
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Makan dulu yuk? ... Baru abis itu kamu istirahat lagi. Tapi nanti habis makan aku mau keluar sebentar.“
“Mau ngunjungin anak laki – lakinya si Irly sekaligus mau nambahin uang buat dia atau mungkin buat ibunya? –“
“Maksud kamu? ...“
“Ga ada hubungan spesial ... tapi setiap bulan rajin kasih uang sama janda satu anak yang katanya sahabat itu terus bulat kasih 300 juta. Sekarang mau keluar ... mau kasih uang buat beli rumah?“
*****
“Kamu emang kasih aku uang bulanan yang besar. Bahkan setengah gaji kamu dikasih ke aku. Termasuk uang dari hasil keuntungan bisnis kecil – kecilan kamu. Tapi sayang, hitungannya aku dikasih uang sisa dari kamu yang udah nyisihkan penghasilan kamu buat janda.”
“Yang –“
“Aku mau istirahat dan tolong jangan ganggu.”
“........”
“Aku ga minta penjelasan. Jadi ga usah pusing ngarang cerita.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Malia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya dan Reiji.
Meninggalkan Reiji yang memilih diam. Hanya memperhatikan Malia yang menutup pintu kamar sambil membelakangi pintu tersebut.
Setelahnya, Reiji menghela nafasnya dengan berat ---- lalu mendudukkan dirinya lagi di kursi meja makan yang sebelumnya ia duduki, namun sempat berdiri saat Malia mengatakan jika dirinya telah selesai makan.
‘Lia tau darimana soal itu????’ batin Reiji yang frustasi.
*****
REIJI
Seingatku, di chat Irly yang tadi masuk saat aku dan Lia masih di penthousenya Tuan Jonathan, dia hanya membahas soal janjiku ke dia dulu. Tidak ada aku baca soal Irly yang membahas uang yang suka aku kasih, sama uang 300 juta waktu Argan angfal. Lalu darimana Lia bisa tahu hal itu? ...
Apa ada dari chat si Babas, Aldo dan Irfan yang membahas soal itu?
Tapi aku tidak mengatakan pada mereka soal aku yang memberikan 300 juta pada Irly.
Dan kalau soal memberikan Irly uang tiap bulan, mereka sudah tahu sejak lama. Tidak mungkin dibahas lagi oleh mereka.
Atau Irly sudah cerita pada mereka tentang aku yang memberikannya 300 juta, lalu Babas, Aldo dan Irfan menanyakannya lewat chat yang kemudian dibaca Lia?
Makanya Lia bisa sampai tahu.
Iya, bisa saja begitu. Lebih baik aku cek saja ponselku.
-----
Aku tertegun saat aku mendapati jika ponselku yang mati dan aku pikir memang habis daya itu, pada kenyataannya tidak begitu.
Ponselku non aktif bukan karena habis daya, tapi memang sengaja dimatikan. Dan siapa lagi kalau bukan Lia yang melakukannya?
Tapi tentu saja aku tidak mempermasalahkan hal itu. Pasti kekesalan Lia yang teramat padaku yang membuatnya sengaja menonaktifkan ponselku.
Dan aku sungguh memakluminya. Bagus Lia tidak hancurkan ponselku ini.
Disaat tadi mungkin dia spontan merasa amat kesal ketika mendapat informasi tentang aku yang suka memberikan uang setiap bulan pada Irly, termasuk uang dalam jumlah yang cukup besar yang belum lama aku berikan untuk biaya pengobatan dan hidup Argan.
-----
Yang mana informasi itu, Lia ketahui dari Irly sendiri. Melalui rentetan pesan chat terbaru yang masuk ke ponselku, dari sahabat perempuanku itu ---- yang sekarang rasanya sudah harus aku tanggalkan betul – betul hubungan itu dengan Irly.
Dan memang sudah aku putuskan seperti itu sih, saat Lia memergokiku ada di apartemen Irly disaat aku mengatakan padanya jika aku ada meeting di kantor pusat maskapai. Yah awalnya aku tidak berencana membohongi Lia.
Tapi saat aku mendapatkan pemberitahuan jika meeting dibatalkan, tak lama berselang aku mendapatkan panggilan dari nomor ponsel Irly yang lama.
Lalu suara Argan yang masih agak lemah menyapaku. Kemudian ia melirih mengatakan jika ia ingin bertemu denganku. Dan aku sulit menolaknya. Maka jadilah aku membohongi Lia.
Bahkan sedikit main kucing – kucingan dengan istriku itu. Hingga akhirnya Lia memergokiku berada disana. Dan itu atas campur tangan si bibit pelakor b*jingan yang ternyata mengawasiku dan Lia selama ini.
Dan memang aku yakini seperti itu adanya.
Karena ujung dari rentetan masalah rumah tanggaku dan Lia sekarang berakhir pada si bibit pelakor b*jingan itu yang menculik dan menyekap Lia.
Huufftthh ...
*****
‘Ck!’
Reiji spontan berdecak dalam hati, ketika ia melihat rentetan pesan yang Reiji ketahui dari Shirly, meski nomor barunya itu memang tidak Reiji simpan dalam daftar kontak ponselnya.
Tidak kepikiran, karena Malia keburu mencecarnya saat mendapati kalimat dalam chat yang membuat Malia menjadi penuh selidik padanya.
Lalu karena ruang obrolan pribadi dalam aplikasi di ponselnya dari nomor baru Shirly itu ada dibarisan paling atas, dan kalimat yang terpampang bukanlah kalimat terakhir seperti yang Reiji ingat ---- maka Reiji segera mengetukkan ibu jarinya ke ruang obrolan tersebut.
Namun didetik berikutnya, wajah Reiji nampak kaku.
Setelah ia membaca pesan chat Shirly yang mengatakan jika perempuan itu memiliki perasaan khusus padanya sekarang.
__ADS_1
*****
‘Ini maksudnya, Irly cinta gitu sama gue?’ Reiji membatin kemudian.
Setelah ia membaca sebaris pesan panjang dari irly yang menuliskan jika alasannya datang kembali ke Jakarta serta memutuskan untuk tinggal di kota tersebut, tidak hanya karena anaknya.
Tetapi juga karena perasaan Shirly sendiri pada Reiji. Dimana perempuan itu menyiratkan lewat kalimatnya, bahwasanya seperti yang Reiji duga, jika Shirly kini mencintainya. Seiring kalimat penyesalan Shirly sesudah memberitahukan bahwa perempuan itu telah mencintai Reiji.
*****
REIJI
Aku cukup dibuat terkejut saat membaca satu kolom pesan yang cukup panjang, diantara pesan chat terbaru dari Irly yang baru aku ketahui saat aku mengaktifkan kembali ponselku. Pesan chat dimana Irly mengakui jika dia mencintaiku. Yang hanya sekejap saja membuatku terkejut.
Karena setelahnya aku hanya menyungging miring saja. Atas dasar pernyataan cinta Irly itu tak berarti apapun untukku yang memang sudah tak memiliki perasaan apapun padanya lagi sejak lama.
Perasaan cinta dalam hal ini.
Jadi pernyataannya cinta Irly sekarang itu, aku anggap basi.
Lagipun, untuk apa dia mengatakan hal itu sekarang?
Toh seingatku aku sudah sempat mengatakan padanya, kala aku sedang berkumpul dengan para sahabatku lalu Irly iseng bertanya tentang mengapa aku mau menikah karena dijodohkan.
Dan jawabanku waktu itu aku cetuskan dengan pasti dan yakin ---- bahwasanya aku sebenarnya telah menyukai Lia sejak lama.
Lalu sejak aku dijodohkan dengannya, benih – benih cinta di hatiku semakin tumbuh pada Lia.
Bahkan mungkin dari sebelum cetusan perjodohan itu terlontar dari mulut orang tua kami, aku rasanya sudah mulai mencintai Lia.
Hanya sempat aku sangkal sendiri saja perasaanku pada Lia itu.
*****
Reiji lanjut membaca rentetan pesan chat berikutnya dari Shirly dan setelah sebelumnya ia menyungging miring, kemudian Reiji seringkali menghembuskan nafas beratnya saat membaca satu per satu pesan chat Shirly selanjutnya itu.
‘Damn Ir ...’
Setelahnya Reiji merutuk.
Lalu menarik nafas frustasinya dengan panjang.
‘Kalo gini, Lia double marahnya sama gue pasti!’
Membatin dengan frustasi juga.
‘Dah lah soal gue yang kasih duit Irly tiap bulan plus itu uang 300 juta, tambah lagi si Irly segala bilang dia cinta sama gue di ini chat! Pasti besok nih, gue dapet sindiran dari Lia yang bunyinya, ‘Tuh cewe yang pernah kamu cinta ternyata cinta juga sama kamu. Gih sana sama dia aja!’ Pasti gue dapet sindiran macam itu dari Lia! ...’
‘Kalo ga gue takut Lia belum tidur, terus dia denger gue telfon Irly, meski niat gue pengen ngomel sama dia, Lia pasti mikir yang engga – engga lagi.’
Reiji merasa serba salah.
‘Masih ada rasa ga tega gue sama Argan. Tapi kalau gue dihadapkan dengan bayang – bayang kehilangan Lia, tega ga tega deh gue!’
Sekali lagi Reiji menghela nafas frustasi sambil mengusap kasar wajahnya setelah ia bermonolog dalam hatinya.
‘Sekarang lebih baik gue pikirkan bagaimana gue menjelaskan pada Lia, lalu menenangkannya. Buat Lia percaya kalo gue kasih uang ke Irly memang murni untuk sekedar membantunya saja.’
Reiji pun bangkit dari duduknya.
Sambil Reiji membawa serta ponselnya.
‘Sekarang lebih baik gue istirahat, biar otak gue lebih longcer buat mikir besok gimana cara buat bikin perasaan Lia baik lagi.’
Dengan membatin sambil melangkah menuju kamarnya dan Malia, namun niat Reiji untuk masuk ke kamarnya dan Malia itu tertunda disaat Reiji memutar knob pintunya.
‘Haiyah! ...’
Reiji langsung berkesah kemudian.
Karena dirinya menyadari jika Malia mengunci pintu kamar mereka dari dalam.
‘Gue ga denger Lia kunci ini pintu perasaaan?’ batin Reiji, dengan dirinya yang masih berdiri di depan pintu kamar pribadinya dan Lia itu.
Namun Reiji tak berniat mengetuk pintu tersebut, dan memilih membiarkan Malia yang mengunci dirinya di dalam kamar mereka. Kemudian Reiji berjalan lunglai ke arah ruang tamu, dan merebahkan dirinya di atas sofa panjang.
*****
Cahaya mentari membiaskan langit malam. Dua orang yang tinggal di tempat yang sama, telah masing – masing bangun sebelum mentari menampakkan cahayanya. Telah juga berpapasan, disaat salah satunya yang semalam mengunci kamar tidur dari dalam, telah keluar karena ingin pergi ke kamar mandi.
Reiji dan Malia yang berpapasan disaat waktu subuh itu tak banyak berinteraksi.
Reiji lah yang menyapa Malia duluan, karena sebelum sayup – sayup suara kunci pintu terdengar dibebaskan --- Reiji telah lebih dulu bangundari tidurnya.
“Pagi, Yang –“
“Pagi.” Malia menjawab singkat.
“Aku baru mau subuh, kamu juga kan –“
“Duluan aja. Aku lama di kamar mandi.”
Malia memotong ucapan Reiji.
__ADS_1
Sambil bersikap acuh tak acuh pada Reiji dengan Malia yang memotong ucapan Reiji sambil meloyor masuk ke dalam kamar mandi.
Membuat Reiji menghela nafasnya sedikit berat.
Lalu pergi masuk ke dalam kamarnya dan Malia, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat sendirian.
*****
MALIA
Perasaanku sedang sangat tidak nyaman dan teramat kesal pada Rei. Jadi semalam aku memilih untuk mengunci diri di dalam kamar.
Masa bodoh dengan Rei yang malas aku pikirkan jika ia harus tidur di sofa dan akan menjadi terbatas geraknya.
Tahu, jika itu tak sepatutnya aku lakukan kepada suamiku.
Tapi jika emosi sedang menguasai, ego lebih mendominasi.
Dan ego itu terus mendominasiku hingga pagi tiba.
Malas ingin keluar kamar sebenarnya, tapi aku harus menjalankan kewajibanku sebagai umat yang sempat aku lalaikan ketika ditawan Irsyad.
Jadi meski enggan, aku memaksakan diri untuk keluar dari dalam kamar pribadiku dan Rei di apartemen kami ini.
Berharap Rei masih tidur.
Namun nyatanya dia sudah lebih dulu bangun.
Karena aku melihat wajahnya basah. Yang aku rasa jika Rei habis berwudhu.
Dan aku malas sekali untuk berbasa – basi dengan suamiku itu sekarang.
Tapi karena Rei menyapaku, mau tidak mau aku menjawab sapaannya yang diteruskan dengan ajakan untuk menunaikan kewajiban sebagai umat secara bersama, seperti yang selalunya kami lakukan apabila waktu beribadah tiba dan kami berdua sedang berada di apartemen.
Atau disaat aku tidak sedang kedatangan tamu bulanan.
Hanya saja aku menolak ajakan Rei itu, dengan menggunakan alasan yang aku cetuskan secara spontan.
Lalu aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Dan pada akhirnya, aku yang tadinya hanya berniat untuk berwudhu ---- jadi memutuskan untuk sekalian mandi saja.
Dengan cepat, agar waktu subuh tidak sampai terlewat olehku. Selain aku berencana untuk mengunci diri lagi dalam kamar setelah melaksanakan kewajiban subuhku.
-----
“Yang, aku mau beli sarapan dulu ya?”
Suara Rei bersamaan dengan orangnya sudah ada di dalam kamar.
Aku terlupa dengan niatanku yang ingin mengunci diri kembali di dalam kamarku dan Rei seperti semalam, selepas aku menunaikan kewajibanku sebagai umat, karena aku langsung merebahkan diri kembali di atas ranjang.
Berleha - leha, memikirkan bagaimana aku melewati hari dalam apartemen bersama dengan orang yang menjadi sumber kekesalanku yang teramat sangat ini.
Yang mana orangnya baru saja mengatakan akan pergi membeli makanan untuk sarapan.
“Ya.”
Aku menjawab acuh saja.
“Kamu mau sarapan apa?”
“Apa aja.”
“Bubur ayam yang biasa mau?”
“Terserah.”
Aku dengar Rei menghela nafasnya dengan berat, saat aku menanggapi pertanyaannya dengan malas – malasan.
Bahkan aku tak menolehkan wajahku kepadanya, karena sungguh aku sedang malas sekali melihat wajah Rei sekarang.
Wajah yang sudah membohongiku, bermain di belakangku ---- walau konteksnya Rei tidak selingkuh.
Tapi mengetahui jika suamiku menafkahi wanita lain di setiap bulannya ditambah dia memberikan uang dalam jumlah yang cukup besar pada wanita lain itu, benar – benar menggores harga diriku sebagai seorang istri.
Sepertinya, hatiku terasa hampa pada Rei sekarang. Selain kepercayaanku yang sudah hilang padanya. Pun tak berharap aku mendapat penjelasan dari tindakannya itu.
Dan atas dasar itu, aku menjadi gamang.
Kesalahan Rei memang tidak sefatal nistanya selingkuh sampai berhubungan intim dengan wanita lain.
Namun atas nama harga diriku yang tergores sebagai seorang istri karena kelakuan Rei terkait si Shirly itu, membuat rasa percayaku hilang pada Rei.
Ada ragu yang menyelusup di dalam hatiku kemudian, atas dasar hatiku yang amat sangat tidak terima jika suamiku sampai menafkahi wanita lain.
Apakah aku tetap bertahan dalam rumah tangga yang sudah diwarnai oleh ketidakjujuran yang telah lama dan sering dilakukan oleh pasanganku itu?
Atau lebih baik aku sudahi saja rumah tanggaku dan Rei ini?
******
Bersambung ...
__ADS_1