
Selamat membaca....
*************************
“Tuh, si bibit pelakor kayaknya nelpon kamu lagi.” Adalah Malia yang berkata, saat dirinya telah rapih berpakaian --- dan sudah beringsut dari tempat tidurnya serta Reiji sehabis keduanya melakukan kewajiban suami istri, lalu perdebatan kecil terjadi --- dimana hal itu bermula dari Malia yang meminta Reiji untuk berhenti bersahabat dengan Shirly, dan berteman biasa saja.
Yang mana hal itu Malia minta, karena dipicu oleh dirinya yang merasa terganggu jika Reiji memiliki seorang sahabat perempuan yang makin membuat Malia merasa insecure karena Reiji pernah mencintai sahabat perempuannya itu.
Dan atas hal itu, jika Reiji berpikir Malia merasa insecure pada Shirly, itu benar adanya.
Hanya Malia rasanya gengsi untuk mengakuinya.
Jangankan pada Reiji, pada dirinya sendiri pun Malia menampik jika ia merasa insecure dengan keberadaan Shirly sebagai sahabat kental yang pernah Reiji cintai.
Semua itu bukan tanpa sebab sebenarnya.
Malia yang kini sudah benar – benar mencintai Reiji itu takut saja, jika suaminya dekat dengan perempuan lain dan sangat akrab.
Malia takut, jika ada kemungkinan perasaan Reiji pada Shirly tumbuh lagi.
Habisnya, kadang-kadang Shirly Malia anggap tak punya tata krama dengan menghubungi Reiji malam – malam, atau mengirimkan chat meminta suaminya itu melakukan sesuatu --- walau tidak sering memang.
Dan Reiji tidak pernah sembunyi – sembunyi juga untuk menerima panggilan dari Shirly sekaligus membebaskan saja Malia membaca semua pesan chat yang ada di ponsel Reiji, termasuk dari Shirly. Yah, walau saat Shirly menelepon Reiji, dan suaminya itu menerima panggilan tersebut di hadapan Malia tidak pernah lama, sekaligus Reiji biasa saja sikapnya --- bahkan lebih ke santai.
Tapi bagi Malia, tetap saja hal itu mengganggu.
Hingga akhirnya, pikiran untuk meminta Reiji berhenti bersahabat dengan Shirly sampai di otak Malia yang kemudian ia suarakan pada Reiji.
Berteman biasa saja.
Itu yang Malia minta oada Reiji atas hubungan persahabatannya dengan Shirly.
Karena di mata Malia, sahabat perempuan Reiji itu kenapa agak tergantung pada suaminya.
Walau Reiji pernah bilang, bukannya Shirly itu tergantung padanya melainkan Shirly kadang meminta untuk bertukar pikiran tentang suatu hal.
Memang, Reiji tidak pernah --- katakanlah seolah lupa waktu berbicara dengan Shirly pada sambungan telepon, namun tetap saja Malia merasa sedikit jengah.
Yang berujung menjadi kesal beneran, ketika ia tidak mendapatkan jawaban pasti dari Reiji --- yang bahkan sikap Reiji malah nampak ambigu di mata Malia.
‘Katanya cinta sama gue, kenapa permintaan gue yang sebenarnya bermaksud untuk nanya Rei pilih gue atau si cece itu ga langsung Rei iyakan coba???!!!’
Begitu kiranya dumelan Malia dalam hatinya.
Lalu dumelan itu menjadi kekesalan, ketika untuk yang kesekian kalinya --- Shirly menghubungi Reiji di waktu yang tidak seharusnya, jika berporos pada etika menghubungi teman pria yang sudah menikah.
Berdasarkan pendapat pribadi Malia.
🕚
Malia sudah rasanya sebal karena permintaannya mengenai Shirly pada Reiji tidak langsung suaminya itu iyakan.
Lalu panggilan telepon dari Shirly di waktu yang tidak seharusnya itu menambah sebalnya Malia. Pada Shirly saja tadinya Malia merasa sebal.
__ADS_1
Namun kemudian sebal Malia akhirnya merembet pada Reiji juga karena suaminya itu dinilai tidak peka pada ketidaksenangannya karena Reiji tidak mengiyakan keinginan Malia yang meminta Reiji menjauhi Shirly secara halus.
Hingga pada akhirnya cibiran tajam keluar juga dari mulut Malia untuk Shirly.
Cibiran tajam yang mendapat tanggapan tajam juga dari Reiji dalam pandangan Malia, hingga sempat ia mengeraskan rahangnya.
Emosi, sampai di dada Malia. Dan sarkasme ucapan terlontar dari mulutnya untuk Shirly.
“Gatel kali pengen kamu datengin .. Secara perempuan haus belaian, udah lama ga ditidurin laki..“
Malia sadar kalimatnya itu sedikit kasar.
Tapi atas dasar emosi, kalimat yang sedikit kasar itu jadi keluar begitu saja dari mulut Malia. Hanya yang tak Malia sangka, Reiji terlihat juga sedikit emosi ----- walau emosi Reiji itu nampak tertahan dan tak besar.
Setelahnya pun, Reiji meminta maaf atas dirinya yang sempat memekik pada Malia. Namun sayangnya, Malia sudah keburu merasa tidak senang dengan respons Reiji yang di mata Malia kok tidak terima sekali jika dia menghina Shirly.
🕚
"Paham banget sahabat ..."
Gumaman Malia yang terdengar sinis meski bibirnya menyunggingkan senyum pada Reiji.
Senyum sentimen yang terbentuk, karena ucapan Reiji yang menurut pemahaman Malia adalah memintanya untuk berhenti merendahkan sahabat perempuan suaminya itu.
"Berhenti menghina Irly, Yang. Dia ga seburuk itu.."
Kesal Malia meningkat lagi. Atas dasar pemahaman Malia atas sikap Reiji yang dinilai begitu menjaga harga diri Shirly, bahkan di hadapan Malia. Istri Reiji sendiri. Pikir Malia.
“Sorry, keceplosan. Gue ga ada maksud buat ngatain simpenan lo itu, Reiji---Shakeel ...”
BRAKK!
Malia membanting pintu kamarnya dan Reiji dengan sangat keras, tepat dihadapan suaminya itu.
Yang saat Malia melontarkan kalimat lumayan sarkas pada Reiji itu telah memegang knob pintu tersebut, dan Reiji memanglah berdiri cukup dekat dengan Malia.
‘Sial!’
Dan rutukan itu tercetus di dalam hati Reiji secara spontan, ketika Malia membanting pintu kamar mereka tepat dihadapan Reiji.
🕚
REIJI
Iya, sial! Sangat sial!
Bukan Lia yang sedang aku rutuki.
Tapi nasibku, posisiku sekarang. Haish!
Dan apa yang Lia bilang tadi? Simpenan?
Ya ampuun!!!!..
__ADS_1
Bisa-bisanya Lia berpikir begitu?
Perasaan sudah berkali-kali aku tekankan posisi Irly, tapi kenapa Lia ga ngerti-ngerti sih? Katanya udah percaya, tapi sering di senggol lagi, membahas lagi soal perasaanku ke sahabat perempuanku itu.
Sudah aku bilang kalau andainya aku masih punya perasaan dengan Irly, ataupun Irly yang mengajakku menjalin hubungan, itu sudah akan terjadi sejak lama.
Dan perjodohanku dengan Lia tidak akan pernah terjadi, karena aku pasti sudah menikahi Irly.
Orang tuaku yang baik itu tidak akan juga mempermasalahkan status dan kondisi Irly yang memiliki Argan.
Tapi kan lihat sekarang?
Aku dijodohkan oleh orang tuaku dan Lia karena aku lama tidak terlihat memiliki hubungan dengan lawan jenis setelah pernah pacaran dua kali. Makanya mereka yang mungkin juga sudah kebelet ingin menimang cucu selain usia 30 itu mereka anggap sudah cukup tua untuk membujang, pada akhirnya ide perjodohan yang tadinya hanya cetusan antar kawan--mereka cetuskan untuk dijadikan juga.
Kalau aku masih punya perasaan pada Irly, Demi Tuhan tidak akan pernah aku terima perjodohanku dan Lia.
Malahan aku langsung dengan cepat menerima perjodohanku dan Lia ini, karena memang aku merasa jika aku sudah memiliki perasaan khusus pada Lia kala itu.
Tapi kenapa sampai Lia berpikir serendah itu tentangku, hanya karena aku memintanya untuk berhenti menghina Irly yang mana semua hinaan Lia itu rasanya sudah keterlaluan. Cukup kasar.
----
Bicara soal kasarnya ucapan Lia yang diperuntukkan untuk Irly, ucapan Lia padaku sebelum ia membanting pintu di hadapanku beberapa detik yang lalu cukup mencubit hatiku. Mengatakan jika Irly adalah simpananku, sebenarnya membuat hatiku tersinggung.
“Sorry, keceplosan. Gue ga ada maksud buat ngatain simpenan lo itu, Reiji---Shakeel ...”
Namun ada yang lebih menarik perhatianku, yang lebih membuat hatiku rasa tak menentu.
Cara Lia membahasakan dirinya dan diriku. Yang tak menggunakan kata ‘aku’ dan ‘kamu’ tapi ‘gue – elo’.
This is not good.
🕚
“Sialan!”
BRAKK!
Sementara Reiji sedang termangu selepas Malia meninggalkannya di dalam kamar mereka, Malia yang sudah keluar dari kamarnya dan Reiji itu sedang dilanda emosi yang walau tidak besar, namun cukup membuat Malia menjadi sangat kesal dan dongkol.
“Bener – bener sialan!”
Malia kembali merutuk tajam setelah ia masuk ke dalam kamar mandi, selepas ia keluar dari kamarnya dan Reiji.
Dimana seperti saat Malia menutup pintu kamarnya setelah ia meninggalkan Reiji yang nampak termangu di sana, Malia juga menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.
“Rasa pengen gue samperin itu perempuan trus gue maki – maki biar dia menjauh dari Rei!”
🕚🕚🕚
Bersambung ....
Terima kasih masih setia.
__ADS_1