
Selamat membaca....
****************
REIJI
Emosiku agak terpancing ketika Lia menyebut nama si bibit pebinor b*jingan itu, jadi tanpa sadar aku bicara dengan nada yang agak tinggi pada Lia.
Dan setelahnya aku menyadari ekspresi Lia yang terlihat agak takut padaku, yang membuatku menarik nafas dan menghembuskannya dengan sedikit berat.
“Sorry, Yang..”
Aku yang sempat bangkit dari dudukku yang mendekati Lia di sisi ranjang, kembali ke posisiku sebelumnya. Duduk di pinggir tempat tidur tempat Lia masih menyembunyikan tubuh polosnya di dalam selimut.
“Aku ga maksud bentak kamu.”
---
Dari sisi ranjang dan duduk berhadapan dengan Lia, aku beringsut untuk duduk tepat disampingnya—menuntun kepala Lia untuk bersandar di dadaku kemudian. “Setelah apa yang udah keparat itu lakukan ke kamu, aku bener-bener ga suka mendengar kamu sebut dia lagi, Yang. Terlebih kondisi saat aku menemukan kamu tadi. Yang ga bisa aku bayangin akan gimana nantinya aku, kalau sampai aku datang terlambat. Jadi maaf kalau reaksiku seperti tadi waktu denger kamu sebut nama dia.”
Aku berkata lirih setelahnya. Dan Lia mengangkat kepalanya, kemudian menatapku. “Iya, Rei..” kata Lia dengan mengangguk dan tersenyum kecil. “Aku ngerti..“ tambahnya sambil kembali menyandarkan kepalanya di dadaku. “Aku cuma penasaran, karena sebelum aku pingsan aku liat kamu mau tembak kepalanya Ir-dia..” kata Lia lagi dengan wajahnya yang kini mendongak menatapku. Aku tersenyum lurus padanya. Sebelum aku menanggapi ucapan Lia itu.
“Kan aku bilang tadi, kalau kamu ga pingsan.. kepala si keparat itu pasti udah bolong karena peluru dari pistol yang aku rampas dari anak buahnya Ammar. Tapi berhubung kamu pingsan, ya itu keparat batal mati!”
Aku berucap dan menggeram tertahan di akhir kalimat, dimana Lia langsung menyentuh wajahku. “Jangan kamu kotorin tangan kamu buat orang macam dia, Rei,” kata Lia setelahnya. “Aku ga rela kamu masuk penjara karena membunuh laki-laki kurang ajar macam dia. Lebih baik dia aja yang dipenjara.. Biar tau rasa.”
Lia berkata dengan ekspresi wajah yang kesal, dan aku merengkuhnya lagi seraya tersenyum dan mengecup pucuk kepalanya.
“Ya udah. Aku keluar dulu sebentar, untuk cari makanan buat kita. Kalau di dapur penthouse ini ada bahan yang bisa diolah, aku buatin kamu makanan seadanya bahan yang ada di sana ya?..”
Lalu berkata seperti itu setelahnya.
Lia pun mengangguk.
***
“Rei..”
Malia bersuara saat Reiji hendak mengurai pelukan mereka, karena Reiji ingin pergi ke luar kamar dan bertanya pada ART penthouse milik salah satu bos mudanya itu---apakah ada bahan makanan yang tersedia untuk bisa dia olah demi membuatkan Malia makanan.
“Iya, Yang?”
Reiji pun segera menyahut.
“Eemm.. kalo seandainya, hal yang ‘hina’ itu terjadi..”
“Sstt..” Reiji segera meletakkan telunjuknya di bibir Malia.
Membuat Malia spontan bungkam. Dan Reiji dengan cepat bicara lagi.
“Hal buruk itu ga terjadi. Jadi ga usah kamu pikirin hal yang ga terjadi. Oke?”
“Iya emang.. Tapi—“
“Kalaupun amit-amit sampai terjadi perbuatan biadab yang keparat busuk itu hendak lakukan ke kamu tadi, perasaan aku ke kamu ga akan berubah, Yang.”
“Aku takut kamu jadi jijik sama aku, Rei—“
“Ga akan pernah terjadi.” Reiji langsung menukas ucapan Malia dengan sergahan yang disertai kecupan lembut di kening Malia.
***
MALIA
“Makasih, Rei..”
Aku langsung mengucapkan itu dengan tulus, selepas mendengar penuturan Rei yang andai kejadian aku diperkosa oleh Irsyad, Rei akan masih menerima kondisiku dan perasaannya tidak akan berubah padaku, terlebih merasa jijik.
Dan hatiku menghangat setelah mendengar penuturan Rei itu. Tapi benarkah akan seperti itu? Rei akan berlapang dada menerimaku jika Irsyad sampai kejadian memperkosaku?
__ADS_1
Haish!
Benar apa yang Rei katakan, seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal yang tidak terjadi.
***
“I love you no matter what, Yang..” ucap Reiji yang menanggapi ucapan terima kasih Malia.
“Sekali lagi makasih,” sahut Malia.
“Kembali kasih, Nyonya Reiji..” balas Reiji, lalu sekali lagi mengecup ringan--namun penuh kelembutan dan hangat—kening Malia. “Aku tinggal bentar ya?—“
“Iya..” tukas Malia.
Reiji lalu tersenyum pada Malia dan mengacak kecil rambut istrinya itu yang sudah agak acak-acakan sebenarnya--sebelum Reiji mengayunkan langkahnya menuju pintu kamar penthouse milik salah seorang bos muda Reiji itu.
***
‘Ya ampun!’ Reiji memekik dalam hatinya ketika ia sudah memegang knob pintu kamar penthouse.
Kemudian membatin ketika ia memutar knob pintu hingga pintu tersebut terbuka.
‘Untung itu ART ga nyelonong masuk tadi! Saking gue udah ‘on’ berat gegara Lia, gue sampe ga merhatiin ini pintu kamar yang ga dikunci!..’
Sambil Reiji sedikit melebarkan pintu, agar tubuhnya dapat leluasa melewati pintu tersebut dan keluar dari kamar.
***
Reiji sudah membuka pintu kamar penthouse salah seorang bos mudanya itu, yang kemudian Reiji tutup kembali dengan rapat setelah ia melewati pintu tersebut.
‘Sepi..’
Reiji yang sudah mencapai pertengahan tangga penthouse itu membatin sambil celingukan ke arah kanannya, dimana posisi dapur penthouse milik salah seorang bos mudanya itu berada.
‘Lagi istirahat kali itu embanya?’
Lalu Reiji menduga di dalam hatinya.
***
REIJI
“Mba?..”
Aku memecah kesunyian di bagian bawah penthouse milik Tuan Jonathan dan istrinya, dengan memanggil satu art yang sebelumnya menyambutku, saat aku membopong Lia ke kamar yang ia tunjukkan.
Bukan apa—meski Ammar bahkan Tuan Jonathan sendiri telah mempersilahkanku untuk menikmati semua fasilitas dan menganggap penthouse milik Tuan Jonathan ini adalah tempatku sendiri, aku masih sungkan untuk menggeratak dapurnya mencari bahan makanan--atau bagus kalau ada makanan jadi—agar Lia tidak perlu menunggu lama untuk menghilangkan rasa laparnya.
Tapi paling tidak--sebagai adab, aku harus permisi dulu pada si art yang kiranya bertanggung jawab di penthouse milik Tuan Jonathan ini--Meskipun aku pada akhirnya jadi meminjam pakaian Tuan Jonathan.
Namun saat aku celingukan di dapur, lalu melongo ke dalam lorong samping kitchen set—tidak ada tanda-tanda keberadaan itu art, yang sudah aku panggil lagi untuk yang kedua kalinya. Hingga sungkan tak sungkan, aku berpikir untuk mengecek saja langsung kulkasnya.
Karena aku memikirkan Lia yang sedang sangat kelaparan. Akupun membuka kulkas yang ukurannya lebih besar dari kulkas dalam apartemenku dan Lia itu, tanpa lagi celingukan.
“Aku pikir kau pingsan karena diperkosa istrimu..”
“Astagfirullah!”
Aku spontan ‘nyebut’, sampai sedikit berjengkit ketika suara itu aku dengar, saat aku baru saja membuka kulkas untuk mengecek apakah ada bahan makanan atau bahkan makanan jadi di dalamnya.
***
“Ya ampun, Ammar..” Reiji langsung berucap setelah ia menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkannya itu, dimana ada Ammar yang mengulum senyumnya melihat Reiji memegangi dadanya sendiri itu.
“Pak Pilot yang hebat ternyata penakut juga?..” ledek Ammar kemudian.
“Bukannya takut.. emang situ aja yang dateng macem makhluk halus.”
Reiji langsung menanggapi ucapan Ammar, setelah sebelumnya ia terkekeh.
__ADS_1
“Ga ada suara langkahnya, tau-tau udah nongol aja tiba-tiba..” tambah Reiji, dan gantian Ammar yang terkekeh.
“Cari apa?” tanya Ammar setelah ia terkekeh karena guyonan Reiji. “Kalau air minum, setahu gue di dalam kamar Tuan Jo ada kulkas yang isinya minuman semua.”
‘Weh, bisa bahasa ‘elo-gue’ juga nih orang?.. kirain formal banget orangnya?.. bagus deh kalo gitu!—‘
“Kenapa?..”
Suara Ammar yang bertanya, memutus monolog Reiji dalam hatinya itu.
“Aneh mendengar gue bicara begini?..”
Lalu Ammar berkata lagi.
“Atau terganggu?..” tambah Ammar, dan Reiji langsung menggeleng seraya tersenyum geli.
“Mana ada terganggu?.. justru lega kalo emang situ ternyata bisa santai juga.”
Ammar tersenyum geli setelah mendengar sahutan Reiji.
“Well, mulai sekarang. Di luar situasi yang formal, kita bisa bicara layaknya teman.”
“Deal—“
“Deal.” Ammar menyambut uluran tangan iseng Reiji, dengan keduanya yang sama-sama terkekeh kemudian.
Lalu mengobrol berdasarkan kesepakatan mereka itu. “By the way, lo cari Ika kenapa?” tanya Ammar pada Reiji. “Dia sedang keluar untuk membeli makanan di bawah..”
“Oh, Ika namanya. Tadi gue ga perhatikan apa dia sebut nama atau engga.”
Ammar mengangguk paham. “Butuh apa? Kalau pakaian, Tuan Jo bilang lo boleh gunakan pakaiannya. Dan istri lo bisa gunakan pakaian Nyonya Via.”
“Iya, tadi Tuan Jonathan juga udah hubungi gue dan ngomong begitu. Ini, udah gue pinjem malah bajunya—eh iya!—“
“Kenapa?..” tukas Ammar seraya bertanya pada Reiji yang nampak mengingat sesuatu, disaat ia sedang menanggapi ucapan Ammar sebelumnya.
“Gue lupa bilang sama istri gue, kalo dia bisa pinjem pakaian istrinya Tuan Jonathan yang ada di lemari dalam kamar..” jawab Reiji.
“Udah sadar istri lo?”
“Iya udah—“
“Berarti benar dugaan gue, kalau lo diperkosa sama istri lo?—“
“Hahaha!!..“ gelak Reiji secara spontan.
“By the way, lo sudah mengabari keluarga lo, kalau lo sudah menemukan istri lo?..”
Ammar lalu bertutur.
Reiji sontak menepak jidatnya sendiri.
“Ah iya gue sampe lupa ngabarin mereka!”
“Saking terlalu fokus diperkosa istri sih ya?”
“Hahaha!!..” Reiji tergelak lagi setelah mendengar selorohan Ammar yang cengengesan.
Lalu Reiji berpamitan pada Ammar, untuk pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya untuk mengabari orang tua dan mertuanya tentan Malia yang sudah berhasil ditemukan.
‘Mudahan ga ditemuin Lia itu ponsel gue, karena gue takut ada chat aneh-aneh yang bikin Lia salah paham lagi sama gue.’
Reiji yang membatin saat ia sedang bergerak ke dalam kamar tempat ia meninggalkan Malia.
Dimana di dalam kamar, Malia yang sedang berada di dalam kamar mandinya tak lama selepas Reiji keluar dari kamar penthouse kini sedang memegang ponsel Reiji yang ia temukan tertutup pakaian Reiji yang terlipat di wastafel dalam kamar mandi.
Dan Malia sedang membaca sebaris pesan yang Malia lihat ada di paling atas sebuah aplikasi di dalam ponsel Reiji tersebut.
Ji, ini gue Irly.
__ADS_1
*****
Bersambung.....