
Selamat membaca....
***
REIJI
“Aku tersadar, aku salah, kamu salah, dengan keputusan akan perjodohan kita ini. Perjodohan yang seharusnya tidak pernah kita terima...” sambung Lia. “Garis jodoh kita ini, terlalu dipaksakan...”
Dan aku membeku di tempatku saat kudengar Lia mengatakan jika garis jodoh kami ini terlalu dipaksakan.
Ya Tuhan Lia, kenapa dia sampai berucap seperti itu?. Membuat gemuruh amarah di dalam dadaku ini kiranya kian bertambah, disaat yang sama hatiku terasa sedikit sakit.
“Aku tegaskan sekali lagi Lia, perasaan aku ke Irly itu masa lalu. Aku hidup untuk masa sekarang dan masa depan. Dan itu, adalah kamu.”
Aku berkata dengan lantang.
Aku sudah habis kata untuk menjelaskan pada Lia jika perasaanku pada Irly adalah masa lalu.
Hanya masa lalu.
Aku lelah menanggapi dugaan dan tuduhan Lia terhadapku atas perasaanku pada Irly. Aku memang pernah mencintai Irly, pernah mengharapkannya. Tapi otakku masih waras saat Irly menolakku.
Aku memang juga pernah bersedih hati saat Irly menolak cintaku yang menggebu kala itu, dan memilih laki-laki yang merupakan ayah biologis Argan.
Tapi aku tidak menjadi seorang Sadboy karenanya. Dan dalam waktu yang tak lama, perasaanku pada Irly sudah ku lepaskan tanpa sisa dari hatiku.
“Jangan lagi mengungkit masa lalu, baik masa lalu aku maupun masa lalu kamu.”
Lalu aku berjalan keluar dari kamarku dan Lia.
****
MALIA
Reiji meninggalkanku sendirian di kamar, setelah ia mengatakan agar aku tidak usah mengungkit masa lalunya juga masa laluku.
Sebenarnya aku berharap Reiji menenangkanku, membaik-baikkan diriku dengan mendekatiku. Bukan malah meninggalkanku sendirian di kamar.
Agar pikiranku ini tidak semakin ga karuan.
Fakta yang aku temukan mengenai Reiji dan Shirly, terlebih bahwa Reiji pernah memiliki perasaan spesial pada sahabatnya itu, memicu pikiran-pikiran dalam otakku yang mungkin tidak seharusnya ada.
Hal tentang masa lalu Reiji, pada akhirnya membuat masa laluku kembali menyelusup dalam pikiranku.
Membuat aku mempertanyakan keyakinan diriku sejak aku menerima perjodohanku dengan Reiji, menerimanya sebagai suamiku, dengan mengubur mimpiku untuk hidup bersama laki-laki yang sebenarnya sangat aku inginkan untuk menjadi suamiku.
“Lo udah dapet kabar dari dia? ....”
Aku ingat Avi bertanya soal itu, selepas aku curhat padanya mengenai perjodohanku dan Reiji.
“Belum ....” jawabku pada Avi seraya menggeleng.
Lalu Avi bilang, kalau aku sudah harus memutuskan.
Dan tak lama setelahnya aku pun mengiyakan perjodohanku dan Reiji.
Kini kepingan masa lalu Reiji, tentang siapa yang pernah benar-benar singgah di hatinya mengusikku. Perempuan yang menorehkan rasa yang mendalam di hati Reiji masih berada dekat dengannya.
Sementara aku, dan laki-laki yang menorehkan rasa mendalam di hatiku begitu jauh, bahkan sudah bertahun tak bertemu, atau sekedar berkirim kabar.
Ada perasaan tak adil yang aku rasa, hingga itu membuat ingatanku akan masa laluku sendiri bergejolak.
Berefek pada kebulatan tekadku untuk menjadi istri yang baik bagi Reiji, seolah perlahan menguap hanya karena masa lalu.
Yang lantas membuatku kini merasa ragu, karena kepingan-kepingan ingatan tentang masa laluku mulai terputar lagi di otakku.
Kepingan ingatan tentang Irsyad.
Kepingan ingatan yang membuatku merasa sendu.
***
Reiji yang telah keluar dari kamarnya, untuk meredam emosinya atas ucapan Malia yang terdengar bak tuduhan tak beralasan baginya itu, kini memilih untuk menenangkan diri di ruangan serbaguna yang ada dalam unit apartemen yang ia tinggali bersama Malia.
“Pelarian... piala kemenangan...” gumam Reiji yang duduk di sofa landai dalam ruang serbaguna yang didominasi oleh buku-buku dan action figures koleksinya. “Ngaco!”
Reiji pun merutuk.
Reiji sangat kesal sebenarnya, tapi ia coba untuk tidak terpancing amarah yang lebih lagi atas tuduhan Malia padanya saat di kamar tadi.
“Aku tersadar, aku salah, kamu salah, dengan keputusan akan perjodohan kita ini. Perjodohan yang seharusnya tidak pernah kita terima...”
“Garis jodoh kita ini, terlalu dipaksakan...”
Reiji teringat kembali ucapan Malia sesaat sebelum ia keluar dari kamar mereka. Kemudian Reiji mendengus sinis.
‘Lia, Lia... kita baru menikah dua bulan dan hanya karena masa laluku dengan sahabat perempuanku kamu mengatakan bahwa kita mengambil keputusan yang salah dengan perjodohan ini, pernikahan kita ini...’
Reiji menghela nafas panjang, kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa landai yang sedang ia duduki, lalu memejamkan kedua matanya.
***
REIJI
Aku sungguh tidak mengerti mengapa Lia membesar-besarkan masa laluku dan Irly.
Mempermasalahkan perasaanku pada Irly. Perasaan yang bukan aku kubur, namun sudah aku keluarkan dari hatiku.
Apalagi yang harus aku katakan pada Lia bahwasanya aku menerima perjodohan untuk menikahinya bukan semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan orang tua kami?.
Tapi karena memang aku mau, karena aku merasa yakin atas perjodohan kami.
__ADS_1
Karena Lia, istimewa bagiku.
Setelah pembicaraan perjodohan, dalam masa tiga bulan pendekatan sekaligus persiapan pernikahan aku sudah pernah membahasnya dengan Lia.
Membahas tentang keputusan Lia yang akhirnya juga mengiyakan perjodohan ini.
Aku bahkan sudah pernah menawarkan untuk berbicara dengan orang tua kami, jika memang Lia tidak yakin dan mau merubah keputusan ‘setuju’ nya menjadi ‘tidak setuju’.
Aku ikhlas, jika memang kami tidak berjodoh.
Tapi tidak setelah pernikahan terjadi.
Hanya karena dugaannya secara sepihak tanpa mau mendengarkan penjelasanku, tak yakin akan kejujuranku atas perasaanku padanya, bisa-bisanya Lia bilang kalau pernikahan kami ini ada sebuah keputusan yang salah.
Oh Lia, dari sejak aku mengiyakan untuk menikahi kamu, dan sejak kamu tak lagi mau merubah keputusanmu untuk tetap menikah denganku, keputusan kita seharusnya sudah tepat, bukan?.
Dan aku masih mengingat dengan jelas senyuman manis kamu, kala kamu mengiyakan saat keputusan kamu sudah bulat untuk menerima aku sebagai suami kamu, Lia.
Untuk itu, bukankah kita harus berjalan maju, tanpa harus memikirkan masa lalu?. Masa lalu yang kamu permasalahkan hanya karena dua lembar foto, yang aku tidak tahu kalau sampai terbawa kesini.
Dua lembar foto yang bahkan tidak aku ingat lagi keberadaannya!.
***
Beberapa jam kemudian.
Waktu berlalu, menggeser langit malam, dengan langit terang.
“Ya ampun!”
Itu Malia, yang terperanjat kala ia bangun dari tidurnya, ketika melihat waktu pada jam dinding di kamarnya telah menunjukkan jam delapan pagi.
Malia dengan segera bangkit dari tempat tidur dengan sedikit gelagapan.
“Mati gue!”
Malia merutuk kecil.
“Rei...” Namun kemudian Malia menggumam, saat melihat jika ranjang di sebelahnya kosong.
Ingatan tentang pertengkarannya dengan Reiji terputar di otak Malia.
“Apa Reiji ga tidur di kamar semalam?” gumam Malia yang kemudian menghela panjang nafasnya. “Atau Rei udah berangkat kerja ya?”
Malia menggumam lagi sambil membalikkan badannya yang tadi menghadap ranjang, untuk masuk ke dalam walk in closet.
“Eh, tapi ini navy bag nya Rei masih ada... Berarti Rei masih ada disini.” Malia menggumam lagi. ‘Mungkin lagi mandi... Gimana ya nanti pas gue papasan sama Rei setelah apa pertengkaran kami semalem?’
Malia membatin.
‘Ah liat aja gimana-gimana nya deh...’
Malia melanjutkan apa yang ia ingin lakukan dalam walk in closet.
Setelahnya Malia melangkah cepat untuk keluar dari walk in closet dengan membawa serta pakaian kantor dan handuknya, berikut sepasang dalaman pribadinya.
***
MALIA
Aku bangun dengan terperanjat pagi ini.
Tidak bangun sesantai seperti biasanya.
Entahlah. Mungkin beban pikiran dan hatiku penyebabnya.
Dan aku tersentak, kala melihat waktu pada jam dinding telah menunjukkan jam delapan pagi.
Demi apa, aku udah benar-benar terlambat buat pergi ke kantor. Akupun segera bangkit dari ranjang dengan tergesa, gelagapan.
Namun aku menjeda langkahku untuk segera masuk ke dalam walk in closet dan mengambil pakaian kerjaku berikut embel-embelnya.
Ku sadari sisi tempat tidur bagian Reiji kosong.
Entah dimana dia, yang jelas tidak ada di kamar.
Tapi navy bagnya masih ada. Mungkin Rei sedang mandi.
Ingin aku menyiapkan seragam pilot dan keperluannya seperti biasa.
Namun aku sedikit ragu, karena aku tidak tahu jadwal kerja Rei hari ini.
Tak ada pembahasan soal itu, karena sedari kemarin aku sibuk dengan gejolak di pikiran hatiku mengenai masa lalu Rei dan perasaannya pada Shirly.
Dimana hal itu, memicu diriku yang kembali mengingat puing-puing masa laluku dan Irsyad.
Selain percakapanku dan Reiji dengan membahas masa lalunya berdasarkan dua foto yang aku temukan akhirnya menjadi perdebatan dan pertengkaran.
Dan kini aku bingung bagaimana aku harus bersikap pada Reiji.
Ah sudahlah.
Nanti saja hal itu aku pikirkan.
Masih ada juga ganjalan dihatiku mengenai sikap Reiji padaku semalam.
Dia memang tidak marah sampai membentakku. Tapi dari nada suaranya aku bisa menangkap jika Reiji merasa kesal.
Tapi aku juga kesal dengan sikap Reiji.
Alih-alih menenangkanku, dia malah meninggalkanku sendirian di kamar begitu saja setelah Reiji bilang,
__ADS_1
“Aku tegaskan sekali lagi Lia, perasaan aku ke Irly itu masa lalu. Aku hidup untuk masa sekarang dan masa depan. Dan itu, adalah kamu.”
Aku menggigit bibirku kala aku dengar kalimat itu keluar dari mulut Reiji. Aku terenyuh. Tapi jika memang Rei ingin hidup untuk masa sekarang dan masa depan, seharusnya ia tidak membawa serta kenangan masa lalunya bersama Shirly kesini.
Kepalaku sedikit pening, kalau memikirkan hubunganku dan Rei, serta bayang-bayang masa lalu kami. Ah entahlah, yang sekarang harus aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa dapat pergi ke kantor secepatnya.
Aku merem*s keningku.
Hubunganku dan Rei bermasalah, dan aku sangat terlambat ke kantor.
Ceklek.
Kudengar pintu kamar terbuka.
Bersamaan dengan sosok Reiji yang seperti dugaanku bahwa dia sedang mandi tadi.
Andai saja aku tidak habis bertengkar dengan Reiji semalam, pasti dia sudah aku semprot karena tidak membangunkanku saat ia bangun yang mungkin juga sama terlambat bangun sepertiku.
Hingga aku kelewatan shubuh dan sangat-sangat terlambat untuk pergi ke kantor.
“Ini hari sabtu.” Reiji bersuara.
Hah?. Apa?.
Aku terdiam sejenak.
Lalu meraih ponselku.
Ya ampun!.
Aku merutuk dalam hati saat aku meraih ponselku dan melihat waktu berikut hari dan tanggal yang ada di bawahnya.
Aku menepak jidatku.
Bodohnya aku yang tidak mengingat bahwa hari ini adalah hari sabtu dan aku libur bekerja.
Pantas saja ponselku sepi sedari aku bangun tidur tadi.
**
Suasana pagi ini dalam apartemen Reiji dan Malia tak seperti biasanya.
Aura dingin yang terpancar dari diri dua orang yang tinggal di dalam apartemen tersebut mendominasi suasana.
Tidak ada sapaan selamat pagi, apalagi morning kiss yang biasanya Reiji minta pada Malia. Bahkan keduanya belum saling bertegur sapa, saat sempat berada di kamar bersama beberapa saat.
Hanya sebaris kalimat berisi tiga kata dari Reiji saat melihat Malia tengah memegang set pakaian yang Reiji ketahui adalah pakaian kantor, berikut selembar handuk. Berucap untuk mengatakan jika hari ini adalah hari sabtu, setelah melihat Malia memegang set pakaian kantoran.
Setelahnya, tak ada kata lagi yang keluar dari mulut Reiji yang masuk ke kamar sehabis mandi, sampai ia rapih berpakaian, namun Reiji mengenakan pakaian santai rumahan. Wajah Reiji nampak datar, sedatar suaranya saat berucap untuk mengingatkan pada Malia jika sekarang adalah hari sabtu.
Reiji langsung keluar dari kamarnya dan Malia, setelah ia rapih berpakaian.
Meninggalkan lagi Malia yang masih berdiri di tempatnya dan juga sekilas melirik Reiji yang berjalan keluar dari kamar mereka.
“Fuhhh...”
Disaat yang bersamaan, di tempat yang berbeda.
Reiji yang berada di balik pintu kamarnya dan Malia setelah ia keluar dari sana dan bersandar pada daun pintunya yang tertutup, serta Malia yang masih bergeming di tempatnya, sama-sama menghela nafas mereka.
Masih sama-sama bingung untuk bersikap.
Berikut gengsi yang sedikit mendominasi.
**
Malia keluar dari kamarnya dan Reiji setelah ia memasukkan kembali pakaian kantor dan lainnya yang telah ia ambil dari dalam walk in closet tadi, setelah mengetahui bahwa hari ini adalah hari sabtu.
Harum masakan menguar dan tercium oleh hidung Malia, saat ia membuka pintu kamar.
‘Rei masak?’ batin Malia, yang melihat Reiji nampak sedang sibuk di pantri apartemen mereka. ‘Eh bener dia lagi masak!’
Malia kembali membatin, saat melihat sebuah wajan teflon berada di atas kompor, dan Reiji memasukkan sepiring nasi putih ke dalamnya, yang kemudian Reiji aduk dengan nampak serius.
‘Harum banget.’
Aroma yang menguar dari apa yang sedang dimasak Reiji, menggugah selera makan Malia yang tidak disadari Reiji telah berada di pantri, karena Reiji masih nampak sibuk dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang.
Malia menarik tipis sudut bibirnya. Ia sudah menebak apa yang sedang Reiji masak saat ini.
Nasi goreng.
Salah satu makanan kesukaan Malia.
“Misi...”
Malia berucap saat ia telah berada di dekat Reiji yang sedang berdiri menghalangi tempat dimana Malia ingin mengambil cangkir untuk membuat teh.
Reiji yang hendak mengambil sesuatu dari salah satu kabinet pantri itu sedikit terkesiap dengan kehadiran Malia di pantri. Reiji hanya sekilas menoleh dengan menggeser tubuhnya.
Dan Malia kemudian memajukan tubuh serta sedikit berjinjit untuk membuka salah satu kabinet pantri tempat penyimpanan cangkir dan gelas.
‘Dia udah buat minum untuk dirinya sendiri belum ya?’ batin Malia.
Sembari matanya melirik ke arah meja makan dan meja di depan televisi, untuk melihat apakah Reiji sudah membuat minuman pagi seperti biasanya.
‘Belum kayaknya.’ Malia membatin lagi, karena dua meja yang ia perhatikan tadi nampak kosong. ‘Gue bikinin juga deh...’ Malia membalikkan tubuhnya untuk mengambil satu cangkir lagi di dalam salah satu kabinet penyimpanan.
“Buat minuman untuk kamu sendiri aja.”
**
__ADS_1
Bersambung...