WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 141


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


MALIA


Aku langsung teringat jika aku harus mengabari Reiji saat aku telah sampai kantor, semata-mata agar ia tidak khawatir.


Yah, selain setelah aku yakin jika aku telah mencintai Reiji, aku merasa seperti anak ABG yang baru jatuh cinta, lalu mengharapkan untuk sering bertukar kabar dengan pacarnya.


Jatuh cinta memang membuat orang jadi lebay kadang-kadang.


Seperti aku ini contohnya.


Yang udah mesam-mesem duluan saat inget sama suamiku yang mesuk abis itu.


Yang ingin aku hubungi untuk mengabarkan padanya, kalau aku telah sampai ke kantorku dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


Namun saat aku sudah meraih ponselku yang aku simpan dalam tas, aku sejenak terpaku melihat layar apung aplikasi pesan chat di layar ponselku.


Lia apa kabar?


Isi pesan chat dari seseorang yang kurang lebih dua minggu sebelumnya, secara tidak langsung untuk menjaga jarak denganku.


Irsyad.


Yap, pesan yang sedang aku baca di layar apung ponselku ini adalah pesan chat dari Irsyad.


Laki – laki impianku.


Ralat. Pernah. Laki – laki yang pernah menjadi impianku.


Karena sekarang tidak lagi.


Hatiku sudah tidak lagi bergetar saat aku mengingatnya.


Bahkan jika aku ingat – ingat, beberapa hari belakangan aku bahkan sudah tidak mengingat – ingat tentang Irsyad lagi.


Sepertinya Reiji memang sudah benar – benar bertahta di hatiku sekarang. Hm sepertinya iya.


Malah sekarang, aku merasa seperti anak SMA yang baru jadian, maunya telfonan, chat – chatan sama pacar sesering mungkin.


Trus mesra – mesraan berdua pas ketemu.


---


Karena isi pesan chat Irsyad yang singkat, aku jadi bisa membaca lengkap pesan chat yang ia kirimkan padaku tanpa harus membuka kamar chat pribadi antara nomor kontakku dan nomor kontak Irsyad.


Setelah menimbang – nimbang apakah aku harus mengklik itu pesan atau tidak, akhirnya aku putuskan untuk nanti saja membuka pesan chat dari Irsyad, karena aku rasanya lebih ingin menghubungi Rei dulu.


Jadi aku mencari nomor kontak Rei di ponselku, dan aku memutuskan untuk menghubungi Reiji dari laman aplikasi sejuta umat dengan logo dominan berwarna hijau itu. Tapi sial, entah kenapa jadi nomor kontak Irsyad yang terbuka kolom chatnya?.


Perasaan yang aku klik nomor kontak Reiji.


Jadinya aku merasa serba salah sekarang.


Kalau sudah terbuka seperti ini, Irsyad pasti sudah tahu kalau aku telah membaca pesan chatnya itu.


Ah masa bodoh deh, aku ingin menghubungi Reiji dulu.


Tapi sialnya, jemari Irsyad bergerak cepat sekali, hingga saat aku belum sampai menutup kamar chat pribadiku dan Irsyad di aplikasi, satu pesan dari Irsyad sudah masuk lagi, dan mau tidak mau terbaca otomatis olehku.

__ADS_1


Dan isi pesan chat itu membuatku mengeluh sekaligus bingung sendiri.


Bisa ketemu siang ini, Lia?.


Aku bingung harus menjawab apa.


---


Nanti aku kabarin ya kak.


Kalimat pamungkas untuk memberikan jawaban cepat saat dilanda keraguan.


Well, setidaknya hanya alasan itu yang dapat aku berikan pada Irsyad sekarang.


Bukannya gimana-gimana....


Bukan menghindar atau apa-karena aku juga sempat mengatakan padanya jika aku tidak bermaksud memutuskan tali silaturahmi dengannya, tapi aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri dan juga Reiji.


Jadi setidaknya aku perlu berpikir untuk menerima atau menolak ajakan Irsyad untuk bertemu lagi setelah kurang lebih dua minggu, aku memagari diriku untuk tidak memulai komunikasi terlebih dahulu dengannya demi menghormati Reiji.


Rasa hormatku sebagai istri, karena aku telah mencintai Reiji dan untuk itu aku telah menerima Reiji seutuhnya sebagai sebagai suamiku, yang harus aku jaga hatinya. Jadi aku mengirimkan pesan chat balasan pada Irsyad jika aku akan mengabarinya nanti.


Meski sebenarnya aku tidak berniat menjauhi Irsyad dan berharap dapat menjalin pertemanan yang baik dengannya. Ingin sih bertemu dengan Irsyad, tapi bukan berarti aku rindu padanya.


Ya itu, hanya sekedar bertemu atas nama pertemanan aja. Tidak lebih.


Jadi....


*****


Malia membuka kamar chatnya dan Reiji pada aplikasi, lalu menekan ikon telepon yang ada di sudut kanan atas ponsel untuk tersambung dalam panggilan telepon.


Dan senyum Malia otomatis terbit, kala suara Reiji sudah terdengar menyapanya dari seberang.


Malia bangkit dari tempat duduknya untuk mencari tempat yang agak privasi untuk berbicara dengan Reiji.


****


Malia laporan pada Reiji jika dirinya telah sampai ke kantor, lalu menanyakan apakah Reiji telah berangkat dari apartemen atau belum, setelahnya mereka berbicara santai sampai Reiji hendak memutuskan pembicaraannya dengan Malia pada sambungan telepon mereka.


“Jemputan aku sebentar lagi dateng, kamu masih mau ngobrol ga Yang? ----” ucap Reiji. “Kalo masih mau ngobrol, ini aku matiin dulu telepon kamu bentar, nanti pas udah didalem mobil jemputan aku yang telpon kamu balik.“


“Ga usahlah, aku juga mau ke bikin kopi, trus langsung nyiapin berkas buat meeting divisi....”


“Ya udah kalo begitu....”


“Uumm-“ Malia nampak sedikit ragu-ragu untuk bicara.


Karena Malia ingin mengatakan soal pesan chat dari Irsyad pada Reiji.


Namun Malia takut Reiji marah.


“Kenapa?-“ tukas Reiji. “Kalo mau bilang udah kangen baru pisah sebentar, ngomong aja jangan malu-malu-“


Malia mendengus geli setelah mendengar celotehan Reiji barusan.


“Siapa juga yang malu-malu?”


“Ya udah coba mau denger kamu bilang kangen sama aku....”


“I miss you Pak Reiji Shakeel....”


Malia tanpa ragu mengatakannya, karena sebenarnya ada rasa kangen juga yang tiba-tiba muncul di dalam hati Malia mengingat Reiji harus tugas selama empat hari.


“I miss you more-“ balas Reiji lembut. “Met kerja ya-“

__ADS_1


“Um Rei.”


Malia menahan Reiji yang gelagatnya ingin memutuskan sambungan telepon mereka.


Dan Reiji menyahut dengan deheman lembut. “Kenapa?” tanyanya kemudian.


“Uum.... itu.... Irsyad kirim pesan chat.”


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Malia memilih untuk jujur saja pada Reiji  perihal ia menerima pesan chat dari laki-laki di masa lalunya itu.


Dan Malia berpikir, mau bagaimanapun reaksi Reiji, ia akan terima.


Selain sebenarnya Malia ingin meminta ijin juga pada Reiji, jika ia boleh menerima ajakan Irsyad untuk bertemu.


Karena biar bagaimanapun, Irsyad pernah menyatakan perasaannya pada Malia, dan ia merasa jika Irsyad menaruh harap pada dirinya.


Dan niat Malia ingin membuat Irsyad menghilangkan harapan itu, makanya Malia merasa perlu bicara dengan Irsyad secara face to face.


Reiji berdehem samar di sebrang ponsel.


“Bilang apa? ..”


Lalu Reiji bertanya kemudian.


“Uumm, dia ngajak aku ketemuan –“


Malia menggigit bibir bawahnya sendiri.


“Terus?”


Reiji bertanya lagi.


“Ya Cuma begitu aja bunyi pesennya Irs-“


“Terus kamu mau ketemuan sama dia? ...”


Malia jadi merasa sedikit dilema.


Malia ingin bertemu Irsyad, untuk setidaknya bicara soal perasaannya dan bertanya apa iya masih menyimpan perasaannya pada Malia.


Karena jika iya, Malia ingin meminta Irsyad dengan sopan agar tidak mengharapkan dirinya, karena Malia memang bulat telah memilih Reiji.


Tapi disatu sisi, ya itu, Malia tidak mau menyinggung Reiji atau melukai perasaan suaminya itu lagi dengan keputusan yang Malia ambil secara sepihak.


“Kalo kamu ijinin, ya aku temuin ...” jawab Malia atas pertanyaan Reiji.


“Kalau aku ga kasih ijin, apa kamu akan berpikir aku egois?-“


Reiji kemudian menyahut.


“Engga sama sekali.”


“Bener? ...”


“Suer!”


Reiji mendengus geli di sebrang sambungan telponnya dengan Malia.


Malia pun ikut juga mendengus geli.


“Aku sih terserah kamu Yang –“


Suara Reiji terdengar tenang. Dan Malia berharap jika suaminya itu memang benar-benar tenang adanya, karena Malia tidak dapat melihat ekspresi wajah Reiji.


“Tapi kalo aku boleh minta, aku sih pengennya kamu tolak ajakannya ...” sambung Reiji kemudian. “Tapi balik lagi ke kamunya, mau terima atau tolak ajakan dia buat ketemuan ..."

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2