WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 27


__ADS_3

Terima kasih masih setia


***


Selamat membaca..


***


“Cape banget perasaan.” Malia berucap seraya mengulet saat ia bersama Avi dan orang tuanya telah mengantarkan calon suami dan calon mertuanya sampai ke pintu depan rumah orang tuanya, saat ketiga orang tersebut pamit pulang.


Dan ketiga orang tersebut telah hilang dari pandangan, berikut mobil yang mereka gunakan.


Avi memang jadi untuk menginap di rumah orang tua Malia seperti rencananya. Toh memang juga sudah janjian dengan Malia, meski esok hari Malia harus berangkat kerja.


“Ya udah kalian istirahat sana,” Ucap mamanya Malia yang mendengar gumaman putrinya. “Tapi ashar dulu dan jangan sampe kebablasan maghrib!” Sambung mamanya Malia.


“Iyaa.”


Malia dan Avi pun menyahut bersamaan.


Lalu keduanya melangkah kembali untuk menuju ke kamar Malia.


**


REIJI


“Yah, gue mau mastiin aja kalo abang lo ga sedang menjalin hubungan dengan siapa-siapa saat dijodohin sama gue. Jangan sampe tau-tau ada yang nge labrak gue gegara ngerasa , kalo gue ngerebut si Rei atau menjegal hubungan mereka..”


Aku mendengar perkataan Malia itu saat aku menyusul ke kamar Malia, setelah beberapa lama itu dua dara yang katanya mau ganti baju ga kunjung balik ke bawah. Dan seperti biasanya kalo sedang bersama, Malia dan Avi itu pasti nge-gibah.


Kalo aku tegur, pasti alibi mereka berdua itu lagi curhat. Beda-beda tipis curhat sama nge-gibah menurutku sih. Ah, namanya juga perempuan. Apa aja bisa jadi bahasan.


Dan telingaku menangkap, jika Malia sedang bertanya pada Avi tentang kehidupan cintaku secara garis besar.


Secara tidak langsung, Malia mencoba mengorek tentang mantan-mantan pacarku sepertinya sih.


Mantan ..


Makhluk apa itu?..


**


“Kalo soal itu mending lo tanya langsung deh sama abang gue”


Nah, saat aku hendak membuka pintu kamar Malia, aku dengar Avi menyahut demikian.


Persis dengan apa yang aku pikirkan dan ingin aku katakan pada Malia.


Pas emang si Avi jadi adikku.


Selain memang Avi cerdas, cara berpikirnya cukup dewasa.


Avi menyarankan kalau lebih baik Malia mendengar dari yang bersangkutan, tentang rasa ingin tahunya tentang para mantanku itu.


Sekali lagi aku puas dengan apa yang Avi katakan pada Malia.


Satu server si Avi sama aku. Yah, emang sepatutnya begitu, aku dan Avi kan satu pabrik pembuatan.


**


Aku mendengar Malia dan Avi berbicara beberapa kalimat, dan sepertinya ada yang hendak Malia tanyakan lagi pada Avi.


Namun sebelum Malia berbicara, aku mengetuk pintu kamar Malia yang sebenarnya sudah kubuka sedikit.


“Masuk.”


Aku pun segera mendorong pintu kamar Malia, setelah mendengar seruan dari dalam.

__ADS_1


Melemparkan beberapa cibiran bernada candaan pada Malia dan Avi serta mengatakan tujuanku memanggil mereka.


Lalu Malia dan Avi segera bangkit dari tempat mereka. Sesaat berikutnya Avi berjalan ke arahku, sementara Malia berseru jika dirinya ingin ke toilet terlebih dahulu.


**


Aku menangkap keterkejutan Malia saat dia mendapati diriku masih berdiri di garis pintu kamarnya yang terbuka lebar saat ia telah selesai dari kamar mandi dimana Avi suah tidak ada. Dan basa-basi padaku perihal Avi apa sudah turun ke lantai bawah.


Aku mengiyakan. Walau sedikit merasa geli juga dengan pertanyaan garing Malia soal Avi.


Udah jelas-jelas ga ada sosoknya itu si Avi dalam kamarnya, tapi masih Malia tanyakan padaku.


Well, ya aku simpulkan jika tidak gugup mungkin Malia canggung melihatku masih ada di kamarnya, walaupun hanya berdiri dan bersandar di garis pintunya.


Malia berjalan ke arahku, sekaligus mengajak aku untuk segera menyusul Avi yang sudah lebih dulu turun ke bawah.


Tapi saat Malia benar-benar sudah berada di dekatku, aku meraih tangannya dan menggeserkan diriku dari tiang pintu dan masuk lebih dalam ke kamar Malia, lalu menutup rapat pintu kamar Malia itu dan menghalanginya.


Dan aku melihat jika Malia menjadi lebih kikuk dari sebelumnya. Lucu juga melihat ekspresi Malia yang seperti itu.


Lalu sesaat kemudian Malia tak lagi nampak kikuk saat aku dengan gamblang mengatakan padanya untuk menanyakan langsung padaku apa yang ia tanyakan pada Avi tadi.


Aku ingin terkekeh sebenarnya, karena perubahan wajah Malia yang tadi nampak kikuk dan sedikit gugup saat aku mengurung dirinya bersamaku di dalam kamar Malia itu. Pasti dia mikir macem-macem.


Ingin sih sebenarnya, mengecup bibir merah muda Malia yang sudah tak lagi terpoles lipstik seperti saat acara tadi. Walau memang dari sejak aku melihat Malia mulai menggunakan yang namanya make up, aku tak pernah melihat Malia memoles wajahnya dengan berlebihan.


Sebenarnya tanpa polesan make up pun, wajah Malia sudah cantik apa adanya. Makanya aku suka. Meskipun Malia mungkin tak punya rasa yang sama padaku.


Eh, tapi pertanyaan Malia yang tertuju padaku namun ia utarakan pada Avi itu jadi membuatku memikirkannya sedikit.


Kok Malia kepo soal mantan-mantan dan kehidupan cintaku?.


Apa itu artinya kalo Malia sudah ada rasa padaku?.


Duh, jadi penasaran kan?.


**


“Ya ....”


Malia kemudian menyahut.


“Masuk aja ....”


Malia berucap kemudian.


“Maaf Non Lia, Non Avi, Bibi Cuma disuruh bangunin Non berdua sama Ibu dan Bapak. Mau Maghrib soalnya.” Asisten rumah tangga keluarga Malia yang berusia paruh baya yang kemudian membuka pintu kamar Malia.


“Iya Bi ...”


Malia dan Avi kemudian sama-sama menyahut pada asisten rumah tangga paruh baya tersebut.


“Sama itu Non, Bapak tanya Non Malia sama Non Avi mau Maghrib jamaah engga?”


“Aku lagi halangan, Bi. Ga tau nih si Avi,” kata Malia. “Lo mau jamaah bareng Papa sama Mama?”


“Gue juga lagi halangan, Li,” ucap Avi.


“Oh ya udah kalo gitu ....” Si Bibi pun menyahut.


Malia dan Avi pun mengangguk.


“Makasih ya Bi ....”


“Iya sama-sama Non Lia, Non Avi..... Kalo gitu Bibi permisi, mau nyiapin makanan buat nanti makan malem dulu ..”


“Iya, Bi.....”

__ADS_1


Malia dan Avi sama-sama menyahut, lalu si Bibi segera hengkang dari hadapan kedua gadis muda yang sedang terduduk di ranjang itu.


**


“Li, jangan lupa kamu bicarain soal pesta pertunangan sama foto pre-wed sama Reiji.” Ucap mamanya Malia pada anak semata wayangnya itu saat mereka sedang makan malam bersama, termasuk juga Avi.


Malia mengangguk.


“Iya, Ma ..”


Malia kemudian menyendokkan makanan dari piringnya dan ia masukkan ke mulut.


“Jangan ditunda-tunda loh, Li.” Mamanya Malia berkata lagi. Dan Malia yang sedang mengunyah makanannya itu manggut-manggut.


“Avi suruh Bang Rei kesini apa aja ya, Ma?”


Avi bersuara dan menyampaikan idenya padanya mamanya Malia yang sudah ia panggil juga dengan sebutan Mama sejak lama.


“Janganlah. Ga usah .. Nanti gue omongin via telpon aja sama Reiji.”


“Ya udah,” sahut Avi.


**


“Li, jangan lupa telpon Reiji,” ucap mamanya Malia setelah ia dan tiga orang lainnya telah selesai makan malam dan hendak bangkit dari duduknya.


“Iya Mamaku sayang .......”


Malia menyahut sembari geleng-geleng pada sang Mama yang nampak lebih bersemangat mengurus soal pernikahannya dan Reiji daripada dirinya sendiri.


“Ini Lia mau ambil hape dulu di kamar.”


“Sekalian hape gue juga ya Li? .. Hehe ..”


Avi cengengesan.


“Heemm..” sahut Malia pada sahabatnya yang cengengesan itu.


Tapi baru saja Malia hendak menapakkan kaki ke anak tangga, sebuah suara yang dikenalnya terdengar mengucapkan salam dari pintu depan.


“Assalamu’alaikum ..”


Malia menyahut salam seperti tiga orang lainnya.


“Wah, panjang umurnya ..”


“Serta mulia ..”


Sosok Reiji yang baru saja tiba sendirian itu menyahut pada papanya Malia yang menyambut santai kedatangan Reiji yang kemudian cengengesan setelah menimpali ucapan papanya Malia.


“Baru gue mau telpon lo.”


Malia yang mengurungkan niat untuk naik ke kamarnya untuk mengambil ponsel, langsung saja berkata pada Reiji yang baru saja datang itu serta sedang memberikan bungkusan yang ia bawa pada mamanya Malia.


“Kenapa, kamu kangen sama aku?” sahut Reiji dengan santainya. Dan Malia langsung mencebik karena celotehan Reiji itu.


“Paa—“


“Sama, aku juga kangen tiba-tiba.”


Reiji menyambar sebelum Malia menyelesaikan kalimatnya.


“Kek Dilan yang kangen sama Milea. Kalo ini Reiji yang kangen sama Malia.”


‘Amit deh!. Abang gue yang cool itu kenapa jadi receh begini?’


Avi pun membatin geli.

__ADS_1


**


Bersambung ....


__ADS_2