
Selamat membaca....
****************
Reiji sudah bersama Ammar dan beberapa anak buah dari pria itu yang hitungannya adalah para bodyguard dari satu keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi. Dan kini Reiji sedang berjalan untuk memasuki villa yang diyakini jika Malia disekap Irsyad di dalamnya, melalui akses masuk dari belakang yang tidak sengaja ditemukan oleh dua bodyguard yang ditugaskan Ammar untuk menyisir keadaan villa terlebih dahulu sebelum Reiji tiba bersama dirinya.
Pria bernama Ammar dan beberapa bodyguard yang menyertainya itu, nampak memakai sebuah alat di salah satu telinga mereka terkecuali Reiji. “Kenapa, Ken?...” Ammar lalu terdengar bicara setelah ia mengetuk pelan rahang di dekat telinganya, dan Reiji memperhatikan saja gerak-gerik pria itu.
‘Jir! Si Ammar nih dah macam agen CIA aja.’
Reiji spontan membatin karena pergerakan Ammar yang sedang nampak sedang menerima panggilan lalu menjawab panggilan itu, sambil matanya melirik bodyguard yang bersamanya lalu tangannya bergerak macam kepala satuan polisi yang memberi kode pada anak buahnya untuk bergerak ke satu arah untuk mengepung penjahat.
Namun Reiji yang sedang merasa takjub pada Ammar dalam hatinya itu, kemudian dibuat terkejut ketika mendengar Ammar berseru.
“Kalian masuk sekarang!”
“Ada apa?!”
Dan Reiji pun spontan bertanya karena gelagat Ammar yang nampak memberikan perintah dengan tajam itu dengan Ammar yang mempercepat langkahnya menyusul dua bodyguard yang telah berjalan lebih dulu ke area halaman belakang villa.
Namun Ammar mengabaikan pertanyaan Reiji itu.
“Buka!” Dan Ammar malah memberi perintah cepat kepada satu orangnya setelah mencapai pintu belakang villa tempat Irsyad menyembunyikan sekaligus menawan Malia.
Membuat perasaan Reiji jadi tak karuan, melihat ekspresi Ammar yang nampak serius.
****
Reiji memperhatikan Ammar yang tidak menjawab pertanyaannya.
Serta juga, Reiji memperhatikan satu anak buah Ammar yang hendak membuka pintu yang ditunjuk oleh Ammar itu.
Namun disaat yang bersamaan, gorden pintu belakang villa yang hendak dibuka paksa itu terbuka dari dalam dengan satu anak buah Ammar yang terlihat sudah berada di dalam villa lalu membukakan pintu tersebut.
Satu anak buah yang sudah berada di dalam villa itu, kemudian langsung menyapa Ammar dengan santun setelah ia membukakan pintu belakangnya. “Tuan—“
“ENGGAA... JANGAANN!!!!...”
Namun bersamaan dengan itu, perhatian Reiji dan semua yang bersamanya tertuju kepada sebuah teriakan histeris yang terdengar dari salah satu kamar.
****
****
MALIA
Nafasku sudah terengah-engah setelah aku mulai berlari untuk melarikan dari kamar tempat Irsyad mengurungku dan kemudian aku memukul dengan pot bunga hiasan, serta mendorong tubuh Irsyad agar aku bisa keluar dari kamar tersebut.
Namun dewi fortuna belum memihak padaku. Serta mungkin aku yang sengaja meninggalkan kewajibanku atas dasar keenggananku meminta mukena pada Irsyad, Tuhan jadi tidak mengabulkan doaku untuk bisa melarikan diri dari Irsyad.
Usahaku melarikan diri terasa percuma, karena pintu depan bangunan yang sepertinya sebuah villa ini terkunci rapat.
Tadinya aku ingin memecahkan jendela, tapi Irsyad dengan cepat menarikku dan mengunci tubuhku dalam pelukannya yang sangat kuat dari belakang.
Padahal aku sadar betul jika aku memukul kepala belakang Irsyad dengan pot bunga kayu di kamar tadi dan mendorongnya dengan kuat juga.
Tapi saat aku hendak melarikan diri lewat pintu depan kemudian Irsyad sudah keburu lagi menyusulku, ia sudah kembali dapat berdiri dengan tegak di hadapanku.
Bahkan tenaganya yang mengunci tubuhku itu terasa begitu kuat, karena aku yang meronta untuk berusaha lepas dari Irsyad, tidak menggoyahkan sedikitpun kunciannya pada tubuhku.
__ADS_1
Lalu Irsyad membuatku merinding ngeri sekaligus jijik di saat yang bersamaan, ketika aku sadari ia mengendusi aroma tubuhku.
“Kamu harum, Lia. Dan aku menyukai harum tubuh kamu ini. Sangat.“ Begitu kata Irsyad kemudian, dengan tetap mencengkeramku kuat.
Aku merasa dilecehkan sebenarnya. Meskipun Irsyad hanya mengendusiku sedetik saja.
Tapi tetap aku tidak terima. Namun aku tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon pada Irsyad saja.
Karena barangkali lirihan permohonanku dapat membuatnya iba, lalu otaknya yang terganggu itu dapat kembali berpikir sehat.
-----
“Tidak akan pernah aku biarkan laki – laki itu memiliki kamu lagi!” Namun alih-alih iba, Iryad malah berkata tajam padaku soal Rei. Dimana hal itu memicu emosiku, yang membalas perkataan tajam Irsyad itu dengan sergahan yang sama tajam nadanya dengan perkataannya tersebut.
“Dia suamiku!”
Aku tegaskan itu pada Irsyad.
Tapi Irsyad menjawab penegasanku itu dengan mengatakan jika Rei telah mengkhianatiku, dan tidak ada yang perlu aku harapkan dari laki-laki bajingan seperti Rei.
Begitu yang Irsyad katakan padaku kurang lebihnya. Heh! Seharusnya Irsyad mengaca diri. Dibandingkan dengan Rei yang membohongiku, aku rasa lebih bajingan dirinya yang sampai membius dan menculikku.
“KAMU YANG BAJINGAN!”
Aku pun berteriak mengembalikan kata bajingan yang ia tujukan pada Rei.
Karena memang seperti itu kiranya Irsyad di mataku sekarang. Tak lebih dari seorang bajingan.
Amat sangat bajingan setelah ia menyeretku masuk ke dalam sebuah kamar yang ada di lantai bawah villa, setelah aku berusaha melarikan diri lagi kala ia lengah dan aku sempat menendang kakinya.
Hanya saja, aku tidak berpikir panjang untuk menentukan arah kemana aku harus berlari setelah aku mendapati pintu depan villa terkunci dan aku berlari ke sembarang arah.
“LIA JANGAN BUAT AKU MARAH!” teriak Irsyad dengan sangat geram padaku.
Namun usahaku untuk segera melarikan diri dari Irsyad lagi – lagi gagal, karena aku yang tidak memperhatikan lantai saat berlari menuju sudut yang aku yakini adalah pintu belakang villa itu, terjatuh akibat tersandung ujung karpet yang menutupi lantai di area meja makan.
****
Selanjutnya Irsyad dengan cepat menangkap tubuh Malia yang terjatuh akibat tersandung ujung karpet di bawah meja makan dalam villa milik keluarganya itu.
“Kamu membuat kesabaranku habis, Lia!“
“Lepaskan aku bajingan!...“
“Aku bajingan yang mencintai kamu dengan tulus, Lia,”
Irsyad menjawab rutukan kasar Malia yang kedua padanya.
“Dan kamu telah berlaku sangat kasar pada laki – laki yang mencintai kamu dengan tulus ini ... Untuk itu, aku ingin meminta ganti rugi.”
“A – pa maksud, kamu??...“ gugu Malia.
“Akan aku buat suamimu itu jijik padamu, Sayang.”
Irsyad lalu menyeret tubuh Malia menjauh dari pintu menuju ke satu kamar.
“Aku benci kamu, Irsyad!” pekik Malia yang kini sudah ketakutan, setelah mendengar ucapan Irsyad yang ia pahami maksudnya.
Terlebih Irsyad menyeretnya ke dalam sebuah kamar, kemudian berucap dengan tatapannya yang nampak mengerikan di mata Malia lalu menghempaskan Malia ke atas sebuah ranjang dalam kamar tempat Irsyad menyeret Malia masuk ke dalamnya itu.
__ADS_1
Tubuh Malia sudah bergetar ketakutan ketika Irsyad sudah menindihnya di atas ranjang, dengan tangan Malia yang disatukan lalu dicengkeram kuat dengan satu tangan Irsyad, dan kaki Malia dihimpit sama kuatnya dengan paha Irsyad.
****
Malia sudah di lepaskan Irsyad setelah pria itu menyuntiknya dengan sesuatu.
Dan Malia memanfaatkan kesempatan dirinya yang terbebas dari Irsyad itu untuk segera bangkit dan menjauh dari ranjang karena pikiran Malia sudah sangat tak karuan setelah Irsyad menindihnya tadi.
Namun alih-alih mencoba melarikan diri, Malia merasakan tubuhnya limbung saat ia bangkit dari ranjang.
Walau begitu, pandangan mata Malia masih jelas dan dia melihat lampu tidur di atas nakas samping ranjang yang kemudian ia raih lalu ia lemparkan ke arah Irsyad.
“Sebentar lagi, kamu sendiri yang akan memintaku menyentuh kamu, Lia.”
Lalu suara Irsyad yang dapat menghindari dengan mudah lemparan lampu dari Malia kemudian terdengar dengan dirinya yang kembali mendekat pada Malia yang kembali digulung rasa takut yang hebat, bersamaan dia merasakan tubuhnya mulai merasa panas, dan Malia menduga satu hal.
‘Ya Tuhan, apa Irsyad memberikanku obat perangsang???—‘
****
Malia masih sadar ketika ia merasakan hawa di tubuhnya mulai merasa berbeda.
Tak ingin jatuh ke dalam perangkap Irsyad yang akan membuat dirinya kotor, Malia sekuat tenaga menahan desir tak nyaman yang mulai menjalar di tubuhnya itu.
Malia bahkan mencubit dirinya sendiri karena ia takut hilang sadar dan Irsyad akan benar-benar menjamahnya.
“Kamu milikku sekarang, Lia—“
“Engga!” sergah Malia dengan sisa tenaganya.
“Jangan dilawan, nanti kamu tersiksa sendiri. Lebih baik terima saja, kalau aku adalah satu-satunya laki-laki yang tepat untuk kamu, dan ayah untuk anak-anak kita nanti...”
“Hanya Rei laki-laki yang akan jadi ayah anak-anakku!” pekik Malia dan hal itu membuat Irsyad yang tadi nampak tenang, kemudian menampakkan lagi wajah geramnya yang mengerikan.
****
“Kamu memang keras kepala!”
“AKH!”
Malia memekik karena Irsyad mendorong tubuhnya lagi hingga terhempas ke atas ranjang.
“Kamu milikku Lia!”
SRET!
Irsyad menarik kemeja yang Malia kenakan, hingga kancing-kancing kemeja Malia terlepas dari tempatnya.
“ENGGAA... JANGAANN!!!!...”
Malia berteriak dengan kencangnya, menggunakan tenaga terakhir yang ia punya karena sudah dibuat tak fokus juga dengan panas yang ia rasakan menjalar di tubuhnya.
Air mata Malia sudah menganak sungai, karena ia menangis dengan hebat, membayangkan jika Irsyad akan memperkosanya.
“Berteriak sesukamu, tidak akan ada yang mendengar kamu, Lia. Per—“
BRAAKKKKK!
Pintu kamar terbuka dengan keras sebelum Irsyad menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
*******
Bersambung .....