
Selamat membaca..
***
Dalam sebuah kamar suite hotel...
Dimana sepasang pengantin baru, yakni Malia dan Reiji, yang memang sedang berada di kamar tersebut untuk menginap semalam, setelah acara resepsi pernikahan keduanya dilangsungkan dalam hotel yang sama.
Dan dua insan sepasang pengantin baru, kini sedang dilanda kegugupan yang sama, meskipun sedang melakukan aktifitas yang berbeda. Reiji sedang berada di dalam walk-in-closet untuk berpakaian, sementara Malia sedang berada di dalam kamar mandi.
Reiji beberapa kali mengulum senyumnya saat sedang berganti pakaian di dalam walk-in-closet kamar suite hotel yang ditempatinya bersama Malia malam ini.
“Eh? ....”
Reiji seperti menyadari sesuatu.
“Kayaknya Lia ga bawa baju ganti waktu masuk ke kamar mandi tadi? ....”
Reiji mengingat-ingat, saat melirik koper kecil milik Malia yang masih rapat.
Dan setelah memakai kaosnya, setelah celana pendek santai rumahan telah Reiji kenakan terlebih dahulu, Reiji mengayunkan langkahnya untuk keluar dari walk-in-closet.
**
‘Duh, kenapa gue jadi gugup gini timbang mau ketok pintu kamar mandi buat nanyain Lia udah bawa baju ganti atau belum?’
Reiji bermonolog dalam hati, saat dirinya sudah berhadapan dengan pintu kamar mandi. Nampak salah tingkah sendiri.
‘Nanti Lia kira gue udah ga sabaran buat MP lagi?’ Kata Reiji dalam hatinya lagi. ‘Ah sabodo deh!’ Reiji pun mengangkat tangannya, hendak mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek....
‘Eh?’ Namun kemudian Reiji urung, karena mendengar suara knob yang dibuka dari dalam.
‘Nah kan keburu Lia selesai!’ Batin Reiji. ‘Aduh, kalo Lia Cuma handukan doang, bisa-bisa langsung gue angkat terus bawa ke ranjang ini sih! Ga perlu nunggu pulang ke rumah buat MP di kamar gue!’
Dan saat pintu kamar mandi baru terbuka sedikit, fokus Reiji juga hilang sedikit.
“Yang..” Namun begitu, Reiji mencoba menjaga sikapnya.
“R-rei ....” Sementara itu, gurat keterkejutan nampak di wajah Malia saat mendapati Reiji sudah berada di depan pintu kamar mandi saat Malia telah membuka pintu tersebut.
“Yang, itu.... aku barusan aja mau nanya, kamu udah bawa baju ganti atau belum,” ucap Reiji.
Dimana Reiji sedang menahan dirinya, saat melihat penampilan Malia saat ini.
Bohong saja jika Reiji tidak mulai merasakan sesuatu mulai bergejolak dalam dirinya melihat Malia hanya menggunakan jubah mandi yang meski menutup bagian atas Malia, namun panjang jubah mandi yang dikenakan Malia hanya sebatas paha istrinya.
“Oh, iya, aku lupa bawa baju ganti tadi,” sahut Malia.
‘Oh Damned! ( Oh sial! )’ Sementara itu Reiji merutuk dalam hati.
Pasalnya jubah mandi yang dikenakan Malia itu tidak cukup menyembunyikan bentuk dua gundukan didalamnya yang meskipun tidak mencuat, namun cukup membuat Reiji sedikit dug-dug-an.
*****
Selepas berpapasan dengan Reiji di depan pintu kamar mandi yang sempat membuat jantung Malia berdebar tak karuan, Malia langsung masuk ke dalam walk-in-closet kamar hotel tipe suite yang ia dan Reiji tempati untuk satu malam ini. Pikir Malia tadi, jika Reiji mau langsung buru-buru meminta haknya sebagai suami.
Alih-alih meminta haknya sebagai suami untuk yang pertama kali pada Malia, nyatanya Reiji hanya mau menanyakan soal baju ganti Malia. Untuk itu, Malia merasa geli sendiri karena kelewat parno bakal diapain-apain dalam kehalalan oleh Reiji.
Sedikit kepanikan yang disertai kegugupan yang dilanda Malia saat ia keluar dari kamar mandi, kini sampai lagi ke dirinya saat ia tengah membuka koper pakaian kecil miliknya.
‘Eh kemana piyama yang gue udah bawa?’ Malia mencari-cari dalam kopernya.
Malia membongkar koper kecil berisi beberapa potong pakaiannya yang tidak banyak itu, karena memang Malia dan Reiji hanya akan menginap satu malam saja di hotel, dan setelahnya Malia akan pergi ke rumah Reiji.
“Aduh, gimana ini???..”
Malia menggumam sedikit panik karena tidak menemukan piyama yang ia cari.
“Perasaan udah gue masukin itu piyama ke koper deh?....” Gumam Malia lagi. “Ga ada juga....”
Malia masih menggumam kala ia membuka lemari dalam walk-in-closet yang hanya ada beberapa pakaian dan barang-barang pribadi Reiji yang berantakan.
Sepertinya Reiji tidak merapihkan lagi barang-barang yang ia keluarkan dari kopernya, setelah berganti pakaian tadi.
Lalu Malia kembali lagi pada kopernya sendiri.
‘Ih, masa bra gue juga ga ada sih??? ..’ Batin Malia yang kembali panik, karena hanya menemukan dua potong kain segitiga nya saja.
__ADS_1
Lalu mata Malia melihat sebuah paper bag berpita di atas meja rias dalam walk-in-closet.
‘Oh, ya ampun ..’
Malia langsung saja merutuk dalam hatinya, saat ia melihat isi dalam sebuah paper bag tersebut, dengan sebuah pita besar yang merapatkan bagian terbukanya.
Satu setel pakaian tidur yang bukan piyama, ada di dalam paper bag tersebut.
Dan kini tangan Malia sudah memegang pakaian tidur yang adalah gaun tidur seksi itu, sekaligus memindai dengan matanya.
Pakaian tidur dengan tali spaghetti, berpotongan dada rendah berbentuk V, dengan panjangnya yang tidak panjang.
Karena panjang baju tidur tersebut, kira-kira hanya sampai pertengahan paha Malia saja.
Malia berdecak kecil sampai geleng-geleng, setelah ia membaca sebuah kartu yang tertempel di bagian luar paper bag.
Dimana di dalamnya tertulis,
‘Pengantin baru jangan pake baju tidur rapet-rapet, biar ga susah!’
Tertanda dalam kartu tersebut adalah tiga perempuan yang Malia sangat kenal, dan dipastikan adalah tersangka menghilangnya piyama Malia, berikut pakaian dalamnya.
Malia mendengus geli membaca tulisan dalam kartu yang tertempel di dalam paper bag tadi, dimana ada nama Avi, mamanya Malia sendiri, serta nama mama mertua yang tertanda di dalam kartu tersebut.
Ketiga wanita itu sepertinya benar-benar mempersiapkan malam pertamanya dan Reiji agar sempurna.
‘Dasar.’ Malia membatin geli.
Lalu ia memindai lagi gaun tidur yang ada di tangannya itu.
‘Daripada ga make apa-apa! ... Masa gue tidur pake dress yang bakal gue pake buat pulang besok??? ..’
Malia kembali bermonolog dalam hatinya. Sedikit ragu untuk memakai gaun tidur yang cukup seksi itu, meski tidak transparan.
‘Ya ampun.. kesannya gue pengen banget di perawanin buru-buru ini sih!..’ Batin Malia saat pada akhirnya ia kenakan juga gaun tidur seksi tersebut.
Untung saja ada outer yang menjadi setelan gaun tidur itu.
Jadi setidaknya, Malia tidak merasa risih-risih amat tanpa menggunakan penutup aset bagian atasnya.
Tadinya, Malia berpikir begitu. Sebelum ia mengenakan outer pasangan dari gaun tidur seksi yang ia kenakan.
Karena pada kenyataannya, outer pasangan gaun tidur tersebut tidak memiliki tali untuk dikaitkan agar bisa menutupi gaun tidur dengan belahan dada rendah itu.
Meskipun kalau di rumah, ya saat tidur Malia memang tidak memakai pernah bra.
Tapi sekarang kan beda, Malia tidak sendirian dalam kamar.
Kalaupun ia punya teman tidur, itu kan Avi, sang sahabat yang bergender sama dengannya.
Dan saat ini, ada teman tidur yang lain, dan akan menjadi teman tidur Malia seterusnya. Membuat Malia menjadi canggung luar biasa.
Bukan seorang yang asing, tapi tetap saja membuat Malia merasa canggung karenanya.
Ditambah pakaian tidur seksi yang Malia kenakan ini, menambah kecanggungannya pada pria yang sedang menunggunya diluar walk-in-closet.
Dan mungkin, sudah menunggunya di atas ranjang.
Siapa lagi kalau bukan,
Reiji...
Suaminya.
***
Malia memperhatikan dirinya pada kaca meja rias yang ada di dalam walk-in-closet kamar suite yang ia dan Reiji tempati saat ini.
‘Inget Lia ... Reiji itu udah jadi suami lo sekarang ...’ Malia membatin. ‘Jadi dia punya hak penuh atas diri lo, dari ujung rambut sampai ujung kaki ...’
Malia menatap refleksi dirinya sesaat di cermin rias. Lalu menarik-hembuskan nafasnya dengan pelan. Kemudian berjalan untuk keluar dari walk-in-closet, setelah mengeringkan manual rambutnya dengan handuk yang tadi menempel di kepalanya serta menyisirnya.
Malia berpikir jika dia dan Reiji kini sudah menikah.
Jadi rasanya Malia sudah harus membiasakan dirinya dengan kehadiran Reiji, sekaligus mungkin berpakaian seperti ini di setiap malam.
Dan rasa canggung apalagi malu untuk memakai gaun tidur seperti yang sedang Malia kenakan saat ini, rasanya sudah mulai harus Malia ditepiskan.
Perlahan Malia mengayunkan langkahnya untuk keluar dari dalam walk-in-closet. Dan memang, saat selangkah Malia telah sampai di luar walk-in-closet, sang suami, Reiji sudah dapat Malia tangkap dalam pandangannya.
__ADS_1
Sedang duduk di tepi ranjang, namun dengan posisi duduk yang tak sempurna, sembari bersandar santai di headboard ranjang sambil memegang ponselnya, dengan jemari yang tampak sibuk bergerak di layar ponsel.
Jantung Malia sudah berdebar tak karuan rasanya, saat kakinya ia langkahkan untuk mendekat ke arah ranjang.
Hendak berjalan ke sisi ranjang yang berlawanan dengan sisi dimana Reiji sedang berada sekarang, namun tidak jadi kala Reiji tahu-tahu menggerakkan kepalanya, berpaling dari ponsel yang sedang ia genggam, dan melihat ke arah Malia berada.
Dimana Reiji nampak terpaku, dengan jakun yang nampak bergerak pelan, seperti sedang menelan sesuatu.
Membuat Malia sedikit menjadi kikuk dipandangi Reiji seperti itu. Malia juga seolah terpaku di tempatnya berdiri sekarang.
Hingga kemudian suara Reiji terdengar. “Lia ...” Reiji mengulas senyuman sembari menatap Malia dari tempatnya. “Sini ...”
Gantian Malia yang meneguk salivanya.
***
Esok hari...
“Selamat datang, Nyonya Reiji Shakeel...”
Saat ini, Reiji sudah membawa Malia ke rumah orang tuanya.
Reiji dan Malia akan tinggal disana untuk sementara waktu, sebelum mereka pindah ke apartemen mereka sendiri.
“Makasih, Bapak Reiji Shakeel ...”
Malia menyahut sembari mengulum senyumnya, kala Reiji yang membawa Malia ke kamar pribadinya itu, sudah membukakan pintunya lebar-lebar.
Malia memindai kamar pribadi Reiji kala ia sudah berada di dalamnya bersama Reiji, saat Reiji membawa kopernya dan koper Malia masuk ke dalam walk-in-closet pribadinya.
Kamar Reiji, yang baru ini Malia masuki, walaupun sudah puluhan tahun mengenal Reiji.
Kamar dengan nuansa khas pria, namun saat ini di berikan sentuhan keromantisan, seperti halnya kamar suite di hotel tempat Reiji dan Malia menginap semalam, selepas resepsi.
Kamar hotel yang menjadi saksi, bahwasanya ritual malam pengantin tidak terjadi disana semalam.
Karena Reiji bilang, “Kita langsung istirahat aja ya, Yang? ...” Kata Reiji pada Malia semalam. “Kamu juga pasti capek kan? ...”
“Iya...”
Dan Malia pun mengiyakan.
Dimana Reiji yang langsung mendekati Malia itu, hanya membimbing Malia untuk membaringkan tubuhnya di atas sana.
Karena kata Reiji,
“Meski kamu begitu menggoda saat ini, Yank... Tapi aku ingin sesuatu yang istimewa untuk kita, yang pasti kamu tahu maksud aku apa, tidak kita lakukan disini...”
Lalu Reiji bilang lagi,
“Rasanya sayang aja bagi aku, kalau aku meminta hakku di kamar hotel yang ga akan kita tempati seterusnya ini. Aku mau kali pertama kita melakukannya, di tempat dimana kita, terutama aku, punya akses untuk akses masuk dengan bebas ke tempat kita akan mengukir kenangan soal malam pertama...”
“......”
“Jadi setiap kali aku memasukinya, bibir aku akan otomatis tersenyum untuk mengingat hal itu ...”
“Dimana emangnya? ...”
Malia yang kala itu berbaring miring menatap Reiji yang juga berbaring miring disisinya dan saling berhadapan, bertanya dengan polosnya.
“Kamar aku ...” Ucap Reiji.
Dan disinilah Malia sekarang.
Kamarnya Reiji yang ada di rumah keluarganya.
Yang secara otomatis kini akan menjadi kamar Malia juga.
Meskipun mungkin akan jarang ditempati, karena baik Malia dan Reiji akan tinggal di apartemen mereka yang masih sedang ditata ulang.
Malia masih sibuk melayangkan pandangan ke sekeliling kamar Reiji saat suara Reiji berikut sentuhannya di tangan Malia, Malia rasakan.
“Yuk...”
“Heu?”
“Mumpung ujan!”
***
__ADS_1
Bersambung ...
Terima kasih buat kalian yang masih setia!...