
Selamat membaca...
Terima kasih masih setia.
***
Malia seketika tertegun ketika ia sudah berdiri dari duduknya untuk pergi membersihkan diri seperti anjuran Reiji yang sedang hendak membakar foto-foto yang berisikan gambar kebersamaan Malia dan laki-laki yang Reiji juluki sebagai ‘Si Bibit Pebinor’, ketika Malia tanpa sengaja melirik Reiji yang sedang mengumpulkan foto-fotonya dan Irsyad, dimana ada satu foto yang menarik atensi Malia.
“Eh?......”
“Kenapa? ----“
“Foto ini......” ucap Malia yang sekaligus juga menjawab pertanyaan spontan dari Reiji ketika melihat istrinya itu terkesima memandangi satu foto. Dimana satu foto tersebut----yang ada di tumpukan paling atas setelah Rei menyusunnya, kini sudah Malia angkat dan pandangi dengan intens.
Foto yang membuat Malia terheran-heran, pasalnya Malia ingat betul dengan pakaian yang dirinya kenakan di foto yang sedang Malia pegang dan perhatikan itu.
Bahkan pakaian tersebut juga masih di dalam tas laundry bersama beberapa potong pakaian kotor lain yang hendak Malia bawa ke sebuah gerai laundry yang ada di dalam bagian gedung apartemen tempat tinggalnya dan Reiji saat malam selepas makan nanti atau esok hari.
Termasuk background area yang terfoto di sekitar Malia dalam foto yang sedang ia perhatikan itu pun masih Malia ingat jika itu adalah area tempat dirinya memarkirkan mobil di sebuah supermarket yang menyediakan ragam kebutuhan orang-orang.
Dan angle yang diambil pada foto itu, kiranya berasal arah yang sedikit berjarak dari tempat Malia dan Irsyad berdiri dalam foto tersebut.
Foto yang mengabadikan sesi jabat tangan Malia dan Irsyad dengan keduanya saling berpandangan dan melempar senyum, bak seorang kekasih yang hendak berpisah pulang dengan sang kekasih karena berbeda arah.
***
“Eh?......”
“Kenapa? ----“
“Foto ini......”
“Kenapa dengan foto ini emangnya, Yang? ----“
“Foto ini, kejadiannya dimalam kamu pulang dari Medan besok paginya, Rei.”
“Oh ya?” tanggap Reiji atas ucapan Malia barusan.
“Iya ..” angguk Malia.
***
Reiji mengambil selembar foto yang dipegang Malia, lalu lebih memperhatikannya. “Itu orang emang sengaja plus niat banget bikin kita ribut, Yang ----“
“Huumm ----“
“Foto ini ada orang lain yang ngambil.”
“Iya ....”
Sekali lagi Malia mengiyakan ucapan Reiji.
“Aku juga berpikir kesitu, Rei ----“
“Ya udah kamu bersih-bersih dulu sana.”
Reiji meminta Malia untuk meneruskan hal yang sempat terjeda.
Dan Malia pun patuh.
__ADS_1
***
MALIA
“Rei?” panggilku pada Rei, karena aku tidak melihatnya di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga di unit apartemenku dan Rei selepas aku keluar dari kamar mandi.
“Aku di kamar, Yang..” Dan sahutan dari Rei langsung aku dengar, ketika aku hendak melongok ke arah pantri dalam unit apartemen kami ini.
“Kamu jadi pesen makanan online, Rei?”
“Jadi dong, Yang..”
Reiji yang sedang duduk di tepi tempat tidur itu menjawab seraya memandang ke arahku yang masih mengenakan bathrobe sambil meletakkan ponsel miliknya yang saat aku masuk, Rei nampak sedang sibuk dengan benda tersebut.
“Nanti istri aku kelaparan. Kurang tenaga pas aku ajak main kuda-kudaan? Kurang gereget nanti.”
---
“Dasar mesum!”
Aku sontak mencebik selepas Rei berucap tentang hal yang menjurus ke olahraga ranjang, dengan memasang wajah konyolnya.
Lalu Rei terkekeh kecil sambil ia menarikku, hingga aku terjatuh pelan di atas pangkuannya. “Ish!” aku spontan berdesis kecil.
Rei mendengus geli seraya tersenyum selepas aku mendesis lalu mencebik, ketika aku telah berada di atas pangkuannya.
“Kalo ga takut nanggung kepotong sama abang ojol yang nganter makanan pesenan aku, udah aku makan duluan kamu, Yang..” ucap Rei.
Sambil Rei mengusel di ceruk leherku. “Oh iya, Rei..” Aku berucap sambil mengusap kepala berikut rambut Rei, yang orangnya sedang mengusel di ceruk leherku itu.
Rei menyahut hanya dengan deheman samar, karena sekarang ia sedang sibuk mengecupi leherku. Membuatku sedikit meremang akibat perbuatannya itu.
***
“Duuhhh ganggu kesenengan suaminya aja nih ----“
“Katanya aku harus makan dulu biar lebih bertenaga?”
Reiji terkekeh kecil selepas Malia mengatakan hal itu.
***
REIJI
Aku berhenti mencumbui ringan Lia, selepas ia berceloteh sembari merungut. Meskipun sudah ada yang mulai terasa naik di tubuhku.
Yang mana harus aku tahan dulu, agar tidak terganggu nanti andai pas lagi hot – hotnya eh malah kang ojol yang anter makanan dateng.
Jadi lebih baik aku alihkan dulu atensiku untuk melakukan hal yang iya – iya dengan Lia.
Dan kebetulan, ada yang memang aku ingin tanyakan pada istriku yang bohay itu.
Perihal satu foto terakhir yang dipegang Lia sebelum aku membakar semuanya. “Yang,” ucapku pada Lia yang masih tidak aku biarkan beranjak dari pangkuanku.
“Hm? ----“
“Soal foto yang terakhir kamu pegang tadi,” tukasku. “Kalau foto itu memang diambil dengan sengaja, bukannya itu berarti si bibit pebinor itu memang udah merencanakan dengan matang untuk membuat kita ribut besar?..” sambungku.
“Mungkin..”
__ADS_1
Lia menyahut.
“Selain aku khawatir, aku penasaran deh, Yang ----“
“Soal?..”
“Bener kamu ga pernah menjalin hubungan atau kasih dia harapan saat kamu ketemu lagi sama dia?” tanyaku.
Aku bukannya meragukan penjelasan Lia yang mengatakan jika dia dan si bibit pebinor itu memang tidak pernah ada hubungan.
“Kamu masih ngeraguin aku ya ternyata?” tukas Lia.
Dengan Lia yang menatapku sendu. Aku segera menggeleng dan mengulas senyuman padanya.
“Sama sekali engga, Yang.”
Aku berucap untuk menenangkan Lia yang sedikit menjadi murung itu.
“Aku cuma masih agak sedikit penasaran aja.”
“Kenapa? ....” tukas Lia seraya ia bertanya.
“Dia sampe sejauh ini berbuat macam gini, macem orang yang sakit hati banget karena ditinggalin sama orang yang dia cinta setelah kebersamaan mereka.”
Aku menjelaskan dengan lugas alasanku yang ingin memastikan perkataan Lia jika memang dia dan si bibit pebinor itu tidak pernah ada hubungan, baik sebelum kami dijodohkan dan setelah mereka berdua bertemu lagi ketika aku dan Lia telah resmi menikah.
---
“Jadi ya bukannya aku meragukan penjelasan kamu, Yang.”
Aku merespons dugaan Lia sebelumnya.
“Cuma sekedar memastikan.”
“Sama aja kamu ngeraguin aku kalau begitu sih menurut aku.”
***
“Iya udah maaf kalo gitu,” ucap Reiji setelah ucapan Malia sebelumnya. “Love you,” ucap Reiji lagi, setelah mengecup singkat namun lembut pipi Malia. “Jangan murung lagi mukanya.” Reiji mengapit dagu Malia dengan dua jarinya.
Malia mengulas senyuman kemudian.
Lalu Reiji melonggarkan rengkuhannya pada tubuh Malia yang sedang ia pangku itu.
Setelahnya Reiji berucap, “Aku cuma mau mastiin aja, ga lebih. Sebagai antisipasi, jika si bibit pebinor itu mencoba membuat kita bertengkar lagi dengan cara lain setelah dia tahu jika caranya yang ini gagal.”
Reiji mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
“Karena aku takutnya, dia ini -- yaa mungkin memang sangat mencintai kamu, tapi obsesinya lebih mendominasi.”
Reiji bertutur lagi.
“Cinta dan obsesi itu beda tipis. Tapi kalau cinta, ya ga harusnya dia melakukan hal seperti ini pada kamu yang jelas sudah memilih aku. Karena cinta yang tulus kan harusnya merelakan orang yang dicintai yang udah jelas memilih orang lain sebagai pasangannya ----“
“Macem kamu ke sahabat cewe kamu yang pernah kamu cintai itu? ----“
****
Bersambung.....
__ADS_1