
Selamat membaca....
****************
MALIA
Aku sudah sangat ketakutan.
Irsyad yang bersamaku sekarang sudah jauh dari sosok Irsyad yang pernah aku kenal.
Atau memang aku yang tidak benar – benar mengenalnya?
Entahlah, aku tidak ingin pedulikan itu sekarang.
Yang aku pikirkan saat ini, hanyalah bagaimana caraku kabur dari Irsyad.
Harus kabur, lalu mencari pertolongan agar Rei yang aku yakini sudah menyadari jika aku tak sekedar menghindarinya itu tidak sampai datang ke tempat di mana Irsyad menawanku.
Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada suami yang sudah aku cintai itu, setelah Irsyad menunjukkan sebuah senjata api padaku dan melontarkan kalimat ancaman yang membuatku merasa sangat ngeri dan takut serta khawatir jika Rei sampai terluka, atau bahkan terancam nyawanya atas dasar Irsyad yang nekat.
Tidak, aku tidak ingin itu terjadi.
Atas dasar itu, aku yang sudah merasa gemetar ini, sudah memikirkan cara lain untuk dapat kabur dari Irsyad.
Dimana aku tidak berhasil kabur melalui jendela, karena jendela dalam kamar tempat Irsyad menawanku itu terpasang teralis.
Dan akses pintu yang terhubung dengan balkon terkunci. Yang tidak ingin aku paksa buka dengan menggunakan sesuatu untuk memukul knobnya, karena takut menimbulkan suara. Lalu Irsyad akan tahu jika aku berusaha kabur darinya dan ia bisa saja melakukan hal yang aneh – aneh padaku.
Tidak, tidak.
Amit – amit jabang bayi.
Sempat sih berpikir untuk memecahkan kaca pintu balkon tersebut, tapi aku memprediksikan kemampuanku dan kecepatan Irsyad menangkapku lagi.
Yang mana aku rasa, jikapun aku harus bergerak cepat dengan loncat dari balkon yang sepertinya ada di lantai dua --- aku bisa saja jatuh dengan kaki yang terkilir atau bahkan patah. Dan usaha kaburku akan sia – sia.
Jadi apa yang tersirat di pikiranku kemudian adalah, aku harus merubuhkan Irsyad.
Membuatnya hilang sadar, agar aku leluasa keluar lewat satu – satunya jalan keluar yang ada di kamar tempatku berada ini.
Pintu kamar tempat Irsyad menawanku. Dimana kesempatan untuk bisa keluar dari pintu itu, aku dapatkan saat Irsyad datang dengan membawakanku makanan dan minuman.
“Ya sudah, aku tinggal dulu, ya?”
Aku sudah mengambil ancang – ancang, saat aku memperhatikan gelagat Irsyad yang hendak pergi dari kamar tempatku berada ini.
Sebuah pot bunga yang ada di atas meja dekat sofa yang aku duduki, sudah aku incar jika memang kesempatan untuk merubuhkan Irsyad datang.
Aku tidak menyahut saat Irsyad berpamitan, pun tidak menoleh. Agar dia tidak memprediksikan rencana kaburku untuk menyerangnya terlebih dulu.
Tapi aku memperhatikan gerak – geriknya dengan ekor mataku.
Dan ketika aku merasa Irsyad telah berbalik badan, lalu menggerakkan kakinya menuju pintu kamar, aku menoleh cepat untuk memastikan.
Dimana aku juga telah menyambar sebuah pot bunga hiasan yang ada di atas meja dekat sofa tempatku duduk sambil aku bangkit berdiri dengan cepat dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara.
****
BRUKK!
Malia yang sudah mengumpulkan segenap keberaniannya itu, menghantamkan pot bunga hiasan yang sudah diraihnya ke bagian belakang kepala Irsyad dengan cukup keras.
“AKH!”
Irsyad langsung terdengar memekik kesakitan.
Sekaligus Irsyad nampak limbung di tempatnya.
Dan Malia memanfaatkan Irsyad yang agak terhuyung itu.
BRUKK!
Kali ini Malia mendorong cukup keras tubuh Irsyad, dan istri Reiji itu langsung melesat ke arah pintu kamar.
“LIA!”
Teriak Irsyad dari tempatnya.
__ADS_1
Tapi Malia tidak menghiraukan teriakan Irsyad itu.
Malia fokus memprediksi letak pintu bangunan tempatnya berada yang Malia yakini adalah sebuah rumah atau Villa di luar Jakarta, karena dari jendela kamar tempat Irsyad menawannya --- nampak hamparan hutan pinus di luar bangunan tersebut.
Dimana wajah Malia kemudian nampak sumringah setelah pintu masuk Villa ia lihat.
Malia yang sudah berlari dari sejak ia mendorong Irsyad itu langsung meraih knob pintu tersebut.
****
‘SIAL!‘
Malia merutuk tajam dalam hatinya, saat ia berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci.
Lalu Malia mencari kunci pintu tersebut di sekitarannya dengan cepat, termasuk berjinjit untuk menggapai ruang kusen di atas pintu.
“Kamu tidak akan menemukan kunci pintu itu disana—“
Gluk!.
Malia menelan amat ketat salivanya, sekaligus tubuhnya spontan membeku ketika satu kalimat itu terdengar di belakangnya.
Namun sebentar saja Malia membeku, setelahnya ia berbalik cepat hingga kemudian berhadapan dengan Irsyad dalam jarak.
“Biarkan aku pergi Irsyad! ....”
Malia memekik tajam kemudian.
“Sudah aku bilang, kamu milik aku. Dan tempat kamu adalah di sisi aku mulai sekarang ....”
****
“AKU GA SUDI!”
Malia menyergah dengan kasarnya ucapan Irsyad yang mengatakan jika Malia adalah miliknya.
“TOLOONGG!—“
DAK! DAK!
****
“TOLOONGG! ....“
Dan berteriak dengan gusar sekali lagi sambil tetap menggedor – gedor pintu Villa, tempatnya di tawan oleh Irsyad.
Sementara itu, Irsyad nampak tenang saja di tempatnya memperhatikan Malia yang sedang begitu gusar menggedor pintu dan berteriak.
Irysad tak menunjukkan ekspresi apapun kala ia sedang memperhatikan Malia yang mencoba meminta pertolongan, karena tahu betul suasana sekitar villa tempat ia menawan Malia itu.
Tak nampak juga ekpresi kesakitan dari Irsyad, meski kepalanya sempat di hantam pot bunga kayu dengan cukup keras oleh Malia.
Sempat merasa kesakitan serta terkejut karena tindakan Malia yang menghantam kepalanya dengan sebuah pot bunga kayu, bahkan sempat limbung dan terhuyung hampir terjerembab tajam bahkan kala Malia mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Namun sekarang Irsyad nampak berdiri tegak di tempatnya.
Seolah dia tidak pernah mendapatkan penganiayaan dari Malia. Dan sunggingan miring tampak di sudut bibir Irsyad.
‘Jendela!’ disela dirinya berteriak meminta pertolongan sembari menggedor – gedor pintu Villa, Malia melirik ke arah jendela yang ada di samping pintu tersebut.
Dan Malia melihat celah pada jendela tersebut.
‘Ga ada teralisnya!’
Malia merasa ada harapan untuknya setelah tidak berhasil kabur dari pintu.
Namun sayangnya, tepat di saat Malia ingin meraih kaca jendela di samping pintu Villa yang sempat ia gedor – gedor dengan kencang itu --- Irsyad keburu menggapai tubuh Malia.
“LEPAAAASSSSS!!! ....” Malia sontak berteriak kencang, sambil ia meronta. Namun Irsyad merengkuh ketat tubuhnya. Dan semakin Malia meronta, Irsyad semakin menguatkan rengkuhannya pada tubuh Malia.
****
“Kamu harum, Lia.”
Malia meronta dan berteriak, namun Irsyad malah nampak tenang – tenang saja, tetapi ia menggunakan tenaganya untuk membuat Malia berada dalam pelukannya dengan Irsyad yang merangkul Malia seraya mengunci tubuh Malia agar tidak lepas dari cengkramannya.
“Dan aku menyukai harum tubuh kamu ini. Sangat—“
“Tolong .... Lepaskan aku, Irsyad—“
__ADS_1
“Tidak akan pernah—“
“Lepaskan aku, aku mohon—“
“Tidak akan pernah aku biarkan laki – laki itu memiliki kamu lagi!”
“Dia suamiku!”
Malia menyergah kasar sambil lagi meronta.
“Tapi dia sudah mengkhianati kamu, tau?! Masih kamu mengharapkan laki – laki bajingan seperti itu?!—“
“KAMU YANG BAJINGAN!” teriak Malia dengan membalas ucapan Irsyad yang merutuki Reiji dengan tajam.
DAK!
Malia menendang kaki Irsyad, kemudian Malia berlari ke sembarang arah.
“LIA JANGAN BUAT AKU MARAH!”
Namun Malia tidak mempedulikan teriakan teramat geram Irsyad itu.
Lalu membuang apapun yang Malia lihat dan dapat tangannya gapai, kemudian melemparnya ke arah Irsyad yang selalu dapat mengeles dari lemparan Malia.
“AKH!”
Hingga aksi Malia terhenti, kala ia tersandung ujung karpet dekat di area meja makan.
Dan dengan cepatnya, Irsyad kembali menangkap tubuh Malia. “Kamu membuat kesabaranku habis, Lia!—“
“Lepaskan aku bajingan!—“
“Aku bajingan yang mencintai kamu dengan tulus, Lia,” Irsyad menjawab rutukan kasar Malia yang kedua padanya. “Dan kamu telah berlaku sangat kasar pada laki – laki yang mencintai kamu dengan tulus ini ... Untuk itu, aku ingin meminta ganti rugi.”
“A – pa maksud, kamu??—“
“Akan aku buat suamimu itu jijik padamu, Sayang.”
Irsyad lalu menyeret tubuh Malia menjauh dari pintu menuju ke satu kamar.
“Aku benci kamu, Irsyad!”
Malia mencoba menahan dirinya yang sedang diseret Irsyad menuju ke satu kamar.
“AKU MENCINTAI SUAMI AKU!”
“DIAM!”
Irsyad yang tadi tenang kini nampak gusar, dengan rona kemarahan di wajahnya yang terlihat jelas.
“Batas kesabaranku sudah habis untuk memperlakukan kamu dengan lembut. Aku tidak akan menunda lagi untuk membuat kamu benar – benar menjadi milik aku!”
Malia menggeleng kuat, dan ia mulai menangis ketika dirinya telah di bawa Irsyad ke dalam sebuah kamar yang ada di lantai satu villa.
Nafas Malia sudah terengah – engah, karena tenaganya sudah Malia rasa hampir habis dalam usahanya melarikan diri dari Irsyad, selain Malia kurang asupan makanan.
Irsyad masih mengunci tubuh Malia yang kemudian dihempaskan ke atas ranjang, namun Irsyad memegangi kedua tangan Malia dengan kuat menggunakan satu tangannya, sementara satu tangan lain Irsyad membuka mengambil sesuatu dari dalam tas pinggang yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
Selain Irsyad juga mengapit kedua kaki Malia dengan kedua pahanya. Air mata Malia sudah tumpah ruah.
Dimana Malia masih terus meronta, hingga kemudian Irsyad melepaskannya setelah menyuntik Malia dengan alat suntik yang ia keluarkan dari dalam tas pinggang di atas nakas tadi.
Malia sempat meringis ketika ia merasakan salah satu bagian kulitnya tertusuk sesuatu.
Lalu mencoba berdiri setelah Irsyad tak lagi mengunci tubuhnya. Bahkan Irsyad bergerak mundur dari tempatnya.
Namun mata Irsyad memperhatikan Malia yang sedang berusaha bangkit, namun tubuhnya nampak limbung.
Malia merasakan pusing di kepalanya, namun ia masih menggunakan sisa tenaganya untuk mempertahankan harga dirinya dengan mencoba meraih lampu duduk yang kemudian ia lempar ke arah Irsyad.
Namun tak selang berapa lama, Malia mulai merasakan keanehan di tubuhnya dan matanya menangkap Irsyad tersenyum miring sambil memandanginya, serta juga mendengar ucapan Irsyad padanya.
“Sebentar lagi, kamu sendiri yang akan memintaku menyentuh kamu, Lia.”
*******
Bersambung ....
__ADS_1
Terima kasih masih setia.