
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
Malia dan Reiji telah duduk kembali berhadapan dengan dokter yang selama ini membimbing promilnya Malia yang telah sepakat dengan Reiji yang mencoba mempercepat takdir mereka untuk memiliki momongan, setelah sebelumnya Malia diperiksa oleh dokter tersebut untuk mengecek kondisi terbaru Malia sebelum sesi konsultasi dokter tersebut dengan Malia dan Reiji dilanjutkan.
“Gimana, Dokter Dewi?” Reiji yang lebih dulu melontarkan pertanyaan pada dokter yang bernama Dewi itu.
Dimana setelahnya, Malia langsung juga ikut bertanya pada dokter itu.
“Apa jeda waktu penghentian promil saya, harus membuat saya memulai lagi dari awal?”
“Kalau jeda waktunya sih ga mengharuskan Ibu Malia memulai lagi dari awal, karena hanya terjeda sebentar aja.”
Dokter Dewi pun segera memberikan jawabannya, lalu setelahnya menunjukkan gelagat yang membuat Malia dan Reiji seketika merasa was – was.
“ Tapi –“
“Tapi apa, Dok?....”
**
“Tapi promil bu Malia agar anda berdua bisa memiliki momongan dalam waktu cepat, rasanya tidak bisa dilanjutkan....“
“Terakhir.... bukannya kondisi istri saya dinyatakan baik ya, Dok?....”
Atas ucapan dokter Dewi sebelumnya, Reiji yang penasaran selain merasa agak was-was itu pun segera bertanya untuk memastikan. Karena barangkali dokter Dewi lupa. Pikir Reiji.
Dan pertanyaan Reiji itu, kiranya juga mewakilkan pertanyaan yang sama dari Malia. Namun Malia sedang kelu dalam diamnya. Dimana karena ucapan dokter Dewi, Malia jadi agak melamunkan dan menerka-nerka kondisi tubuhnya – pada rahim terutama, dengan pikiran yang jadi membuat khawatir dirinya sendiri.
**
REIJI
Aku was-was menunggu jawaban dokter Dewi selepas aku bertanya padanya untuk sekedar mengingatkannya – karena barangkali beliau lupa, tentang apa yang beliau ucapkan padaku dan Lia - terkait kondisi Lia pada waktu terakhir kami berkonsultasi dengannya.
Yang mana perkataan dokter Dewi yang mengatakan jika kondisi Lia cukup baik, adalah juga berdasarkan hasil pemeriksaannya.
Lia baik – baik saja. Begitu juga rahimnya.
Lalu perkara kami belum mendapat momongan, hanya soal waktu dan tentunya ijin dari Yang Maha Kuasa.
Tapi karena gelagat dokter Dewi saat awal menjawab pertanyaanku dan Lia, membuatku spontan menjadi was – was dan khawatir. Dan aku tangkap, gelagat Lia pun sama denganku.
Was – was dan khawatir.
Karena perkataan dokter Dewi. Berikut gelagatnya yang seolah ingin mengatakan ada hal yang kurang mengenakkan terkait kondisi Lia yang aku tahu dan rasakan, jika istriku itu sedang dilanda kegugupan atas was – was dan khawatirnya.
Mungkin juga takut jika dirinya dinyatakan menderita sesuatu.
Yang jelas aku merasakan kegelisahan Lia yang tangannya kurasakan mulai agak dingin.
Dan ketakutan itu pun menelusup juga ke dalam hatiku.
Bukan kemungkinan Lia ternyata tidak bisa mengandung. Amit – amit, Naudzubillah sih. Jangan sampe, namun tetap masalah anak aku serahkan pada Yang Maha Kuasa.
Dan semua ketentuan dalam hidup manusia memanglah sudah Dia yang mengaturnya.
Namun begitu, aku memiliki ketakutan pada takdir tersebut sekarang. Tentang kondisi Lia.
Aku takut Lia menderita sesuatu, yang tidak hanya berhubungan dengan tidak dapat hamil – namun juga membahayakan nyawanya.
Tidak Ya Allah, jangan sampai.
**
Reiji dan Malia memiliki kekhawatiran dan ketakutan yang sama sekarang ini, namun Reiji mencoba menenangkan dirinya agar Malia tidak tambah gelisah – karena meski diam, Reiji menangkap Malia yang pandangannya sedang nanar.
Dan Reiji mengusap lembut punggung tangan Malia yang sedang ia genggam. Kemudian mengulas senyuman pada Malia yang menoleh padanya setelah Reiji mengusap lembut punggung tangannya itu. Dimana Malia yang terkesiap kecil karena melamun itu, mengulas senyuman tipis pada Reiji saat ia menoleh selepas merasakan usapan lembut Reiji di punggung tangannya.
Lalu Reiji dan Malia kembali mengalihkan pandangan mereka kepada dokter perempuan yang ada di seberang meja praktik di depan keduanya. Kemudian dokter tersebut yang wajahnya menampakkan ekspresi ramah, terdengar suaranya menjawab pertanyaan Reiji tadi.
“Sangat baik bahkan,” begitu dokter Dewi berkata.
“Lalu.... kalau memang yang terakhir hasilnya sangat baik, kenapa sekarang menjadi tidak baik, Dok?”
Membuat Reiji spontan bertanya – karena sedikit banyak dia jadi merasa ambigu.
“Saya tidak bilang hasilnya tidak baik,” jawab dokter Dewi yang membuat Reiji dan Malia menjadi agak bingung selain penasaran.
Dimana Malia kemudian buka suara, “Tapi tadi Dokter bilang kalau promil saya tidak bisa dilanjutkan,” ucap Malia.
Terdengar ragu, namun fokus memandang pada dokter Dewi seperti halnya Reiji yang saat Malia berkata sempat menoleh kepada istrinya itu dan mengangguk mengiyakan ucapan Malia.
**
“Untuk apa dilanjutkan?....“ dokter yang bernama Dewi itu segera merespons ucapan Malia, dimana ucapannya itu membuat sepasang suami istri di depannya nampak kompak mengernyit.
Bingung, karena ucapan dokter Dewi kembali membuat Malia dan Reiji rasa ambigu. Terlebih dokter wanita itu mengulas senyuman, sambil tangannya menyentuh monitor pc yang ada di atas meja praktiknya.
Yang kemudian monitor tersebut ia putar hingga menghadap ke arah Malia dan Reiji. “Kalau sudah menuai hasil....” sembari juga dokter Dewi berkata.
“Maksud.... Dokter....”
Dimana perkataan dokter Dewi itu membuat Malia dan Reiji sama tergugu.
“Calon Bapak Reiji dan Ibu Malia junior sudah hadir.... jadi program kehamilan tidak perlu lagi dilanjutkan. Karena setelah ini, program yang harus Ibu Malia jalani dengan dukungan Pak Reiji adalah menjaga janin dalam perut Ibu Malia berkembang dan tumbuh dengan sehat sampai tiba waktunya dia lahir nanti....”
Dan dokter Dewi kembali berbicara dengan sedikit panjang.
__ADS_1
“Belum berbentuk,” ucap dokter Dewi lagi. “Tapi ini calon bayi anda berdua.” Sambil ia menunjuk satu titik pada layar monitor pcnya yang menampilkan gambar yang merupakan hasil usg rahim Malia.
**
“Ja-di, saya udah hamil, Dok?....” gugu Malia bertanya pada dokter Dewi langsung mengangguk dengan juga tersenyum pada Malia.
“Iya, Ibu Malia.” ucap dokter Dewi kemudian.
Dimana Malia langsung saja menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca dan masih memandangi monitor pc dokter Dewi.
“Selamat ya, Ibu Malia? Selamat juga Pak Reiji,” ucap dokter Dewi lagi, sambil mengulurkan tangannya ke arah Malia dan Reiji.
“Makasih, Dok,” sahut Malia dan Reiji. Yang kemudian bergantian menerima uluran tangan dokter Dewi yang memberikan selamat kepada keduanya.
Lalu setelahnya, Reiji merengkuh Malia yang membalas rengkuhannya sambil kemudian saling melempar senyuman lebar, pun Reiji memberikan beberapa kali kecupan di pucuk kepala Malia.
Dokter bernama Dewi bersama satu suster yang mendampinginya dalam ruang praktik senyum-senyum saja melihat adegan Reiji dan Malia yang sedang saling menyalurkan kebahagiaan, apalagi saat melihat Reiji menghujani pucuk kepala Malia dengan kecupan – yang sepertinya tidak sadar dengan keberadaannya dan Malia sekarang.
Lalu setelah Reiji selesai dengan luapan kegembiraannya atas berita kehamilan Malia yang ia dengar langsung dari dokter yang selama ini membimbing dan membantunya serta Malia dalam program kehamilan, serta sudah melihat juga hasil usg rahim Malia – yang katanya sudah ada calon bayinya dan Malia di sana, kemudian Reiji dan Malia sedikit mengobrol dan bertanya – tanya seputar kehamilan Malia sekarang pada dokter Dewi.
Dan setelah rasanya puas bertanya serta cukup mendapat informasi sekaligus membuat jadwal untuk sesi janji konsultasi berikutnya, Malia dan Reiji undur diri dari hadapan dokter wanita yang bernama Dewi tersebut. Dimana senyum sepasang suami istri yang baru saja mendapat kabar bahagia itu, terus saja mengembang sejak mereka pergi dari hadapan sang dokter berikut suster yang merupakan asistennya hingga sampai Malia dan Reiji masuk ke dalam mobil Reiji.
**
Malia sedang memegangi selembar foto yang merupakan hasil usg rahimnya, saat ia dan Reiji sudah berada di dalam mobil Reiji --- dengan senyum Malia yang begitu mengembang. Pun dengan Reiji yang sama tersenyum sumringah saat ikut memperhatikan hasil usg rahim Malia tersebut. “Makasih ya, Yang.” Reiji lalu berucap sambil mengelus kepala Malia. “Makasih udah nambahin lagi kebahagiaan aku.”
Malia yang sudah menoleh saat Reiji berterima kasih padanya itu dan mengatakan sebuah kalimat manis setelahnya, tersenyum juga dengan manisnya pada Reiji. Lalu Malia menjawab ucapan suaminya itu. “Ngapain coba berterima kasih sama aku?.... Ini kan usaha kita bareng – bareng, Rei?.... Dan bukan cuma kebahagiaan kamu aja yang nambah.”
Reiji lalu mengangguk dengan dirinya yang masih tersenyum, dimana Malia menambahkan ucapannya.
“Tapi aku juga.”
“Tapi kan tetep, kebahagiaan ini ada karena kesediaan kamu buat ngandung anak aku?” Reiji kemudian berucap, sambil mengelus lembut kepala Malia. “Dan aku sangat – sangat menghargainya. Bahkan rasanya, ucapan terima kasih aku aja ga cukup buat menebus tambahan kebahagiaan yang aku dapet dari kamu ini, Yang.”
Cup!
Sekali lagi, manis ucapan Reiji – Malia dengar.
Dan karena Malia tidak memiliki stok kata – kata manis untuk membalas ucapan Reiji tadi, jadinya Malia membalasnya dengan sebuah kecupan di pipi Reiji.
Dimana si empunya pipi langsung tersenyum senang. “Ga adil kalo cuma satu pipi.” Tapi tuman. “Bibir juga....” sambil Reiji mengetuk kecil bibirnya dengan telunjuknya.
Membuat Malia jadi tersenyum geli karenanya.
Cup!
Cup!
Namun kemudian Malia melakukan apa yang Reiji minta.
**
Atas kehamilan Malia, baik Malia sendiri dan pastinya juga Reiji, sama-sama sedang berbahagia. Antusiasme keduanya dalam menyambut calon anak mereka yang padahal masih cukup lama akan hadir di tengah-tengah mereka, tidak dapat membuat Malia dan Reiji bisa diam sepanjang jalan.
“Kira-kira anak kita cowok apa cewek ya, Rei?”
“Cowok atau cewek ga masalah buat aku, yang penting sehat.”
“Kamu udah punya stok nama buat bayi kita?”
“Belum.”
“Siapin kali ya dari sekarang?....”
“Gimana kalo nanti aja pas udah ketauan jenis kelaminnya?”
“Iya juga sih, ya?”
“Tapi boleh juga sih kalo nanti sampe apartemen kita mulai pilah-pilih nama. Otak-atik nama kita berdua, siapa tau perpaduannya bisa dapet nama yang bagus buat anak kita?....”
“Oke."
**
“Nanti kita beli album foto ya Rei? Buat simpen setiap foto usg bayi kita sekalian jadiin album khusus dia –“
“Sekarang aja, gimana?.... kamu ga diminta buat balik lagi ke kantor kan?”
“Engga sih, tadi pas aku ijin sama Pak Andra aku bilang alesan sebenarnya kok. Terus dia bilang, kalopun urusan aku cepet di RS, aku ga usah balik lagi ke kantor.”
**
“Lagi ga banyak kerjaan?”
Reiji bertanya setelah mendengar jawaban Malia sebelumnya.
Malia pun menggeleng. “Engga sih” jawabnya kemudian.
“Ga ada rencana hangout sama temen kantor? Biasanya setiap senin sama jum’at kamu suka pergi karokean sama mereka? –“
“Ga ada,” tukas Malia. “Lagian ini hari gajian. Eh iya –“
“Kenapa? –“
“Cek gaji lah,” tukas Malia.
“Naik gaji emang?”
“Justru aku mau ngecek dipotong apa engga gaji aku. Banyak bolosnya kan aku?”
__ADS_1
“Ya bolos juga karena kamu kena musibah, Yang?....” sahut Reiji.
“Dah lah ga perlu dibahas....” cetus Malia, dan Reiji pun mengiyakan.
**
Malia lanjut memeriksa m-bankingnya pada ponsel.
Dimana setelah aplikasi m-bankingnya terbuka, Malia langsung melongo ketika mengecek saldo.
Malia hening, sambil nampak mengernyit heran memandangi ponselnya.
“Kenapa, Yang?”
Membuat Reiji yang saat melirik Malia mendapati jika istrinya itu nampak terkesima memandangi ponselnya kemudian nampak jemari Malia menari dengan antusias di layar ponselnya itu, sontak bertanya pada sang istri.
Beberapa detik setelahnya, Malia baru menjawab pertanyaan Reiji tadi.
“Ada transferan dari Smith’s Airlines kok ke rekening aku???? Kayaknya gaji kamu ini, Rei? Rekening kamu lagi bermasalah?”
Malia agak mengoceh kemudian, sambil memandang pada Reiji yang orangnya tersenyum lalu menjawab ocehan Malia, dimana istrinya itu nampak juga nampak heran.
“Oh itu, Mulai bulan ini, dan bulan-bulan seterusnya sama aku pensiun dan atau diberhentikan oleh mereka.... gaji aku sebagai pilot pribadinya keluarga Tuan Alva, akan ditransfer ke rekening kamu....”
**
Malia tercengang mendengar ucapan Reiji.
Kemudian dia melihat lagi saldo yang terpampang pada aplikasi m-bankingnya yang masih terbuka, hendak bertanya karena jumlah pada saldo m-bankingnya tersebut begitu Malia nilai berlimpah ruah angkanya --- namun sebelum sempat Malia berujar, Reiji sudah keburu bicara lagi.
“Itu salah satu penebusan maaf aku ke kamu yang udah melangkahi kamu karena sering memberikan uang pada Irly tanpa sepengetahuan kamu, Yang. Aku juga udah transfer balik uang yang kamu pernah transfer ke aku. Dan silahkan kamu gunakan uang itu sesuka hati kamu.”
Mata Malia agak membola setelah mendengar tambahan ucapan dari Reiji.
Sementara Reiji tersenyum manis menoleh sebentar pada Malia yang Reiji sempatkan untuk ia usap lembut juga pucuk kepala Malia.
“Tadi Pak Ommar bilang ke aku kalau hari ini gajiku akan ditransfer dan aku bilang ke dia kalo mulai bulan ini gaji aku ditransfer ke rekening kamu aja –“
“Emang ga apa – apa kalo gitu, Rei?....” tukas Malia dan bertanya.
Karena meskipun hatinya senang melihat deretan angka di dalam saldo aplikasi m-bankingnya, tetap Malia yang kadar matrealistisnya hanya dalam batas normal, merasa sedikit terganjal dengan gaji Reiji yang ditransfer ke rekeningnya.
“Ga apa – apa, Yang....” ucap Reiji. “Aku juga udah minta persetujuan Tuan Alva soal gaji aku yang ditransfer ke rekening kamu –“
“Kamu ga malu, Rei? –“
“Malu kenapa? –“
“Ya dengan gaji kamu yang ditransfer ke aku, apa engga membuat kamu jadi bahan tertawaan bos kamu dan keluarganya dan orang kantor kamu yang tahu kalo gaji kamu ditransfer ke rekening istri?....”
Reiji tersenyum mendengar perkataan Malia itu.
“Diledek sedikit sama Tuan Alva.... tapi abis itu dia bilang dia mendukung soal aku yang minta gaji aku ditransfer ke kamu, karena dia, Tuan Jo dan para ayah mereka kurang lebih sama seperti aku sekarang.... yang meski semua uang yang mereka peroleh ga ditransfer ke istri masing-masing, tapi setiap bulan mereka membuat laporan keuangan yang dikhususkan untuk ditunjukkan kepada para istri –“
“Wow –“
**
Kabar mengenai kehamilan Malia tidak hanya membuat Malia dan Reiji berbahagia. Namun kebahagiaan tersebut tentunya dirasakan juga oleh keluarga berikut para teman dan kerabat dekat dari sepasang suami istri itu, dimana orang tua Reiji dan Malia yang kiranya begitu berbahagia --- karena usaha mereka menjodohkan Reiji dan Malia, nyatanya berujung lancar dan begitu baik meski di awal pernikahan orang tua dari Reiji dan Malia sudah memperkirakan hubungan pernikahan dua orang itu akan berbeda dengan mereka yang menikah berdasarkan keinginan sendiri dengan pasangan yang memang menjadi pilihan secara pribadi.
Lalu hal lancar dan baik dalam pernikahan Reiji dan Malia yang berdasarkan perjodohan itu nyatanya berjalan lebih baik dari harapan, meski sempat ada masalah diantara Reiji dan Malia dalam mereka menjalankan pernikahan mereka itu.
Namun semuanya telah berlalu.
Bahkan Reiji dan Malia telah saling jatuh cinta dalam kurun waktu yang cepat.
Hingga cinta diantara Reiji dan Malia itu, telah membuat keduanya akan menjadi orang tua dalam beberapa bulan ke depan.
Dimana janin yang ada di perut Malia itu bukan sekedar hasil dari konsep pernikahan secara harfiah, yakni menikah lalu membangun sebuah keluarga dengan anak dalam pernikahan.
Namun janin dalam perut Malia, adalah buah dari yang namanya cinta dalam pernikahannya bersama Reiji yang memang sama-sama telah jatuh cinta sama lain. Dan anak yang ada dalam perut Malia itu, benar-benar dinanti oleh Malia dan Reiji dengan amat antusias.
Yang bukan hanya sekedar senang bisa memiliki keturunan, tapi bahagia --- karena anak yang sedang Malia dan Reiji nanti itu, hadir karena rasa cinta diantara mereka.
Dan janin dalam perut Malia menjadi mimpi atas dasar cinta satu sama lain diantara keduanya.
“REI!” teriak Malia dari dalam kamarnya dan Reiji yang ada di rumah orang tua Reiji.
Dimana dari sejak usia kandungan Malia 6 bulan, Malia dan Reiji tidak lagi menempati apartemen mereka yang sudah akan disewakan sebagai investasi.
“Kenapa, Yang?....” sahut Reiji dari dalam walk in closet karena ia sedang merapikan dirinya yang hendak berangkat untuk melakukan tugasnya sebagai pilot pribadi dari sebuah keluarga yang kadar kesultanannya di atas rata-rata. “Mau bubur yang dibelakang apartemen lagi?”
Reiji masih lanjut bicara dari dalam walk in closet. Menawarkan Malia sebelum istrinya itu meminta. Karena meski bisa dikatakan masa ngidam telah lewat, namun Malia terkadang masih saja suka nyeletuk ingin sesuatu dan harus diiyakan. Tapi tentu saja, Reiji tidak pernah mengeluhkannya.
“REI!”
Teriakan Malia terdengar lagi.
“Iya Malia sayang.... sebentar –“
“REIII!!!!! INI KAYAKNYA AKU MAU LAHIRAN SEKARANG! KEPALA BAYINYA UDAH NYUNDUL –“
“HAH???!!!! –“
**
**
MENUJU UJUNG WAKTU AKHIR CERITA REIJI DAN MALIA.
__ADS_1
MAKASIH SAMPAI SINI, UNTUK KALIAN YANG MASIH SETIA.
LOPH, LOPH SEKEBON ORANG.