
Selamat membaca...
***
REIJI
“Sekali lagi.... Yang....”
Aku dapat melihat sorot mata Lia yang super duper terkejut kala aku mengatakan hal itu, dimana aku mati-matian menahan geli untuk tidak tergelak melihat ekspresi Lia disaat aku mengatakannya, yang mana ekspresi wajah Lia itu diantara terkejut dan terheran-heran atas hasratku.
Bagaimana Lia tidak terkejut, karena ucapanku itu adalah permintaan untuk ‘nambah jatah suami’ yang ketiga kalinya.
Salahnya sendiri yang membuat hasrat kelakianku berkobar liar karena penampilannya, dipadu dengan ‘servis’ Lia yang lebih luar biasa dari sebelum-sebelumnya.
Jika mau dibilang, aku akan selalu berhasrat pada Malia, karena hal itu akan cepat naik begitu saja jika aku berada didekat istriku dulu, bahkan dari sejak setelah kami dijodohkan dan beberapa kali pergi berdua.
Tapi tentunya, sebelum halal aku menahan hasrat itu dengan kemampuanku, dan jika tak mampu, aku akan pergi ke kamar mandi, ngurangin stok sabun cair.
Hingga sampai aku menikah dengan Lia, baru hasrat kelakianku terpenuhi, itupun aku selalu meminta dengan hati-hati, memindai dulu mood istriku itu. Hasrat, yang sebelumnya sering aku tahan-meskipun aku dan Lia sudah menjadi pasangan yang sah secara hukum dan agama.
Yang kalaupun aku salurkan, ya dengan normal. Dalam artian, hanya bercinta sekali putaran. Kalaupun bisa lebih, maksimal dua kali.
Itupun tidak estafet macam sesi bercintaku dengan Lia-yang baru selesai belum lama, dan hal itu juga bisa dihitung dengan jari dalam seminggu.
Dan aku yang biasanya-ralat, selalunya. Yang katakanlah meminta ‘jatah’ tersebut lebih dahulu, pun mendominasi permainan, karena Lia terkesan pasif-walau ga datar-datar amat kek gedebong pisang.
---
Tapi malam ini, aku rasanya tidak dapat menahan lagi keinginanku untuk tidak ‘menyerang’ Lia berkali-kali, dan menunjukkan sisi liar yang selama ini aku pendam darinya, setiap kali aku menginginkan untuk bercinta dengan Lia. Meskipun istriku itu nampaknya syok juga, karena aku mengajaknya bercinta hingga tiga kali putaran, dalam waktu yang tidak terjeda lama.
Namun begitu, aku tetap menanyakan dulu kesediaan Lia, sambil menatap lekat manik matanya, walau Lia mengiyakan keinginan atas hasrat kelakianku yang sedang berkobar ini.
Sekalipun aku sudah yakin jika Lia memang sudah benar-benar mencintaiku, tapi tetap aku harus menghormati keinginan dan keputusannya sebagai seorang istri, walau melayani suami hitungannya ibadah bagi seorang istri.
Well, bukankah ibadahnya akan lebih terasa indah jika istrinya ikhlas sejuta persen melayani suaminya?....
Jadi aku pun perlu menanyakan kesediaan Lia, untuk mengarungi bahtera kenikmatan bercinta bersamaku, agar sesi bercinta kami kian nikmat dan syahdu.
Dan begitulah yang terjadi selanjutnya.
Lia pasrah, namun tidak aku temukan keterpaksaan di sorot matanya, saat aku sampai tiga kali membawanya dalam sesi panas kegiatan kami di atas tempat tidur.
Hingga pada akhirnya Lia menyerah dan tidak sanggup lagi untuk ‘bergulat’ intim bersamaku dan jatuh tertidur di pelukanku. “Nitey nite, istri seksiku, semoga akan ada hasil dari ‘pertarungan sengit’ kita tadi.”
Aku berbisik geli di telinga Lia yang sudah jatuh terlelap dalam pelukanku itu, dengan wajahnya yang nampak kelelahan akibat ulahku beberapa saat yang lalu. Kupandangi wajah itu, sambil menerka-nerka apakah Lia dapat bangun esok hari.
Soalnya, wajah Lia nampak lelah sekali. Tapi aku tak bisa menahan untuk tersenyum geli, kalau ingat betapa aku telah ‘mengerjai’ Lia habis-habisan malam ini.
Sorry ya, istriku sayang.
Abang Reiji udah kadung engga tahan buat nahan apa yang selama ini di tahan-tahan.
Tapi kalo inget tadi ...
Ah, sial!
Gara-gara aku mengingat kembali sesi sangat panasku dan Lia beberapa saat yang lalu, adik kecilku kenapa segala merespon sih?!
Kenapalah dia bangun lagi hanya dengan aku membayangkan soal sesi panasku dan Lia tadi? ...
Ga mungkin kan bangunin Lia secara dia udah keliatan ga berdaya begini? ...
Tapi kan, kalau si 'dedek' bangun macam ni, gimanaa?...
Masa iya harus mandi air dingin ini?? ...
Haish, hasrat sialan!
Harusnya gue langsung tidur aja bareng Lia tadi, setelah pergulatan kami, jadi tidak sampai menderita begini.
******
Di pagi hari yang cerah, nampak sepasang insan yang merupakan pasangan halal, masih terlelap di atas ranjang mereka.
Reiji dan Malia nampak damai dalam tidur mereka, hingga kemudian kerjapan samar tampak di kelopak mata Malia yang tertutup.
__ADS_1
Lalu secara perlahan, kelopak mata Malia pun terbuka, bersamaan dengan tubuhnya yang menggeliat pelan, dimana ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya. Memeluknya dari belakang.
Menyadari jika dirinya berada dalam rengkuhan Reiji yang nampaknya masih nyenyak itu, Malia tersenyum di posisinya. Namun tak lama kemudian, Malia merasakan tubuhnya yang terasa pegal dimana-mana.
‘Lecet nih kayaknya apem gue! ---‘
Malia membatin dalam hatinya, ketika ia teringat atas apa yang terjadi semalam.
Mengingat tentang Reiji yang ‘menghabisinya’ secara tiga kali. Berturut-turut!. ‘Dia minum obat kuat apa ya?’
Malia yang tak habis pikir dengan stamina Reiji yang sepertinya berlipat-lipat ganda porsinya dari biasa.
‘Atau abis nonton BF nih dia semalem, makanya sampe begitu?...’
Lagi-lagi Malia menduga-duga dalam hatinya, jika semalam, dirinya tidak hanya ‘dihajar’ Reiji secara bertubi-tubi, namun ada beberapa gaya tambahan diselipkan Reiji di sesi panas mereka semalam.
Entah bagaimana Reiji bisa menjadi bak kuda liar semalam, Malia tidak mau memikirkan terlalu dalam.
Karena seyogyanya-walau tubuhnya macam remuk sekarang ini, Malia tidak menampik kelihaian Reiji dalam membawanya ke sebuah kepuasan yang hakiki dalam bercinta, hingga Malia rasanya hampir mati karena kenikmatan luar biasa yang dia rasakan dalam percintaan panasnya dengan Reiji semalam.
Malia tersenyum tipis sekali lagi, sekaligus ia tersipu sendiri. Karena semalampun, sepertinya ia terbawa oleh ‘keliaran’ Reiji. Hingga rasanya Malia tak percaya pada dirinya sendiri yang bertransformasi jadi kuda binal yang menunggangi kuda jantan dengan sangat antusias.
Namun didetik berikutnya, “Mati gue!” Malia berseru secara spontan ketika ia melirik jam di dinding kamarnya dan Reiji.
******
“Bangun tidur itu baca doa.”
Malia dibuat mengendik ketika ada suara terdengar dari belakangnya, sehabis dirinya berseru tajam dan hendak beranjak dari tempatnya.
“Atau paling engga, kecup kek suaminya dulu .. bukan malah merutuk.”
Reiji lanjut bicara, namun tak nampak bergerak dari posisinya.
“Kamu udah bangun?” tanya Malia yang memutar badannya hingga jadi berhadapan dengan Reiji dalam posisi miring.
“Hmm ..” itu saja yang terdengar dari mulut Reiji. Hingga Malia mendengus geli.
Tapi kemudian Malia buru-buru melepaskan rengkuhan Reiji. Yang nyatanya agak sulit Malia lepaskan.
“Rei lepasin. Aku udah telat banget ini!” protes Malia pada Reiji yang malah mengeratkan rengkuhannya pada Malia.
Malia mencebik.
“Mau kemana-“
“Iya mau kemana buru-buru banget?..” potong Reiji.
“Ya ke kantor lah, Reiii. Udah telat banget ini aku.”
Malia yang kalang kabut itu menjawab pertanyaan Reiji.
“Hmm-“
“Udah makanya lepasin.”
“Ga mau.. Mau gini aja seharian-“
“Rei ish!-“
Malia mendesis sinis, karena Reiji malah menopangkan satu kakinya ke atas paha Malia di balik selimut.
“Seriusan lepasin aku mau mandi!” protes Malia lagi pada Reiji, yang sayangnya.... Reiji mengabaikan protes Malia yang sudah mulai berontak itu.
Hingga tak berapa lama kemudian Malia diam, dengan meneguk samar salivanya.
Sementara Reiji membuka matanya, dan senyum jahil terbit di wajah Reiji kala matanya telah penuh terbuka sambil memandang pada Malia.
“Kamu membangunkan ‘nya’-“
“Jangan macem-macem Rei!”
“Emang kamu udah bangunin adik kecil aku.”
Reiji berucap dengan entengnya.
__ADS_1
“Liat nih kalo ga percaya!” Reiji menyibakkan selimut seraya menjauhkan kakinya dari Malia.
‘Astagaa!-‘
“Tanggung jawab.”
“Rei!”
Malia memekik sambil mendelik pada Reiji.
“Aku mau ngantor ih!” seru Malia setelah ia dibuat terbelalak karena aksi vulgar Reiji beberapa detik yang lalu, selain dibuat gugup atas pemandangan yang entah harus Malia syukuri atau rutuki, saat Reiji menyibakkan selimut yang sebelumnya apik menutupi bagian bawah tubuhnya yang keramat itu.
“Aku mau kamu!”
“Rei!”
Di detik berikutnya Malia memekik lagi, karena Reiji dengan cepatnya mengangkat tubuh Malia yang juga dalam keadaan sama-sama polos.
“Turunin ga?!” Malia menghardik kecil.
“Engga?!”
“Rei ish!-“
“Mau mandi kan?-“
“Ya iya-“
“Ya udah aku mandiin!”
Reiji berucap enteng sambil membawa Malia keluar dari dalam kamar mereka.
Malia melongo dibuatnya. Hingga sampai....
Blam!
Suara pintu kamar mandi yang tertutup-entah Malia tidak tahu bagaimana tangan Reiji yang menggendongnya bisa membuka pintu kamar mandi mereka, itu terdengar ditutup dengan tergesa.
Dan setelahnya, Reiji menurunkan Malia di bawah selang shower.
Lalu,
“Rei –“ Malia hendak bicara.
“Hari ini kamu ga usah kerja. Aku udah sempet telfon Andra tadi sebelum kamu bangun, minta ijin buat kamu.” Namun Reiji keburu menyambar.
“Tapi –“
“Aku bilang kamu susah bangun. Dan dia paham.”
Reiji menyambar untuk bicara sambil tersenyum jahil, dengan dirinya yang sudah juga berdiri di bawah selang shower yang masih tersangga di sangkutannya.
“Kamu bilang apa?-“
“Bawel ih!...”
“Iya kamu cerita gitu sama Pak Andra, hmmpphh”
Malia kembali bicara, namun belum sempat ia selesai dengan kalimatnya, Reiji sudah membungkam mulutnya dengan sepasang bibir mesum Reiji itu.
“Ah!” Malia terkesiap, kala air mengucur dari atasnya, meski air yang keluar dari shower tersebut telah Reiji setel ke mode air hangat. “AH!-“
Selanjutnya bukan ******* terkesiap yang lolos dari mulut Malia.
Karena Reiji telah mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya.
“Rei!...”
“Nikmatin aja sayang-“
“Dasar suami mes, um... Ahh!...”
Dan suara ******* Malia yang disertai jeritan-jeritan kecil pun selanjutnya menggema di seluruh ruangan kamar mandi apartemennya dan Reiji itu.
Karena kuda jantan yang berlabel suaminya Malia itu, kembali menggempur Malia lagi di bawah kucuran shower.
__ADS_1
******
Bersambung ....