WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
EPISODE 108


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Btw, gimana rasanya nikah? ...”


“Ya lo rasain aja sendiri nanti ...”


Reiji menjawab sekenanya pertanyaan Abbas padanya barusan.


“Sama aja lo kek si Aldo ma Irfan! ...”


“Sama gimana?”


“Ya sama begitu jawabannya, ‘lo rasain aja sendiri nanti’ ...”


Abbas tampak mencebik dan Reiji mendengus geli.


“Nah iya emang bener, lo rasain aja nanti gimana-gimananya, Bro,” kata Reiji. “Tiap pernikahan pasti beda cerita didalemnya.”


Reiji menambahkan. Abbas pun manggut-manggut.


“Nah kalo cerita pernikahan lo sama Malia, selain dia bestfriendnya adik lo?”


Abbas melirik pada Reiji.


“Gue sama Lia itu udah kenal kurang lebih dua puluh tahunan.”


“Weh –“


“Oroknya Lia gue tau.”


“Masa?”


“Hm...”


“Lo perasaan ga pernah cerita?...”


“Kita aja jarang maen ke rumah masing-masing, seringan ngumpul diluar. Gimana sih lo?...”


“Iya juga sih.” Abbas mengiyakan. “Dah gitu kalo diluar, kita ga emang ga pernah ngomongin keluarga masing-masing ya?”


“Lah kita orang menghargai elo yang ga mau bahas keluarga. Elo ga mau bahas keluarga lo kan?” tukas Reiji.


“Ya karena ga ada hal bagus yang perlu gue bahas dari bonyok gue yang egoisnya ga ilang-ilang ampe sekarang.”


“Ya udah kan makanya dari itu kita ga jarang ngumpul di rumah siapa. Seringnya nongkrong diluar tanpa ada bahasan keluarga masing-masing. Jadi ya kalo kita saling ga tau terlalu banyak tentang story dalam hidup kita ber enam, termasuk siapa yang wara-wiri dekat dalam hidup kita masing-masing ya wajar lah...”


Abbas pun manggut-manggut.


*


“So, gimana ceritanya lo bisa nikah sama sahabat adek lo itu?” tanya Abbas.


“Takdir.” Jawab Reiji singkat.

__ADS_1


Abbas mendengus geli.


“Pujangga banget lo ah!”


Reiji terkekeh kecil.


“Bonyok gue dan Lia bersahabat udah lama banget dari sejak gue belom lahir. Trus pas nyokap hamil Avi, nyokapnya Lia hamil dia juga. Dan sejak mereka lahir, keluarga kami makin deket. Terus tau-tau gue sama Lia dijodohkan –“


Didetik dimana Abbas melongo dan terbelalak. “Seriusan lo?”


Abbas memastikan dan Reiji manggut-manggut. “B – aja muka lo!”


Reiji menoyor kepala salah seorang sahabatnya itu, kemudian mereka terkekeh bersama.


“Terus hubungan lo sama Lia dalam pernikahan gimana?. Pasti canggung bukannya nikah sama orang yang tau-tau ditunjuk gitu aja?....”


“Gue udah cinta sama Lia—“ Reiji menggantungkan kalimatnya.


Lalu Reiji menghela nafasnya dengan sedikit berat.


“Tapi Lia belum.” Reiji menyambung ucapannya kemudian.


***


“Gue rasa kehadiran anak, bisa jadi solusi buat masalah lo, Bro.” Abbas menyampaikan pendapatnya dan Reiji tersenyum.


Reiji teringat pada hari saat ia menemukan testpack di kamar mandi apartemennya dan Malia yang ternyata hasilnya negatif.


“Lo usahakan deh tuh istri lo hamil buru-buru.”


“Ya gue juga maunya Lia cepet hamil, Bas.”


“Ya udah mending abis ketemu anak-anak bentar lo langsung tancep gas ke bini lo trus lo garap habis-habisan. Mumpung lo libur!”


Kelakar Abbas.


Reiji hanya tersenyum kecut.


‘Gue harap bisa seperti itu, Bas. Tapi sayangnya istri gue, jangankan gue garap. Ngeliat dia hari ini aja Cuma sebentar, dan dia malah memilih untuk menghabiskan waktu sama laki-laki impiannya.’


Reiji membatin miris.


“Tapi ngeliat muka lo gini, lo emang abis ribut sama Malia kan?” tanya Abbas dan Reiji langsung menoleh pada salah seorang sahabatnya itu.


Reiji tersenyum kecut sekali lagi, sambil ia mengangguk lesu.


“Berat?..”


“Mayan ..”


“Sabar aja lah, Ji.”


Abbas mengajukan sarannya lagi.


“Pernikahan lo itu kan atas dasar perjodohan, jadi ya mungkin bakal lebih berat cobaan dari mereka yang nikah karena emang punya perasaan yang sama.”

__ADS_1


“Ya itu yang sedang gue lakukan, Bas.” Sahut Reiji. “Tapi sekarang gue ragu kalau pernikahan gue sama Lia akan langgeng—“


“Jangan mikir begitu.” Sambar Abbas. “Gue emang belom ngerasain yang namanya nikah, tapi dari pernikahan kedua orang tua gue, seengganya gue bisa belajar banyak hal. Yang jelas sih, sesulit apapun lo dengan pernikahan lo, ya jauh-jauh deh dari opsi cerai—“


****


Samar-sama suara pintu yang dibuka membuat Reiji yang sempat tertidur di balkon apartemennya dan Malia itu, membuat kesadaran Reiji perlahan kembali.


Perlahan Reiji membuka matanya. Dan merasa yakin bahwa yang baru saja membuka pintu apartemennya dan Malia tersebut adalah sang istri yang telah pergi sejak pagi.


“Ya ampun, kenapa kaleng minuman tercecer gini sih???” dan memang benar dugaan Reiji yang yakin jika Malialah yang baru saja masuk, karena Reiji mendengar Malia yang menggerutu dalam gumaman. “Ya ampun, pintu balkon juga kebuka gini?!..”


Dan didetik berikutnya, pintu balkon nampak bergeser, dan Reiji segera menahan dengan tangannya. Yang mana hal itu membuat orang yang sedang menggeser pintu tersebut-yang adalah Malia, terkejut dibuatnya.


“Rei?..” Malia spontan berucap.


“Kamu darimana?..” dan Reiji langsung saja bertanya pada Malia.


“Aku kan udah bilang tadi, ketemu temen!”


“Heh, temen..”


Reiji menyahut dalam gumaman.


Sinis, namun pelan. Dan entah Malia dengar atau tidak. Reiji sedang tidak perduli.


“Temen yang mana?”


“Aku kasih tau juga kamu ga kenal..” Malia menjawab sambil lalu.


“Lia, aku nih lagi ngomong sama kamu!”


“Ya kan aku udah jawab pertanyaan kamu tadi.”


“Kamu pergi sama temen yang mana? ..” cecar Reiji.


“Udah aku bilang, kalau aku kasih tau juga kamu ga kenal.”


“Temen yang kamu maksud itu, Irsyad namanya?—“


Ucapan Reiji membuat Malia langsung berbalik badan, dan menatap pada Reiji.


“Si Lelaki Im-pi-an-nya Malia?!”


“Ngomong apa Avi sama kamu?!”


“Hanya itu, Irsyad lelaki impianmu!”


Reiji berucap datar, namun menatap tajam pada Malia.


“Lelaki impianmu yang sekarang jadi selingkuhan?”


***


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2