WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 269


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


Sebaris pesan Malia baca saat ia kembali memegang ponsel Reiji.


Dimana Malia yang sebelumnya ingin memblok nomor barunya Shirly itu mau tidak mau membaca lagi pesan baru yang masuk dari nomor tersebut.


Selain Malia juga penasaran, apalagi yang dikatakan Shirly dalam pesan chat terbarunya.


Ji, please. Sebentar aja tolong telepon. Argan nanyain lo terus.


Malia pun spontan berdecih dan menggerutu dalam hatinya setelah membaca sebaris pesan tersebut.


‘Anak dipake buat alibi godain suami orang,’ gerutu Malia dengan sinis dalam hatinya.


Setelahnya Malia meneruskan membaca pesan chat di bawah pesan sebelumnya yang membuat Malia menggerutu dengan sinis dalam hatinya itu----sedikit merutuki Shirly.


Ji, lo tega sama Argan?


Lalu, menyesal tak menyesal Malia membaca pesan chat terbaru dari si bibit pelakor itu. Dimana dua pesan di awal membuat Malia berdecih dan berkomentar sinis.


Namun pesan selanjutnya dari Shirly yang berentet itu membuat Malia terkejut sampai tercengang serta juga sedikit merasa geram.




Ji, lo inget ga janji lo sama gue?


Dulu, waktu  gue mau gugurkan Argan, lo yang nahan gue. Dan gue mau mempertahankan Argan karena lo janji mau bantu gue merawat dia.


Oke, gue pernah menghilang. Tapi bukan karena gue ga tau terima kasih. Tapi justru karena gue yang ga enak sama bantuan lo selama ini. Bahkan setengah gaji pertama lo sebagai pilot itu lo kasih buat gue----buat Argan lo bilang, karena lo udah menganggap dia sebagai anak lo sendiri.


Sekarang mana janji lo?----lo ingkar...


Lo tau, kenapa gue balik ke Jakarta?


Karena Argan butuh lo...


Dan gue pun sama merasa seperti itu. Gue butuh lo, karena keputusan gue buat balik ke Jakarta selain karena Argan, tapi juga karena perasaan gue ke elo. Yah, walau gue juga ga terlalu berharap. Karena gue ga tau apa lo masih punya perasaan ke gue seperti dulu, dan juga keluarga lo yang belum tentu mau terima janda satu anak ini. Gue cinta sama lo Rei... tapi ternyata gue telat dateng.


Dan gue nyesel baru dateng saat lo udah punya tambatan hati yang baru, yang sampai lo nikahi... tapi gue bahagia, karena gue lihat lo bahagia...


Dan gue memilih mundur...


Buat perasaan gue ke elo langsung gue kubur dengan terpaksa, setelah gue melihat lo begitu berbahagia bersanding dengan perempuan yang sekarang jadi istri lo itu----dan gue bertahan, hanya karena Argan yang memang butuh lo. Yang lo janjikan akan lo perlakukan seperti anak lo sendiri... tapi kenapa sekarang lo begini, Ji?


Hanya karena istri lo cemburu buta... yang membuatku gue berpendapat, kalau dia ga pantes buat lo setelah gue lihat tabiatnya waktu dia tau – tau dateng dan marah – marah ga jelas di apartemen gue, plus dia menyakiti Argan.


Fine kalo lo cinta dia. Tapi balik lagi, tolong pertimbangkan soal Argan yang membutuhkan lo, Ji. Ditambah lo tau kondisinya sekarang.


Kemana hati nurani lo? Kasih sayang dan perhatian lo sama Argan yang lo janjikan dengan sungguh – sungguh dulu?


Gue ga pernah minta lo kasih gue uang setiap bulan, dari dulu sejak masih di Canberra, sampai setelah kita ketemu lagi di Jakarta. Itu inisiatif lo sendiri. Dan gue juga sering bilang kan, kalau lo ga usah sampai seperti itu?


Tapi lo yang maksa----Bahkan setelah lo menikah, lo masih kasih uang setiap bulan yang mana amat sangat gue hargai...


Gue ga masalah kok Ji, kalau lo menghentikan uang bulanan lo ke gue asal lo jangan menjauhi Argan kayak gini.


Termasuk uang 300 juta yang beberapa hari lalu lo kasih ke gue, itu bisa gue kembaliin ke elo karena belum gue pakai... dan setelahnya lo ga perlu kasih uang lagi ke gue meskipun itu lo tujukan untuk Argan. Asal satu, lo jangan hilang perhatian sama Argan apalagi sampai menjauhi dia. Dan gue mohon banget untuk itu...




‘300 juta? ... Rei kasih Irly uang 300 juta?!’ seru Malia dalam hatinya yang sangat tercengang itu, setelah membaca pesan chat di kolom terakhir dari Shirly.


Lalu Malia mencibir Reiji dalam hatinya.


‘Dermawan sekali suamiku itu----menginterpretasikan ceramah seorang ustadz tentang menghidupi janda – janda! Heh!’




MALIA


Aku kesal, sangat----geram, tapi juga merasakan kekecewaan yang amat sangat pada Rei.


Masalahnya bukan pada nominal uangnya, tapi pada siapa dia memberikannya dan kapan. Mungkin, si bibit pelakor itu sedang mengalami masalah finansial dan Rei tergerak untuk membantunya.


Yah atas nama sahabat, pastilah akan tergerak hati untuk membantu sahabatnya yang sedang kesusahan.


Jika Avi yang ada di posisi seperti itu, aku memang tidak akan berpikir dua kali untuk memberikan uangku padanya.


Tapi Avi dan aku kan sama=sama perempuan. Sementara Rei dan si bibit pelakor itu?


Ditambah Rei melakukannya dibelakangku.


Mengetahui dulu dia sudah menafkahi si bibit pelakor itu saja, hatiku jadi tak nyaman.


Lalu fakta yang baru aku ketahui sekarang, jika Rei masih tetap melakukannya setelah ia menikah denganku. Bahkan tanpa mendiskusikan hal itu dulu padaku, atau bahkan sekedar menanyakan persetujuanku sebagai formalitas.


Dan itu menggores harga diriku sebagai seorang istri.




“Kok pake baju itu lagi, Yang?” tanya Reiji yang sudah ada kembali dalam kamar penthouse saat Malia keluar dari dalam kamar mandi.


“Ga enak lah makein baju orang ...”


“Iya, sih ...” timpal Reiji, sambil manggut – manggut kecil.

__ADS_1


“Mana tas bed covernya? ...”


Malia lalu bertanya.


“Oh itu, kata Ammar ga perlu repot. Si Mba Ika ga bocor mulutnya. Udah paham katanya.”


“Oh ...”


“Ya udah aku mandi dulu, ya?”


Reiji berujar.


“Kalo tas buat pakaian kotor kita ada?”


“Itu. Udah aku masukin baju bekas kamu.”


Reiji menunjuk sebuah paper bag yang sebelumnya ia bawa dari lantai bawah, dan kini ada di satu sisi di atas ranjang.


Malia hanya mengangguk saja.


“Oh iya aku lupa bawa baju kamu yang ada di atas wastafel.”


“Iya, ga pa – pa. Nanti aku bawa sekalian abis mandi,” kata Reiji, sebelum ia bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi penthouse.


Lalu saat di dalam pun Reiji tidak berlama – lama menunda untuk mandi, dan hanya melirik pakaian bekasnya yang masih berada di atas permukaan wastafel dengan ponsel miliknya yang ada di atas tumpukan pakaian bekasnya itu.


Reiji mandi dengan cepat, namun tak melupakan mandi besar yang harus ia lakukan.


Setelahnya ia kembali menggunakan pakaian yang sebelumnya ia pakai sama seperti Malia yang tidak mencari pakaian ganti baru di lemari dalam kamar penthouse yang mereka sedang gunakan itu.


Kemudian Reiji meraih ponsel miliknya yang sempat ia tekan salah satu tombolnya, namun layar ponselnya itu tetap gelap----dimana Reiji spontan saja membatin, ‘Pantes ga dipegang Lia ini hp. Low bat toh ...’


Tanpa Reiji curiga, sebenarnya Malia lah yang sengaja menonaktifkan ponselnya itu.


‘Sampai apartemen atau nanti pas di rumah mertua, mending gue langsung blok lagi deh nomor barunya si Irly daripada daripada.’


Kembali Reiji membatin. Lalu Reiji memasukkan ponselnya ke dalam salah satu saku celana yang ia gunakan, berikut dompet miliknya yang sudah ia keluarkan dari celananya yang terlipat sembarang itu.


Lalu Reiji melangkah keluar dari dalam kamar mandi sambil membawa pakaiannya. Setelah memastikan jika kamar mandi yang baru saja ia gunakan, telah kembali dalam keadaan rapih seperti semula.


Walau beberapa peralatan mandi di dalamnya Reiji sempat gunakan.


Namun setidaknya, Reiji memastikan jika keadaan kamar mandi tersebut tetap rapih dengan meletakkan handuk bekas pakainya ke keranjang cucian.


Sesuai dengan perkataan Ammar padanya, agar meninggalkan saja apa – apa yang sudah ia dan Malia pakai tanpa perlu merasa sungkan. Jadi itu yang Reiji lakukan.


Barang – barang dalam kamar mandi di letakkan seperti semula di tempatnya, lalu tempat tidur juga. Namun tempat tidur sudah dirapihkan Malia saat Reiji keluar dari dalam kamar mandi.



Dengan menggunakan helikopter yang sama yang ditumpangi Reiji untuk sampai ke Bogor bersama Ammar dan dua orang laki – laki yang merupakan bawahan Ammar, Reiji membawa Malia kembali ke Jakarta dengan menggunakan helikopter tersebut.


‘Perasaan gue aja, atau Lia jadi pendiam dari sejak abis mandi tadi?’ Reiji yang membatin. Setelah sempat ia memperhatikan sikap Malia. ‘Ah mungkin Lia inget lagi kejadian ga enak yang dilakukan si bibit pebinor bajngan itu sama dia.’* Kemudian Reiji menduga dalam hatinya.


Bahkan tidak memberikan komentar apa – apa saat tahu jika ia akan kembali ke Jakarta dengan helikopter. Padahal sebelumnya Reiji menduga jika Malia akan menjadi excited.


Lalu sudah sempat juga Reiji akan memesan layanan wisata keliling kota dengan helikopter yang sudah ada di Jakarta, jika Malia nampak antusias menggunakan helikopter. Yang mana niatan itu lalu Reiji urungkan karena Malia nampak datar – datar saja.


Terlalu datar bahkan. Hingga Reiji memiliki satu pendapat dalam hatinya. ‘Kok gue ngerasa kayak Lia acuhkan gue ya? ...’ sambil Reiji memperhatikan gerak – gerik Malia, ketika mereka telah sampai di apartemen mereka.


Namun Reiji tak berpikir hal lain lagi kecuali mungkin Malia kembali teringat dengan kejadian buruk yang belum lama menimpanya.


Makanya Reiji tak juga banyak bicara, saat Malia meloyor ke dalam kamar mereka saat telah sampai ke apartemen mereka itu. Dimana Malia nampak menjadi lebih pendiam dalam pandangan Reiji.



REIJI


Aku tidak mengikuti Lia yang meloyor masuk ke kamar saat kami telah sampai di apartemen.


Aku biarkan saja Lia yang nampak menjadi pendiam sejak kami pulang dari Bogor.


Mungkin Lia teringat lagi dengan kejadian buruk yang telah ia alami itu.


Atau mungkin saja, dia kembali memikirkan pesan chat dari Irly yang sebelumnya Lia baca lalu menuding jika Argan adalah anak biologis yang aku sembunyikan selama ini.


Bisa saja sih begitu. Mengingat Lia itu suka membahas apa yang telah berlalu, meski hal itu sudah pernah dibicarakan dan aku anggap selesai----tapi Lia kadang mengungkit hal yang sudah aku anggap selesai itu.


Ah sudahlah. Toh kalau soal janjiku pada Irly yang akhirnya Lia ketahui dan aku rasa itu mengganggunya, akan aku bicarakan nanti. Dan memang aku sudah berjanji untuk bercerita segalanya pada Lia.


Namun sebelum segalanya aku ceritakan pada Lia, aku keburu dikejutkan----setelah sebelumnya dibuat tak nyaman oleh ucapan Lia yang bernada entah cibiran atau sindiran. “Makan dulu yuk?  ... Baru abis itu kamu istirahat lagi.”


Begitu yang aku katakan pada Lia. Lalu aku menyambung ucapanku lagi.


“Tapi nanti habis makan aku mau keluar sebentar.“ Yang mana niatku keluar itu adalah untuk mengambil uang cash di ATM yang ada di area lobi apartemen,  berjaga – jaga jika Lia minta hunting kuliner kaki lima malam – malam, meski tadi aku menyempatkan diri untuk membeli makanan berat untuk kami berdua.


Sekaligus juga, aku yang hendak keluar selepas makan itu ingin sekalian membelikan kue kesukaan Lia di cake shop yang juga tersedia di area komplek apartemen kami sehabis aku mengambil uang cash di ATM.


---


Hanya saja sebelum aku mengatakan niatku yang hendak keluar itu, Lia keburu memotong dengan kalimat sindiran. “Mau ngunjungin anak laki – lakinya si Irly sekaligus mau nambahin uang buat dia atau mungkin buat ibunya? –“


“Maksud kamu? ...“


Aku sedikit tak paham dengan cibiran Lia.


Tapi didetik berikutnya aku digulung perasaan was – was.


Karena kata – kata Lia mengingatkan pada satu hal yang selama ini aku sembunyikan darinya. Yang mana aku memberikan Irly uang di setiap bulan setelah aku bertemu lagi dengannya, dan aku mengetahui kondisi finansial Irly yang tidak terlalu bagus itu dari pembicaraannya dengan om tantenya yang pernah aku antarkan Irly ke sana.


Apartemen yang ia tempati jauh kelasnya dari apartemenku dan Lia ini. uang tabungan yang ia punya yang mana Irly bawa dari Canberra pun aku terka tak seberapa jumlahnya, karena aku tahu pekerjaan Irly di sana. Dan atas hal itu aku berinisiatif untuk membantunya.


Aku bahkan menggaji seorang art untuk membantunya menjaga Argan, agar Irly dapat setidaknya tidak harus meninggalkan Argan di day care saat ia mulai bekerja di Jakarta ini. Lalu saat Argan di operasi, aku mentransfer Irly uang cukup banyak, karena penyakit Argan. Dan semua itu diluar pengetahuan Lia.


---

__ADS_1


Jika menelisik cibiran Lia sebelumnya, aku was – was jika Lia mengetahui beberapa hal yang aku sembunyikan terkait Irly itu darinya----dan perasaan was – was ku yang berpikir ke arah sana, terjawab saat Lia kembali bersuara sambil menatapku dengan sinis serta remeh.


“Ga ada hubungan spesial ... tapi setiap bulan rajin kasih uang sama janda satu anak yang katanya sahabat itu terus bulat kasih 300 juta. Sekarang mau keluar ... mau kasih uang buat beli rumah?“


Mati!


Darimana Lia tahu?!


---


Ingin aku tanyakan hal itu, tapi Lia keburu bicara duluan.


“Kamu emang kasih aku uang bulanan yang besar. Bahkan setengah gaji kamu dikasih ke aku. Termasuk uang dari hasil keuntungan bisnis kecil – kecilan kamu. Tapi sayang, hitungannya aku dikasih uang sisa dari kamu yang udah nyisihkan penghasilan kamu buat janda.”


Dan kalimatnya itu sontak membuatku membatu.


Lidahku kelu.


Tak terima sebenarnya Lia bilang begitu.


Tapi yang Lia ucapkan ada benarnya.


Meski uang bulanan yang aku sisihkan untuk Irly, yang mana untuk kebutuhan Argan sebenarnya----jauh lebih kecil jumlahnya dari yang aku berikan untuk Lia, namun tetap----atas dasar aku telah menyisihkan duluan----iya, aku memberikan uang pada Lia yang bisa dikatakan sisa.


Walau sisa itu banyak jumlahnya.


Aku menghela nafasku kemudian. Berat dan frustasi.


Entah bagaimana Lia tahu mengenai hal itu, akan aku cari tahu nanti.


Sekarang ini, lebih baik aku segera mengajak Lia bicara.


Meminta maaf padanya.


“Yang –“


“Aku mau istirahat dan tolong jangan ganggu.”


Lia menyambar saat aku hendak berkata.


Dan dia telah bangkit dari duduknya.


Mendengar ucapan Lia yang katanya ingin beristirahat----meski tahu jika itu alibinya saja untuk tidak berbicara denganku, aku tidak mencegahnya. Memang Lia juga membutuhkan istirahat yang lebih setelah kejadian buruk yang telah ia alami.


Jadi aku diam kemudian, sambil memperhatikan Lia yang berjalan ke arah kamar tidur kami.


“Aku ga minta penjelasan.” Namun sebelum ia mencapai pintu kamar, Lia berbalik dan berkata seperti itu padaku. “Jadi ga usah pusing ngarang cerita.”


Mencibirku sekali lagi.


Dan aku memilih diam, meski rasa tidak terima aku rasakan lagi di dalam hati atas ucapan Lia, yang secara tidak langsung aku adalah orang yang selalu berbohong padanya.


Tapi atas dasar aku tahu dan yakini jika Lia sedang dalam mood yang sangat tidak baik padaku saat ini, jadinya aku diam tak membalas ucapannya.


Hanya memperhatikan Lia yang kemudian meloyor pergi masuk ke dalam kamar setelah melontarkan dua kalimat tadi. Dan tak beranjak dari tempatku sampai kemudian aku terpaksa tidur di sofa, karena pintu kamar kami Lia kunci.


---


Tak dapat tidur, aku teringat ponselku yang mati.


Untung saja aku dan Lia sudah membeli beberapa charger yang kami letakkan di tiap – tiap tempat yang ada stop kontaknya, jadi andai membutuhkan tidak perlu repot mencari charger ponsel.


Dan aku mencharge ponselku, dengan satu charger yang tersedia di laci bawah televisi.


Dimana aku tahu, bagaimana sampai Lia mengetahui jika aku memberikan uang bulanan pada Irly selama ini setelah ponselku aktif.


Termasuk uang 300 juta untuk biaya pengobatan Argan.


Ingin sekali rasanya aku menghubungi Irly dan memarahinya atas rentetan pesan terbarunya yang baru aku tahu setelah aku menyalakan ponselku.


Yang mana saat aku ingin menambah dayanya, nyatanya ponselku itu tidak mati.


Dan aku yakin jika Lia yang sengaja menonaktifkannya, entah karena alasan apa. Ah tak tahulah.


Yang jelas aku harus memikirkan cara bagaimana untuk menenangkan Lia. Jangan sampai karena hal ini, dia lalu punya ide gila untuk meminta cerai dariku.


Ah ya ampuun!


Jangan sampai itu terjadi.


---


Tidak sih memang, tidak ada cetusan dari Lia di keesokan harinya tentang perceraian.


Karena Lia mendiamkanku, bahkan dia yang dapat cuti kerja beberapa hari itu----malah memilih untuk pergi bekerja.


Yang pamitnya Lia sampaikan lewat pesan chat, karena aku sedang di kamar mandi saat Lia ternyata sedang berdandan untuk ngantor tanpa aku tahu.


Aku ngantor. Ga usah dateng pas maksi dan ga usah jemput. Ga perlu khawatir aku bakal langsung pulang ke apartemen.


Begitu kalimat Lia dalam pesan chatnya. Yang kemudian aku pertimbangkan apa aku akan mengikuti maunya Lia.


Karena aku masih mengkhawatirkan keselamatannya di luar sana.


Lalu disela aku sedang menimbang – nimbang itu, sebuah nada notifikasi terdengar masuk di ponselku.


Pemberitahuan, jika ada transfer uang yang masuk ke rekeningku. Uang dalam jumlah yang cukup besar.


Dimana setelahnya, ada pesan chat masuk dari Lia. Aku udah kirim semua uang yang pernah kamu kasih ke aku. Sorry, aku ga sudi nerima sisaan.


Dan dari pesan chat Lia itu, menandakan jika ada lubang besar dalam bahtera rumah tanggaku dan Lia sejak saat ini.


❇❇❇❇❇❇❇❇


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2