
Selamat membaca..
***
“Makasih ya....” ucap Reiji.
Dan,
Cup!.
Satu kecupan lembut Reiji sematkan di kening Malia.
“Sayang .....” sambung Reiji. Dimana wajah Malia menjadi sedikit merona.
Dan Reiji, seperti biasa ia mengulum senyumnya apabila wajah Malia sedang merona saat dirinya menggoda Malia.
“Boleh aku panggil kamu begitu mulai sekarang?” Reiji mengajukan sebuah permintaan kecil pada Malia.
“Iya, boleh....”
Reiji tersenyum lebar kemudian, saat Malia mengangguk dan mengiyakan permintaan kecilnya itu.
“Makasih ya,” ucap Reiji. “Sayang .....” kekeh Reiji kemudian, menggoda Malia.
“Kuyang!”
*
MALIA
Rasanya peredaran darahku berhenti, saat bibir Reiji menyentuh bibirku saat di mobilnya tadi.
Ciuman yang singkat, namun terasa begitu lembut menyapu bibirku.
Demi Tuhan, aku syok!. That was my first kiss!. Ciuman pertamaku. Ciuman pertama dari Reiji sih itungannya, karena aku tak membalas ciuman itu saking kagetnya.
Mendapatkan perlakuan mesra Reiji saat di kantor aja sudah cukup membuatku tertegun.
Lalu pipiku dicium Reiji dengan tiba-tiba. Itu membuat tubuhku rasanya menegang.
Bukan hanya sekali, tapi dua kali Reiji memberikan kecupan singkat di pipiku, namun tak tergesa juga.
Dan beberapa saat yang lalu, Reiji menyambar bibirku dengan tiba-tiba juga, yang sukses membuatku terkejut
bukan main, hingga tubuhku rasanya menegang kaku.
Walau bibir Reiji mampir sebentar saja di bibirku, namun itu cukup membuat jantungku seakan tiba-tiba loncat dari
tempatnya. Maklum saja, aku tidak pernah berpacaran. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya berciuman.
Jangankan ciuman, pipiku ini saja, Cuma Papaku seorang, laki-laki yang pernah mengecupnya. Hal yang memang
sudah Papa lakukan sedari aku kecil, bahkan dari aku bayi.
Jadi mendapat serangan singkat di bibirku tadi dari bibir Reiji, ya cukup membuatku terkejut dan syok pastinya.
Hingga mungkin rasanya wajahku ini nampak lucu ekspresinya saat Reiji telah melepaskan bibir kenyalnya itu dari bibirku.
Belum selesai rasanya keterkejutan ku selepas ciuman pertamaku yang diambil Reiji secara tiba-tiba.
Aku kembali dibuat bengong tak percaya saat selepas mencium bibirku, Reiji bilang.
“I love you, Lia.”
Begitu mudahkah jatuh cinta?.
**
Author’s POV
Tiga bulan mempersiapkan pernikahan rasanya mungkin terdengar buru-buru. Jika mungkin ada selentingan buruk, terkesan pernikahan Reiji dan Malia adalah karena suatu sebab yang biasa menjadi desas-desus soal pernikahan yang buru-buru dipersiapkan.
Ya contohnya,
“Udah MBA kali cewenya.....”
“Biasanya kan begitu....”
Yah, biasanya seperti itu memang dugaan orang-orang, jika ada pernikahan yang terkesan buru-buru dipersiapkan.
Padahal tidak melulu selalu begitu. Jika berpikir luas kan banyak alasan orang mempersiapkan dalam waktu yang terbilang singkat.
Malia dan Reiji contohnya.
__ADS_1
Boro-boro MBA alias kecelakaan ranjang.
Pegangan tangan aja, abis dijodohkan dulu. Itu aja jarang-jarang Malia dan Reiji lakukan kalau sedang pergi bersama.
Tapi untungnya daerah pemukiman tempat tinggal Malia dan Reiji bukan daerah yang memungkinkan desas-desus ga enak itu bisa muncul.
Dan pihak keluarga Malia dan Reiji juga tentunya tahu dengan pasti, jika dua insan yang akan menikah itu adalah hasil dari cetusan perjodohan dari orang tua masing-masing.
Selain, para orang tua memang menyarankan, agar tidak perlu berlama-lama untuk menikah, karena seyogyanya
menikah itu ibadah.
Author’s POV off
**
Kurang dari dua bulan lagi pernikahan Malia dan Reiji akan terlaksana, jika memang tidak ada kendala berat yang menghalanginya. Kiranya itu doa dari para orang tua dan keluarga dari kedua calon mempelai tersebut.
Dan memang ada harapan besar, agar pernikahan Malia dan Reiji yang telah ditentukan kiranya berjalan dengan
lancar tanpa ada sedikitpun halangan, rintangan dan semacamnya.
Meski diwaktu yang telah terlewati itu, justru sepasang calon pengantin itu jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Malia yang sering bekerja lembur di kantor, sementara Reiji mendapatkan jadwal penerbangan yang cukup menyita
banyak waktu di udara.
Namun akhir pekan ini, Malia dan Reiji sudah punya janji bertemu dan sudah masing-masing mengosongkan jadwal
mereka demi fitting baju pengantin.
“Assalamu’alaikum ....” Suara Reiji terdengar di pintu depan rumah orang tua Malia, berikut sosoknya.
“Wa’alaikumsalam ....”
“Hai, calon istri!” Sapa Reiji sembari cengengesan saat melihat Malia yang menghampirinya di pintu. “Lama ga
ketemu, tambah cantik aja perasaan!”
Malia hanya mendengus geli saja, mendengar celotehan Reiji itu.
“Pagi-pagi dah nge gombal,” Tukas Malia dan Reiji terkekeh kecil.
calon suaminya itu, berbeda dengan Reiji kakaknya Avi yang sudah Malia kenal sejak ia kecil, bahkan sudah terbiasa dengan kehadiran Reiji dalam hidupnya, meski tak melulu Reiji ada didekatnya.
Pribadi Reiji yang sok cool macam freezer frozen food itu sudah hampir tidak Malia lihat lagi, jika Reiji sedang
bersamanya, sejak Malia dan Reiji mulai saling membuka diri untuk menerima satu sama lain.
Dan nyatanya Reiji keburu benar-benar jatuh hati pada Malia saat ini. Mungkin sudah lama Reiji jatuh hati pada Malia, namun hal itu kerap Reiji sangkal.
Hingga perjodohan itu terjadi, lalu Malia dan Reiji sama-sama mengiyakan.
“Yah, orang bicara kenyataan malah dibilang nge gombal...”
Reiji mengulas senyuman di bibirnya.
Cup.
Sebuah kecupan singkat dari Reiji mendarat di kening Malia.
“Kangen,” Ucap Reiji tanpa ragu.
“Iya udah tau,” sahut Malia.
Membuat Reiji tersenyum geli melihat sikap Malia yang berlagak masa bodoh itu, namun dengan dibuat konyol nan menggemaskan oleh si empunya wajah.
**
REIJI
“Yang...” Panggilku pada Malia saat kami sudah berada di dalam perjalanan menuju Butik tempat kami memesan
pakaian pengantin yang akan kami baik untuk acara akad dan resepsi.
Malia sendiri yang memilih Butik tersebut. Dan aku merasa senang, karena Malia sudah nampak cukup antusias
mempersiapkan pernikahan kami. Jadi jika boleh aku simpulkan, Malia sudah benar-benar menerima perjodohanku dengannya.
Dan itu, membuat harapku kian besar, jika dalam waktu dekat, Malia akan memiliki perasaan yang sama, sebagaimana perasaanku padanya sekarang ini. Semoga saja Malia bisa benar-benar jatuh hati padaku, seperti halnya aku padanya sebelum hari pernikahan kami.
Karena jujur saja, aku memiliki harapan yang besar untuk itu, agar ke depannya kehidupan pernikahanku akan
__ADS_1
berjalan tak hanya harmonis tapi juga romantis. Selayaknya pernikahan kedua orang tua kami, yang sekiranya bisa dijadikan contoh. Yah, walaupun pernikahanku dan Malia adalah karena perjodohan.
Mungkin, Malia akan berkomitmen menjadi istri yang baik untukku setelah kami menikah nanti.
Tapi setidaknya, aku juga ingin Malia tidak hanya memiliki komitmen menjadi istri yang baik secara harfiah.
Aku ingin Malia juga mencintaiku.
“Yang?..”
Aku memanggil Malia lagi, karena seperti biasa, calon istriku itu hobi sekali yang namanya bengong.
Dan Malia baru terkesiap saat aku menggenggam tangan kanannya.
“Eh-iya?? .. kenapa Rei? ..”
Dah yah, begitulah. Malia masih memanggilku seperti biasa.
“Mikirin apa sih?”
Aku sontak bertanya pada Malia.
“Ga mikirin apa-apa ..” begitu jawab Malia.
Kemudian Malia tersenyum manis padaku. Dan aku juga mengulas senyuman, kala aku sejenak memperhatikan Malia.
Malia memang sudah terlihat menerimaku, aku pun sudah bisa merasakannya.
Hanya saja, masih belum kulihat cinta dimata Malia untukku.
Bahkan Malia juga masih berbicara denganku menggunakan panggilan gue-elo.
“Eh iya Rei, jatah undangan buat temen-temen gue tuh berapa ya? Trus itu semua temen-temen pilot en pramugari
elo itu diundang semua?? ..”
Aku menjawab pertanyaan Malia itu dengan anggukan, karena aku harus melajukan mobil kembali yang sempat
kuhentikan saat lampu merah. Malia pun manggut-manggut.
“Kenapa emang kamu nanya begitu? ..”
Malia menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya. Hal yang membuatku selalu merasa gemas pada Malia, setiap kali wajahnya berekspresi seperti itu.
Yang membuatku rasanya ingin memberhentikan mobil, lalu menyambar sepasang bibir rasa cherry itu. Yang udah
sebulan lalu aku rasakan, tapi manisnya seolah masih terasa tersisa di bibirku ini.
Ya, setelah aku mencium bibir Malia untuk yang pertama kalinya, aku tak pernah lagi mencium bibir Malia sampai dengan detik ini.
“Ga pa-pa, nanya aja ..” Jawab Malia sembari ia menggeleng dengan imutnya.
Duh, pengen aku unyel-unyel rasanya si Malia niiiihhh. Sadar ga sih kamu Lia, bikin Babang Reiji gumush kalo
ekspresi kamu lagi begitu?.
“Terus tadi nanya jatah undangan kamu, kenapa memangnya? ..”
Aku pun menanyakan lagi soal Malia yang mempertanyakan jumlah undangan jatahnya dia.
“Ga pa-pa juga, nanya aja ..” Jawab Malia.
Dengan tingkah menggemaskannya lagi sembari mengutak-atik channel radio di tape mobil.
Ish, asli, pengen aku unyel-unyel ini si Malia.
“Oh iya Rei..”
Malia menoleh padaku setelah ia selesai mengutak-atik channel radio di tape mobil.
“Apa?”
Aku sontak menoleh juga saat kudengar Malia mengajakku bicara.
“Nanti kalo kita udah jadi suami-istri kamu mau aku panggil apa? ..”
Pertanyaan yang membuatku tersenyum lebar.
**
Bersambung...
Ma acih masih setia.
__ADS_1