
Selamat membaca....
***
“Eh Rei, itu kotak apa deh yang ada di pojok rak sepatu kamu?.. buku-buku kamu bukan?..”
Malia yang keluar dari walk in closet dan berdiri di batas pintunya dan bertanya pada Reiji.
“Kotak apa?..” tanya Reiji yang sedang rebahan di atas ranjangnya dan Malia itu.
“Itu yang dusnya warna biru,” jawab Malia. “Aku ambilin ya?”
“Alamak!” Reiji ingat tentang dus biru yang ditanyakan Malia barusan.
Dan Reiji pun dengan secepat kilat bangkit dari ranjang menuju walk in closet.
“Jangan dibuka!”
Suara Reiji yang berseru memberikan larangan saat Malia telah mengeluarkan kotak biru persegi berukuran medium dari sudut lemari bagian bawah itu sampai mengendik saking kaget.
Reiji dengan cepat meraih kotak tersebut dan menjauhkannya dari Malia.
Tentu saja selain kaget, Malia langsung mengerutkan dahinya.
“Apa yang kamu sembunyikan dari aku dalam kotak itu, Rei?..” tanya Malia dengan menatap sebentar kotak berwarna biru yang ia temukan di tempat penyimpanan sepatu Reiji dan kini telah diraih Reiji, lalu menatap Reiji dengan selidik.
Reiji nampak salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Eeeummmm..” Reiji nampak gugup dan ragu. “Bukan apa-apa sih, Yang.”
Melihat Reiji yang nampak seolah tidak ingin memberitahukan apa yang ada di dalam kotak biru tersebut membuat Malia, menghela nafasnya pelan.
“Ya udah sih kalo ga mau kasih tau atau kasih liat ke aku.. aku juga ga maksa..”
“Bukan aku ga mau kasih liat ke kamu apa yang ada di dalem sini, Yang..” ucap Reiji.
“Sini aku simpenin lagi ke tempatnya,” tutur Malia. “Tenang aja, ga akan aku usik barang-barang pribadi kamu, Rei. Meskipun kamunya lagi ga ada..”
‘Yah marah nih deh ya..’
Reiji membatin.
“Ya udah, dimana handuk tadi kamu bilang tadi?..” Malia mengalihkan pembicaraan mereka soal isi dus yang sepertinya enggan Reiji bagi lihat padanya.
“Sini aku ambilin..” ucap Reiji.
Reiji kemudian berjalan menuju satu partisi di bagian kanan atas lemari pakaiannya dan Malia dalam walk in closet, lalu meletakkan kotak berwarna biru miliknya di atas rak pada suatu bagian yang dekat dengannya.
Malia nampak acuh dengan kotak berwarna biru tersebut, meskipun sebenarnya Malia penasaran pada isinya, kenapa Reiji seolah sedang menyembunyikan sesuatu didalam sana. Ada rahasia hidup Reiji yang tidak ingin sampai diketahui Malia-kah?.
Apa foto-foto dan barang-barang kenangan sama mantan terindahnya Reiji?.
Ah, Malia jadi berspekulasi sendiri.
Penasaran banget sih memang Malia, dengan isi dalam kotak berwarna biru milik Reiji itu. Tapi Malia juga merasa tidak bisa mengusik barang-barang Reiji tanpa ijin si empunya, karena Reiji sendiri tidak pernah kepo dengan barang-barang pribadi Malia.
“Ini, Yang ..”
“Makasih..” Malia segera menerima handuk dari tangan Reiji.
“Yang ..”
Reiji menyentuh tangan Malia.
Hingga Malia yang tadi hendak melangkah pergi dari walk in closet untuk ke kamar mandi menjeda langkahnya.
“Ya? ..” sahut Malia datar.
“Kamu marah?..”
“Marah soal? ..”
Malia berlagak oon. Padahal Malia tahu kemana maksud pertanyaan Reiji.
“Soal ini dus ..”
Reiji menunjuk dengan kepalanya kotak berwarna biru yang tadi ia larang Malia untuk membukanya.
Malia menarik sudut bibirnya. “Kenapa aku harus marah, Rei? ..” kata Malia. “Kalo kamu ga ngebolehin aku buat liat isinya, itu kan hak kamu.”
“Sorry, tadi ga ada maksud neriakin kamu..”
“Never mind, Rei ..” Malia kembali menarik sudut bibirnya.
“Sini,” ajak Reiji sembari meraih tangan Malia.
Malia manut aja.
“Aku bukannya ga ngebolehin kamu liat isi ini dus, Yang. Aku lebih ke tengsin sih sebenarnya.”
“Tengsin nya?” tanya Malia yang tak paham.
“Ya karena isinya ini dus..” jawab Reiji. Sambil ia menunjukkan deretan giginya pada Malia.
“Emang apaan sih isinya sampe kamu tengsin ngasih liat ke aku? ..”
Reiji meringis kecil sebelum menjawab pertanyaan Malia barusan. “Barang-barang cowok ..” jawab Reiji.
Sembari Reiji mengangkat tutup kotak berwarna biru tersebut. Membuat mata Malia spontan melirik ke arah kotak yang tutupnya di buka oleh Reiji itu.
“Tuh, kalo mau liat ..” ucap Reiji.
Dimana mata Malia membulat, bahkan saat ia melihat apa yang ada di bagian paling atas saat kotak dibuka.
Tak perlu Malia lebih mendekat untuk melihat apa itu yang bertengger di urutan paling atas kotak tepat saat tutupnya terbuka.
Gambar yang tak berakhlak di bagian sampul depan itu sudah menjelaskan majalah apakah itu yang sedang mata Malia tangkap.
“Ya ampuunnn ..” kesah Malia.
“Hehehehe..” Dan Reiji cengengesan. Malia geleng-geleng kemudian.
“Pantes aja otak kamu mesum terus bawaannya, ish!”
Reiji masih cengengesan.
“Ngeliatinnya majalah beginian!”
__ADS_1
“Namanya cowok, Yang.” sahut Reiji.
“Amit ih, Rei!”
“Pengetahuan ini, Yang..”
“Pengetahuan dari mananya tau?! Yang ada nge-rusak otak!”
Malia berkata dengan ketusnya. Tapi Reiji malah terkekeh.
“Jangan-jangan kamu ngebayangin itu cewe-cewe silikon kalo kamu lagi ‘nyentuh’ aku, ya?! ..” tuding Malia.
“Enak Aja!”
Reiji langsung menampik dengan cepat tudingan Malia.
“Nah ini buktinya kamu ngoleksi beginian!..”
“Bukan sengaja ngoleksi juga, Yang..” ucap Reiji. “Ini juga udah lama banget, Cuma ya berserakan aku masukin aja di kotak ini waktu kita pindahan, sekalian aku bawa kesini. Kalo Mama atau Avi yang nemuin, heboh pasti!”
Reiji menjelaskan.
“Lagian udah ga pernah aku liat-liat lagi juga!” sambung Reiji.
“Masa?..”
“Cius deh!”
Reiji mengangkat dua jari di tangan kanannya membentuk huruf ‘V’.
“Ngibul banget!” tukas Malia tak percaya, sambil melirik sinis pada Reiji yang mesam-mesem.
“Ya ampun ga percaya banget.. Aku bawa ini kesini nih Cuma buat diamanin aja dari Mama sama Avi ..”
“Buang ih!. Geli aku liatnya!”
“Ya jangan diliat, Yang..”
Reiji menyahut dengan santai.
“Dah kan udah liat?. Aku tutup lagi ya? ..”
Reiji mengambil kembali tutup kotak tersebut.
“Buang aja sih, Reiii..” rengek Malia.
“Iya nanti lah .. ini juga dibawah ada koleksi CD lagu-lagu kayaknya. Nanti aku sortir dulu ..”
“Sini aku aja yang sortir!.. Yakin aku isinya beginian semua ini kotak!.. aku rasa bukan CD, tapi DVD film-film be-ep!”
“Wah tau-tau an sayangku Malia film be-ep?.. sering nonton yaaa? ..”
Mulai lagi Reiji iseng meledek Malia. “Sembarangan!. Emang aku, kamu?!” sanggah Malia.
“Ngaku aja si..”
“Ga!. Sorry ya, kerajinan banget aku sering-sering nonton film begituan!”
“Ga sering, tapi pernah kannn??..” ledek Reiji sembari cengengesan.
“Udah ah!. Cepet buang sih tuh barang-barang yang bikin otak kamu mesum akut!”
“Iya, Sayang .. nanti aku buang .. kan aku bilang mau disortir dulu ..”
“Dah sini aja aku yang sortir deh! ..” ucap Malia. “Ambilin plastik sampah sana!” perintahnya.
“Nah, kamu ga jadi mandi?”
“Nanti aja!”
Malia nampak senewen gegara itu majalah-majalah yang sama sekali tidak ingin Malia lihat isinya.
“Kalo gitu aku yang mandi duluan, ya?..”
“Nah ini kan mau nyortir ini barang-barang tak berakhlak kamu ini?!” ucap Malia.
“Katanya kamu yang mau nyortir, Yang?..” sahut Reiji.
“Ga apa-apa emang kalo aku nyortir sendirian? ..”
“Ya silahkan aja.. tuh rahasia kebandelan aku udah kamu liat juga..”
“Beneran nih ya aku yang nyortir?”
Malia memastikan.
“Iyaa..” sahut Reiji.
“Kalo ada yang aku sembarangan buang jangan marah loh ya?..” kata Malia.
“Ya kalo CD-CD kamu pisahin aja dulu, nanti habis mandi aku liat ..” sahut Reiji.
Reiji membuka partisi penyimpanan handuk dan mengambil satu handuk dari dalamnya.
“Aku tinggal mandi nih ya? ..” ucap Reiji.
“Ambilin plastik sampah dulu!” seru Malia.
“Iya Nyah! ..”
**
MALIA
Reiji sedang mandi saat ini.
Setelah ia membawakanku satu plastik sampah berwarna hitam, Reiji langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Dimana seharusnya aku duluan yang tadi rencananya mau pergi mandi. Tapi berhubung ini kotak biru milik Reiji menyita perhatianku, jadi aku pending rencanaku buat mandi.
Dan sekarang aku sedang menyortir itu kotak rahasia Reiji, yang sebenarnya malas sekali aku lakukan, jika melihat barang-barang dalam kotak yang isinya adalah majalah dewasa yang luar biasa ekstrem sekali gambar sampulnya bagiku yang memang jengah melihat gambar-gambar seperti itu.
Cowok tuh seneng banget ya sama hal-hal beginian. Entah dimana faedahnya.
Bagus si Reiji setuju-setuju aja ini majalah-majalah yang iyuh banget miliknya aku buang.
__ADS_1
Karena kalo engga, aku stop nafkah batinnya. Ogah banget aja ngebayangin kalo Reiji sedang menyentuhku, tapi dia malahan berfantasi sedang ‘gituan’ sama salah satu cewek yang ada disampul ini majalah-majalah iyuh, yang entah ukuran dadanya berapa saking besar banget itu squishy-nya.
Kalo Reiji ga bilang mungkin ada barang-barang lain dibawah ini majalah-majalah iyuh, udah aku langsung bawa ini kotak ke tempat pembuangan gedung apartemen. Tapi berhubung Reiji bilang kemungkinan ada barang-barang lain selain itu majalah-majalah iyuh, ya mau tidak mau aku sortirin deh.
Katanya sih ada CD-CD lagu juga, yang aku terka tidak hanya ada CD-CD lagu, tapi kemungkinan ada DVD film-film, yang sama iyuh nya sama ini majalah-majalah iyuh. Yang kalau dilihat tahunnya, ini tahun-tahun saat Reiji masih kuliah. Lagi bandel-bandelnya, selain masa SMA kalo kata Reiji.
Bandel apanya ya Reiji tuh?.
Sejauh yang aku inget, Reiji itu tipe cowok rumahan.
Ya seengganya kalo aku lagi main ke rumah mereka dan ada Rei disana, dari aku datang sampai aku pulang, itu orang masih anteng aja di rumah bahkan di kamarnya.
Kembali ke kotak biru milik Reiji.
Aku mulai mengeluarkan satu per satu barang-barang yang ada di dalam kotak tersebut yang sudah aku bawa keluar dari walk in closet, dengan diriku yang duduk di lantai dekat tempat tidurku dan Reiji.
Majalah-majalah iyuh tentu saja langsung aku masukkan ke dalam plastik sampah tanpa ragu.
Ternyata memang ada CD-CD lagu yang merupakan album kompilasi dari lagu-lagu lama, dan dari beberapa band jaman aku SMP kayaknya.
Kalau CD-CD lagu ini, aku pisahkan dan aku simpan. Karena aku juga suka sama musik, dan lagu-lagu yang ada di CD-CD lagu koleksinya Reiji ini.
Ah, aku jadi inget kalo kami tidak punya pemutar musik di apartemen ini. Ya jelas kami ga inget bawa, karena jaman gini musik udah tinggal klik aja di ponsel.
Tapi karena CD-CD ini, mungkin aku akan mengambil CD player milikku yang ada dalam kamarku di rumah orang tuaku saat nanti atau besok aku dan Reiji pergi kesana, sekaligus ke rumah mertuaku juga.
Lumayan buat dengerin musik kalo pagi-pagi sebelum berangkat kantor, atau kalo lagi libur di rumah seperti sekarang ini. Lagian kan biar ini CD-CD musiknya Reiji ga mubajir juga. Kayaknya memang masih layak putar semua, mengingat betapa masih rapih dan nampak terawat nya ini CD-CD yang biar udah lama usianya.
Well. Selain tampan dan mesum .. hehe ..
Selain tampan dan mapan, Reiji adalah laki-laki yang apik juga sama barang-barang. Selain Reiji orang yang ringan tangan.
Ringan tangan dalam arti yang bagus tapi, bukan yang jelek.
Reiji ringan saja mengiyakan, kala aku bilang kalau kami tidak perlu memakai jasa asisten rumah tangga di apartemen kami ini, meskipun aku dan Reiji sama-sama bekerja.
Toh unit apartemen kami ini bukannya Penthouse juga yang besarnya macam rumah tinggal. Jadi aku menggagas ide pembagian tugas, dan Pak Pilot kece itu langsung menyetujui gagasanku tersebut.
Dan memang Reiji bukan sekedar mengiyakan saja, tapi menjalankan pembagian tugas kami dengan baik. Dahlah, si Reiji itu perhatian dan sabar banget padaku.
Lumayan beruntung ya aku dapet suami kek si Reiji itu?.
Dan karena perhatian dan kesabarannya itu, aku sudah mulai menyayangi Reiji lebih dari waktu-waktu sebelumnya.
Well, suami macam Reiji itu memang pantas disayangi kok. Bahkan sudah sepantasnyalah aku mencintainya juga dengan sepenuh hatiku, yang mana aku belum meyakini adanya cinta di hatiku pada Reiji.
Biar waktu saja yang membantuku mewujudkan hal itu. Mencintai Reiji dengan segenap hatiku.
Selain majalah-majalah iyuh dan CD-CD lagu, aku menemukan benda yang cukup menarik perhatianku.
Ada album foto, di tumpukan paling bawah, selain foto-foto yang tidak tersimpan dalam album.
Menarik juga ya, kalo cowok ada yang menyimpan album foto begini. Karena biasanya cowok itu kan ga perhatian sama gini-ginian.
Aku saja meninggalkan album-album fotoku di rumah orang tuaku dan tidak ingat untuk membawanya ke tempat tinggal baruku ini bersama Reiji.
Hanya album foto pernikahan yang telah dibuat seperti port folio, dan dibuat menjadi tiga rangkap. Satu untukku dan Reiji yang kami bawa memang ke apartemen, dan dua lainnya, tentu saja untuk disimpan di rumah orang tua kami masing-masing.
Aku mengambil satu dari dua album foto yang ada di dalam kotak biru milik Reiji itu. Album foto yang paling tebal, dan aku tersenyum saat membuka halaman pertama yang langsung menampakkan foto-foto kecil Reiji.
Selanjutnya, adalah foto-foto Reiji bersama keluarganya. Dan aku tersenyum lagi, kala melihat tidak hanya ada foto-foto suamiku itu dan keluarganya, melainkan juga ada fotoku dan orang tuaku, dan foto-foto dari setiap momen dari sejak keluarga kami mulai sering menghabiskan waktu bersama.
Semakin aku gulirkan halaman ke belakang, banyak juga ternyata fotoku terselip didalam album foto milik Reiji ini. Bahkan cukup banyak juga foto-foto aku dan Reiji saat kami masih berstatus ade-abang satu persahabatan orang tua. Yang mana foto-foto tersebut menunjukkan ternyata aku dan Reiji bisa dibilang nampak sangat dekat dari sejak aku kecil.
Satu foto yang membuat aku tersenyum lebar adalah saat aku merangkul Reiji dari belakang, dan seingatku itu kala umurku sepuluh tahun. Ya ampun centil juga aku waktu kecil sama Reiji ternyata yah?. Jadi malu sendiri.
Aku meletakkan album foto yang baru saja selesai kulihat didekat tumpukan CD, untuk melihat album foto yang kedua.
Namun sebelum kubuka album yang kedua, ada satu figura yang membuat aku tersenyum simpul melihatnya.
Fotoku dan Reiji saat aku wisuda. Dan didalam foto itu, kami hanya berdua. Iya aku ingat momen itu. Papa dan Mama, berikut orang tua Reiji memaksaku untuk foto berdua kala itu.
Ah ya tentu saja mereka tampak memaksa waktu itu, karena kedua orang tua kami ternyata telah berencana sejak lama untuk menjodohkan ku dan Reiji, yang memang kesampaian.
Eh, ada foto aku juga yang close-up. Dan itu fotoku jaman kuliah.
Membuat aku mengulum senyumku lagi, karena ingat perkataan Avi tentang Reiji yang sebenarnya memang punya rasa padaku.
Kalau ini sih, sudah pasti tidak akan aku buang. Yang sudah ada bingkainya biar nanti aku langsung pajang. Kalau yang berserakan tanpa album dan bingkai foto, nanti aja tunggu Reiji kelar mandi diomongin mau ditaro dimana biar rapih.
Well, aku bergulir ke album foto yang kedua.
Album foto Reiji dan teman-temannya. Sudah aku tebak, jika melihat foto pertama yang terpampang di halaman depannya. Aku gulirkan halaman tiap halaman di dalam album foto yang tidak seberapa tebal itu. Teman-teman Reiji yang kata Reiji adalah sahabat-sahabatnya dari sejak SMA memang yang mendominasi foto-foto dalam album tersebut.
Aku mengenali mereka, karena Reiji mengenalkanku saat di resepsi pernikahan kami. Karena sebelumnya yang aku kenal adalah Abbas saja.
Foto-foto sahabat Reiji, termasuk satu perempuan yang rasa-rasanya aku kenal tampangnya, dan semakin aku kenali saat aku menggulirkan halaman-halaman album foto tersebut.
Semakin ke belakang, tampang itu perempuan semakin sering nampak dalam foto. Semakin banyak bahkan. Semakin kebelakang, foto-foto tidak lagi menunjukkan sahabat-sahabat Reiji yang lain.
Hanya Reiji dan perempuan itu. Perempuan yang mulai aku kenali siapa dia itu. Shirly.
Foto-foto mereka yang hanya berdua tidak mesra memang, namun terlihat akrab, dekat.
Ada yang sedang duduk berangkulan tangan, tertawa lebar dan sebagainya, macam orang pacaran.
Tapi kata Reiji dia dan perempuan itu kan hanya teman. Sahabat. Iya kah? ..
Tapi foto-foto seolah melukiskan ada sesuatu dibalik keakraban itu. Dan hatiku mulai merasa tak nyaman.
Semakin tak nyaman, saat aku menemukan satu foto post-card Reiji perempuan itu di halaman paling belakang, tidak terpasang dalam album hanya terselip saja.
Aku ingat Reiji pernah bilang kalau dia dan Shirly tidak pernah memiliki hubungan khusus selain persahabatan.
Oh ya? ..
Jika begitu .. Lalu apa maksud note di belakang foto yang sedang aku pegang ini?.
Dear you, My Man, Reiji Shakeel .. Thank you for always be there for me ..
Ps: Kalo udah jadi Kapten, minta jadwal penerbangan yang sering-sering ke Australia biar bisa sering-sering nengokin gue.
**
Bersambung ..
__ADS_1