
Selamat membaca....
***
“Sering makan siang sama dia?”
“Aku sama Riza kan kerja di satu lantai yang sama, dulu dia di Divisi aku sebelum naik pangkat....”
“Yang aku tanya itu, apa kamu sering makan siang sama dia?. Riza?”
“Ya engga sering-sering amat. Namanya kenal, pernah satu tim juga. Kayaknya juga wajar-wajar aja kalo aku makan bareng Riza, Rei ..”
“.....”
“Kamu kan juga pasti sering makan bareng sama rekan-rekan sejawat kamu, bahkan sama para pramugari yang kerja bareng kamu kan? ..”
“Iya sering.”
“Nah tuh, so, no big deal kan kalo aku ..”
“Tapi tidak setelah menikah dengan kamu, Yang ..”
“.....”
“Aku selalu menolak ajakan makan dan kumpul bareng dengan para kru saat kami telah lepas tugas, saat aku sudah menikah. Jangankan dengan para pramugari yang perempuan, dengan para pramugara dan sesama pilot pun udah engga aku lakuin lagi sekarang.”
“Rei ..”
Malia teringat percakapannya dengan Reiji pada sambungan telepon tadi siang.
“Nanti aku telpon lagi.” - Kata Reiji tadi siang di telpon\, sebelum ia memutuskan sepihak panggilannya di ponsel pada Malia.
Tapi pada kenyataannya, sampai dengan waktu bekerja Malia sudah selesai, dan dia sedang membereskan meja kerjanya, Reiji tidak juga menelpon istrinya itu.
Bahkan chat di aplikasi atau pesan biasa juga tidak ada dari Reiji yang masuk ke ponsel Malia. ‘Reiji cemburu lagi gitu sama Riza?..’ batin Malia. ‘Trus karena cemburu, dia ngambek gitu? dengan ga hubungi lagi, chat apa pesan juga engga.’
Malia sedang berpikir dan menduga.
‘Ah masa Reiji ngambek kayak begitu? Kayaknya Reiji ga mungkin ngambek receh begitu.’
Malia membatin.
‘Ah tau ah! Nanti pas di apartemen aja gue tanyain ..’
Malia mematikan komputer yang berada di meja kerjanya.
‘Eh tapi, Reiji bilang kan dia lagi gantiin temennya. Pulang ga ya hari ini itu si Rei?’
Malia menghela pelan nafasnya.
‘Gue telpon aja deh nanti pas di jalan ..’
Malia membatin lagi. Dan segera berdiri dari kursi kerjanya, setelah komputer kerjanya telah mati dan mejanya telah Malia pastikan telah rapih.
**
“Li ..”
“Uy? ..”
Malia yang baru saja keluar dari dalam lift yang sudah berhenti dan terbuka pintunya di lantai tempat dimana lobi gedung perkantoran tempatnya bekerja, segera menyahut pada salah seorang rekan kerjanya yang barusan memanggilnya itu.
Hanya saja, Malia menyahut tanpa menoleh pada sang rekan kerja, karena Malia mau memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke apartemen, karena tadi pagi ia diantar Reiji, yang kemudian membawa mobil ke Bandara.
Karena rencananya, mereka akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang menyediakan banyak barang-barang rumah tangga, untuk membeli rak yang akan digunakan sebagai penyimpanan buku-buku Reiji.
Namun kenyataan Reiji harus menggantikan rekan kerjanya sesama Pilot secara dadakan itu, membuat rencana Malia dan Reiji batal untuk pergi ke pusat perbelanjaan tersebut.
Jadilah Malia harus memesan taksi online untuk pulang ke apartemennya dan Reiji, meskipun rekan kerja yang sedang bersama Malia ini, menawarkan untuk pulang bersama dengannya.
Namun Malia tolak, karena arah pulang temannya itu tidak sejalan dengannya.
Sayang aja Avi sedang berada di luar kota saat ini, karena membantu mengurus bisnis keluarga mereka yang memiliki satu cabang di daerah jawa barat.
Kalau Avi sedang berada di Jakarta, Malia akan meminta Avi untuk menjemputnya, atau bertandang ke apartemen untuk menemaninya. Berjaga-jaga seandainya Reiji tidak pulang malam ini.
**
“Kenapa Fa? ..” Malia sejenak mengalihkan tatapannya dari ponsel, guna menanggapi rekan kerja satu divisi yang memanggilnya itu.
“Kata lo, laki lo kan ga jemput ini hari bukannya?”
Malia mengangguk mengiyakan ucapan yang juga berupa pertanyaan dari rekan kerjanya itu.
“Iya emang.” Sahut Malia. “Ini gue mau order g*car kan?” sambungnya.
“Dih ..”
“Kok dih? ..”
Malia sedikit mengernyit sembari melihat pada rekan kerja satu divisi yang sedang bersamanya itu.
“Nah itu, siapa? ..”
Rekan kerja Malia itu menunjuk ke satu arah pada bagian lobi.
“Tuh, makhluk ganteng nan seksi yang lagi ngeliatin kesini. Laki lo bukan?”
Dimana Malia langsung mengikuti arah telunjuk rekan kerjanya itu.
“Kalo lo ga mau akuin, gue dengan senang hati ngakuin itu laki yang gantengnya bukan maen bikin gremet-gremet sebagai suami gue ..”
Rekan kerja satu divisi Malia itu berkelakar, dan terkekeh.
Namun Malia tidak terlalu memperhatikan, karena kini Malia sedang terperangah, dengan mulut yang sedikit menganga ke arah yang rekan kerjanya itu tunjuk tadi.
Dimana orang yang keberadaannya tadi di tunjuk kemudian Malia perhatikan kini sudah berada di dekatnya. “Hai, Yang ..”
Reiji.
Yang orangnya kini sudah ada dihadapan Malia.
__ADS_1
Cup!
Dan langsung mengecup kening Malia tanpa ragu seperti selalunya, hingga membuat Reiji dan Malia sedikit menjadi pusat perhatian di lobi gedung perkantoran tersebut, akibat sikap Reiji yang dinilai begitu uwu pada Malia oleh beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan sikap Reiji pada Malia itu.
“Udah beres kerjaannya?”
Reiji bertanya, sembari menautkan jemarinya dengan jemari Malia,.
Rekan kerja Malia sudah pamit pada Reiji dan Malia untuk berjalan duluan, setelah Reiji mendekat dan menyapa rekan kerja Malia itu.
“I, ya ..” jawab Malia.
“Ya udah, yuk?” ajak Reiji kemudian.
Malia yang sedikit tergugu itu, mengangguk.
“I, ya ..”
Kemudian Reiji dan Malia berjalan bergandengan menuju luar lobi dan pergi ke area parkiran mobil.
**
“Ehmm, Rei ..”
Malia langsung bersuara saat ia dan Reiji sudah masuk ke dalam mobil.
Dimana Reiji langsung menoleh dan menyahut pada Malia, kala ia sedang menyalakan mesin mobilnya.
“Ya?”
“Kamu katanya gantiin rekan kerja kamu?”
“Aku batalin ..” jawab Reiji.
“Kenapa? ..” tanya Malia.
“Ada orang lain yang bisa menjalankan tugas dadakan itu selain aku.” jawab Reiji lagi dengan santai,
Malia pun menanggapi jawaban Reiji dengan ber ‘oh’ ria saja, sembari manggut-manggut.
“Beneran tapi, ada yang bisa gantiin kamu buat tugas dadakan itu?”
Tapi Malia masih sedikit penasaran. Jadi Malia melontarkan pertanyaan untuk memastikan rasa penasarannya.
Reiji tersenyum kecil.
“Mau tanya apa aku lagi cemburu?” Reiji bertanya to the point, yang membuat Malia sedikit terkejut, karena terkaan Reiji benar adanya. Seolah suaminya itu tahu saja apa yang sedang dipikirkan oleh Malia.
“Eeennnggg,”
“Iya, aku sedang cemburu.”
Dengan lugas Reiji mengatakan apa yang sedang ia rasa pada Malia, namun tetap dengan suara yang terdengar biasa.
“Jadi aku ga mungkin mengemudikan pesawat jika perasaanku terganggu,” sambung Reiji. “Kebetulan juga ada yang bisa take over tugas dadakan itu selain aku.”
Malia menggigit sedikit bibir bawahnya.
Reiji menggelengkan kepalanya, selepas Malia bertanya.
“Tugas utamaku sudah selesai,” jawab Reiji. “Jadi aku yang ga jadi menggantikan pilot yang sedang berhalangan itu ga akan menuai masalah apapun dengan pekerjaan aku ....”
Reiji kembali berujar dengan lugas pada Malia.
“Syukur deh, kalo gitu ....” ucap Malia.
“Sorry, kalau buat kamu rasa ga nyaman ....”
“Engga sih, Cuma ....”
“Aku ga pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, rasa ga nyaman dalam hati aku seperti sekarang ini .... Rasa cemburu ini ....”
“.....”
“Walau mungkin aku cemburu buta ....”
“.....”
“Sorry, ya? ....”
“It’s okay, Rei ....”
Malia menarik sudut bibirnya.
“Tapi kamu ga perlu cemburu juga sama Riza, Rei ....” ucap Malia.
“Udah ya? Kita ga usah bahas itu? Aku juga ga marah sama kamu, atau juga itu cowo. Masalahnya ada di hati aku, Yang ....”
Dan Reiji menampakkan senyumnya pada istrinya itu.
“Mungkin aku terlalu takut kehilangan kamu? ....”
Tangan Reiji terulur ke kepala Malia dengan masih menampakkan senyumnya, kemudian memberikan usapan lembut disana.
“Jadi mau cari rak sekarang? ....” tanya Reiji.
“Iya,” jawab Malia.
“Peluk dong kalo gitu .... ga kangen sama suaminya emang? Suaminya kangen soalnya nih.”
Malia mendengus geli mendengar kelakar Reiji. “Baru ga ketemu berapa jam doang! Lebay!”
Reiji pun terkekeh.
“Ya harap maklum. Suami Emba Malia kan bucin.” Celoteh Reiji kemudian. Setelahnya, ia dan Malia sama-sama terkekeh.
Reiji memang sedang cemburu, tapi ia bukan tipe pria dan suami yang mau membesarkan masalah kecil.
Reiji percaya, meski Malia belum mencintainya, tapi istrinya itu pasti bisa menjaga komitmennya sebagai seorang istri yang baik untuk suaminya, dengan tidak membiarkan dirinya mendapat godaan pihak luar.
Dan memang seyogyanya harus seperti itu bukan?.
__ADS_1
Suami dan istri harus saling menumbuhkan rasa percaya di hati mereka pada pasangan masing-masing, agar keselarasan dan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
**
“Karunia Tuhan Terbesar Yang Bisa Aku Berikan Padamu Adalah Ketulusan Cinta Dan Penerimaan Yang Tiada Memiliki Syarat.”
**
“Rei,” panggil Malia pada Reiji setelah mereka tiba di apartemen mereka.
“Iya, istriku sayang? ....” sahut Reiji yang tangannya langsung melingkar di pinggang Malia, sembari menghadapkan istrinya itu pada dirinya.
Malia mendengus geli.
“Geli banget ih, dengernya.”
Reiji pun terkekeh selepas mendengar selorohan Malia itu. “Romantis kan kedengerannya?” kekeh Reiji.
“Ga, sama sekali!” rungut Malia, dan Reiji terkekeh lagi.
“Bibir tolong dikondisikan ....” goda Reiji dan Malia segera mencebik.
“Ish!, mesum banget kamu tuh!”
“Mana ada mesum sih? .... aku kan melakukan kewajiban aku sebagai suami dengan memberi kamu nafkah lahir dan batin dengan adil .... yuk?”
Syut!
Dan seperti selalunya, Reiji tidak akan menyiakan kesempatan, jika omongannya sudah menjurus kepada suatu hal yang sudah menjadi hobi utamanya sejak menikah dengan Malia.
Tanpa ba-bi-bu, tubuh Malia sudah Reiji angkat ke udara, dan menggendongnya ala Bridal Style.
“REI!”
Dan tentu saja juga, Malia langsung memekik dibuatnya.
“Aku gerah ih! Mau mandi!” Malia mencoba menyelamatkan dirinya, untuk menghindari serangan Reiji yang dari gelagatnya sudah pasti ingin melahap dirinya di atas ranjang.
“Aku mandiin!”
“Aku bisa mandi sendiri!”
Malia menolak dengan cepat ide Reiji barusan.
Dan tentu saja Reiji abaikan.
Reiji tetap kekeh membawa Malia ke dalam kamar mandi, setelah melempar tas Malia ke sembarang arah.
“Mau aku bukain bajunya, atau buka sendiri? ....”
Reiji mendudukkan Malia di ruang dekat wastafel yang tak seberapa besar.
“Sendiri ....”
Malia menjawab pelan.
Pasrah sudah Malia, kalau mode mes*m Reiji sudah on seperti sekarang ini.
Karena suaminya itu akan macam ulat bulu yang menempel di kulit kalau sudah menyangkut urusan main kuda-kudaan.
“Lama banget timbang buka baju doang, Yang?” Reiji yang tak sabar, karena Malia yang lambat sekali membuka kancing kemeja kantoran nya di mata Reiji.
‘Demi Apa Ini Si Reiji!!’
Malia sampai mendelik, karena tangannya telah ditepiskan Reiji, dan gantian tangan Reiji yang terampil sudah itu, yang membukakan kancing-kancing kemeja Malia.
“Ga tau suaminya udah haus, apa?”
**
“Bawain aku satu setel pakaian santai aja, Yang.”
Reiji berkata pada Malia yang menawarkan diri untuk membereskan pakaian Reiji ke dalam koper, karena suaminya itu akan pergi ke Korsel esok hari.
“Iya ....”
“Aku ke pantri dulu ya? ....”
“Oke ....” sahut Malia tanpa menoleh. Keduanya telah selesai dengan urusan di kamar mandi, dan sudah juga membersihkan diri.
Reiji kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya dan Malia dalam apartemen mereka itu.
“Eh iya Rei ....” Panggilan Malia membuat Reiji berbalik badan.
“Apa?” sahut Reiji.
“Itu kamu udah titip pesen sama resepsionis di bawah kalo ada kurir yang anter rak supaya dapet ijin naik kesini? ....”
“Nanti juga bakal telpon resepsionisnya kalau kurir yang anter rak itu dateng, Yang .... kan biasanya kalo order makanan juga gitu? ....”
“Oh iya, ya ....”
Malia manggut-manggut.
‘Kenapa gue jadi oneng ya? ....’
Malia membatin.
‘Pasti efek terlalu sering di-iya-iya-in sama si Reiji nih gue jadi suka oneng begini!’
Malia merutuk dalam hatinya.
‘Bisa los dol lama-lama!’
**
Bersambung ..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalean yawgh, wahai para reader yang blaem-blaem ....
Loph Loph,
__ADS_1
Emaknya Queen.