WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 167


__ADS_3

Selamat membaca...


***


“Hari ini kamu ga usah kerja. Aku udah sempet telfon Andra tadi sebelum kamu bangun, minta ijin buat kamu,” ucap Reiji yang telah membawa Malia ke dalam kamar mandi dalam unit apartemen mereka.


“Tapi –“


“Aku bilang kamu susah bangun. Dan dia paham.”


Reiji menyambar untuk bicara sambil tersenyum jahil, dengan dirinya yang sudah juga berdiri di bawah selang shower yang masih tersangga di sangkutannya.


“Kamu bilang apa?-“


“Bawel ih!...”


“Iya kamu cerita gitu sama Pak Andra, hmmpphh”


Malia yang hendak bicara lagi itu keburu dibungkam dengan ciuman oleh Reiji.


***


“Reiii..”


Malia merengek pada Reiji yang meski sudah mendapat pelepasannya setelah berhasil membuat Malia pasrah dalam kuasa mesumnya di bawah kucuran shower, namun Reiji masih belum mau melepaskan Malia.


Malia rasanya sebal sekali pada Reiji, tapi apalah daya dia pastinya kalah tenaga dari suaminya itu.


Namun Reiji masih senang saja menggoda Malia. Sudah beringsut dari shower, tapi Reiji tidak membiarkan Malia bergerak bebas, dan mengukungnya di area wastafel.


“Aku laper tau Rei. Kamu ga laper apa?..”


Malia merengek lagi, dan Reiji terkekeh geli.


“Tapi nanti abis sarapan lagi, ya?..” sahut Reiji enteng.


Membuat Malia spontan langsung memberikan pelototan pada suami mesumnya itu.


“Ampun deh Rei doyan banget sih?!” lalu sergahan keluar dari mulut Malia, dan Reji pun tertawa renyah.


“Makanan aja kalo enak bisa jadi kesukaan? Nah ini yang lebih enak dari makanan, ya jelas aku doyan lah ..”


“Ish!” desis Malia dengan ekspresi kesalnya setelah cerocosan Reiji barusan. “Sumpah, kamu mesum banget Rei.”


“Mesum juga sama istri sendiri..”


“Reii, lapeeer-“


“Iya sayaang.”


Reiji pun akhirnya mengiyakan keinginan Malia yang kembali merengek padanya itu.


***


REIJI


“Beneran kamu udah telfon Pak Andra, Rei?”


Lia bertanya padaku, setelah kami berdua berada di dalam walk in closet untuk berpakaian.


Aku pun mengangguk mengiyakan.


“Ga percaya amat.. si amat aja percaya banget sama aku—“


“Garing!” sambar Lia atas kelakarku, dan aku spontan mendengus geli.


“Aku tadi bangun sebentar, karena mau ke kamar mandi...”


Aku mulai menerangkan sebagaimana adanya, jika aku memang telah menghubungi Andra untuk memintakan ijin atas Lia, yang kulihat saat aku terbangun tadi, masih nampak pulas dengan gurat lelah yang masih tersisa.


“Habis itu ya aku hubungi si Andra, mintain ijin buat kamu hari ini, Yang,” lanjutku. “Kamu tanya langsung aja sama dia—“


“Ya iya pasti aku hubungin dia lah, Rei. Aku ga enak juga kalo gini kan Rei,” sambar Lia.


“Andra itu santai orangnya, Yang—“


Aku meraih kedua bahu Lia yang wajahnya nampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Iya sebagai temen kamu,” sahut Lia. “Tapi hubungan aku sama dia kan profesional Rei. Dia Bos aku malah.”


“Iya tau—“


Aku pun menenangkan Lia.


“Aku udah minta maaf sama Andra. Karena aku terpaksa mintain ijin buat kamu hari ini .. soalnya aku ga tega liat muka kelelahan kamu abis aku gempur bertubi – tubi semalem.”

__ADS_1


“Kamu ngomong gitu, Rei?!”


“Iya –“


Aku berkata jujur.


Memang itu yang aku katakan pada si Andra, yang gokil itu aslinya.


“Iihh, Reiiii!” Lia mencubit perutku.


“Ouch!”


Dan aku spontan mengaduh.


“Ya kan aku jujur, Yang?? .. Emang begitu adanya –“


Aku membela diri.


“Ya tapi ga usah gamblang gitu ngomong ke Pak Andranya, Reii!”


Lia mencebik, lalu memandang sebal padaku. Aku sih terkekeh saja.


Lagipula si Andra tadi ngakak berat waktu aku mengatakan padanya alasanku memintakan ijin untuk Lia tidak masuk kerja hari ini.


---


Lia nampak merungut tajam setelah ia menghubungi Andra dengan ponselnya.


Tanganku gemas untuk tidak mencubit pipi Lia. Dan ia pun mencebik tajam padaku. Lalu aku terkekeh kecil kala Lia meringis dan melayangkan protesnya padaku dengan ekspresi kesal.


“Aku diledekin abis – abisan sama Pak Andra tau ga?!”


Lia mengadu sinis padaku.


Dan aku pun terkekeh lagi.


Lalu Lia mendesis sinis dan bilang, “Malah ketawa!”


Aku jadi terkekeh geli.


“Ish!” Malia mendesis sinis sambil memukul lenganku.


“Iya udah, sorry....”


“Bidadari surganya Abang Reiji jangan cemberut terus. Ketutup nanti cakepnya!-“


“Gombal!” sambar Lia. Dan kami terkekeh bersama, kemudian menyiapkan sarapan dari apa yang tersedia di lemari persediaan bahan makanan berikut aneka minuman dan kulkas kami.


****


“Kamu libur berapa hari, Rei?....” tanya Malia pada Reiji, kala keduanya sedang menikmati sarapan sambil duduk di ruang tamu dalam unit apartemen mereka, selepas benar-benar selesai di kamar mandi, lalu berpakaian dengan benar, walau sebatas pakaian rumah.


“Tergantung, Yang,” jawab Reiji.


“Tergantung dari apa?-“


“Pertemuan aku nanti sama owner Maskapai tempat aku bernaung.”


“Oohhh....”


Malia manggut-manggut.


****


REIJI


“Tapi tunggu dulu deh, tadi kamu bilang apa?.... Pertemuan sama owner di Maskapai tempat kamu kerja?....”


Lia bertanya padaku setelah dia ber oh ria menanggapi jawabanku atas pertanyaannya padaku sebelumnya. Aku menjawab dengan anggukan, karena aku masih sibuk mengunyah makanan dari piringku.


“Ya kalo gitu ngapain kamu nyuruh aku ga kerja hari ini coba?-“


“Emang apa hubungannya?” sambarku, setelah aku menelan sarapan yang tadi sedang aku kunyah.


“Ya kan berarti kamu bakal pergi hari ini?”


Lia juga dengan cepat menyambar.


“Terus?”


“Ya kalo kamu pergi, aku gabut lah disini sendirian!.... Kamu ketemuan sama owner maskapai kamu pasti lama!....”


“Yang bakal ninggalin kamu sendirian disini siapa?....” Aku segera merespon ucapan Lia yang barusan. “Kamu ikut aku.”


Aku lanjut bicara.

__ADS_1


“Hah?....”


Lia lalu menjeda makannya.


“Aku ikut?....”


“Hmmm.” Sahutku.


“Ngapain?....”


Lia lanjut bertanya.


“Tadi ngomel kalo aku tinggal. Aku bilang ikut, malah nanya,” jawabku.


“Yaaa bukan gitu. Aku emang sebel kalo ternyata kamu mau keluar, tapi kamu malah nyuruh aku ijin kerja hari ini.... Tapi kalo aku ikut kamu juga, aku bakal bengong sendirian pas kamu meeting sama Bos kamu itu....”


“.........”


“Sama – sama gabut juga jatohnya aku....” sambung Lia.


“Ikut aku nemuin Big Boss ga bakal gabut kok. Soalnya dia juga minta aku ajak kamu, karena aku udah mengiyakan untuk terima penawaran dia soal jadi Pilot Pribadi keluarganya semalem....”


Aku pun menjelaskan pada Lia untuk menenangkannya.


“Tapi kenapa aku diminta untuk ikut, Rei?.... itu kan soal kerjaan kamu?”


Lia pun bertanya.


“Jadi gini loh Yang,”


Aku kembali memulai untuk memberikan penjelasan pada Lia yang nampak sedikit penasaran itu.


“Dari apa yang aku tau selama ini, Big Boss aku itu Family Man banget. Dia orang yang menjunjung tinggi keluarga.”


Lia mendengarkan dengan seksama penjelasanku.


“Dari pembicaraan singkat aku semalem sama dia, aku tangkap dia laki-laki yang menjunjung tinggi nilai sebuah kesetiaan pada pasangan dalam pernikahan. Kayaknya sih tipe suami yang cinta istri. Kek aku...”


Aku melirik pada Lia, dan dia spontan mendengus geli.


“Terus, terus?-“


“Parkir kali ah terus, terus?”


Aku menyelingi dengan kelakar.


“Aku serius ih!”


Lia mencebik.


Aku tersenyum geli.


Lalu aku kembali meneruskan ceritaku pada Lia.


“Jadi dia bilang-karena tau aku udah nikah, tawaran dia yang aku terima itu juga dengan persetujuan kamu sebagai istri aku...” lanjutku dengan mengatakan pada Lia informasi yang memang benar adanya.


“Oh ya?...”


“Hmm...”


“Langka banget Bos kayak gitu.”


“Banget...” timpalku, dengan mulut yang sudah terlanjur aku isi dengan sarapanku yang ga kelar-kelar karena mode kepo Lia yang sedang on itu.


“Kamu selesain dulu sarapan kamu deh.”


Lia sepertinya menyadari hal itu, makanya dia bilang begitu barusan padaku.


Aku pun mengangguk dan meneruskan sarapanku. Lia juga sama.


“Kita berangkat jam berapa Rei?...”


Lia bertanya lagi saat kami sudah sama-sama menyelesaikan sarapan kami.


“Habis ini langsung siap-siap aja,” jawabku dan Lia manggut-manggut, tanpa ia menyadari jika aku sedang menyeringai jahil kepadanya.


“Ya udah-“


“Siap-siap main dulu seronde, mandi, baru siap-siap ke kantor pusat maskapai!”


Dan Lia pun melotot tajam padaku.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2