WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 66


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Cinta Tidak Menciptakan Pernikahan. Pernikahan Yang Sadar, Terencana, Menciptakan Cinta. Hal Yang Sama Terjadi Pada Semua Hubungan.”


***


Sebuah senyuman mengembang di wajah Reiji, kala melihat kedatangan Malia yang menyusulnya ke Bandara.


“Sorry ya?.. Lama banget ya kamu nungguin?” Kalimat tersebut langsung dikatakan Malia pada Reiji yang sudah berdiri menunggunya itu.


“Santai, Yang.. Aku juga belum lama selesai briefing.”


Reiji dengan segera menyahut, lalu memberikan kecupan di pipi Malia yang sudah mulai terbiasa akan kebiasaan suaminya itu.


Kebiasaan yang membuat semua orang akan memperhatikan mereka berdua, karena sikap Reiji yang pastinya mendapat penilaian romantis dari mereka yang melihat sikap Reiji pada Malia.


Ditambah, Reiji juga tak sungkan untuk memeluk pinggang Malia posesif, meski itu berada di area tempat kerja Reiji.


“Ngomong-ngomong temen kamu mana?” Reiji bertanya sembari ia celingukan, karena katanya Malia datang bersama temannya.


“Dia langsung ke Terminal 3..” jawab Malia dan Reiji langsung manggut-manggut.


“Hmmm.”


“Kamu udah makan?..” tanya Malia.


“Kamu sendiri?..” Reiji balik bertanya.


“Belom!” sahut Malia.


“Ya udah, kita makan aja dulu kalo gitu disini?”


Reiji menawarkan.


“Atau mau cari tempat lain searah apartemen?”


“Sini aja deh,” tukas Malia. “Macet banget tau..”


“Ya udah kalo gitu. Yuk?” ajak Reiji. “Mau makan apa?” tanyanya kemudian.


“Kamu sendiri mau makan apa?” Malia balik bertanya.


“Kamu!”


Dengan cepat Reiji menyahut, dan Malia dengan cepat juga mencebik sembari mencubit perut Reiji, yang orangnya kemudian terkekeh.


***


“Mau makan apa jadinya, Yang?..” tanya Reiji.


“Apa aja deh. Yang penting halal dan bisa bikin perut kenyang. Lagian aku ga hafal tempat makan disini..”


“Ada food court sih di terminal 1, mau makan disana?.. Ada banyak pilihan disitu..” kata Reiji.


“Iya, boleh..” sahut Malia.


“Ya udah, yuk?..”


Malia pun mengangguk, dan mulai berjalan bersama Reiji yang kini merubah rengkuhannya, menjadi gandengan tangan.


Tetap nampak posesif dan romantis pada Malia, karena Reiji sering menoleh dan melemparkan senyum manisnya pada Malia.


“Eh iya Yang..” ucap Reiji.


“Apa?..” tukas Malia.


“Temen yang bareng kamu kesini tadi cewe atau cowo?”


“Cewe.”


“Beneran cewe?..”


“Ya bener lah.”


“Bagus deh..”


“Bagusnya?”


“Ya bagus jadi ga nambah cowo yang bikin aku cemburu kayak satu temen cowo kamu di kantor yang pernah rangkul kamu, terus sering makan siang sama kamu itu.”


Membuat Malia menoleh pada Reiji selepas mendengar ucapan Reiji barusan. “Riza?..”


“Masa bodoh deh sama namanya.”


Reiji menyahut masa bodoh, tapi Malia malah terkekeh.


“Sama Riza aja cemburu,” ledek Malia.


“Dah ah, ga usah dibahas,” sambar Reiji.


Sementara Malia terkekeh geli saja, melihat wajah sebal suaminya itu.

__ADS_1


**


“Temen kamu ga kamu ajak gabung kesini, Yang,” tanya Reiji saat ia dan Malia telah sampai di sebuah foodcourt dalam area Bandara, yang menyediakan banyak ragam jenis makanan. Dari mulai makanan Western, lokal, hingga oriental. Dengan suasana interior food court yang cukup keren dan nyaman.


“Udah aku ajak nih, baru dia bales.”


“Apa katanya?” tanya Reiji.


“Iya dia mau nyusul katanya, kebetulan dia sama cowonya juga laper,” jawab Malia.


Reiji pun manggut-manggut.


“Ga apa kan kamunya, kalo temen aku ikut gabung?”


“Ya ga apa dong.. aku malah seneng kalo bisa kenal sama temen-temen kamu..”


“Ya udah.”


Lalu Malia dan Reiji berbincang santai, hingga teman Malia yang datang bersama kekasihnya bergabung dengan keduanya. Sambil sesekali Reiji membalas sapaan beberapa kru maskapai yang kenal dengannya dan memang berada dalam satu naungan dengan Reiji.


**


MALIA


Aku terbangun ketika suara alarm sampai di telingaku.


Pukul 04.30 WIB.


Waktu yang mendekati waktu Subuh.


Aku memang sedang berhalangan, dan waktu tidurku masih kurang dari delapan jam.


Tapi di waktu tersebut, memang alarm sengaja aku pasang karena aku biasanya membangunkan Reiji untuk menunaikan kewajiban.


Meski kadang-kadang terlupa pasang alarm, atau bunyi alarm di waktu yang mendekati Subuh itu tidak tembus ke telinga jika aku habis ‘dibor’ oleh Reiji malamnya.


Terlalu lelah, karena stamina Reiji itu luar biasa banyak kalo soal begituan. Dan aku yang sulit mengimbangi staminanya itu, ya akan berakhir dengan kondisi terkapar dengan lunglai, sampe suka bablas Subuh.


Tapi berhubung saat ini aku sedang berhalangan, jadi kondisi tubuhku aman, meski tidur kurang dari jumlah jam yang dianjurkan untuk beristirahat.


Dan alarm tetap ingat aku pasang di waktu yang mendekati Subuh ini, untuk membangunkan Reiji, dan mengingatkannya soal kewajiban beribadah dari agama sama yang kami anut.


Dimana orangnya masih nampak terlelap pulas mendekapku. Hal yang akan selalu Reiji lakukan disaat kami tidur, sejak kami menikah.


“Rei..”


Aku memanggil Reiji untuk membangunkannya, dengan masih dalam posisi di dekapan Reiji setelah aku mematikan alarm di ponselku.


Mungkin Reiji lupa untuk menyetelnya saking dia cape. Lagipula sejak sampai di apartemen, memang tidak kulihat Reiji menyentuh ponselnya sejak ia meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur.


Salah satu hal yang aku sukai dari Reiji, yang menghargai quality time bersama pasangan apabila sudah berada di rumah, dengan tidak lagi fokus pada ponselnya.


“Rei..” aku kembali memanggil Reiji, dengan tubuhku yang sudah aku lepaskan dari dekapannya, dan sudah ku angkat sedikit sembari memukul-mukul pelan satu bahunya.


Dan di panggilan keduaku itu, Reiji mulai menampakkan kesadarannya.


“Jam berapa ini, Yang?” tanya Reiji dengan suara serak khas bangun tidur, yang sialnya terdengar begitu seksi di telingaku.


“Subuh dulu, Rei,” ucapku, dan kulihat Reiji mengangguk sembari ia mengulet lalu mengusap sudut matanya yang dibatasi dengan tulang hidung Reiji yang mancung.


Melihat Reiji yang sudah terjaga, aku pun hendak bangkit dan mencuci muka. Tapi tubuhku tertahan, karena ada satu tangan yang melingkari pinggang dan perutku.


Yang sudah aku tebak, apa yang akan aku dengar setelahnya.


“Morning kiss nya mana, Yang?”


Dan tepat seperti dugaanku. Reiji pasti meminta kecupan dipagi hari saat bangun tidur. Sekali lagi, biar Bonding katanya.


Heran, emang mulut aku ga bau apa ya pagi-pagi dari sejak nikah pasti dia minta cium, walau Cuma kecupan juga. Aku aja kadang suka ga pe-de kalo pagi-pagi Reiji minta cium pas banget aku baru melek, walaupun Reiji suamiku.


Tapi karena aku sudah berkomitmen untuk menjadi istri yang sebenar-benarnya untuk Reiji ya, aku tidak menolak untuk selalu memberikan morning kiss yang dia mau setiap bangun tidur. Lagian juga nafas Reiji tuh tetep aja harum mint, walau bangun tidur.


Dia konsumsi permen apa mau tidur?. Makanya aroma mulutnya seger aja gitu biar baru bangun tidur juga. Kan aku suka kadang keenakan kalo Reiji ga langsung lepasin ciumannya.


Seperti sekarang ini nih, alih-alih minta morning kiss yang Cuma berupa kecupan, tapi Reiji malah melahap bibirku, hingga membuat darahku sedikit berdesir pagi-pagi. Ga tau apa, kalo cewe yang lagi datang bulan itu cepet..


Ah jangan dibahas, malah makin pengen akunya nih.


Meresahkan sekali punya suami ganteng, sama jago maen bibir begini.


“Subuh, Rei.”


Sengaja aku ingatkan, kala bibir Reiji sudah turun ke leherku.


“Kangen..” Reiji berkata dengan nada manjanya. Sudah menghentikan aksi bibirnya adi leherku, tapi malah mendekapku dan menempatkan wajahnya di ceruk leherku.


Semakin meresahkan.


“Aku kan masih dapet, Rei..”


Dan aku ingatkan tentang hal itu, kala tangan Reiji sudah merayap ke balik kaos yang aku pakai tidur. Udah nyampe ke satu squishy ku malah.


“Lagian sholat dulu sana,” kataku, agar Reiji tidak semakin meresahkan diriku yang hormon sedang sedikit lebih sensitif dengan sentuhan.

__ADS_1


Berhasil, karena Reiji menarik tangannya dari balik kaosku, serta juga menarik wajahnya dari ceruk leherku, kemudian ia bangkit dengan lunglai dari tempat tidur.


Dan aku hanya mengulum senyumku saja memperhatikan suamiku yang baru ga dapet ‘jatah’ batin yang menjadi kegiatan favoritnya selama dua hari, namun lesunya macem orang ga makan seminggu.


“Kamu sebentar aja kan ya kalo dapet, Yang?”


Reiji yang sedang berdiri di ambang pintu kamar itu, menoleh padaku.


“Aku vertigo ini, kalo adek kecil aku kelamaan ‘nganggur’!”


Aigoo!!!.


**


“Kamu mau dimasakin apa hari ini, Rei?” tanya Malia pada Reiji yang sedang berdiri di balkon apartemen mereka.


Meski dirinya dan Reiji sama-sama libur di hari sabtu ini, dan meski keduanya bangun sangat pagi sekali, namun baik Malia dan Reiji tidak melanjutkan tidur mereka.


“Pesen online aja lah, Yang..”


Reiji yang sedang berdiri di balkon apartemen sembari menghirup udara segar pagi hari itu segera menyahut pada Malia yang sedang membuatkan minuman hangat untuk keduanya di pantri.


“Lagian kita kan mau beberes nanti, kecapean kamunya malah bisa-bisa,” ucap Reiji yang telah masuk dan menghampiri Malia yang berada di pantri. “Terus besok kan kita mau ke rumah orang tua.”


Lalu Reiji menyesap teh hangat yang telah Malia buatkan untuknya.


“Ya udah kalo gitu,” sahut Malia setelah ia juga selesai menyesap satu seruputan teh hangat dalam cangkir yang ia pegang.


**


Reiji dan Malia tidak langsung membereskan ruangan seperti yang keduanya rencanakan selepas mereka menikmati minuman hangat dipagi yang mana matahari masih sedang berusaha keluar dari persembunyiannya.


Reiji mengajak Malia untuk pergi mencari sarapan pinggir jalan untuk mengisi perut mereka, sekaligus jalan-jalan pagi yang dengan cepat disegerakan oleh Malia.


“Jogging aja sekalian yuk, Rei?” ajak Malia, kala ia selesai mencuci cangkir bekasnya dan Reiji.


Reiji pun mengiyakan. “Eh, tapi kamu kan lagi dapet, Yang?”


“Emang kenapa?..”


“Ga sakit nanti perut kamu kalo dibawa jogging?”


Malia menggeleng. “Engga lah .. lagian kan aku mah nyeri-nyeri doang. Itupun Cuma hari pertama aja ..”


“Ya udah kalo gitu. Ayo lah kita jogging bareng, mumpung ada momennya,” kata Reiji yang langsung diiyakan oleh Malia.


Malia saja yang mengganti celananya dan memakai sepatu untuk jogging. Sementara Reiji masih mengenakan pakaian yang ia pakai saat tidur, hanya menambah sepatu jogging saja.


Setelahnya, Reiji dan Malia segera keluar dari unit apartemen mereka untuk pergi jogging atau sekedar berjalan-jalan pagi, sembari mencari sarapan disekitaran area gedung apartemen mereka.


“Makan bubur yang ada di belakang ini gedung yuk, Rei?” ajak Malia. Dan Reiji pun mengangguk mengiyakan.


“Terus aku makan kamunya kapan?”


Dimana Malia mendengus geli saja melihat wajah Reiji yang dibuat sok imut dan memelas itu.


“Nanti enam hari lagi!” cetus Malia.


“Alamak!” tukas Reiji seraya mendelik. ‘Stok sabun bisa abis keknya ini sih, kalo enam hari lagi baru bisa ulala beibeh sama Lia!’


Reiji membatin dengan lesu.


**


MALIA


Aku dan Reiji telah kembali ke unit apartemen kami setelah kami berjalan-jalan pagi sembari mencari sarapan di dekat gedung apartemen tempat kami tinggal.


Dimana setelahnya, kami berleha-leha sebentar, sekaligus membersihkan diri karena rasa gerah dari keringat yang menempel. Aku dan Reiji sedang berada di pantri apartemen kami.


Reiji mengecek stok persediaan makanan di kulkas maupun di kabinet kecil pada kitchen set minimalis kami, sementara aku membuat puding instan untuk cemilan kami.


Untuk teman iseng kami nanti, saat aku dan Reiji membereskan kamar yang akan menjadi ruangan serbaguna kami.


Reiji kemudian pergi membersihkan kamar mandi, sementara aku masih membuat puding, karena aku masih harus menunggu cairan puding dalam panci kecil ini meletup-letup baru aku bisa memindahkannya dalam wadah anti panas yang telah aku siapkan.


Reiji masih berada di dalam kamar mandi, saat aku telah selesai dengan urusan bikin puding di pantri. Aku langsung pergi ke kamar tidur untuk merapihkannya, karena aku dan Reiji meninggalkan kamar tidur kami berantakan saat pergi untuk berjalan-jalan pagi tadi.


Dimana King-sized bed dalam kamarku dan Reiji itu tidak cukup berantakan, karena tidak ada ‘pertarungan sengit’ antara aku dan Reiji di atas sana semalam.


Hanya saja, jika aku melihat king-sized bed aku dan Reiji itu, aku berharap akan ada suatu keajaiban antara aku dan Reiji yang berasal dari sana. Anak, misalnya?. Mungkin dengan hadirnya seorang anak, aku bisa dengan cepat mencintai Reiji.


Semoga saja seperti itu.


Tapi yah, dengan atau tanpa kehadiran seorang anak dalam waktu dekat pun, aku berharap kalau aku bisa dengan cepat mencintai Reiji dengan sepenuh hati. Pada satu lelaki baik ini, yang sudah menjadi suamiku.


Laki-laki yang tak segan menunjukkan kemesraannya padaku didepan semua orang. Yang kadang membuatku malu sendiri.


Bukan malu pada orang-orang, melainkan malu pada Reiji. Karena dia sudah begitu sabar padaku, menungguku mencintainya.


**


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2