WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 91


__ADS_3

Noted:


Bagi kalian yang tidak merasa puas dengan karya ini, segera saja skip dan unfave yah. Jangan memberi komen yang nyinyir.


Memberi saran kiranya mempergunakan bahasa yang baik, jangan asal nyeletuk di tulisan, hingga berefek pada mood author.


Bagaimana penulisan di novel ini pun sudah dijelaskan pada detail info novel. Kalo ga ‘nyampe’ pahami maksudnya, jangan diterusin baca.


Gitu aje ye.


Thank you!.


***


Selamat membaca....


***


Sebagaimana Malia yang memilih menghabiskan waktu tanpa Reiji, begitupun dengan apa yang Reiji lakukan.


Well, memang Reiji tak ada pilihan, karena Malia sudah lebih dulu meninggalkannya sendirian di apartemen mereka.


Jika Malia mengatakan pada Reiji kalau dia sudah memiliki janji dengan temannya, pada akhirnya Reiji pun memutuskan untuk bergabung bersama para sahabatnya yang sedang berkumpul di apartemen Shirly. Mungkin saja-pikir Reiji, berkumpul bersama para sahabatnya itu akan membantu menenangkan serta menghibur dirinya.


Diri Reiji yang sedang dilanda kekesalan atas keegoisan Malia hari ini dengan pergi tanpa lagi meminta ijinnya untuk pergi bertemu dengan temannya, tanpa memperdulikan Reiji, bahkan diantar pun tak mau. Padahal Reiji sedang menekan emosinya, untuk tidak sampai ia tunjukkan pada Malia karena sedikit banyak sikap Malia yang katakanlah kurang menghormatinya sebagai suami, sungguh membuat Reiji tidak nyaman.


Jadi Reiji memutuskan untuk mengikuti jejak Malia yang janjian dengan temannya itu, untuk datang memenuhi undangan Shirly untuk berkumpul bersama dengan para sahabat mereka yang lain di apartemen sahabat perempuannya itu.


‘Tinggal gue pikirin alesan ke anak-anak kenapa gue dateng sendirian tanpa Lia!’


Monolog Reiji dalam hatinya, saat ia sudah mengendarai mobilnya menuju apartemen Shirly.


***


REIJI


Sekitar pukul delapan malam aku telah kembali ke apartemenku dan Lia.


Setelah aku menghabiskan waktu yang cukup menyenangkan bersama para sahabatku di apartemen Irly. Yang mana tak hanya para sahabat inti ku yang ada disana, tetapi juga pasangan-pasangan mereka.


Hanya aku dan Irly yang tanpa pasangan.


Yang mana Irly memang seperti masih trauma untuk memulai dan membina hubungan dengan laki-laki lain, setelah kisahnya dan ayah biologis Argan.


Dan Irly cukup terlihat baik-baik saja tanpa seorang pasangan. Berbanding terbalik denganku, yang memiliki pasangan, namun baru beberapa bulan menikah, hubunganku dan Lia malah terkesan berjalan mundur.


Hanya perihal masa laluku dan Irly sebagai sahabat, dan aku yang pernah memiliki rasa padanya, yang membuat hubunganku dan Lia menjadi terkesan berjalan mundur seperti itu. Padahal sudah aku tekankan berkali-kali pada Lia mengenai perasaan spesial ku pada Irly yang sudah tidak ada sama sekali.


Namun sepertinya Malia belum percaya, jika mengingat sikapnya yang sedikit-sedikit mengungkit, nyinyir tentangku dan Irly.


Yang memilih untuk menghabiskan waktu dengan temannya, ketimbang duduk dan bicara dari hati ke hati denganku. Sedikit membuatku kesal, sedikit menyinggung egoku.


Yang mana ego itu akhirnya membawaku untuk pergi saja berkumpul dengan teman-temanku juga. Para sahabatku.


Dimana waktu yang aku habiskan dengan mereka di apartemen Irly terasa menyenangkan, karena bertabur tawa dari cerita-cerita nostalgia kami.


Aku memang kesal pada Lia atas sikapnya padaku hari ini, namun tak menampik jika selama berkumpul dengan para sahabatku di apartemen Irly itu, aku terus memikirkan istriku itu.


Aku bahkan menyempatkan mengirimi Lia pesan chat, untuk menanyakan keberadaannya. Dan jawaban Lia hanya,


‘Masih sama temen.’


Aku tanyakan lagi apa dia mau aku menjemputnya, Lia bilang ga usah makasih, bawa mobil sendiri.


Tak berpikirkah Lia, jika saat dia pergi untuk janjian dengan temannya itu aku hanya kembali menikmati mi instan saja?.


Karena kesal dia melupakan kewajibannya sebagai istri untuk mengurusi ku?. Rasanya memikirkanku pun tidak, karena tidak ada chat balasan dari Lia yang bertanya aku makan siangnya gimana, dengan apa?.


Bertanya apa aku sudah makan pun, tidak. Egonya Lia.


Yang mana memicu egoku, naik lagi ke permukaan. Jika Lia tak memperdulikan perasaanku, apa aku perlu memperdulikan perasaannya?.


Jadi aku mengirimkan pesan chat pada Lia yang mengatakan jika aku pergi ke apartemen Irly untuk memenuhi undangannya berkumpul bersama dengan teman-temanku yang lain.


Dan tak ada lagi balasan chat dari Lia, meski pesanku itu tertanda telah terbaca.


Mungkin Lia kesal.


Tapi selain itu karena egoku, aku hanya juga ingin jujur padanya.


Walau aku yakin, Lia tidak akan pernah tanggap soal itu. Tentang aku yang berusaha jujur padanya.


Jika Lia sedang kesal padaku, aku pun sama. Tapi aku merindukannya.


Terkesan lebay?. Terserahlah.

__ADS_1


Yang jelas itu yang aku rasakan.


Dan rindu itu masih aku rasakan, sepanjang aku dalam perjalanan pulang dari apartemen Irly, hingga aku telah masuk ke dalam apartemenku dan Lia ini.


Aku merindukan Lia, meski hari ini sikapnya sungguh menjengkelkan hingga kesalku naik ke permukaan. Rindu yang menguar, dikarenakan cintaku pada Lia sedang bertumbuh.


Dan aku berharap rinduku akan segera mengurai ketika aku sampai di apartemenku dan Lia.


Namun sayang, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.


Lia nyatanya belum kembali ke apartemen kami.


Sepertinya Lia terlalu asyik menghabiskan waktu dengan temannya yang entah siapa itu.


----


Hingga waktu hampir menunjukkan jam sembilan malam pun, Lia belum juga kembali ke apartemen kami. Aku coba menghubunginya, namun panggilanku tak terjawab.


Entah memang Lia tidak menyadari ada panggilan telepon dariku karena mungkin ponselnya Lia simpan didalam tas hingga ia sampai tidak mendengar panggilan teleponku yang masuk ke ponselnya, atau mungkin memang Lia sengaja mengabaikannya.


Pesan chat dariku pun belum menjadi biru tanda centangnya. Membuat aku jadi penasaran tentang teman Lia yang sedang bersamanya itu. Apakah laki-laki atau perempuan?. Karena sepertinya Lia terlalu asyik menghabiskan waktu bersamanya.


Jika perempuan aku masih bisa maklum. Karena biasanya mereka senang memang yang namanya ngobrol atau shopping sampai lupa waktu. Tapi jika laki-laki.. Entahlah, aku tidak ingin berpikir buruk tentang Lia. Tak ingin juga berprasangka, karena kemungkinan besar akan memperburuk keadaan.


Jadi ku sibukkan diriku untuk membaca saja, setelah aku membersihkan diri dengan cepat.


Menekur, untuk memikirkan tentang sikap Lia padaku akhir-akhir ini. Ingat candaan para sahabatku tadi saat aku diketahui hanya datang sendiri.


Dimana mereka bilang, “Jangan-jangan bini lo tuh cembokur sama si Irly.”


Apa iya begitu?.


Apa mungkin ada cemburu jika Lia belum mencintaiku?.


Yah, meskipun selama ini Lia sudah berperan sebagai istri untukku dengan sepenuhnya, termasuk dalam memberikan hakku sebagai suaminya.


Atau Lia sudah mencintaiku?. Makanya ia cemburu atau mungkin marah pada Irly hingga ia tidak mau aku ajak menemui sahabatku itu, walaupun ada sahabat-sahabatku yang lain.


Bahkan ada Abbas yang notabene adalah idolanya Lia.


Tapi Lia nampak lebih tertarik bertemu dengan temannya itu. Dan hingga pukul setengah sepuluh malam pun, Lia belum kembali.


Aku pun memutuskan untuk membaringkan diri di atas ranjang tempat tidur, sambil menunggu Lia pulang.


Aku tidak menghubungi Lia lagi, meski hatiku sedikit gelisah. Aku tidak ingin memicu kejengkelan Lia yang dapat mengakibatkan hubungan kami menjadi renggang.


Dan tak berapa lama kemudian, aku mendengar pintu depan apartemenku dan Lia dibuka.


***


Bersamaan dengan Reiji yang menghela nafasnya kala ia sudah berbaring di atas tempat tidurnya dan Malia, pintu apartemen mereka terdengar dibuka.


Pelan, namun Reiji masih dapat mendengarnya. Hingga sampai pintu tersebut terdengar telah dikunci.


Namun Reiji bergeming di tempatnya.


‘Akhirnya kamu pulang juga, Li....’ batin Reiji yang mendengar knob pintu kamar tak lama dibuka, bersamaan dengan sosok Lia yang tampak dalam keremangan cahaya kamar, yang memang sudah Reiji matikan lampu utamanya.


Mata Malia langsung mengarah ke tempat tidur kala ia masuk ke dalam kamar pribadinya dan Reiji, setelah ia membuka pintu kamar dengan perlahan, namun tanpa mengendap-endap.


‘Syukur deh dia udah tidur. Paling engga kami ga harus ribut malem-malem gara-gara gue pulang jam segini..’ monolog Malia dalam hatinya. ‘Sorry ya Rei..’


Malia menatap Reiji yang nampak sudah tertidur menurutnya, sebelum ia bergegas masuk ke dalam walk-in-closet, lalu keluar lagi dengan membawa pakaian ganti.


Dan Malia keluar lagi dari kamarnya dan Reiji untuk pergi ke kamar mandi guna membersihkan dirinya.


Dimana sebenarnya tanpa Malia tahu, Reiji belum tertidur.


Suaminya itu pura-pura saja nampak tertidur saat Malia masuk ke dalam kamar mereka.


Hingga sampai Malia telah kembali ke kamar dengan sudah mengenakan satu setel piyama, Reiji masih berpura-pura sudah tertidur.


Dan Malia dengan perlahan berjalan menuju tempat tidur, serta dengan perlahan juga mengambil tempat pada sisi ranjang tempatnya biasa tidur.


***


REIJI


Aku berpura-pura tidur saat Lia masuk ke dalam kamar. Yang mana aku tahu jika memang istriku itu lah yang masuk ke dalam kamar.


Memang siapa lagi?.


Rasa-rasanya ia tak langsung bergegas pergi ke walk-in-closet untuk segera mengganti baju atau membersihkan make-up nya, karena aku merasakan jika Lia sedang berdiri berjarak dariku dan sedang menatapku.


Entah apa yang sedang Lia pikirkan saat kurasakan ia sedang menatapku yang pura-pura tidur ini.

__ADS_1


Karena aku mendengar helaan nafas Lia yang terdengar berat, meski pelan saja, sebelum kemudian ia melangkah ke dalam walk-in-closet kami, lalu tak lama keluar lagi untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


Aku tidak tahu bagaimana suasana hati Lia sekarang ini, namun aku sudah memutuskan untuk tidak membuat keadaan hubunganku dan Lia sekarang menjadi berkepanjangan.


--


Setelah Lia kembali ke kamar dan berganti pakaian, ia langsung membaringkan dirinya di atas ranjang pada sisi sebelahku. Seperti biasa. Dimana aku kemudian membuka mata dan langsung memeluk Lia.


Dan Lia pun terlonjak kaget.


Dengan segera juga Lia membalikkan tubuhnya hingga menghadapku.


“Astaga Rei! Kamu belum tidur? ..”


Lia langsung juga melontarkan pertanyaan.


Aku tersenyum seraya menggeleng. “Belum.”


Ku jawab pertanyaan Lia dengan menatapnya lekat-lekat.


“Nunggu kamu.”


Seiring dengan lembutnya ucapanku.


Aku mematikan ego untuk pertengkaranku dan Lia hari ini.


Tak lagi berbicara ketus untuk bertanya kenapa jam segini dia baru pulang, kemana saja, dengan siapa. Semata-mata karena aku tidak mau ada pertengkaran lagi.


Cukuplah cekcok kami pagi hingga siang tadi. Jadi aku mematikan ego, dan menaikkan rinduku pada Lia.


“Maafin aku.”


Hingga kata maaf tercetus dari mulutku, terlepas siapa yang salah sebenarnya.


Aku tak perduli.


Aku hanya, rindu ....


“Aku kangen, Yang ....”


Sambil aku mengelus pipi Malia yang menatapku dengan tatapan yang sulit sedikit sulit aku mengerti.


“Kangen?....” sahut Lia dan aku mengangguk.


Aku semakin mendekatkan diriku pada Lia.


“Kita baru ga ketemu beberapa jam, Rei....”


Malia berkata.


“Masa –“


Cup!.


Tak kubiarkan Lia meneruskan ucapannya.


Karena aku membungkam bibirnya dengan bibirku.


Berharap, jika setelah ini, aku dan Lia akan kembali baik-baik saja.


Kusesapi bibir Lia, yang orangnya pasif saja.


Ada rasa heran yang menyelusup di hatiku, karena biasanya Lia-meski tidak agresif, akan menyambut ciumanku. Mungkin, Lia masih kesal, jadi aku tidak terlalu menuntut.


Ciuman itu memang ekspresi rinduku pada Lia, selain yah, hasrat kelakianku sedang merangkak naik sekarang ini.


“Kita akhiri pertengkaran hari ini ya?” pintaku pada Lia, setelah aku mengurai ciumanku pada bibirnya.


Lia tak memberikan jawaban. Namun ia sedang menatapku lekat.


“Dan aku harap tidak akan ada lagi pertengkaran-pertengkaran diantara kita, Yang...”


Ya, aku sungguh berharap. Sambil aku menyusuri wajah Lia, tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah yang pemiliknya sudah aku cintai itu.


“Ya?”


Aku menunggu jawaban Lia. Meski sekedar anggukkan.


Dan pada akhirnya aku bisa menarik lega sudut bibirku, saat kepala Lia mengangguk pelan.


Meski setelahnya ia mengatakan,


“Mudah-mudahan.”


***

__ADS_1


Bersambung..


Sampai sini, terima kasih untuk kalian yang masih setia..


__ADS_2