WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 282


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


REIJI


“Maafin aku, Yang.... Maaf.... hukuman apapun aku terima.... tapi tolong.... jangan melangkah pergi.... jangan.... Yang.... jangan....”


Yang aku katakan dengan sungguh-sungguh pada Lia, saat aku telah menyambanginya ke dalam kamar kami.


Karena memang seperti itu perasaanku sekarang.


Takut jika Lia meninggalkanku dengan dirinya yang kukuh meminta perceraian dariku.


Dan jika Lia masih bersikukuh akan itu—meminta talak dariku, aku pun sudi untuk berlutut di depannya. Persetan dengan harga diri sebagai laki-laki dan suami. Aku hanya ingin mempertahankan perempuan yang aku cintai—pun rumah tanggaku bersamanya.


Dan saat Lia tidak menunjukkan protes atau sikap antipatinya kepadaku kala aku memeluknya setelah adanya ketegangan yang cukup menguras emosi diantara kami, aku merasa lega—merasa memiliki harapan untuk sebuah kesempatan agar mendapat maaf dari Lia.


Juga meminta agar dia tak lagi membahas soal perceraian, ataupun berpisah sementara dariku, karena yang sementara itu bisa jadi permanen apabila diberi celah. Dan aku tidak akan membiarkan kehadiran celah itu diantara aku dan Lia.


Jadi sekarang, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan maaf dari Lia berikut membuat Lia tak lagi memiliki keinginan untuk bercerai dariku.


Yang mana sepertinya aku berhasil.


Walau Lia tidak mengucapkan secara langsung jika ia menerima maafku, tapi sikapnya membuatku berpikir jika aku masih memiliki harapan untuk memperbaiki diriku menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Lia. Namun aku yakin, jika Lia dapat merasakan ketulusan dan kesungguhanku yang mengiba untuk sebuah permintaan maaf darinya itu serta juga urung untuk meninggalkanku—ataupun memintaku menjatuhkan talak padanya.


----


Wajah Lia sudah tidak penuh amarah lagi padaku, pun tidak menatapku dengan tatapan permusuhan kala ia sudah berbalik badan, lalu membuat dirinya berhadapan padaku.


Namun aku belum bisa tenang, sebelum aku mendapatkan kepastian dari mulut Lia, jika ia tidak akan menyinggung soal perceraian lagi atau apapun yang berkaitan dengan perpisahan kami.


Jadi aku mengatakan pada Lia, jika aku sanggup melakukan apapun untuk menebus kelakuanku yang membuatnya kesal bahkan sepertinya murka padaku, kesalahanku yang mungkin Lia anggap fatal.


Apapun, selain perceraian atau perpisahan.


Kalau Lia minta pisah kamar—meski berat, namun aku masih bisa mengiyakan jika syarat itu yang ia ajukan.


Pun, jika Lia meminta agar aku tak lagi meminta ‘hak’ khususku sebagai suami. Berat, tapi tak apa. Jika itu yang Lia inginkan, aku akan mengiyakan untuk tidak ‘menyentuh’ Lia.


Meski bayang-bayang aku akan mengalami stres tingkat dewa menggelayuti karena hilang ‘jatah’ mendapatkan hak kenikmatan hakikiku dari Lia, yang penting—setidaknya, Lia terus menjadi istriku.


Masih hidup bersamaku.


Aku dan Lia tetap tinggal bersama.


Dimana atas itu, aku tetap memiliki banyak kesempatan untuk dapat memenangkan hati dan kepercayaan Lia kembali.


Lalu saat Lia bilang,


“Yakin kamu bisa lakuin syarat yang aku kasih?”


Aku langsung berdebar was – was.


Merasa lega juga disaat yang sama.


Karena dengan Lia berucap begitu, berarti tandanya dia mau memberiku kesempatan dan tidak akan meminta cerai dariku lagi.


Namun tetap aku berdebar was – was, karena takut apa yang aku pikirkan jika Lia yang minta pisah kamar atau melarangku untuk menyentuhnya lagi—adalah yang menjadi syarat darinya.


“Insya Allah yakin, kalau itu ga ada hubungannya dengan perpisahan antara kita....“


Tapi kemudian aku masa bodoh saja jika memang itu yang Lia minta.


Jadi aku langsung menjawab pasti dengan ekspresi penuh keyakinan pada Lia.


----


Sudah tak ambil peduli tentang nasib ‘juniorku’ ke depannya yang terbayang akan mengenaskan nasibnya, jika apa yang aku pikirkan adalah syarat dari Lia, sebodo lah.


What will be will be, mengenai juniorku ini—yang penting bagiku saat ini, adalah Lia kian tenang dan tak lagi membicarakan tentang perceraian atau perpisahan kami bagaimanapun bentuknya.


Bahkan semoga saja setelah aku dapat melakukan syarat yang akan Lia katakan padaku untuk aku lakukan sebagai pembuktian, Lia tidak pernah lagi memikirkannya, dan untuk itu aku menunggu Lia mengatakan syaratnya tersebut.


“Apa syarat kamu, Yang?”


Aku bertanya dengan penasaran, setelah Lia mengiyakan ucapanku tentang syarat apapun aku lakukan asal tidak ada hubungannya dengan perpisahan diantara kami.


Dimana syarat yang Lia katakan kemudian, membuatku tercengang sampai aku tertegun dibuatnya, saking aku sungguh tak mengira jika hal itu yang Lia ingin aku untuk lakukan sebagai pembuktian.


Syarat yang bahkan aku tidak sampai memikirkan jika Lia akan meminta hal tersebut, yang hanya satu saja—terdengar simpel, namun agak rumit buatku.


----


“Minta balik semua uang yang pernah kamu kasih ke bibit pelakor bertopeng sahabat itu.”


Adalah syarat yang Lia ajukan.


“Bisa, kamu lakukan itu?....” tambah Lia.


Yang aku sadari sedang menatapku penuh selidik.


Bahkan agak remeh.


Mungkin karena aku tak segera menjawabnya.

__ADS_1


Lalu selidik dan keremehan itu tergambar lagi dalam ucapan Lia yang mungkin menangkap aku sedang tercenung.


“Berat ya?“


Begitu Lia bertanya kemudian.


Dengan masih menatapku penuh selidik serta remeh.


“Bisa.”


Aku lalu dengan cepat menukas pertanyaan Lia yang mengira diamku adalah karena aku merasa berat untuk melakukan syarat yang ia ajukan.


Dan aku yakin pikirannya mengarah kepada aku yang engga melakukan syaratnya itu karena aku punya perasaan pada Irly. Padahal aku tercenung bukan karena itu.


Yah, memang aku agak menimbang-nimbang tadinya. Namun pikiranku lebih tertuju bagaimana caraku meminta uang yang aku beri dengan sukarela pada Irly selama ini.


Simpel aja sih, pasang saja sikap masa bodoh seperti orang yang sedang menagih hutang misalnya. Atau bersikap tidak tahu malu dan tebal muka saja pada Irly untuk melakukan syarat dari Lia itu.


Jadi aku lumayan tercenung karena memikirkan rangkaian kalimat yang akan aku ucapkan pada Irly atas syarat Lia tersebut.


Bukan aku tercenung karena berat atas dasar punya rasa sayang yang bagaimana-bagaimana pada Irly. Lalu aku enggan untuk melakukan apa yang Lia inginkan, yang aku yakin betul jika Lia punya persepsi aku yang memiliki perasaan lebih pada Irly, dan akan enggan melakukannya.


Aku lebih ke sungkan daripada enggan.


Satu, aku berikan uang itu secara sukarela pada Irly.


Baik yang setiap bulan, termasuk yang 300 juta itu.


Kedua, uang itu aku berikan pada Irly juga bukan semata-mata untuknya—melainkan untuk Argan.


Jadi ya sungkan betul sebenarnya aku meminta lagi uang tersebut pada Irly yang aku yakin sudah juga dia pakai untuk keperluan Argan dan dirinya.


Entah kalau yang 300 juta—karena uang itu aku berikan sebagai persiapan pengobatan Argan setelah aku tau dia mengidap penyakit bawaan yang cukup serius. Yang mana karena aku juga tau, keuangan Irly tidak mensupport jika Argan kedepannya harus mendapat tindakan yang lebih serius dari sebelumnya. Makanya aku tergerak dengan spontan untuk mengganggu tabungan pribadiku dengan jumlah yang aku sebutkan tadi dan memberikannya pada Irly sebagai jaga-jaga.


Tapi aku lupa menjaga perasaan istriku, yang akhirnya tau dengan sendirinya.


Dan seperti inilah posisiku sekarang—kiranya harus melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.


Pun tidak pernah terbayang kalau akan sampai harus melakukan satu hal itu.


****


Namun demi keutuhan rumah tangganya, terlebih demi mempertahankan Malia agar terus menjadi miliknya--Reiji dengan penuh keyakinan yang ia tampakkan pada Malia—mengiyakan syarat yang diminta istrinya itu.


Meski Reiji sudah mengatakan jika ia bisa melakukan syarat yang diminta Malia dengan keyakinannya yang ia tampakkan pada Malia, namun Malia seolah masih meremehkannya.


“Yakin bisa?....”


Begitu Malia menanggapi ucapan “Bisa” nya Reiji.


Reiji memantapkan jawabannya.


“Do it now then ( Lakukan sekarang kalau begitu )....“


Malia sedikit mencecar, dengan ekspresi yang menggambarkan jika dirinya masih ragu pada Reiji—dalam pandangan pria itu.


“Heu?....“


Dan Reiji pun terkesiap.


Malia benar-benar sangat mengetesnya sekarang.


****


“Ya udah. Pake ponsel aku aja. Kamu juga ga punya nomor telfon Ir—dia, kan?....“


Namun Reiji yang tidak ingin Malia meragukan pun meremehkan niatan sungguh-sungguhnya akan melakukan apapun demi Malia yang tidak akan memintanya menjatuhkan talak lagi pada istrinya itu, atau Malia meminta perpisahan sementara dengan tinggal secara terpisah—langsung berkata demikian selepas ia terkesiap sesaat atas Malia yang kembali mencecarnya—tapi tidak dengan merepet tajam dengan memandang padanya penuh permusuhan seperti saat Malia ‘meledak’ beberapa waktu sebelumnya.


“Disini ya telfonnya? Depan aku dan please di loud speaker.”


“Iya, Yang----“


“Thanks before----“


“Anything. Asal kamu ga lagi nyinggung semua hal yang berhubungan dengan perpisahan kita....”


Reiji menjawab ucapan terima kasih Malia, lalu menangkup wajah Malia yang mengucapkan terima kasihnya pada Reiji itu--karena Malia jelas melihat Reiji nampak penuh kesungguhan akan melakukan syarat yang Malia minta.


“Tapi tolong janji—walaupun aku sangat berharap pertengkaran kita tadi—ya anggap aja kita bertengkar karena aku sempat meninggikan suara bahkan sampai menunjuk kamu—pertengkaran kita yang agak besar tadi, adalah yang pertama dan terakhir....” kata Reiji lagi.


“Lakuin aja dulu,” sahut Malia.


“Janji dulu, please?....” mohon Reiji.


Malia akhirnya mengangguk.


“Iya. Aku janji....” kata Malia kemudian.


****


“Kenapa?”


Malia bertanya saat Reiji beringsut dari ranjang dan melihat Reiji agak celingukan.


“Lupa naro hp dimana,” jawab Reiji.

__ADS_1


“Tadi kan kamu dari ruang serbaguna?” cetus Malia.


“Oh iya. Aku ambil dulu ke sana,” sahut Reiji.


****


“Ngomong-ngomong Avi mana, Rei?....”


Malia kembali bertanya kala Reiji hendak keluar dari kamar mereka.


“Ada di luar.”


“Aku ke luar aja deh kalo gitu.”


“Terus syarat kamu tadi?” tanya Reiji. “Mau minta aku melakukannya depan Avi juga?....”


Mendengar ucapan Reiji yang barusan itu, Malia langsung mengulum senyumnya.


“Kalau ga keberatan. Ada saksi lebih bagus, kan?----“


“Noted----“


“Noted buat?” tukas Malia seraya bertanya, karena ucapan Reiji barusan terdengar ambigu baginya.


“Jadiin Avi saksi. Kalau kamu akan berjanji melakukan apa yang aku minta tadi kalau aku menjalankan syarat dari kamu. Fair enough untuk kita berdua.”


Reiji tersenyum miring dalam hatinya.


‘Paling engga gue bisa manfaatkan posisi Avi sebagai saksi buat bikin Lia janji untuk ga ngungkit hal ini lagi. Pantang kan dia ga melakukan janjinya depan orang?’


Sementara Malia agak tertegun sejenak, sambil membatin,


‘Kok gue ngerasa ucapan gue tadi bakal jadi bumerang buat gue ya?----‘


****


MALIA


Lega.


Itu kiranya yang aku rasa sekarang.


Dan kelegaan itu juga dapat aku tangkap di wajah Rei setelah kami bicara dengan tanpa hantaman emosi yang meletup besar.


Meski sedikit banyak, kekesalanku masih ada pada Rei. Pun, ketidakpuasanku atas dirinya yang selama ini menafkahi si bibit pelakor bertopeng sahabat itu.


Entah mungkin Rei memberikan uang pada si Shirly itu adalah untuk keperluan anaknya. Tetapi bagiku tetap saja itu tergambar sebagai suamiku yang menafkahi wanita lain.


Beda, kalau si bibit pelakor bernama Shirly itu adalah keluarga Rei. Aku tidak akan mempermasalahkan apapun jika itu menyangkut hal tentang menolong anggota keluarga yang lain.


Bukankah harus mengutamakan menolong keluarga yang kesusahan terlebih dahulu ketimbang orang luar?


Atau yah, jika Rei menolong sahabatnya yang lain—yang bergender sama dengan Rei.


Aku tidak akan segusar aku yang tadi. Pun, tidak akan mempermasalahkannya.


Tapi ini seorang perempuan yang notabene telah membuat aku tidak nyaman sejak awal pernikahanku dan Rei.


Perempuan yang pernah suamiku cintai. Lalu masih terlihat sangat dekat meski Rei telah menikah denganku. Dan gara-gara dia, Rei jadi tidak jujur dan ingkar padaku.


Bagaimana aku tidak geram ketika aku tahu jika Rei juga menafkahinya?


----


Tapi yah, kegeramanku mulai surut sekarang. Aku mengajukan syarat yang aku pikir akan berat Rei lakukan.


Lalu Rei akan memberikan penolakan, meski tidak secara langsung—berusaha mementalkan syaratku agar Rei meminta uang yang pernah ia berikan pada si bibit pelakor itu dengan ragam ucapan yang kemungkinan berisi wejangan.


Dan aku akan benar-benar keluar dari apartemenku dan Rei malam ini juga andai itu yang Rei lakukan. Yang ternyata tidak.


Meski sempat Rei terdiam sejenak kala aku mengajukan syaratku padanya sebagai jawaban dari permohonannya agar aku tidak ‘melangkah pergi’ darinya, namun kemudian Rei nampak mantap mengiyakan syaratku itu.


Syarat dengan beberapa embel-embel di belakangnya.


Mungkin Rei agak dongkol.


Tapi aku tidak melihat kedongkolan itu di wajah Rei sih. Entah di hatinya.


Sabodo deh ah.


Sekarang aku hanya sedang menunggu Rei mengambil ponselnya, untuk melihat apa benar dia akan melakukan syarat yang aku berikan dimana aku sudah duduk cantik bersama Avi di sofa ruang santai merangkap ruang tamu apartemenku dan Rei.


----


Wah, Rei sungguh-sungguh ternyata—akan melakukan syarat yang aku minta. Karena setelah aku lihat dia menggenggam ponselnya, Rei langsung menyelempitkan dirinya diantara aku dan Avi—duduk di tengah aku dan adiknya itu, hingga aku dapat melihat bebas semua yang terpampang di ponsel Rei yang sekarang sudah membuka satu aplikasi perpesanan instan sejuta umat, lalu membuka satu kolom chat pribadi dengan hanya angka tanpa nama di sana.


Tapi jelas—walau tidak hafal, aku tahu jika itu nomor kontaknya Shirly. Yang sudah hendak Rei tekan ikon telepon di sudut kanan atasnya, namun kemudian layarnya berganti.


Karena ada sebuah panggilan masuk.


*****


Bersambung.......


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2