
Selamat membaca...
***
MALIA
Jujur saja aku risih sekali menggunakan lingerie super seksi yang baru aku beli itu.
Tapi aku pikir-pikir, ya aku ingin menyenangkan suamiku.
Tidak tahu bagaimana pendapat Reiji saat aku mengenakan lingerie super seksi itu didepannya, walau bentuk tubuhku juga dalam kategori ideal.
Aku hanya takut jika Rei mempunyai pendapat lain tentang perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian seperti itu.
Bahkan di ‘malam pertama’ ku dan Reiji saja aku mengenakan lingerie yang modelnya standar. Dan ya itu, aku ragu mengenakan lingerie super seksi tersebut.
Tapi kupikir-pikir lagi, untuk mencoba mengenakannya saja.
Ingat Rei bilang kami akan memulai semua dari awal. – hubungan kami.
Jadi yah, anggap saja aku mengenakannya untuk malam pengantin kami, malam ini.
Jika Rei tidak suka, ya aku ganti.
---
Tapi pada kenyataannya, ketika aku tanya apa Rei suka atau tidak dengan aku berpenampilan menggunakan lingerie super seksi, jawabannya membuatku tersenyum simpul.
“Aku bloon atau mungkin buta kalo aku bilang ga suka Yang.”
Lalu Rei bilang aku disuruh beli banyak, lingerie macam yang baru aku beli ini.
Dan setelahnya, Rei langsung menyambar bibirku dengan cepat, serta menggendongku ala bridal, kemudian membaringkanku di atas tempat tidur pribadi kami.
Setelahnya kami bercumbu dengan intens, tanpa ada lagi kecanggungan apalagi kepasifan dariku untuk merespon segala yang Rei lakukan pada seluruh tubuhku.
Hingga saat Rei menghentikan cumbuan dan menjauh dariku, aku merasa kehilangan.
Tapi saat Rei menciptakan jarak denganku, matanya seperti sedang menelanjangiku.
Aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memperhatikan Rei secara intens kala ia sedang memperhatikanku itu.
Ketampanan Rei sudah aku akui sejak aku kecil sepertinya. Karena aku ingat, dulu, hingga sampai aku SMP aku mengagumi aku mengagumi kakaknya Avi itu.
Yang kadang membuatku malu sendiri, jika saat kecil dulu, aku pernah genit padanya.
Sekarang, wajah tampan yang pernah aku kagumi dari kecil sampai aku remaja SMP itu mulai aku kagumi lagi.
Mungkin, selain mengagumi, kini aku memujanya.
Lihat saja Rei sekarang.
Rambutnya yang agak berantakan akibat cumbuan kami barusan, dengan otot yang pas pada porsi di tubuh atletis Rei membuat Rei nampak seksi sekali di mataku, padahal dia hanya mengenakan T-shirt polos dan celana pendek saja.
T-shirt yang kemudian Rei tanggalkan lalu mengucapkan kalimat yang membuatku melambung dan tersipu disaat yang bersamaan.
Lalu sebaris kalimat mesra menyusul dari mulut Rei, yang tanpa sempat aku balas, karena Rei dengan cepat membungkamku dengan ciumannya.
Sampai ciuman Rei itu terasa menuntut, namun tuntutan yang enggan aku tepiskan, walau sedikit kewalahan dengan ciuman Rei yang disertai dengan sentuhan-sentuhan sensual Rei di beberapa titik tubuhku yang masih terbalut lingerie.
Hingga sampai lingerie itu diloloskan perlahan oleh Rei dari tubuhku, berikut satu helai kain lagi dibaliknya, kemudian Rei total mencumbuku dan sensasi memabukkan itupun aku rasakan. Yang sejenak terjeda, kala Rei melepaskan dirinya lagi dariku.
Ya ampun Rei!
Ingin sekali aku memakinya, karena membuatku merasa tanggung begini.
Tapi didetik berikutnya, aku menelan salivaku dalam saat Rei melepaskan apa yang tersisa di tubuhnya.
Sudah rasanya sering aku melihat tubuh polos Rei didepan mataku ini-walau ga sering-sering amat.
Tapi setiap kali disuguhkan oleh pemandangan pahatan tubuh Rei yang menurutku tak ada celanya itu, aku selalu merasa kurang imun.
Hingga keasyikanku itu terhenti karena suara Rei, dimana orangnya kini menarikku pelan, sambil ia memposisikan dirinya duduk di atas tempat tidur, serta bersandar di sandaran ranjang.
Sambil Rei berbisik,
“Touch me, just like I’ve touched you.”
Dengan suaranya yang parau nan seksi itu, dan membuatku terduduk di atas pangkuannya.
Aku mengerti, dan aku lekas mengangguk, kemudian mulai mencumbu Rei dengan l*matan memburu di bibir Rei.
Sudah tak kupedulikan lagi rasa malu, karena yang aku inginkan adalah membalas rasa nikmat yang aku rasakan atas cumbuan Rei padaku, lalu kami akan mereguk kenikmatan yang lebih dari itu bersama-sama.
Aku berbangga hati kala aku mendengar geraman tertahan Rei pertanda jika cumbuanku membuatnya blingsatan.
__ADS_1
Sebangga hatiku ketika Rei memperhatikanku dengan intens dan tatapannya begitu memburu bahkan rakus, sampai-sampai Rei tercekat kala mengagumi tubuhku.
Tapi didetik berikutnya aku yang tercekat, kala Rei melakukan penyatuan. Selalu saja seperti itu jika Rei melakukan penyatuan.
Aku rasanya ga imun-imun dengan ‘senjata’ suamiku itu.
Selalu membuat nafasku tertahan sepersekian detik.
Lalu, bisikan parau suara Rei, terdengar bagaikan perintah di telingaku.
“Bergerak, sayang ....”
Perintah nakal yang membuat darahku berdesir.
Sambil Rei menatapku penuh minat dengan mata yang berkabut gairah.
Sial!
Seksi sekali suamiku ini.
Terlalu seksi, hingga ekspresinya itu bisa membuat gairahku berkobar.
Lalu aku, memimpin permainan. Dan kamar pribadiku dan Rei ini berubah menjadi panas.
Terlalu panas hingga tubuhku dan Rei penuh dengan peluh.
***
“Makasih ya Yang.”
Cup.
Reiji mengecup kening Malia dengan lembut dan sayang setelah keduanya menyelesaikan pergulatan panas mereka.
“Makasih buat kamu yang hot banget malem ini,” ucap Reiji lagi dan Malia tersenyum geli.
“Sama-sama –“ balas Malia. “Makasih juga udah dipuji terus dari tadi.”
Malia berucap tulus, sambil tangannya mengelus wajah Reiji yang sedang berbaring miring berhadapan dengannya.
Reiji tersenyum sumringah.
“Karena memang kamu pantes buat dipuji,” ucap Reiji kemudian.
“Makasih.”
“Hm?” tanggap Malia.
“Mau nanya –“
“Aku jawab.”
Reiji pun mendengus geli karena Malia menyambar ucapannya.
“Tanya apa? –“
“Bukan apa-apa sih, cuma penasaran aja –“
“Sama?”
“Kamu ....”
“Aku? –“
“Hu’um ....”
“Aku kenapa emangnya? ....”
“Aku sih ga ada maksud apa-apa nanyain ini ke kamu Yang –“
“Ya udah kenapa ....”
Malia berucap sambil memegang dagu Reiji dan menggoyangkannya pelan.
“Kamu tiba-tiba tampil seseksi tadi yang bikin penasaran,” kata Reiji. “Bahkan jauh lebih seksi dari waktu MP kita –“
Reiji menyambung ucapannya.
“Bikin aku gemeter tadi liat kamu pertama kali pake itu baju kurang banget bahannya tapi aku suka pake banget.”
Membuat Malia terkekeh geli setelah mendengar cerocosan Reiji.
Namun kemudian Malia tersenyum manis dan mengusap lagi wajah Reiji.
“Aku pengen aja sih .... Waktu kamu tugas kemaren, aku sempet mampir ke Kokas, kepikiran kamu pas lewat toko tempat aku beli lingerie. Tau-tau kaki aku udah masuk kesana ....”
__ADS_1
Reiji tersenyum dan mengecup pipi Malia.
“Sekarang bawaannya pengen nyenengin kamu aja.”
“Aku lagi digombalin nih ceritanya? –“
“Yee siapa juga yang lagi ngegombal?!”
Reiji mendengus geli mendengar sergahan Malia yang disertai dengan pukulan kecil di dadanya. Dan didetik berikutnya, Reiji membawa Malia dalam dekapan.
Reji pun memberi Malia banyak kecupan di pucuk kepala istrinya itu.
*
“Yang,”
Reiji memanggil Malia yang sedang ia dekap itu.
“Hm?—“
Malia mendongak sedikit menatap Reiji.
“Udah ngantuk belum? ....” tanya Reiji lembut.
“Belum,” jawab Malia pelan. “Kenapa, Rei? ....”
“Kalau kamu memang belum ngantuk .... bisa kita ulangi lagi?”
“Heu?....” Malia terkesiap.
“Aku kepengen lagi, Yang—“
Reiji berucap serak, sambil tangannya sudah mulai bergerak sensual di punggung telanjang Malia hingga ke pinggulnya dan desiran tak nyaman Malia rasakan, hingga membuatnya mulai sedikit menggeliat.
“Kamu, ga cape?....” tanya Malia yang sedikit tergugu.
Reiji menggeleng.
“Boleh ....” bisik Reiji bertanya, namun wajahnya sudah beringsut ke ceruk leher Malia, yang membuat Malia tergegap sebelum ia menjawab.
Bagaimana Malia tidak tergegap, kalau Reiji sedang meminta ronde kedua dari sesi panas mereka?....
Bagaimana Malia juga bisa menolak, kalau yang sedang Reiji lakukan sekarang ini mulai kembali membangkitkan apa yang beberapa menit lalu, baru saja padam.
Hingga entah sadar atau tidak Malia menggangguk dengan nafas yang tertahan. Dan anggukan itu Reiji sadari, kemudian laki-laki itu tersenyum puas sambil meneruskan aksinya.
Sampai dimana kamar pribadi Malia dan Reiji yang tadi sedikit sunyi, kini mulai diwarnai oleh suara-suara misteri yang kemudian menggema walau tak kencang saat gelombang puncak kenikmatan menerpa keduanya.
Reiji ambruk di atas Malia, namun tanpa membebankan bobot tubuhnya di atas sang istri, sambil keduanya merasakan kejang ringan namun membuat rasa tubuh keduanya melayang ke awang – awang.
Reiji dan Malia saling berpelukan mesra sampai kejang ringan itu hilang.
Sebuah kecupan pun Reiji berikan kemudian di bibir Malia yang menyambut manis kecupannya.
Lalu Reiji memindai wajah Malia yang masih terkukung di bawahnya, yang nafasnya masih sedikit tersengal.
Malia hendak menggeser tubuh Reiji dari atasnya.
Namun kemudian Malia dibuat terbelalak, kala ia merasakan apa yang belum terlepas, kenapa kembali mengeras?....
“Sekali lagi.... Yang....”
‘HAH?!’
Malia berteriak dalam hatinya.
Tak bersuara aslinya, namun matanya menatap tak percaya pada Reiji yang menyeringai kecil dengan wajah tanpa dosa.
‘Dia minum obat kuat atau apa??’ batin Malia yang tak habis pikir pada stamina Reiji itu bertanya – tanya sendiri.
Pasalnya, baru berapa menit loh, mereka mengejang bersama. Bahkan keringat pun baru berkurang sedikit. Tapi coba lihat Reiji?
Malia sampai mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menatap Reiji yang sudah nampak lagi memposisikan diri.
“Kalau kamu cape, biar aku aja yang ‘kerja’ ....”
Malia meneguk salivanya. Mau menolak, tapi Reiji sudah mulai kembali bergerak.
‘Ijin kerja besok kayaknya nih gue.’
Malia membatin ngeri, minta ampun dalam hati.
Rasanya, dia akan ‘habis’ malam ini oleh Reiji.
Sulit bangun dari tempat tidur esok hari.
__ADS_1
*****
Bersambung ....