksi, Lia turun dari mobil di depan lobi komplek apartemen kamu pas dia datang ke sana---“


“Taksi online kali.”


Mamanya Reiji yang nyeletuk.


****


REIJI


Aku berikut kedua orang tua dan mertuaku serta adikku yang sedang dalam perjalanan dari Jogja ke Jakarta setelah mendengar jika Lia dianggap menghilang, benar-benar dirundung kekhawatiran dan ketakutan tentang keadaan Lia.


Kami bahkan menghubungi rumah sakit yang ada di Jakarta, walaupun amit-amit jangan sampai Lia mengalami hal buruk hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Namun setelah dipikir-pikir lagi, jika amit-amitnya Lia mengalami kecelakaan, pasti ada pihak rumah sakit yang menghubungiku atau orang tuanya.


“Iya, halo?”


Aku mendapatkan panggilan telepon dari orang yang bertanggung jawab atas pekerjaanku.


“Pak Reiji, saya sudah mengirimkan draft jadwal ke email Bapak. Apa sudah Bapak cek?”


Panggilan itu dari Raka. Asprinya tangan kanan bos besar maskapai tempatku bekerja secara khusus padanya. “Oh iya Pak Raka, terima kasih infonya. Nanti saya cek.”


“Baik, Pak Reiji... Tapi besok Bapak kiranya datang ke kantor pusat dulu, untuk mengganti meeting yang kemarin batal, baru setelahnya Pak Rei dan Pak Agnan akan berangkat bersama Tuan Varen dan Jonathan dan istri mereka ke Bandara.”


"Besok?..."


"Iya, Pak Reiji dan Pak Agnan ada jadwal untuk besok mengantar Tuan Alva dan Tuan Jonathan dan istri serta anak mereka juga ke Bali. Baru lusa anda akan mengantar mereka ke Italia."

__ADS_1


"Mohon maaf Pak Raka, saya kebetulan sedang ada urusan keluarga yang mendesak. Jadi kiranya saya mau minta ijin selama dua hari ke depan bahkan... Minta tolong jadwal untuk saya direvisi, karena saya benar-benar tidak bisa bertugas dalam satu dua hari ke depan..."


Terkesan tidak profesional memang, tapi mau bagaimana? Aku tidak mungkin dapat bekerja dengan kondisi Lia yang kini dianggap benar-benar menghilang. Dan dari sekian lama track record-ku sebagai seorang Pilot, baru ini aku sedikit tidak profesional.


"Pak Reiji, anda tahu kan jika Tuan Alva adalah orang yang krusial soal kedisiplinan dalam bekerja?" ucap Raka, mengingatkanku tentang betapa strength satu bos besarku itu memang soal pekerjaan.


"Iya, saya tau, Pak Raka---"


"Saya akan melaporkan terlebih dahulu tentang ketidakbersediaan anda ini pada Pak Omar..."


"Baik. Terima kasih sebelumnya, Pak Raka..." ucapku pada Raka.


Yang kemudian menjawab ucapanku dan memutuskan sambungan telepon sesudahnya.


Aku tinggal menunggu nasibku sebagai pilot pribadi satu keluarga pemilik maskapai tempatku bernaung selama ini, setelah aku bersikap tidak profesional begini.


---


Mati!


Ponselku berdering, dan itu adalah panggilan langsung dari salah satu bos besarku yang sedang menghubungiku—tak lama setelah aku mengatakan pada Raka, jika aku ijin tidak bisa terbang sesuai jadwal besok dan meminta untuk libur secara mendadak.


Aku pikir atasan Pak Omar----atasan langsungnya Raka yang akan menghubungiku. Tapi ini bos besar langsung yang jarang sekali berkomunikasi denganku, selain jika kami bertemu dalam aku sedang bertugas.


Tapi satu Tuan Muda ini pernah juga mengatakan padaku secara langsung untuk menyimpan nomor ponselnya dan silahkan menghubunginya apabila aku memiliki kendala atau keluhan dalam pekerjaan. Yang mana pernah aku minta bantuannya satu kali kala aku sedang memastikan keberadaan Lia di hotel milik keluarganya.


“Iya, Pak Alva? Selamat sore...”


Aku langsung menyapa setelah aku menggeser ikon warna hijau di layar ponselku.


Pasti satu Tuan Muda ini menghubungiku karena aku yang membatalkan jadwalku secara sepihak dan minta libur secara mendadak.


Karena setahuku----seperti yang Raka katakan, jika satu Tuan Muda ini amat sangat disiplin jika menyangkut tanggung jawab profesi setiap pekerjanya.


Yang desas-desusnya bilang, satu Tuan Muda dari keluarga yang mempekerjakanku ini, bahkan lebih strength daripada para ayahnya. Bahkan punya kuasa untuk mengambil keputusan tanpa harus menunggu persetujuan para ayahnya yang banyak itu.


Ketar-ketir juga sebenarnya, karena yang aku tahu jika satu Tuan Muda ini adalah tipe orang yang tidak suka jika urusan pekerjaan dicampurkan dengan urusan pribadi. Karena alasanku pada Raka adalah aku ada urusan keluarga yang mendesak.


Dan saat satu Tuan Muda ini merasa tidak suka, dia akan sanggup melakukan apa saja. Begitu sih, desas-desusnya.


“Semendesak apa urusan keluarga anda, Pak Rei?...” begitu ucapan satu Tuan Muda dari satu keluarga yang mempekerjakanku itu, tanpa menjawab salamku selain datar sekali nada bicaranya.


Bayang-bayang pemecatan sudah menari di kepalaku mendengar datarnya suara satu Tuan Muda ini, bahkan suaranya itu dingin terdengar bicara padaku, tidak seperti sebelumnya.


****


“Mohon maaf sebelumnya, Tuan Alva. Istri saya sudah hampir dua hari menghilang. Dan saya tidak bisa tenang sebelum dia pulang atau saya tahu keberadaannya. Tapi jika anda menganggap saya tidak profesional dan ingin memecat saya, saya akan menerimanya, Tuan. Atau jika anda ingin menjatuhkan denda karena menganggap saya menyalahi kontrak kerja, pun saya akan terima.”


Yang Reiji kemudian katakan pada salah satu bos besarnya tersebut, dimana Reiji memilih jujur saja pada akhirnya pada satu Tuan Muda dari keluarga yang mempekerjakannya itu.


'Terserah deh, kalo Tuan Alva mikir gue mengada-ngada.'


Reiji pasrah saja sudah soal pekerjaannya.


Baginya saat ini, Lia yang paling penting. “Sekali lagi saya mohon maaf, saya tidak mungkin dapat bekerja sebelum istri saya pulang atau ada kabar tentangnya. Jadi---“


“Kau datang ke kediaman keluargaku sekarang,” tukas salah satu bos besar Reiji yang ia panggil dengan Tuan Alva itu.


Reiji terkesiap, sedikit bingung.


"A-apa, Tuan?---"


"Kau datang ke kediaman keluargaku dan temui aku di sini."


“Tapi saya sedang menunggu kabar dari polisi---“


“Datang ke kediaman keluargaku sekarang jika kau ingin cepat menemukan istrimu.”


*******

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2