WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 182


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


“Iya, Pak ... kalo bisa agak cepet sedikit ya, Pak? ...”


Aku yang lega karena pengendara ojol yang aku temui itu dengan cepat naik ke boncengan motornya sebelum mobil Irsyad semakin dekat denganku yang sedang paranoid ini.


“Ini, helmnya, Mba.”


Pak driver ojol itu menyodorkan helm penumpang padaku, yang langsung aku terima dan aku pakai dengan cepat di kepalaku.


Kemudian aku memintanya untuk segera menggas motornya dengan segera, dimana si pengendara ojol yang aku mintai bantuan itu mengikuti apa yang aku inginkan.


“Dari sini kemana, Mba?” suara bapak pengendara ojol itu membuatku yang sedari tadi tidak fokus dengan jalanan, karena aku terus dengan intens menatap ke arah belakang-samping kanan dan kiriku diboncengan motor, saking aku masih was-was jika Irsyad sampai mengikutiku.


“Oh.”


Aku pun menanggapi si bapak pengendara ojol.


“Lurus aja Pak, masuk ke Komplek dulu ... nanti ada pertigaan, belok kiri.”


-


“Berapa, Pak? ...”


Aku yang telah turun dari boncengan motor pengendara ojol yang kumintai bantuannya itu, segera bertanya berapa ongkos mengantarku sambil aku membuka helm penumpang yang aku kenakan sepanjang perjalanan.


“Terserah Embanya aja ...”


Dan dengan baiknya si bapak pengendara ojol itu berkata seperti itu padaku.


Masih ada ya ternyata orang yang ga aji mumpung – dalam hal ini ya abang ojek yang ga menggetok harga pada penumpang yang tidak melakukan penawaran diawal.


Karena setahuku, banyak yang begitu. Dan lagi aku pernah mengalaminya sendiri.


Digetok dengan harga yang tidak masuk akal oleh pengemudi bajaj, padahal jarak tempuh hanya sepuluh menit saja.


Kesal?.


Tentu saja.


Apalagi aku masih kuliah kala itu, yang mana – ibaratnya, lima ratus perak aja kan berharga.


Dan lagi, uang bulanan masih bertahan dengan jatah mutlak dari orang tua. Jadi, walaupun orang tuaku tidak keberatan untuk memberi uang tambahan – aku mau menunjukkan rasa tanggung jawabku pada jatah bulanan yang paling tidak, habis tepat waktu.


Jadi ketika digetok dengan harga yang jauh dari kata wajar dari ongkos yang seharusnya – setahuku, kala itu. Perasaan kesal begitu mendominasi, hingga menjadi sinis pada si supir bajaj yang memberlakukan azas ‘aji mumpung’ padaku kala itu. Tapi yang aku alami sekarang ini adalah kebalikannya.


Hal yang membuat aku bingung, karena aku tidak pernah naik ojek dari tempatku tadi ke rumah yang berada di belakangku ini.


Rumah orang tuaku.


Ya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku saja dan menginap seraya menunggu kepulangan Rei di rumah yang aku anggap aman itu untuk sekarang ini.


“Bapak sebutin aja berapa ... Ga apa - apa kok, Pak.”


Aku menanggapi si pengendara ojol baik hati itu, yang membebaskanku untuk memberikannya uang berapa saja sebagai ganti ongkos dia mengantarku atas permintaan mendadakku.


“Kan saya udah minta tolong Bapak buat bantu saya kesini buru – buru?” kataku lagi. “Jadi Bapak bilang aja berapa ongkosnya,” tambahku. “Soalnya saya juga ga ngerti berapa ongkos dari tempat saya tadi kesini.”


“Bener, Mba. Terserah Emba aja mau kasih saya berapa,” jawab si pengendara ojol baik hati itu.


Yang mana, lagi – lagi aku dibuat bingung.


“Saya tadi niat nolong aja, soalnya Embanya kayak lagi ketakutan.”


Aku tersenyum kecil menanggapi ucapan si bapak pengendara ojol yang baik hati itu.


Kemudian aku dengan segera saja membuka tasku, dan mengeluarkan dompetku. Lalu mengambil dua lembar uang seratus ribu dari dalamnya.

__ADS_1


Anggap saja, aku merasa bersyukur dengan keberadaan bapak pengendara ojol yang baik hati ini saat aku ingin segera kabur dari Irsyad. Dikala aku melihat mobilnya dari kejauhan.


Lalu tanpa banyak tanya, bapak pengendara ojol yang baik hati ini melakukan dengan tepat apa yang aku minta, yakni melaju dengan cepat dari tempatku tadi, namun tetap dia memperhatikan caranya mengemudi agar tidak membahayakan kami berdua.


Hingga akhirnya aku merasa lega, karena bapak pengendara ojol yang baik hati ini, sepertinya sukses membuat Irsyad tidak menyadari keberadaanku yang naik ojol.


Karena motor yang aku tumpangi telah melaju sebelum mobil Irsyad dekat dengan tempatku tadi. Meskipun sepanjang jalan aku masih paranoid dengan mobil Irsyad.


Masih sedikit sih, rasa paranoid akan Irsyad itu ada saat masuk ke komplek perumahan tempat orang tuaku tinggal.


Namun sekarang tidak lagi, karena aku sudah merasa benar-benar aman. Selain karena sudah berada di depan rumah orang tuaku - dan tadi aku sempat memperhatikan jalanan di belakangku saat berbelok masuk gerbang komplek, tidak ada satupun mobil dibelakangku sampai jarak pandang mataku.


**


“Ini, Pak ...” ucap Malia seraya menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan pada pengemudi ojol yang telah mengantarnya sampai ke depan rumah orang tuanya.


“Ya Allah, Mba ... ini kebanyakan –“


“Ga apa, Pak. Saya ikhlas. Lagian Bapak udah nolong saya banget.”


Malia berucap seraya tersenyum tulus pada pengendara ojol tersebut, seraya ia menyodorkan dengan sopan dua lembar uang seratus ribuan yang sudah Malia keluarkan dari dalam dompetnya itu, dimana si bapak ojol terlihat sungkan untuk menerima uang tersebut.


Dan karena hal itu, akhirnya Malia berinisiatif meraih tangan si pengendara ojol baik hati berusia kurang lebih empat puluh tahunan itu dengan baik – baik sambil meletakkan uang yang dipegang oleh Malia itu, ke telapak tangan bapak ojol yang telah mengantarnya. “Terima ya, Pak?”


Malia berucap santun seraya tersenyum tulus pada si bapak ojol yang nampak tertegun, selain terharu.


“Tapi, Mba ...” gugu si bapak ojol.


“Anggep aja rezeki tambahan, Pak ...”


Malia keburu berucap lagi, sambil mengepalkan tangan si pengendara ojol yang tergugu itu.


“Makasih ya, Mba?”


“Iya Pak, sama-sama.”


*


“Malem, Pak Farhan ---“


Malia menyapa seorang pria paruh baya yang membukakan pintu gerbang rumah orang tuanya, yang tadi berlari dari area dalam kala melihat sosok Malia di luar gerbang.


“Malem, Neng Lia ... Maap Neng, Bapak abis dari kamar mandi ---“ ucap pria yang disapa Malia itu, sambil membukakan pintu gerbang rumah orang tua Malia tersebut.


“Ga apa-apa, Pak ...”


“Bapak sama Ibu dan si Bibik ga bilang Neng Lia mau dateng ini malem ---“


Pak Farhan-yang adalah salah satu penjaga yang dipekerjakan Reiji sebagai tambahan penjaga rumah orang tua Malia itu, kemudian menerangkan.


“Iya, emang saya mendadak kok dateng kesini.”


Malia berujar.


“Ga ngomong juga sama Papa dan Mama.”


“Iya itu makanya, Neng. Bapak sama Ibu kan lagi pergi ke Pekalongan dari kemaren ---“


“Eh iya, ya? ...” tukas Malia. “Saya baru inget kalo Papa sama Mama lagi ke Pekalongan dari kemaren.”


“Nah iya itu, Bapak sama Ibu ga titip pesen apa-apa ---“


Pak Farhan menimpali ucapan Malia.


“Makanya saya agak-agak santai. Hehe. Maap ya, Neng?”


Pak Farhan jadi agak salah tingkah, dan Malia mengulum senyum saja.


“Santai, Pak Farhan.”


“Ya udah, deh Neng, silahkan masuk.”

__ADS_1


“Iya, Pak ... Saya masuk dulu, ya?” pamit Malia.


Pak Farhan pun mengangguk, mengiyakan dengan santun.


“Ngomong-ngomong Neng Lia ga sama Den Reiji? ---“


“Rei-nya belum pulang, Pak,” tukas Malia dan Pak Farhan yang tahu profesi Reiji itupun manggut-manggut.


“Ya udah, Neng Lia masuk gih, istirahat,” tutur Pak Farhan, dan Malia menyahut santun sebelum ia melangkahkan kakinya ke area dalam rumah orang tuanya.


“Non Lia?!”


Dimana kedatangan Malia itu disambut oleh seorang asisten rumah tangga paruh baya, yang sudah lama ikut bekerja di rumah orang tuanya.


“Kok ga ngomong-ngomong mau kesini? Bapak sama Ibu juga ga ngomong Non Lia mau dateng kesini sebelum berangkat ke Pekalongan.”


Sama seperti Pak Farhan, art yang kerap dipanggil ‘bibi’ oleh keluarga Malia menerangkan keterkejutannya dengan kedatangan Malia yang tiba-tiba ke rumah orang tuanya tersebut.


“Iya Bi, emang akunya yang dateng mendadak kesini. Ga ada rencana sebelumnya ---“ tutur Malia. “Papa sama Mama juga ga tau hari ini aku mampir kesini,” lanjutnya.


“Non Lia udah makan belum? ... kalo belum mau dibeliin apa? Soalnya Bibik Cuma masak buat Bibik sama Farhan dan Jaya sebelom mereka ganti sift. Dan itu juga udah abis, Non.”


“Gampang, Bi. Ada mi instan kan? ---“ tukas Malia yang kemudian ucapannya langsung disergah oleh si bibi.


“Ye, jangan mi instan.”


Si bibi berujar.


“Minta tolong si Farhan beliin sate sama lontong aja ya? ---“


“Iya Bi, boleh ...”


Malia mengiyakan usul si bibi.


“Ini uangnya, Bi.”


Malia mengeluarkan satu-satunya lembaran merah yang tersisa dalam dompetnya, karena ia memang membawa uang cash seperlunya saja.


**


“Ini tehnya, Non ... Sambil nunggu satenya dateng, Non Lia mau dibikinin roti bakar?—“


“Ga usah, Bi ...” potong Malia. “Aku juga ga laper-laper amat,” tambah Malia.


“Ya udah kalo gitu,” tutur si bibi.


“Bibi istirahat aja gih ... Aku juga mau bersih-bersih badan dulu abis ini,” balas Malia sambil menyesap teh hangatnya kemudian.


“Bibik istirahat, kalo udah liat Non Lia makan,” tutur si bibi lagi. “Non Lia silahkan aja kalo mau bersih-bersih atau istirahat dulu di kamar ...”


“Iya, Bi ---“ sahut Malia.


Yang kemudian bangkit dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya, yang kini sudah menjadi kamarnya dan Reiji.


‘Mudahan ini Rei.’


Malia membatin, kala ia mendengar ponselnya berdering dari dalam tas kerjanya.


Namun senyuman yang tadi sempat terbit di wajah Malia, langsung saja hilang ketika melihat nama pemanggil di layar ponselnya.


Yang mana panggilan itu langsung Malia tolak dengan usapan kasar jempol Malia di layar ponselnya. Namun tak lama, ponsel Malia berbunyi lagi.


Dimana sebuah pesan kemudian datang dari orang yang sama-yang beberapa saat lalu menghubungi ponselnya.


‘Kenapa menghindari aku, Lia? Berhentilah berkorban untuk orang lain. Ada aku yang mencintai kamu dan siap menerima kamu apa adanya.’


“Gila!”


Dan umpatan spontan keluar dari mulut Malia dalam gumaman.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2