
Selamat membaca...
***
MALIA
Aku merasakan usapan lembut di kepalaku saat aku sedang melamun memandang ke luar jendela mobil yang ada disebelah kiriku.
Usapan lembut dari tangan Rei yang sedang mengemudi di samping kananku, hingga membuatku tersadar dari lamunanku.
“Kenapa sih?” tanya Rei. “Kok kayak ada yang dipikirin banget?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
“Ga ada apa-apa kok, Rei.”
Aku tersenyum seraya menoleh dan memandang pada Rei.
Menunjukkan padanya, jika aku sedang tidak memikirkan apa-apa.
“Rada ngantuk aja,” elakku, padahal aku sedang merasa sedikit terganggu setelah tadi aku melihat mobil Irsyad yang berada tak jauh dari mobilku.
Bukan sekedar mirip, tapi itu memang mobil Irsyad, karena aku sudah hafal plat nomor mobilnya.
“Ya udah merem deh, nanti aku bangunin kalo udah sampe.” kata Reiji selanjutnya.
“Engga ah ..”
Aku langsung menyahut.
“Engga mau dibangunin doang, maunya digendong.”
Dan aku berseloroh, hingga membuat Rei langsung menoleh padaku.
Dimana aku kemudian menampakkan senyum konyol, dan Rei terkekeh.
Kemudian tangan Rei terulur untuk menggenggam tanganku lalu menarik dan mengecupnya lembut.
Aku jadi teringat saat Irsyad hendak melakukan hal yang barusan Rei lakukan tadi. Mengecup punggung tanganku.
Dan aku jadi memikirkan Irsyad lagi.
Bukan apa, aku hanya memikirkan mobil Irsyad yang masih ada di parkiran gedung perkantoran tempatku bekerja saat aku dan Rei sampai disana tadi.
Apakah Irsyad ada didalamnya? ...
Tapi kenapa Irsyad masih ada di gedung perkantoran tempatku sampai dengan waktu kerjaku hampir selesai?
Padahal pertemuan kami sudah sejak berjam-jam lalu, dan seharusnya Irsyad sudah pergi. Tapi kenapa dia masih ada disana?
Apa Irsyad sengaja menungguku selesai bekerja lalu mengajakku bicara lagi?. Dan mengejutkanku lagi seperti siang tadi yang tau-tau datang tanpa pemberitahuan?
Tidak mungkin Irsyad menungguku karena aku tidak membayar makananku di restoran siang tadi bukan?
---
__ADS_1
“Kenapa?”
Aku sontak bertanya pada Rei yang tersenyum penuh arti sambil melirik sekilas padaku, setelah mengecup punggung tanganku.
Dan tanganku pun masih digenggam oleh Rei.
“Seneng,” jawab Rei. “Seneng aja sama sikap kamu sekarang.”
Dan akupun tersenyum, sambil menatap Rei teduh.
“Love you, Rei-“
“Love you more, Yang.”
---
Sejak awal aku dan Rei menikah, tak pernah ada interaksi mesra seperti saat ini diantara kami.
Well, interaksi dua arah-dari Rei padaku ataupun sebaliknya. Hanya ada interaksi kemesraan satu arah, dan itu dari Rei saja padaku.
Itupun rasanya Rei masih sedikit berhati-hati dalam bersikap padaku. Hm, selain kalau dia sedang minta ‘jatah’.
Dan dalam hal itupun Rei masih nampak terlihat berhati-hati mengajakku untuk bercinta.
Tapi sekarang sudah tidak lagi.
Interaksi kemesraan antara aku dan Rei telah menjadi dua arah.
Saling memberi dan membalas perhatian serta segala rasa yang melingkupinya, dan aku bahagia.
Yah, setidaknya aku jadi tidak lagi mau memikirkan mengapa tadi mobil Irsyad masih ada di parkiran gedung perkantoran tempatku bekerja.
Jika memang Irsyad ada di dalam mobilnya karena berniat untuk menghampiriku lagi secara tiba-tiba seperti saat siang, aku harap dia melihat interaksiku dengan Rei yang berjalan mesra dari dalam gedung menuju mobilku tadi.
Mungkin terdengar jahat.
Tapi aku hanya ingin Irsyad berhenti berharap padaku.
---
“Loh kok ga parkir disini, Rei?”
Aku spontan bertanya pada Rei ketika mobilku yang ia kemudikan, tidak diberhenti dan diparkirkan olehnya di parkiran basement seperti biasanya.
Melainkan Rei terus melajukan mobilku menaiki undakan menuju parkiran bagian atas, hingga berhenti di lantai yang sama tempat unit apartemen kami berada.
Area parkir yang selama ini tidak kami gunakan, karena malas harus melalui beberapa undakan yang berliku untuk sampai ke area parkir dimana mobilku kini telah Rei berhentikan.
“Biar lamaan dikit sama-sama kamunya ...” jawab Rei pada pertanyaanku sambil ia mengarahkan mobil untuk menaiki undakan parkir tadi. “Kangen banget sama istri soalnya.”
Terdengar gombal, tapi aku sudah sangat menyukai setiap gombalan Rei sekarang. “Gombal!”
Dan aku berseloroh geli pada Reiji yang langsung terkekeh kecil.
---
__ADS_1
Aku dan Rei kembali berinteraksi mesra saat kami berdua telah keluar dari mobil lalu berjalan memasuki koridor yang terhubung dengan lantai tempat unit apartemen kami berada. Rei segera lagi menautkan jemarinya dengan jemariku selepas aku turun dari mobil, lalu berjalan dengan beriringan dengan aku yang bermanja ria secara alay dengan menopangkan kepalaku di bahu bidang Rei.
Hal yang bahkan aku tidak pernah membayangkannya, sejak aku dan Rei dijodohkan oleh kedua orang tua kami.
Dan itu aku sesali sekarang. Jika aku pernah mengabaikan bahu serta dada bidang Senderable Rei yang nyatanya begitu nyaman.
Namun kenyamanan itu aku jeda, saat kami berpapasan dengan seorang wanita yang tidak aku kenal, namun sepertinya tinggal di lantai yang sama denganku dan Rei.
Entah kalau Rei.
Apa suamiku itu mengenal wanita cantik nan modis serta nampak seksi meski ia memakai pakaian yang tidak terbuka, kecuali kemejanya yang kancingnya terbuka dua, namun cukup agak lebar.
Kalau melihat dari gelagat Rei sih, sepertinya dia tidak mengenal wanita yang kemungkinan adalah tetangga kami itu, karena Rei sedikitpun tidak memperhatikan wanita tersebut.
Suamiku itu berjalan dengan pandangan lurus saja, bahkan melirik wanita itupun tidak.
Bahkan juga, Rei mengembalikan lagi kepalaku yang tadi bersandar di bahunya-yang mana sempat aku angkat karena aku tidak mau dinilai lebay oleh orang lain atas interaksiku yang sok mesra pada Reiji itu.
Yah, meskipun itu hakku sih mau bersikap mesra pada suamiku sendiri. Tapi aku tipe perempuan yang agak risih kalau memamerkan kemesraan yang berlebihan diluaran dengan pasangan. Meskipun pasangan itu adalah pasangan halalku.
Well, bicara dengan wanita yang berpapasan denganku dan Rei tadi, kalau menurut penilaianku sih sepertinya Rei juga tidak kenal dengannya.
Tapi mengapa wanita itu melempar senyum manisnya pada Rei? ....
Membuat mataku memicing curiga pada Rei, setelah sempat melirik wanita tadi yang sempat melemparkan senyumnya, namun matanya fokus pada Rei.
Dan hatiku bertanya-tanya, apa Rei memang benar tidak kenal pada wanita itu, atau pura-pura ga kenal nih gara-gara ada aku disampingnya? .... Hmm? ....
****
“Aku ga kenal sama cewe tadi kalo kamu penasaran.” Ucap Reiji saat ia telah membuka pintu unit apartemennya dan Malia, lalu mempersilahkan Malia untuk lebih dulu masuk sebelum dirinya.
“Heu?” tanggap Malia.
“Kamu pasti curiga kan apa aku kenal sama itu cewe atau pura-pura ga kenal sama dia di depan kamu?”
Reiji lanjut bicara sambil meletakkan kartu akses masuk unit apartemen mereka di tempatnya, dan Malia langsung nyengir kuda.
“Kok tau sih kamu apa yang aku pikirin Rei? ....” tanya Malia jujur, dan Reiji mendengus geli.
Lalu Reiji menarik Malia hingga mereka rapat berhadapan.
“Apa sih yang aku ga tau tentang kamu, Yang? –“
“Masa?”
“Hu’um.” Sahut Reiji. “Yang kamu pikirin, yang kamu lakuin, aku tahu lah –“
Deg!.
Seketika Malia menjadi was-was.
‘Apa Rei tau kalau saat dia datang tadi gue sedang sama Irsyad???!!!!’
*****
__ADS_1
Bersambung ...