
Selamat membaca...
***
“Maaf Rei, maaf ----“ (Malia).
“Sshhhhh ----“ (Reiji).
“Aku emang sengaja menyembunyikan semua itu dari kamu, dari sejak hubungan kita sebaik ini, aku memutuskan begitu. Aku takut kamu marah dan ga percaya sama aku, aku pengecut ----“ (Malia).
“No hey ----“ (Reiji).
“Aku egois ----“ (Malia).
“Lia, liat aku ---- Kamu ga ada salahnya buat aku ---- Let’s end this topic (Kita akhiri topik ini), oke? ....” (Reiji).
*****
“Aku cuma mau melepaskan beban hati, supaya ke depannya aku ga merasa was – was soal dia dalam hubungan kita yang seperti kata kamu, mungkin dia akan mencoba sekali lagi untuk membuat kamu meninggalkan aku..“
Perlahan tapi pasti Malia akan menceritakan segala hal yang telah terjadi dengannya dan Irsyad di waktu belakangan, sebelum hubungannya dan Reiji telah semesra sekarang. Meskipun sebelumnya Malia juga sudah pernah menceritakan, walau tidak terlalu detail --- bagaimana hubungannya dan Irsyad saat masih kuliah dulu.
“Aku ga akan kemakan lagi sama setiap omongannya dia, Yang .... yang ada aku tampol kali tuh orang kalau dia masih berani nemuin aku lagi,” sambar Rei yang kemudian sedikit merepet dan nampak juga sedikit geram.
Dimana geramnya Reiji yang sedikit itu, agak membuat hati Malia cukup berdebar.
Pasalnya, Malia telah membulatkan tekad mengatakan segala hal tentang Irsyad --- agar tak ada lagi hal yang akan menjadi bumerang untuk dirinya dikemudian hari dalam hubungannya dengan Reiji.
Malia ingin sepenuhnya terbuka pada Reiji, maka itu ia sudah memutuskan untuk tidak lagi merahasiakan apapun dari Reiji, terlebih segala hal yang menyangkut Irsyad.
Termasuk satu hal yang Malia anggap adalah suatu hal memalukan yang pernah ia alami karena perbuatan Irsyad.
“Dia pernah cium bibir aku, Rei ----“
Didetik dimana Malia mengatakan hal yang barusan ia katakan membuat Reiji yang sudah melonggarkan rengkuhannya pada Malia ketika ia merepet mengancam akan menghajar Irsyad jika pria itu berani menemuinya lagi, langsung memandang serius pada Malia.
“Kapan? ----“
Lalu Reiji bertanya dengan cepat.
Malia baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab.
“Apa setelah kita menikah?” namun Reiji keburu menyambar lagi untuk bertanya.
****
Pandangan kian serius Reiji tujukan pada Malia yang sedang menatapnya dengan gurat bimbang di wajah istrinya itu. “Kamu bilang kamu mau jujur tentang segalanya sama aku kan?” kata Reiji seraya ia seolah ingin mengingatkan Malia atas perkataan istrinya, yang langsung mengangguk selepas Reiji mengatakan sebaris kalimat pengingat untuk Malia itu.
Reiji menghela nafasnya sedikit dalam dan kasar. Dimana Malia meraih tangan Reii dengan kedua tangannya dan langsung Malia genggam tangan suaminya itu.
“Rei ----“
“Kalian berciuman saat kita sudah menikah atau belum? ----“
Malia menghela nafasnya sedikit panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Reiji.
****
REIJI
Aku sudah merasa geram sebenarnya, setelah mendengar setiap penuturan Malia yang seribu persen aku percaya tentang tanggal-tanggal pada beberapa lembar foto yang diberikan si bibit pebinor itu untuk memprovokasi emosiku sebagai seorang suami yang mencurigai istrinya ada main di belakang, lalu pertengkaran yang bisa jadi besar akan terjadi diantara aku dan Lia.
Aku yakin jika itu yang dipikirkan si bibit pebinor sialan itu dengan memberikanku foto-foto bertanggal yang mana tanggalnya itu dia cantumkan dengan menempatkan tanggal yang sengaja ia buat keliru dari tanggal yang benar saat fotonya dan Lia itu dia abadikan.
Aku akui, aku sempat merasa kesal sekaligus kecewa pada Lia setelah aku benar-benar memperhatikan foto-foto tersebut lebih intens lagi setelah aku membawanya ke unit apartemenku dan Lia.
Sampai-sampai rencana yang tadinya aku dan Lia buat untuk kami pergi kencan, aku batalkan secara sepihak. Aku bahkan sempat mendiamkan Lia selama perjalanan pulang dari gedung perkantoran tempatnya bekerja saat aku menjemput Lia selepas jam bekerjanya selesai.
__ADS_1
Namun kemudian, melihat wajah kecewa Lia yang mungkin bercampur bingung padaku membuatku tidak tega.
Habis bagaimana? ...
Aku tidak tenang sebelum aku mencari tahu kebenaran tentang foto-foto pemberian si bibit pebinor itu langsung dari mulut Lia.
Yang mana pada akhirnya kebenaran aku dapat dari mulut istriku itu tentang kisah dan tanggal yang sebenarnya dari beberapa foto yang Lia memiliki alibi yang akurat untuk mematahkan tanggal yang disematkan palsu oleh si bibit pebinor sialan itu.
Hingga saat Lia meminta maaf dengan frustasi, aku menjadi terenyuh dan merasa tak tega disaat yang sama. Selain ada rasa bersalah sempat mencurigainya. Ya habis mau bagaimana? ...
Aku hanya lelaki biasa yang tentunya bisa saja punya rasa curiga pada pasangannya, terlebih pasanganku pernah terang-terangan menolakku yang aku ketahui jika pasanganku memiliki pria idaman lain yang ia impikan untuk menjadi suaminya.
Lalu aku mendapatkan foto-foto kedekatan pasanganku dengan orang yang aku tahu cukup melekat di hatinya.
Dimana tanggal-tanggal yang tercantum itu adalah tanggal-tanggal setelah Lia dengan tiba-tiba mengatakan mau memulai semuanya dari awal denganku.
Wajar bukan, jika aku berpikir bahwasanya permintaan Lia yang kemudian didukung dengan sikapnya yang berubah mesra padaku untuk menutupi hubungannya dan si bibit pebinor itu di belakangku?
Tapi sikap, penjelasan, bahkan wajah menyesal Lia dengan tatapan penuh harap agar aku mempercayainya membuatku mempercayai semua yang istriku katakan itu --- karena tidak aku temukan kebohongan di sorot matanya, pun tidak ada kalimat maupun sikap gugup dan ambigu yang Lia tunjukkan kala ia membela dirinya.
Aku emang sengaja menyembunyikan semua itu dari kamu, dari sejak hubungan kita sebaik ini, aku memutuskan begitu. Aku takut kamu marah dan ga percaya sama aku, aku pengecut ..
Aku egois..
Apalagi Lia sampai luruh begitu.
Tidak mungkin aku tidak sampai mempercayai Lia karena sudah bergetar aku lihat bahu istriku itu, yang kemudian aku tangkup wajahnya untuk aku tenangkan.
---
Sungguh, atas apa usahanya meregangkan hubunganku dan Lia ini aku tidak terima pada kelakuan si bibit pebinor itu.
Kalau nanti dia masih berani menemuiku lagi untuk mencoba provokasi lainnya, sebelum dia bicara, sudah akan aku buat babak belur wajahnya.
“Aku ga akan kemakan lagi sama setiap omongannya dia, Yang .... yang ada aku tampol kali tuh orang kalau dia masih berani nemuin aku lagi -”
Dan hal itu aku sampaikan juga pada Lia, yang kemudian aku tatap dengan melemparkan senyuman kecil padanya. Dimana hendak aku menarik diri Lia setelah aku bicara mengenai rencanaku yang kesal sekali pada si bibit pebinor itu. Namun sebelum itu aku lakukan, Lia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“Dia pernah cium bibir aku, Rei ....“
Tanganku spontan terkepal kuat bersamaan dengan aku yang melemparkan tatapan serius pada Lia.
“Kapan?“
Lalu dengan cepat aku bertanya, dengan emosiku yang mulai merongrong dalam hati.
“Apa setelah kita menikah?”
****
“Kamu bilang kamu mau jujur tentang segalanya sama aku kan?”
Reiji berkata seraya ia seolah ingin mengingatkan Malia atas perkataan istrinya itu, yang langsung mengangguk selepas Reiji mengatakan sebaris kalimat pengingat untuk Malia itu.
“Rei ....“
Malia melirih, hendak memberi penjelasan pada Reiji tentang yang sesungguhnya terjadi.
“Kalian berciuman saat kita sudah menikah atau belum? ....“
Namun Reiji sudah dengan cepat lagi bertanya dengan wajah datar, namun pandangannya menusuk Malia.
“Waktu kamu lagi tugas ke London, Rei ----“ lirih Malia. “Tapi bukan keinginan aku sampai ciuman itu terjadi, Rei. Demi Tuhan ....”
***
Malia dengan segera kembali bicara selepas menjawab pertanyaan Reiji yang terdengar datar, namun ada kegeraman cukup besar di hati Reiji.
__ADS_1
“Jelaskan ....”
Reiji berucap datar, namun ketegasan tersirat dari satu kata yang barusan ia katakan tadi.
Sambil Reiji menatap Malia dengan agak menusuk. Lalu Malia mulai bicara untuk menjelaskan. “Aku yang salah sebenarnya ----“
Malia menatap Reiji lekat.
“Harusnya aku tetap bersikeras untuk menolak ajakannya untuk mengantarku pulang, yang tahu-tahu datang saat aku selesai kerja saat aku habis lembur hari itu ----“
Malia meratap.
“Lalu Irsyad mulai mendoktrinku dengan pernyataan cintanya lagi, sambil ia memaksaku untuk jujur jika aku tersiksa dengan pernikahan kita, untuk juga jujur kalau aku mencintainya. Yang sungguh, aku sangkal dengan keras semua itu langsung ke mukanya.”
Perlahan Malia menjelaskan, dan Reiji mendengarkan tanpa menginterupsi.
“Selanjutnya aku bertengkar dengan dia .... dan berkali-kali menegaskan kalau aku mencintai kamu, lalu mengklarifikasi jika hal tentang perasaanku atas pernikahan perjodohan kita yang sempet aku sampaikan ke dia, hanya karena hati aku sedang gamang ....”
“.....”
“Tapi dia ga percaya. Lalu ....”
Malia menggantung sejenak kalimatnya.
“Dia ngunci pergerakan aku dan ----“ Malia menundukkan kepalanya. “Dia memaksakan ciumannya ke bibir aku, Rei ....”
***
Ada isakan yang kemudian sayup-sayup terdengar kala Malia menandaskan ceritanya soal ciuman bibir yang terjadi antara dirinya dengan Irsyad pada Reiji.
Membuat rahang Reiji yang tadinya mengetat itu, kini perlahan mengendur karena ia menyadari jika Malia mulai menangis, dan sudah hendak lagi mendekati istrinya itu.
“Aku sulit melepaskan diri waktu itu, sampai dia melepaskan aku.”
Tangan Malia bergerak untuk mengusap matanya yang berembun sembari juga menyeka air matanya yang sedikit menghalangi pandangan.
Meski pandangan Malia tertuju pada lantai di bawah kakinya, karena Malia merasa malu pada Reiji. “Untuk yang satu ini aku ga punya bukti yang bisa mendukung ucapan aku ....”
Suara Malia kian melirih.
“Tapi aku harap, kamu percaya kalau aku ga seburuk yang mungkin kamu pikir. Engga Rei, engga .... sekalipun saat itu aku belum mencintai kamu, aku ga akan bertindak di luar batas walau sekedar ciuman, meski aku masih mencintai dia saat itu. Aku terdesak saat ciuman itu terjadi---itu aja yang bisa aku bilang.”
Lalu Malia mengusap wajahnya.
“Itupun terjadi secara sepihak, Rei .... Aku sendiri jijik sama diri aku sendiri habis itu ....”
*****
REIJI
Memang b*ngsat itu si bibit pebinor.
Satu-satunya sebutanku untuk laki-laki bernama Irsyad itu setelah aku mendengar cerita Lia soal ciuman yang pernah terjadi antara dia dan si bibit pebinor itu.
Yang mana sekali lagi aku mempercayai cerita Lia, apalagi sampai istriku menangis seperti itu saat menceritakannya---selain Lia nampak tertekan.
Lia bahkan kian terisak ketika aku menarik dirinya dan aku peluk dengan erat.
Si bibit pebinor brengsek itu sudah kelewat batas, dan aku tidak bisa diam saja.
“Kamu masih simpan nomor dia?” tanyaku pada Lia.
“Engga. Udah aku hapus ga lama setelah aku blok,” jawab Lia dengan masih sedikit sesenggukan.
“Tapi kamu masih hafal kan?” ucapku pada Lia. “Tulis. Aku mau minta ‘ganti rugi’ karena dia udah melecehkan kamu.”
Kali ini aku sudah benar-benar ingin menghajar si bibit pebinor kurang ajar itu!
__ADS_1
******
To be continue .........